Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 61


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 61


**Pengen**


Pendar cahaya bulan masuk melalui jendela kaca hotel kedalam kamar Nita. Menciptakan siluet pias pada wajah yang sedang tertidur di atas sofa. Meski temaram, dagu tegas nan tampan milik pria yang sudah dua hari menungguinya itu tetap terlihat.


Adik angkat sekaligus sahabatnya, Aila, sudah dua hari hanya mengunjunginya sebentar-sebentar saja. Orang-orang bilang, sang bos besar sekaligus suami dari Aila sedang sakit, sehingga Aila terpaksa harus merawat suaminya. Nita maklum, Aila lebih mementingkan suami ketimbang dirinya, mengingat sifat sang boss sangat posesif dan dingin. Banyak yang bilang, jika sang boss tidak mengizinkan sembarang orang boleh menyentuhnya.


Sejak dua hari itu pula, Aila menitipkan dirinya pada tangan kanan sang boss untuk menjaganya. Padahal, sebenarnya ia lebih nyaman sendirian ketimbang harus selalu diawasi oleh orang sekaku dan sedingin Davin.


Nita heran, Davin bisa diam selama berjam-jam tanpa bicara ketika berada di dalam kamarnya. Pria itu memang sangat irit bicara, namun bukankah berbasa-basi untuk membicarakan banyak hal akan lebih menyenangkan? yah, setidaknya untuk meredam kecanggungan.


Nita mendesah, sudah pukul 12.00 malam, namun matanya enggan untuk terpejam. Dengan hawa yang begitu dingin di malam hari, ketika tidak bisa tidur, maka seseorang akan sering ke kamar mandi untuk buang air kecil. Itulah yang sedang dirasakan oleh Nita, gadis berwajah kalem itu terlihat resah. Ia ingin sekali pergi ke kamar mandi, namun ia takut suara berisiknya malah membangunkan Davin. Bagaimanapun, pria itu lebih baik tidur ketimbang terjaga. Berdua dengan seseorang di dalam satu ruangan, namun tidak saling bicara, itu rasanya aneh.


Tapi ia benar-benar sudah tidak tahan. Nita mengambil kantong infus pada tiang disamping ranjang dan beringsut, turun dari ranjang dengan pelan, sebisa mungkin ia tidak menciptakan suara agar Davin tidak terbangun. Satu langkah, dua langkah ia berhasil menapak tanpa suara, namun tepat saat akan melewati Davin, pria itu sontak terbangun dan langsung mengacungkan senjata kearahnya, membuat Nita terkejut setengah mati. Gadis itu langsung terjengkang kebelakang, karena kaget dan ketakutan. Semenjak ia tertembak, entah kenapa ia menjadi begitu takut dengan senjata.


Menyadari salah sasaran, Davin segera mendekati Nita.


"Gak papa?" tanyanya datar.


Sebagai mantan seorang pembunuh bayaran, instingnya pada bunyi dan gerak sangat peka. Meski Hanya samar terdengar, Davin tahu ada yang sedang mendekat kearahnya.


Nita menggeleng, ketakutan.


"Maaf, aku kira orang lain." ucap Davin.


Nita mencoba tersenyum di wajah piasnya.


"Mau kemana?" tanya Davin.


"Em__pipis tu__tuan." ucapnya gugup sekaligus malu.


"Jangan memanggilku tuan. Aku bukan tuanmu."


"Ah__ya, m__mas."


Davin menautkan kedua alis, sebutan mas sungguh aneh di telinganya. Namun mengingat Nita sudah lama tinggal di jawa timur, ia memakluminya.


Davin kemudian mengangkat Nita begitu saja menuju kamar mandi. Terlihat Nita terpekik kaget, bahkan wajah kalemnya semakin pias.


"Sa__saya bisa berjalan sendiri, tu__an eh mas." ucap Nita rancu.


"Biar cepat!" jawab Davin singkat.


Nita terdiam. Entah kenapa setiap kali berbicara dengan Davin lidahnya terasa kaku.


Davin menurunkan Nita tepat di depan kamar mandi.


"Masuklah!" perintahnya.


Nita masuk kedalam kamar mandi kemudian menutup pintu. Namun gadis itu tidak langsung menunaikan hajatnya, tapi malah berdiri mematung sembari memegangi dadanya. Tiba-tiba saja jantungnya berlompatan seperti ingin keluar dari tempatnya. Sebelumnya ia tidak pernah seperti itu ketika berdekatan dengan seorang pria, bahkan pada Adimas sekalipun, ia hanya merasa senang dan berbunga-bunga bukan debaran hebat seperti itu. Apa jantungnya bermasalah sejak ia tertembak? Entahlah..


