Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 65


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 65


**Memastikan**


Terlalu asyik dengan buku komiknya, Aila sampai tidak sadar jika suasana loby tiba-tiba menjadi hening. Hingga ia bisa mendengar gemerincing gelang kakinya sendiri.


Merasakan suasana yang tiba-tiba senyap, Aila mendongakkan kepalanya.


Tepat di samping meja resepsionis ia melihat prianya tengah berdiri dengan sesungging senyum di sudut bibirnya. Pria itu kemudian sedikit membungkuk sembari merentangkan tangan. Kebiasaannya ketika menyambut mainan mungilnya masuk ke dalam pelukan.


Anehnya, otak Aila seperti tersihir untuk mengikuti kegilaan dari sang tuan. Seketika gadis itu berlari, lalu melompat masuk kedalam pelukan Leon dan membuat posisi seperti anak kanguru di kantung sang ibu.


Hap!


"Anjing pintar!" ucap Leon sembari mengecup singkat pipi gadisnya.


Selalu, dan akan selalu seperti itu. Aila akan menyadari kekonyolan sikapnya setelah masuk dalam cengkraman sang singa jantan.


Dengan tangan kanan memegang permen lolypop besar, Ia menutup mukanya, karena malu.


Membuat tawa prianya meledak seketika. Sekali lagi, pria itu merasa tidak tahan untuk tidak mencium pipi kemerahan gadisnya.


"Turuuun.." pinta Aila.


Leon menggeleng sembari tertawa kecil. "Tidak sayang, kau sendiri yang lari kedalam pelukanku." ucapnya.


Belum hilang rasa malunya, ia kembali di buat kaget, ternyata tidak hanya ada mereka di sana. Melainkan seluruh staf yang tengah berada di loby berdiri berjajar tidak jauh dari mereka, di sertai oleh beberapa direksi yang baru saja melakukan rapat bersama Leon.


Merasa sangat bodoh, Aila menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher suaminya.


"Malu," ucap Aila polos, yang malah disambut tawa dari mulut Leon.


"Tenang saja, mereka tidak akan berani mengejekmu, sayang." ucap Leon menenangkan.


Seketika Aila mengangkat wajah dan mencebik, membuat Leon lagi-lagi tertawa.


Tanpa disadari oleh keduanya, sikap Leon tersebut membuat seluruh pegawai staf di kantornya terperangah heran. Pasalnya, mereka tidak pernah sekalipun melihat sang boss besar tertawa. Raut mukanya selalu di dominasi ketegangan. Sikapnya juga selalu perfeksionis dan dingin. Kesan orang yang melihatnya, hanya ada dua hal, yaitu; uang dan kematian.


Namun hari itu, mereka melihat tawa sang bos pecah berkali-kali hanya setelah beberapa menit bertemu dengan seorang gadis.


"Hari ini kau sangat nakal, sayang." ucap Leon kemudian.


Aila menggeleng, "Tidak tuan, aku tidak nakal. Aku hanya ingin ikut, tapi anda tidak membolehkan." jawab Aila sembari memasang tampang melasnya.


"Baiklah, katakan padaku, kenapa kau begitu ingin ikut?" tanya Leon yang sudah mulai paham semua ekspresi gadisnya itu.


Seketika mata Aila berbinar, menyadari singanya tidak marah.


"Aku ingin melihat kantor anda, tuan."


"Kantor?"


Aila mengangguk.


"Kenapa kau ingin melihat kantorku? sebelumnya kau tidak tertarik."


"Aku ingin membuktikan omongan orang, tuan. Apa benar kantor anda yang terbaik." jawab Aila.


Tangan mungilnya mulai tidak bisa diam, sesekali memainkan kerah kemeja suaminya dan terkadang menyentuh jakunnya. Entah kenapa bagian tubuh satu itu, aneh menurutnya. Bergerak-gerak sendiri tanpa di minta.


