Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 49


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 49


**Terlambat menyadari**


Penyesalan bukan hanya tentang perpisahan, namun juga tentang kenangan indah yang tidak akan terulang.


***


Matahari sudah setengah tegak diatas kepala, namun Leon belum beranjak sama sekali dari tempat duduknya. Itu berarti, sudah selama tujuh jam lebih, ia berada di ruang pengendali CCTV tanpa melakukan apapun. Ia hanya menatap nanar pada layar yang menayangkan secara lambat wajah istrinya untuk yang terakhir kali.


Tidak ada satupun orang di dalam ruangan tersebut, ia mengusir semua staf bahkan Davin sekalipun. Leon hanya ingin sendirian sekarang, menikmati akibat dari sebuah kesalahan.


Kenyataan, jika Aila berani meninggalkan dirinya membuatnya begitu kecewa sekaligus kehilangan yang teramat dalam.


Ia sangat menyesalkan, kenapa Aila tidak bisa bertahan sedikit lebih lama?


Kepergian Aila, tepat disaat ia mulai menyadari siapa yang lebih di butuhkannya.


Dan semuanya datang dengan sangat terlambat.


Leon bangun dari tempat duduknya, melangkah meninggalkan ruang CCTV. Penampilannya yang kusut, menandakan bahwa dirinya kurang istirahat. Sejak semalam ia tidak tidur, menanti Aila memasuki kamar mereka, namun Aila malah sedang berencana kabur darinya. Seandainya, ia tahu jika hari itu adalah hari terakhir kebersamaan mereka, maka Leon akan mendekapnya dan tidak akan ia lepaskan. Namun, penyesalan memang sekalu datang belakangan bukan?


Leon berjalan menuju kamarnya dan selama itu ia tidak menjumpai satu pelayan pun, tapi itu baik untuknya, ia sedang tidak ingin melihat siapapun sekarang.


Ya, tidak ada yang berani menampakkan diri, jika Leon sedang marah, atau mereka akan menjadi sasaran kemarahan tuan gilanya itu.


Ketika melewati lorong kamar Omanya, ia tidak sengaja mendengar Oma sedang berbicara dengan pak Liem.


Leon menghentikan langkah, mengingat keadaan Oma terakhir kali yang begitu syok dengan kepergian Aila, Leon merasa khawatir, namun ia enggan untuk masuk.


"Kau sudah mencarinya, pak Liem?" tanya Oma.


"Sudah, Nyonya. Saya sudah pastikan, nona tidak kembali ke tempat asalnya dan tidak juga ketempat teman-temannya." jawab pak Liem.


"Dia gadis bodoh pak Liem, bagaimana bisa dia pergi tanpa membawa apapun..." suara Oma terdengar mulai serak dan hening untuk sesaat. Leon paham, Omanya sedang menangis.


"Bagai mana dia akan hidup setelah ini? harusnya ia membawa banyak uang dari rumah ini, tapi si bodoh itu hanya membawa dirinya saja..."


Leon memejamkan matanya sembari bersandar pada dinding kamar Oma, tetiba saja hatinya terasa begitu nyeri.


Ia kemudian berjalan cepat kearah kamarnya berharap menemukan sebuah keajaiban, jika Aila masih disana.


Saat pertama kali membuka pintu kamar, aroma tubuh Aila yang tercium di hidungnya. Aroma yang entah sejak kapan, di lupakan oleh indra penciumannya. Sebelumnya ia tidak begitu menyadari, jika aroma tubuh Aila bagitu menenangkan syaraf otaknya. Mengapa?


Ia kembali melangkah kearah walk in closet, tepatnya di depan meja rias istrinya. Tangannya terulur mengambil benda pipih berbentuk persegi panjang milik Aila, di bukanya gawai tersebut. Kosong, tidak ada satupun hal yang tersisa disana. Sepertinya Aila telah menghapus semua data di Hpnya. Gadis itu mengembalikan Hp sama persis seperti keadaan semula.


Leon menarik napas panjang, mengusir sesak.


Tidak hanya gawai yang ditinggalkan Aila, namun ia juga meninggalkan kartu kredit tanpa batas limit yang pernah ia berikan padanya. Aila bahkan belum menggunakannya sama sekali. Membuatnya tersadar akan satu hal, Aila adalah satu-satunya wanita yang tidak membutuhkan uang darinya.


Leon terduduk lemas disamping meja rias, Lebih dari apapun, sekarang ia hanya ingin memeluk istrinya.


Bersamaan dengan itu, Davin masuk. Tangan kanannya yang paling setia itu sepertinya ingin melaporkan sesuatu.