Selesai dengan hajatnya, Nita keluar dari kamar mandi. Namun lagi-lagi gadis itu terlonjak kaget, karena mendapati Davin masih berdiri tegak menunggunya.


"Silahkan, mas. Saya sudah selesai." ucap Nita.


Gadis itu berpikir, jika Davin tengah mengantri untuk ke kamar mandi. Namun, Davin malah mendekat kearahnya dan kembali menggendongnya menuju ranjang.


Nita Kembali kaget dengan perlakuan Davin. Namun lidahnya lagi-lagi terasa kelu untuk berucap, sedang dadanya berdebar hebat.


"Tidurlah, besok kita akan berangkat pagi sekali." ucap Davin sembari berjalan kearah Sofa.


Belum juga sempat Nita menjawab, Davin sudah menyilangkan kedua tangan di dada dan memejamkan mata. Pria itu memang selalu tidur dengan posisi seperti itu.


"Dan jangan mengedap-endap lagi, jika tidak ingin tertembak." lanjutnya.


"Y__ya, mas." jawab Nita, kemudian ia mengurut dada, mencoba menetralkan rasa yang hanya muncul saat di depan Davin tersebut. Aneh bukan? tapi itulah yang sedang Nita rasakan.


Nita segera mengambil posisi untuk tidur, ucapan Davin benar, besok mereka akan berangkat ke Jakarta pagi-pagi. Nita sendiri tidak menyangka, jika ia akan mengikuti ajakan Aila untuk ikut bersamanya. Mengingat ia sangat menyukai tempat itu yang juga sebagai tempat kenangan untuk kedua orang tua angkatnya. Karena di tempat itu juga, ada rumah peninggalan kedua orang tuanya.


Meski hanya rumah sederhana dan tidak mewah, tapi rumah itu penuh dengan kenangan.


Namun ketika mengingat sikap Adimas yang seperti merasa bersalah padanya dan malah menjauhinya, ia pikir mungkin untuk sementara ia pergi dan menjauh dari tempat itu. Sejak dirinya dirawat, Adimas hanya sekali menjenguknya itupun sangat singkat, setelahnya pria itu tidak nampak batang hidungnya. Nita tidak berharap balas budi atau harus menerima perasaannya, ia hanya ingin hubungan mereka tetap berjalan seperti biasa. Apa itu begitu sulit?


Meskipun ia sangat tahu posisi Adimas, pria itu pasti akan terus merasa bersalah ketika melihatnya. Untuk itu, Nita memilih pergi menjauh agar Adimas tidak lagi di hantui rasa bersalah.


******


Pagi-pagi sekali di depan hotel Triwarna, sudah berjajar beberapa mobil yang akan membawa mereka menuju bandara Abdurahman Saleh Malang. Di situlah mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan jet pribadi.


Aila tampak segar pagi itu, mengenakan blues berwarna biru muda dengan di padukan rok tutu selutut berwarna senada membuat gadis itu terlihat sangat lucu. Seperti biasa rambutnya yang ikal panjang sepunggungnya ia biarkan tergerai dan hanya menambahkan pita besar di bagian atas telinga kirinya.


Aila dan Nita menunggu yang lain di depan hotel, tentu saja Nita memakai kursi roda. Gadis itu terlihat masih lemah.


Semalam ia memang tidak tidur di hotel, ia tidur di rumah sembari membereskan barang yang akan ia dan Nita bawa ke Jakarta. Meski Leon melarangnya, namun Aila tidak peduli. Bagaimana bisa, mereka akan pergi begitu saja tanpa merapikan rumah terlebih dahulu?


Sejak sakit tiga hari yang lalu, Leon seperti benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk menahan Aila. Lelaki itu sering tiba-tiba meminta di peluk, di elus kepalanya dan minta di temani tidur. Seperti benar-benar ingin memanfaatkan kesempatan dalam kekhawatiran Aila.


Menurutnya, Leon terlihat sehat wal afiyat dan jauh dari kata sakit, jika melihat tingkah lakunya yang masih seperti biasa.


"Mbak yakin, mau ikut ke Jakarta?" tanya Aila meyakinkan.


Nita mengangguk mantap sebagai jawaban.


"Aku kan juga pengen ngerasain hidup di istana seperti kami Ai, meski sebentar," ucapnya jahil.


"Ish, apaan sih mbak." jawab Aila salah tingkah.