Leon menarik dan memiringkan kepalanya, selain agar ia bisa dengan jelas melihat ekspresi bonekanya, juga untuk menjauhkan leher dari tangan Aila. Entah kenapa, gadis itu selalu menemukan mainan baru jika berdekatan dengan wajahnya.


"Lalu, apa pendapatmu tentang kantorku?" tanya Leon penasaran.


Aila terlihat menghentikan tangannya sebentar pada leher suaminya, sebelum pura-pura nampak berpikir.


"Emm, lumayan." jawabnya santai.


Leon terkekeh, "Kau pikir sedang menilai siapa, hem?" tanyanya sembari mengadu keningnya pada kening Aila. Membuat gadis itu meringis kesakitan sembari meraba keningnya.


"Aku jujur tuan, kenyataannya gedung disana," Aila menunjuk sebuah gedung perkantoran bernama Global konstruktion yang tidak jauh dari gedung di mana ia sedang berdiri. " Itu lebih bagus, mereka hanya menyanjungmu, kurasa." gadis itu berbisik pada kalimat terakhir.


Membuat tawa Leon lagi-lagi meledak seketika.


"Apa, tuan?" tanya Aila yang tidak mengerti bagian mananya yang lucu.


"Kau tau sayang, gedung itu_disana juga_adalah milikku." ucap Leon sembari menunjuk gedung yang tadi dintunjuk Aila dan satu gedung yang Lain. Ada nada bangga ketika ia mengucapkannya.


Aila terganga, "Waw! anda benar-benar kaya, tuan?" ucapnya takjub.


Leon kembali terbahak, hingga sudut matanya mengeluarkan air mata. Sedetik bersama mainannya, sungguh bisa membuatnya gila.


Bukan, bukan karena ucapan takjub dari Aila, tapi karena ia tahu jika Aila hanya berpura-pura. Sejak dulu gadis itu tidak pernah peduli dengan kekayaannya, jadi tidak mungkin tujuan istrinya ke kantor hanya untuk melihat seberapa besar kantornya, ia yakin ada yang sedang di pastikan oleh setan kecilnya itu.


Saat sedang asyik menikmati mainannya, Alea tiba-tiba datang menerobos para kariyawan yang sedang berdiri. Gadis itu seketika membeku di tempatnya ketika melihat Leon menggendong seorang gadis sekaligus istrinya itu. Tiga tahun lalu mereka pernah bertemu meski tidak pernah saling sapa. Ia bahkan melihat Leon beberapa kali mencium pipi gadis itu, meski sang pemilik pipi terlihat mencebik tidak setuju.


Tanpa sadar Alea maju kearah dimana Leon sedang berdiri sembari mengendong Aila.


Suasana yang tadinya terasa ceria, kini menjadi senyap. Tidak di pungkiri, semua kariyawan sudah tahu kabar burung yang juga sudah menjadi rahasia umum, jika Alea adalah mantan kekasih sang boss. Gadis itu juga selalu berada di sampingnya, meski boss besar itu selalu bersikap dingin. Namun semua orang tahu, jika Alea tetap di perlakukan istimewa oleh boss mereka.


Leon menghentikan tawanya dan menoleh kearah Alea, mereka bertatapan untuk sesaat. Membuat hawa loby terasa dingin seketika.


Sedang Aila tampak santai dengan reuni mereka yang sudah ia duga.


Tidak peduli dengan tatapan yang Alea tujukan untuknya, Aila malah lebih tertarik mengamati raut dan sikap suaminya.


"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Leon kearah Alea. Nadanya terlihat datar, sangat datar malah.


"Anu, Em..berkasmu ketinggalan." ucap Alea gugup.

__ADS_1


"Hem, berikan pada Davin!" perintah Leon, lalu mengalihkan pandangannya pada Aila yang tengah menatapnya, dengan tatapan yang, entah...