"Maaf, tuan. Ini gelang dan kunci mobil yang nona tinggalkan." ucap Davin.


Leon tidak menjawab, matanya terpejam.


Menyadari bosnya sedang tidak ingin di ganggu Davin pergi meninggalkan Leon seorang diri.


Sepeninggal Davin, Leon berdiri. Ia kemudian melangkah menuju bar. Satu-satunya tempat yang bisa menjadi pelariannya untuk saat ini.


Saat memasuki bar, ia melihat semua sahabatnya sudah lebih dulu berkumpul disana. Sebenarmya ia sedang ingin sendirian, namun sudah kepalang tanggung, ia ingin melupakan semua hal yang terjadi walau hanya sesaat.


Leon mengambil tempat duduk di pojok ruangan, sengaja menjauh dari tempat sahabatnya berkumpul. Ketiga sahabatnya mengerti jika Leon sedang ingin sendiri, mereka hanya menoleh sesaat kemudian melanjutkan obrolan mereka.


Dalam waktu yang singkat, terlihat sudah ada beberapa botol kosong di depan meja Leon. pria itu meminum alkohol seperti orang yang sedang kehausan selama sebulan.


Alex terlihat mendekat, setelah melihat Leon minum dengan tidak wajar. Ia tau jika saat ini sahabatnya itu sedang stres, namun jika tidak di hentikan, Leon akan meminum semua alkohol di barnya itu.


"Hentikan!" ucap Alex sembari merebut paksa botol dari tangan Leon.


Leon diam untuk sesaat, sebelum akhirnya ia mengangkat wajah yang sudah memerah sembari menatap tajam kearah Alex.


"Kembalikan! jangan mengangguku!" seru Leon tajam.


Alex bergeming, menjauhkan botol di tangannya.


"Kau pengecut, Leon! cari dia, jika kau mencintainya!" ucap Alex.


Leon tertawa kecil, "Buat apa aku mencarinya? dia sendiri yang ingin lari dariku!" jawab Leon sinis.


"Benar, kau tidak ingin mencarinya?" tanya Serkan tiba-tiba.


Leon diam, ia kembali membuka minuman dari botol lain kemudian menenggakknya.


"Kalau begitu, biar aku yang mencarinya! tapi jangan harap aku mengembalikannya padamu, jika aku menemukannya!" ancam serkan.


"Terserah!" jawab Leon tidak peduli. Pria itu lebih memilih fokus pada minuman di depannya.


"Aku pegang ucapanmu!" ucap Serkan tajam, sembari melangkah meninggalkan bar.


"Kau pengecut, Leon!" ucap Alex sebelum pergi menyusul Serkan meninggalkan bar, sedang Erik hanya diam, kemudian keluar mengikuti Alex.


Setelah semua sahabatnya pergi, Leon tidak terkendali. Ia mulai melampiaskan amarah dan kecewanya pada semua benda yang ada di bar. Semua botol alkohol di depannya ia lempar, tidak terkecuali dengan kursi dan meja. Dalam sekejap, bar menjadi sangat berantakan. Beberapa pelayan hanya bisa diam dan terlihat gemetar di pojok ruangan, tanpa berani berkata apapun.

__ADS_1


Puas melampiaskan emosinya, Leon melangkah keluar dari bar dengan sempoyongan karena pengaruh alkohol. Tanpa sadar, kakinya melangkah kearah taman rahasia milik istrinya.


Gerimis mulai turun, saat Leon tiba di depan gerbang taman. Dengan mata kabur ia mencari tombol kode sensor.


Temaram lampu taman tidak membantunya sama sekali. Setelah merabanya beberapa saat, akhirnya ia menemukan tombol tersebut, saat itu juga ia baru ingat, jika kode akses kunci gerbang hanya di pegang istrinya. Kode akses kunci terdapat dalam kalung yang ia berikan pada Aila, dan gadis itu_membawa serta_pergi bersamanya.


Bersamaan dengan gerimis yang sudah menjadi hujan, Leon mengerang frustasi. Tubuhnya ambruk terduduk di depan pintu gerbang taman. Matanya menatap kosong pada hujan di depan. Tetesan air hujan yang beradu dengan pendar lampu taman, menambah suasana hatinya semakin merana.


Tanpa memperdulikan tubuhnya yang telah basah, ia mulai memejamkan mata, memeluk sakit didalam dada yang ia ciptakan sendiri.


Saat sedang menikmati kesendirian, indra dengarnya menangkap suara kaki mendekat. Leon membuka matanya, ternyata Davin yang tengah berdiri di depannya dengan sebuah payung.


"Tolong__bukakan pintu ini Davin" pinta Leon lemah.