Nita terkekeh melihat tingkah Aila.


"Maksud aku, tempat ini kan banyak kenangan buat mbak, terus juga mas Dimas salah satu alasan kenapa mbak terus bekerja di hotel ini kan? aku sih gak keberatan mbak ikut, aku malah seneng, jadi gak kepikiran tentang keadaan mbak di sini." ucap Aila panjang kali lebar.


Nita terlihat menghela napas perlahan, " Justru karena mas Dimas dek, aku ikut kamu. Aku kasihan sama dia, mas Dimas kaya ngerasa bersalah gitu ke aku dan malah ngejauhin aku, aku jadi gak enak sendiri kan?" ucapnya dengan nada sedih.

__ADS_1


Aila manggut-manggut paham, namun jauh di hatinya ia merasa bersalah kepada mereka berdua.


"Maaf ya mbak, mungkin jika aku gak kesini kalian bakal baik-baik aja."


"Haissh! apaan sih, gak ada hubungannya sama kamu lagi dek, meski kamu gak kesini hati Adimas juga bukan buat mbak kok."


Ya, kenyataannya sejak dulu ia hanya menjadi pengagum rahasia pada pria itu, Aila lah yang malah mengenalkan mereka untuk menjadi lebih akrab.


Aila diam, meski ucapan Nita benar, ia toh merasa bersalah.


Bersamaan dengan itu, terlihat rombongan Leon berjalan mendekat.


Pria bar-bar itu ternyata memakai kemeja yang berwarna senada dengan pakaian yang di kenakan Aila. Sontak Nita langsung menggoda Aila.


"Ciee ciee, yang couple_an bajunya. So sweet banget sih," ucap Nita sembari menyenggol lengan Aila.


Sedang Aila terlihat salah tingkah sekaligus malu. Ia tidak menyangka, jika Leon juga akan memakai jas dan kemeja yang sama dengan warna pakaiannya.


"Hallo sayang, sini peluk papa!" ucap Alex kearah Aila sembari merentangkan tangan, ketika posisi mereka hampir dekat.


Aila memutar bola matanya, malas menanggapi kekonyolan sahabat suaminya itu.


Sedang Leon langsung menendang kaki Alex, membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Dasar pelit!" ucap Alex sembari meringis.


"Siapa dia?" tanya Nita. Perempuan itu memang belum pernah melihat Alex, karena ia hanya beristirahat di dalam kamar dan belum pernah sekalipun keluar.


"Abaikan, dia sedikit gak waras!" bisik Aila, membuat Nita sontak tertawa.


Leon mendekat dan berdiri tepat di depan Aila dan Nita. Pria itu diam untuk sesaat, Aila terlihat manis pagi ini di matanya. Apalagi gadis itu sepertinya memakai riasan tipis.


"Astaga! kalian couple_an? ck ck ck kayak mau kondangan aja!" cibir Alex. Sejujurnya ia merasa iri dengan percintaan sahabatnya itu. Di mata Alex, hubungan cinta antara Leon dan Aila adalah bentuk cinta sejati yang sebenarnya.


Aila terlihat salah tingkah, sedang Leon biasa saja. Entah apa yang bisa menyindir kebekuan hatinya itu.


"Masuk!" perintah Leon kepada Aila sembari menunjuk kearah mobil yang akan di tumpanginya.


"Em__boleh aku semobil dengan mbak Nita?" tanya Aila.


Leon menggeleng, "Ma_suk!" Leon menjeda perintahnya dengan nada tajam.


Aila menarik napas sembari melirik kearah Nita, gadis itu terlihat mengangguk sembari menggerakkan tangan mengusir Aila.


Yang benar saja, jika Aila masih ngeyel juga, bisa-bisa dirinya yang akan membeku terkena atmosfer dingin dari bossnya.


Aila mendesah, kemudian masuk kedalam mobil yang di maksud Leon yang langsung di ikuti oleh pria itu.


Dari dalam mobil, Aila melihat Davin menggendong Nita masuk kedalam mobil, membuat Aila merasa lega, setidaknya ada yang mengurus Nita selama perjalanan menuju jakarta.


Setelah semua siap, iring- iringan mobil mewah itu kemudian berangkat meninggalkan hotel. Aila terus melihat keluar jendela, seaakan ingin mengucapkan selamat tinggal pada tempat, dimana ia selama tiga tahun ini menyembuhkan luka.


Hingga mobil sudah berjalan hampir setengah jam, Aila masih melihat kearah luar jendela.