"Apa?" tanya Leon kearah istrinya, karena tiba-tiba wajah istrinya terlihat begitu lucu. Seperti tengah menggodanya.


Aila menggeleng, namun jelas gadis itu tengah menahan tawa.


"Apa?!" ulang Leon. Ia tahu jelas, jika istrinya tengah menertawakannya dan itu semakin membuatnya salah tingkah.


"Aku cemburu, tuan." ucap Aila sembari berbisik tepat di telinga Leon.


"Kau sedang mengejekku?" tanya Leon yang melihat mimik lucu Aila.


Aila menggeleng cepat, "Aku seriuuuuus, tuan. Dari hatiku yang terdalam." jawab Aila dengan wajah di buat-buat sembari menempelkan tangan di dadanya.


Gemas, Leon langsung menggigit hidung mungil Aila, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


"Sakit, tuan!" ucap Aila sembari meraba hidungnya.


"Siapa suruh mengejekku!" balas Leon sembari tersenyum puas.


Saat mereka saling melempar canda, selama itu pula Alea terus memperhatikan sikap Leon. Sikap yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia merasa Leon menjadi orang lain saat di depan Aila, pria itu bahkan membuang sikap perfeksionis dan dinginnya ketika di depan Aila.


Menurut Alea, Leon terlalu memaksakan diri, atau sebaliknya, gadis itu memang mampu mengubah sikapnya?


"Pulang, tuan..." rengek Aila sembari membenamkan wajah pada dada suaminya.


"pulang? kau bilang ingin melihat kantorku?" tanya Leon.


Aila buru-buru menggeleng, "Sekarang tidak lagi, aku mau pulang.." jawab Aila tanpa mengangkat wajah.


Leon tertawa kecil, jauh di dalam hatinya ia sudah bisa menduga. Istri cerdasnya itu hanya ingin memastikan sesuatu. Mungkin tentang sikapnya. Entahlah, yang pasti istrinya itu sudah mendapat jawaban yang diinginkan.


"Lihatlah sebentar, kau akan menyesal jika tidak melihatnya."


Lagi-lagi Aila hanya menggerakkan kepala tanpa mengangkat muka.


"Aku tidak lagi tertarik, tuan. Pulang...pulang tuan." Aila kembali merengek, persis seperti seorang anak kecil yang minta pulang karena sudah tidak kerasan.


Leon menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Aila tidak berubah, gadis itu tidak pernah tertarik pada kekayaannya, meski mulutnya berbusa membanggakan hartanya, gadis itu tidak pernah tertarik.


Leon mengurai pegangannya pada tubuh Aila, pria itu bermaksud menurunkan Aila. Namun gadis itu, tidak mau melepas tangan pada lehernya.


"Gak mau tuan. Ayo pulang. Pulang, tuan." Aila terus merengek tanpa mau di turunkan dan mengangkat wajahnya.


Leon menarik napas panjang, saat sudah mulai seperti itu tidak ada yang bisa membujuk Aila, selain menurutinya.


"Aku ingin memperkenalkan mu pada kariyawanku, sayang." ucap Leon menjelaskan maksud menurunkan tubuhnya.


Aila bergeming, tetap menggeleng. "Pulang. Pulang tuan." rengeknya.


Leon mendesah. Pria itu menyerah. Ia kemudian mengangkat tubuh Aila kembali.


"Ayo, kita pulang." ucap Leon akhirnya sembari melangkahkan kakinya keluar dari loby kantor.


"Puas?" tanya Leon.


Aila langsung mengangguk senang.


Satu kecupan ia daratkan pada pipi kiri suaminya, namun Leon tidak menanggapinya. Pria itu tahu jika Aila tengah merayunya.


Lagi, Aila mencium wajah suaminya. Kali ini ia mendaratkan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah dan leher suaminya. Merasa geli, mau tidak mau Leon tertawa. Hingga mobil sudah tiba di depan mata, Aila masih melakukannya.