"Tuan, sebaiknya kita pulang. Tubuh anda sudah kedinginan." ucap Davin. Tangannya terulur membantu Tuannya berdiri, namun Segera di tepis oleh Leon.


"Aku mohon____buka pintunya!" Leon masih meminta.


Davin menghela napas dalam, melihat keadaan tuannya ia menjadi tidak tega. Tuannya yang selalu terlihat perfeksionis dan tegas, terlihat sangat lemah saat ini. Selama ia bekerja dengan Leon, tidak pernah sekalipun ia melihat Leon begitu frustasi seperti itu, bahkan saat Alea meninggalkannya sekalipun. Leon yang tidak pernah berkata tolong, akhirnya mengucapkannya juga saat ini.


"Baik, tuan." ucap Davin akhirnya.


Davin terlihat, mengambil pistol dari balik jasnya dan mulai menembak kearah kode sensor pintu gerbang taman. Satu-satunya jalan membuka gerbang taman memang hanya dengan merusaknya.


Setelah beberapa kali tembakan, Kode pintu terlihat hancur, Davin akhirnya bisa membukanya, meskipun dengan paksa.


Dengan sisa tenaganya, Leon berdiri. Terseok melangkah kedalam taman.


Ia tertegun untuk sesaat, entah karena matanya yang mulai mengabur atau memang nyata adanya, ia tidak melihat satupun bunga di taman itu. Meski lampu taman, hanya temaram, namun ia masih bisa dengan jelas melihat jika taman di depannya sudah menjadi tanah lapang tanpa tanaman.


Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Leon berlari ketengah menembus hujan. Tubuhnya melesat tanpa hambatan. Bukankah seharusnya ia tersangkut duri mawar? atau memang benar adanya, jika semua bunga sudah tiada?


Tiba-tiba Leon tertawa, tawa pembungkus kepedihan. Ia terus tertawa hingga tubuhnya mulai ambruk menjadi setengah duduk.


Kesalahannya hanya satu, ia menerima semua cinta yang diberikan Aila tanpa menghitungnya, sehingga hatinya terasa kosong tidak berjiwa, ketika Aila tiba-tiba mengambil semuanya_kembali_ tanpa sisa.


"Tuan?" Davin terlihat khawatir.


"Tinggalkan aku sendiri, Davin." ucap Leon parau.


Sesaat Davin ragu untuk meninggalkan tuannya dengan keadaan seperti itu, namun ia mengerti jika Leon sedang ingin sendiri.


Davin membungkuk sebentar sebelum meninggalkan Leon yang masih terduduk di tengah-tengah dengan derasnya hujan.


Nyatanya, Davin tidak benar-benar meninggalkan tuannya, pria itu tetap duduk di depan gerbang taman. Sudah menjadi sumpah setianya untuk tetap disamping tuannya walau apapun keadaannya.


Sepeninggal Davin, Leon berdiri menuju gazebo. Ia masuk dan mulai menyalakan lampu. Semuanya masih terlihat tertata rapi seperti semula.


Sebuah kertas berwarna merah muda terlipat rapi diatas meja, dengan setangkai mawar diatasnya, membuat tangannya gatal untuk tidak menyentuhnya. Mungkinkah itu sebuah surat?


Dengan tangan yang basah, ia mulai membuka lipatan kertas tersebut.


****


Untuk suamiku,


Maaf, jika hanya bisa memberimu waktu yang hanya sebentar.


Aku sudah mencoba bertahan sedikit lebih lama, meski hatiku teramat sakit.


Melihat perhatianmu padanya, membuatku yakin jika cintamu memang hanya untuknya.


Maaf, telah dengan lancang datang dan memasuki kehidupanmu.


Meski, Tuhan telah membuat pembatas yang jelas di antara kita, tapi aku tetap melanggarnya. Mungkin karena itu, Tuhan marah dan mengambil cintamu dariku sebagai hukuman untukku.


Maaf, jika aku memilih pergi, karena aku sadar bahagiamu bukan bersamaku.


Terimakasih atas waktu dan kenangan yang kau beri, meski hanya sebentar, namun tau kah kau? itu adalah waktu terbaik sepanjang hidupku.


Jangan pernah merasa bersalah, karena kau tidak pernah salah, aku saja yang terlalu banyak berharap darimu, terlalu mencintaimu.


Doaku, semoga kau selalu bahagia dengannya dimanapun kalian berada.


Permintaanku hanya satu,


Tolong jaga Oma untukku.


Aila.


***


Selesai membaca surat dari Aila, tubuhnya merosot di lantai. Dengan bersandar pada tembok gazebo, Leon kembali memejamkan matanya.