Leon melirik gadisnya sesaat, mulut mungilnya terlihat sesekali mengerut dan kakinya bergerak tidak bisa diam, tapi gemerincing gelang di kakinya tidak berbunyi, karena gadis itu memakai sepatu kets.


"Hei!" panggil Leon kearah Aila.


Namun Aila seperti pura-pura tidak dengar. Leon selalu menganggu kesenangannya!


Merasa di abaikan, Leon menendang kaki Aila, membuat gadis itu terpaksa menoleh.


"Ya, tuan?" ucapnya dengan senyum di buat-buat, membuat Leon menarik salah satu ujung bibirnya. Menganggu kesenangan gadisnya, selalu membuatnya bahagia.


"Lepas sepatumu!" perintahnya.


"Ya?" Aila tidak mengerti.


"Lepas sepatumu sayang!"


"Ta__tapi kenapa?" ucap Aila sembari menyembunyikan kakinya di bawah kursi.


Merasa gemas, Leon menggeser duduk mendekati Aila dan langsung mengangkat kaki gadis itu lalu melepas sepatunya. Meski tangan Aila berusaha mempertahankan sepatunya, namun Leon jelas lebih menang darinya. Setelah mendapatkan dua sepatu itu, Leon kembali ketempat duduknya, membuka jendela dan melempar kedua sepatu Aila begitu saja keluar.


Sontak membuat Aila menghentakkan kakinya dan mendengus kesal. Namun aksinya itu malah membuat gelang kakinya berbunyi, membuat Leon tersenyum puas.


Kesal, Aila duduk lebih merapat pada jendela mobil sembari menempelkan pipinya pada kaca jendela dan membuat embun dari mulutnya sehingga kaca mobil basah. Setelah itu Aila terlihat menggambar kartun spongebob dengan wajah aneh kemudian gadis itu memoyongkan bibir dan menggembungkan pipinya seperti sedang mengejek gambar tersebut.


Leon yang menyaksikan hal itu, tentu saja menahan diri untuk tidak tertawa. Spongebob dengan muka aneh itu pasti dirinya. Cara menggambar Aila masih sama seperti tiga tahun lalu, ketika gadis itu menggambar mobil sport lambo terbarunya, bahkan hingga sampai sekarang Leon tidak mengizinkan siapapun menyentuhnya apalagi mencucinya. Selama tiga tahun mobil itu tetap penuh coretan lipstik dari Aila.


Melihat tingkah Aila, Leon jadi ingin memainkan manekin hidupnya itu.


"Hei!" panggil Leon kembali.


Aila tidak menanggapi dan malah semakin membelakangi Leon.


Gemas, ia lagi-lagi menendang kaki Aila lebih keras. Hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Apa?!" ucapnya kesal.


"Kemari, sayang!"


Aila membulatkan matanya malas.


"Kita sudah dekat, tuan." ucap Aila malas.


"Lebih dekat, sayang!"


Aila menggeser tubuhnya sedikit. Hanya sedikit malahan, seperti tidak bergerak.


"Lagi!"


Lagi_Lagi, Aila hanya bergerak dan tidak bergeser.


Leon menyeringai gemas, manekinnya itu, sepertinya sedang ingin mengajak bermain.

__ADS_1


"Lagi, sayang!"


Aila tidak menurut dan malah mencebik, membuat Leon semakin ingin melahapnya. Saat itu juga, Leon langsung meraih pinggang Aila dan mengangkatnya di atas pangkuan.


Aila terpekik kaget, namun gadis itu buru-buru menutup mulutnya, agar dua bodyguard di depan mereka tidak mendengar.


Sedang Leon malah terkekeh, membuat Aila langsung melotot.


Gadis itu bergerak ingin melepaskan diri, namun Leon menahannya dengan kuat.


"Turun..." ucapnya memohon.


Leon menggeleng sembari tersenyum.


"Malu,"


"Dengan siapa sayang?"


Aila menunjuk kedua orang di depannya.


"Aku membayar mereka untuk itu, sayang." ucap Leon sembari mengedipkan sebelah mata.


Aila mendesah, sia-sia ia berharap kalau Leon akan punya rasa malu.


Tiba-tiba, Leon melepas jas dan memakaikannya pada Aila.


Aila mengerutkan kening, "Untuk apa? bajuku tidak tipis." ucap Aila sembari melihat kepada pakaiannya.


Leon tidak menjawab.


"Putar spion kekiri!" perintahnya pada bodyguard di depannya.