"Berhenti, atau ku tinggal!" Ancam Leon.


Aila langsung berhenti dan kembali membenamkan wajah, menciptakan selengkung senyum dari bibir suaminya.


Sedang di dalam loby, Davin masih mewanti-wanti kepada seluruh kariyawan, jika ia tidak ingin mendengar atau melihat nama dan wajah sang nona setelahnya di media, atau hidup mereka di pastikan sengsara.


Karena Davin hapal karakter bossnya, ia tidak suka jika wanitanya di lihat banyak orang.


Saat semua kariyawan sudah bubar, Alea terlihat menghampiri Davin.


Namun belum sempat gadis itu berbicara, Davin sudah lebih dulu mengucapkan sesuatu.


"Berhentilah berharap pada tuan, anda tahu sendiri bagaimana hidupnya selama tiga tahun ini. Jika anda benar-benar mencintainya, tinggalkan dia, itu akan membantunya untuk bahagia." ucap Davin tajam.


Aila menggeleng penuh ironi, "Maaf, aku belum bisa." jawab Alea lirih.


"Terserah anda, tapi jika saya melihat anda melampaui batas, maka saya tidak segan-segan untuk bertindak. Sekarang, nona Aila adalah prioritas utama bagi saya." tandas Davin, kemudian melangkah pergi meninggalkan Alea seorang diri.


******


Di dalam mobil, Aila lebih banyak diam. Tidak berisik seperti saat di kantor tadi. Leon melirik gadisnya sesaat, mainannya itu terlihat menaikkan kedua kakinya keatas kursi sembari menyandarkan kepalanya pada jendela dan menjilati permen lolypop miliknya.


Lagi-lagi sikap Aila menggelitik pikirannnya. Tangannya terasa gatal untuk membuang lolypop yang sedang di jilati gadisnya itu. Entah kenapa melihat Aila larut dalam kesenangannya sendiri membuatnya kesal.


Leon mendekat dengan pelan, agar Aila tidak terganggu. Setelah benar-benar dekat, pria itu langsung merebut permen Aila, lalu membuangnya begitu saja lewat jendela.


Setelah itu, entah kenapa perasaannya langsung senang. Mau bagaimana lagi? membuat mainannya kesal selalu menjadi kesenangan baginya.


Namun setelah ia menatap wajah Aila, ia sendiri yang malah menjadi heran. Raut wajah gadis itu terlihat datar, tidak marah ataupun kesal seperti biasanya. Aila terlihat menggerakkan bahunya sesaat, seperti tidak peduli. Lalu membuka tasnya, kemudian mengeluarkan satu lolypop lagi dari sana, membuka bungkusnya lalu memakannya.


Seketika mata Leon terbelalak, Gadis itu seperti bertambah cerdas saja setiap menitnya. Menurut Leon Aila bukan hanya setan kecil tapi juga penjagal yang kapan saja bisa mencincangnya.


Puas melihat kekecewaan di wajah suaminya, dengan sengaja Aila kembali memamerkan dan menjilati lolypop barunya dengan penuh drama.


"Buang sayang," bujuk Leon akhirnya.


"Kenapa? ini enak." jawab Aila sembari menjilati permennya.


Leon menarik salah satu ujung bibirnya, "Buang, atau ku makan hidup-hidup?!" ancam Leon. Jangan panggil dirinya boss besar jika tidak bisa mengalahkan mainan kecilnya itu.

__ADS_1


"Makan saja," ucap Aila santai.


Leon menyeringai, "Kau menantangku?!"


"Saya tidak menantang, tuan. Saya sedang makan permen." ucap Aila cuek.


"Sini!" perintah Leon.


Tidak disangka, Aila langsung naik diatas paha Leon sembari menjilati permennya, membuat Leon lagi-lagi harus tertawa.


"Sudah tuan," ucap Aila.


"Buang sayang," pintanya lagi.