Tidak taukah? jika Aila telah salah menilai perasaannya?


Aila terlalu jauh menilai isi hatinya.


**************


Leon terbangun karena silau mentari pagi yang mengenai wajahnya melalui kaca jendela.


Matanya mengerjap untuk sesaat, ia merasa kepalanya sangat pusing. Mungkinkah akibat akohol yang ia minum, atau ia demam? karena semalam pria itu, tertidur dengan pakaian yang basah.


Bisa jadi karena keduanya.


Saat sedang mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya, sekelebat mata, ia melihat sosok Aila mendekat kearahnya. Leon berusaha menajamkan penglihatannya.

__ADS_1


Nihil! ia hanya melihat sosok Aila.


Tanpa berpikir lagi, Ia langsung berdiri dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku tau, kau pasti kembali." ucap Leon bergetar.


"Leon?"


"Kau, tidak boleh pergi lagi!"


"LEON?!"


Pelukannya mengendur saat ia menyadari sesuatu. Aila tidak pernah memanggil namanya, dan tunggu, Aila juga tidak setinggi ini.


Sadar ada yang salah, Leon segera melepas pelukannya.


"Alea?!" tanya Leon kaget.


"Apa yang kau lakukan? tidak!" Alea menggelengkan kepalanya, " Jangan bilang, kau seperti ini karena dia pergi?!"


Leon tidak menjawab, pria itu terlihat beejalan mundur dan menyandarkan punggung pada tembok. Kepalanya terasa pening luar biasa.


"Kau mencintainya?!" desak Alea.


Leon diam untuk sesaat.


"Katakan! apa kau mencintainya?!" desak Alea.


"Ya."


Alea kembali menggelengkan kepalanya. Berharap apa yang ia dengar salah.


"Aku tidak percaya!"


"Aku mencintainya___sangat mencintainya, Alea." ucap Leon jujur.


Bibir Alea bergetar, tangannya terkepal menahan amarah.


"Lalu kenapa kau menolongku?" ucap Alea parau.


"Aku tidak yakin saat itu...."


"Kenapa merawatku, menjagaku..."


"Aku tidak yakin saat itu, hingga dia pergi meninggalkanku!" ucap Leon mulai meninggi.


"Kau jahat, Leon!" Alea mulai menangis.


"Maaf,"


"Kau benar-benar jahat!"


Leon terdiam, selain tidak tahu harus berkata apa, pusing dikepalanya juga semakin bertambah.


"Apa karena aku tidak lagi sempurna?!" tanya Alea sinis.


"Kau tau persis, bukan karena itu!"


"Lalu apa?"


Alea tidak mengerti, bagaimana bisa cinta Leon tidak lagi untuknya.


"Dia hidupku!"


Alea terduduk, menangis, meraung, ia tidak bisa menerima kenyataan yang begitu kejam untuknya. Leon adalah alasan satu-satunya alasan untuknya tetap hidup. Ia bertahan hingga detik ini, hanya untuk hidup sedikit lebih lama bersamanya, tapi kenapa? kenapa tuhan begitu tidak adil padanya?


"Pergilah, Davin akan mengurus semua kebutuhan hidupmu kedepan."


Alea mengangkat wajah, menatap lekat pria di depannya.


"Aku tidak butuh semua itu!"


"Rasa itu, sudah tidak ada untukmu Alea, mengertilah!"


"Biarkan aku tetap disampingmu..."


"Alea aku..."


"Aku mohon!"


Alea tidak bisa pergi secepat itu. Tidak secepat itu.


Leon diam, tangannya memijit pelipisnya, mencoba mengurai pening di kepala.


"Aku hanya ingin terus melihatmu, jadi biarkan aku tetap disampingmu. Aku mohon!" Alea terus mengiba.


"Terserah padamu, tapi kita tidak bisa seperti dulu."


Betapa sulit dan sakitnya sebuah kejujuran, namun harus tetap di ungkapkan bukan?


Sayang, ia terlambat mengambil sikap.


Kini Leon menyadari satu hal, tentang betapa pentingnya sebuah ketegasan dalam sebuah hubungan. Meski ia harus membayar dengan sangat mahal untuk mengetahuinya, namun ia yakin semua itu akan mendewasakan sikapnya.


Bersambung....


Maaf banget karena up nya lama, Selain karena kesibukan di dunyat, kemaren sempat terjadi error pada laptop aku. Jadi, mengertilah..

__ADS_1


Aku mungkin tidak bisa membalas satu persatu komen kalian, tapi percayalah aku membacanya. Terimakasih untuk tetap bersamaku dalam cerita ini. Love u all...


__ADS_2