"Baik, tuan." ucap sang bodyguard sembari memutar kaca spion dalam.


"Nyalakan musik!" perintahnya lagi.


"Baik, tuan."


Bodyguard tersebut segera memutar musik.


Aila yang tidak tahu isi pikiran Leon hanya diam.


Tiba-tiba ia merasa tangan Leon sudah menyusup masuk menyentuh punggung melalui bagian bawah bluesnya. Sontak Aila melotot dan menahan tangan Leon, sekuat tenaga gadis itu mengeluarkan tangan Leon dari balik bajunya, namun tangan kekar itu, tidak bergerak sedikit saja dari tempatnya. Tenaga Leon bukan tandingannya.


"Aku ingin memainkanmu, sayang." bisik Leon di telinga Aila, membuat surainya meremang karena geli.


Aila menggeleng kuat-kuat.


"Kangen, yang.." ucap Leon dengan memasang wajah baby singanya.


Aila mendesah, belum juga sempat berucap, Leon sudah lebih dulu melepas kait bra miliknya.


Ctak!


Aila melotot terlihat ingin bicara namun sudah lebih dulu di bungkam oleh ciuman panas dari Leon. Dengan bibir mel***t, kedua tangannya mulai bergerilya pada tubuh Aila.


Lidahnya dengan cekatan membelai dan menyapu seluruh rongga mulut, terus me***at dan menyesap. Puas menikmati bibir mungil itu, Leon melepas ciumannya saat tangannya mulai membelai dan me***as dengan lembut dua bukit ranum milik Aila. Ia sengaja melepas ciumannya hanya untuk mendengar mainannya mendesah menamba.


Dan, ia benar-benar mendengarnya. Aila mendesah pelan saat kedua puncak dadanya di mainkan, sedang kedua tangannya hanya bisa mencengkeram bahu Leon kuat-kuat.


"Tu__an, ah.." desahnya.


Puas mendengar desahan gadisnya, Leon kemudian menarik pinggang Aila untuk lebih merapat dan menciumi leher mulus di depannya tanpa ampun.


Desahan dan erangan rendah bersaing dengan bunyi musik menggema di dalam mobil.


Leon bisa membelai, meraba dan me***as dada dan tubuh Aila bahkan tanpa membuka baju gadis itu.


"Sssudah..." Aila mengiba dengan mata sayu menatap Leon. Ia sudah tidak sanggup untuk melanjutkan permainan Mesum singanya.


Leon mendekatkan bibirnya, kembali mengecup singkat bibir Aila.


"Sudah basah, hem?" ucap Leon sembari terus mer***as dada.


Aila tidak menjawab, gadis itu terlihat menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara, namun ia kembali kelepasan saat Leon menaikkan bluesnya lalu men***ap dan me***at puncak dadanya.


Meskipun Aila menjabak rambut Leon kuat-kuat, tapi pria itu bergeming dan malah semakin rakus.


Merasa Leon semakin tidak terkendali, Aila mencubit perutnya kuat-kuat, membuat Leon seketika menghentikan aksinya dan kembali mendongak. Wajahnya sudah terlihat merah padam dan mata penuh dengan kilatan napsu.


Aila juga bisa merasakan ada sesuatu yang keras di bawah pantatnya dan ia sudah bisa mengira itu apa.


"Berhenti..." ucap Aila terengah.


Leon tidak menjawab dan malah menatap intens kearah mata Aila.


"Pengen, yang..." ucapnya parau.


Aila menggeleng. Jujur, ia juga ingin tapi mereka di dalam mobil. Gila aja!


Leon mendesah lalu kembali membenamkan wajahnya pada dada Aila dan terus bergerak disana.


Setelah puas, ia mengangkat wajah dan me***at bibir Aila singkat, kemudian mengangkat Aila kembali ketempatnya.


Tanpa basa-basi lagi, Aila langsung mojok sembari menutupi muka dan tubuhnya dengan jas milik Leon. Sedang Leon meski tampak tegang dan wajah merah padam, namun ia tetap bersikap santai sembari mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Punya suami mesum yang bisa ngajak 'main' di mana saja, itu susah gaess! susah!


Wes, wes! angel, angel tuturane!


Bersambung...


Jan bingung gess,


Karena banyak pembaca yang nyaranin buat ganti judul, akhirnya aku ganti. Ee tapi la kok malah rancu sama covere, ha ha ha

__ADS_1


Maafkan authore kelen yang gaptek ini ye, semoga kelen gak bingung nemuin tuh singa gila. ha ha ha


__ADS_2