Aila terlihat menatap suaminya sesaat, sebelum helaan napas pelan terdengar dari mulutnya. Gadis itu meraih bungkus permen, membungkusnya kembali lalu memasukkanya kedalam tas.


"Sudah," ucap Aila.


Leon mendesah, lalu menatap manik mata kopi susu itu lekat.


"Apa yang kau pastikan di kantorku, hem?" tanya Leon, sembari mengusap puncak kepala Aila.


"Hatimu, tuan." jawab Aila sembari menempelkan telapak tangannya di dada Leon.


"Lalu, apa yang kau dapat?"


Aila mendesah, sembari menarik tangannya dari dada suaminya.


"Entahlah," ucapnya.


"Entahlah? aku sudah menunjukkannya dengan begitu jelas, dan kau masih tidak tahu?!" ucap Leon dengan nada kesal.


Gadis itu tidak menjawab malah membenamkan wajah pada dada suaminya. Melihat kelakuan istrinya, ia tahu ada yang masih mengganggu pikirannya.


"Akan ku pindahkan Alea besok." ucap Leon mencoba mengurai keraguan istrinya.


Aila mengangkat wajah sembari menggeleng, "Tidak perlu...sebenarnya, aku tidak masalah dengan wanita-wanita di sekitarmu, tuan. Asal kau masih tahu jalan pulang."


Leon terkekeh, " Kau pikir aku buta? sehingga lupa jalan pulang?"


Aila mendesah, "Aku sadar, jika anda kaya dan.... tampan."


"Sadar juga kau!" potong leon cepat.


"Maka dari itu, wajar jika banyak wanita menyukaimu dan akan berusaha mendekatimu, tapi...bisakah kau tidak memberikan hatimu?"


Leon memiringkan kepalanya, pura-pura berpikir.


"Akan aku coba, meski itu akan sulit." ucap Leon dengan nada menggoda.


"Terimakasih, tuan." balas Aila tulus. Tidak disangka gadis itu malah berte


rimakasih, Leon pikir Aila akan kesal.


"Hai, aku bilang hanya akan mencoba, bukan berjanji!" ucap Leon menjelaskan.


"Aku tahu, terimakasih karena sudah mencoba."


Ia lalu membenamkan kembali wajahnya pada dada suaminya. Aila bukan termasuk gadis yang muluk-muluk dalam hal mencintai. Ia tidak bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa Leon akan selalu bahagia jika bersamanya, namun ia akan membuktikan jika cintanya adalah yang terbaik.


"Dasar, bodoh!" ucap Leon sembari mengusap kepala istrinya.


Dari semua wanita yang pernah di kenalnya, hanya Aila yang mencintainya dengan begitu sederhana, tapi penuh ketulusan.


"Tuan?"


"Hem,"


"Aku ingin kerumah oma."


Leon menarik napas panjang, "Tidak sekarang, sayang."


Aila mengangkat wajah, "Kenapa? aku rindu padanya."


"Aku tau, tapi tidak sekarang, sayang."


"Sekarang tuan, aku mohon..."


Leon mendesah, "Jangan mengiba, aku tidak akan luluh!"


Tiba-tiba Aila diam menunduk.


"Hei?"


Aila diam.


"Kau menangis?"


Aila masih diam.


Leon mengangkat wajah istrinya, benar saja gadis itu sedang menangis. Ia lalu mengusap wajahnya kasar. Heran, wanita mudah sekali menangis. Benar-benar merepotkan!


"Iya, iya kita kesana." ucap Leon menyerah.


"Benarkah?" Seketika wajah penuh air mata itu, kembali ceria.


"Ya," ucap Leon malas.


Aila mengulum senyum gembira.


Ada gunanya juga ia belajar akting menangis. Tau begitu, kenapa tidak dari dulu? Ha ha ha.

__ADS_1


Rasain!


Bersambung...


__ADS_2