
🌸Cinta 49Cm🌸
Part 40
** Balas dendam **
Aila terlihat sibuk membantu mempersiapkan kebutuhan suaminya yang akan dibawa ke Boston untuk satu minggu kedepan. Ia melakukan semuanya dengan cekatan, menata kemeja, jas bahkan dasi yang serupa kedalam koper. Setelah semua yang dibutuhkan masuk, Aila segera menutup koper. Gadis itu kemudian menoleh kearah suaminya, yang sedari tadi menatap intens dirinya tanpa ia sadari.
"Sudah."
Leon mendesah, dengan kedua tangan terlipat didada, matanya menatap tajam kearah gadis yang sedang duduk bersimpuh di depan koper. Jika ingin jujur, ia sendiri berat untuk pergi di malam pertama mereka sebagai suami istri. Tapi, urusan kantornya juga tidak bisa di bilang mudah, ada ribuan keluarga yang menggantungkan hidupnya disana.
"Kemari!" Perintah Leon dengan sembari merentangkan tangan.
Aila mendesah resah, ia tahu apa yang diinginkan suaminya. Berada di pelukan pria itu selalu membuatnya berakhir dengan cumbuan panas dan gurat kemerahan di leher dan dadanya. Ia masih ingat bagaimana Leon membuatnya terkulai lemas di meja kerjanya tadi, membuat Aila malu jika mengingatnya.
"Cepat!"
Aila menurut, walaupun sebenarnya ia begitu gugup.
Benar saja, setelah benar benar dekat, pria itu langsung mengangkat tubuh Ail diatas pangkuannya.
"Apa?" tanya Aila pelan.
"Memohonlah, aku tidak akan pergi jika kau memohon."
"Tidak, pergilah."
Leon berdecak. " Kau serius? ayolah sayang, aku tau kau tidak bisa jauh dariku."
"Tidak, berangkatlah. Urusan di Boston lebih penting." ucap Aila sembari menempelkan telapak tangan pada dada suaminya. Kebiasaan Aila, mendengar irama jantung singanya, sungguh menyenangkan.
"Kau tau?!"
"Ya, aku mendengarnya ketika kakak berbicara di ruang kerja."
Aila mulai menempelkan wajah pada dada, dan mulai mendengarkan irama kesukaannya.
Leon mendesah, sentuhan Aila selalu membuatnya gila.
"Jangan menggodaku!"
Aila mendongakkan wajah, "Aku tidak menggoda, " ucap nya polos, kemudian menempelkan kembali wajahnya.
Apes! punya istri dibawah umur, gak peka lagi!
"Jika melakukan itu, kau akan membangunkannya, sayang."
Aila mendongakkan wajahnya kembali.
"Apa?"
"Senjataku." ucap Leon sembari melirik bagian bawahnya yang di duduki Aila.
Sontak, Aila terlonjak kaget. Tiba- tiba saja, ia merasakan ada sesuatu yang keras di bawah pantatnya.
Aila mengangkat tubuh dan berusaha turun, namun Leon lebih dulu menahannya.
"Siapa yang menyuruhmu turun, hem?"
"I__itu, mengeras." ucap Aila gugup.
"Biarkan saja, jika kau berhenti menganggunya, dia akan tidur kembali." ucap Leon dengan senyum evilnya.
Mendengar ucapan Leon, Aila segera diam, tidak bergerak sama sekali.
Membuat Leon terkekeh karenya.
"Dengar! ketika aku pergi, jangan pernah keluar dari kastil." ucap Leon mulai serius.
Namun Aila sepertinya tidak mendengarkan, gadis itu terus bergerak karena tidak nyaman. Senjata Leon terasa menganjal dibawahnya.
"Hei! kau dengar?"
Aila tergagap." Ya?"
"Kau tidak mendengarkan?!"
"Dengar." Aila mulai diam.
"Apa?"
"Tidak boleh keluar kastil."
"Apa lagi?!"
Aila mengerutlan kening, ia hanya mendengar Leon mengucapkan itu saja.
"Apa ada yang Lain?"
Ctak!
Leon menjitak kening Aila.
"Aaa!" Aila meringis kesakitan sembari meraba keningnya.
"Itu hukuman, karena tidak mendengarkan!"
"Aku akan mendengarkan." Aila diam, siap mendengar.
Seringai kecil muncul di sudut bibirnya, mengerjai gadis kecilnya sungguh menyenangkan.
"Siapkan dirimu, ketika aku pergi."
"Apa?" Aila tidak paham maksud Leon.
Leon berdecak, " Akan ku minta hak ku setelah kembali."
"Ya"
"Apa?!" tanya Leon memastikan.
"Membuat bayi."
Leon tersenyum, "Bagus, jika kau mengerti."
"Em___aku boleh ketaman?"
"Harus dengan Jimy."
"Boleh telepon?"
"Ya, ada lagi?"
Aila menggeleng.
"Cium!" perintah Leon.
Cup!
"Cium sayang, bukan kecupan!"
Ragu-ragu Aila merangkup pipi Leon dan mulai mencium bibirnya. Aila melakukannya dengan lembut dan hati-hati, agar tidak menggigit bibir suaminya. Gadis itu mengulum, mengisap bibir suaminya dengan begitu lembut dan dalam.
Sial! ciuman lembut Aila justru membangkitkan hasratnya. Secara tidak sadar Leon mulai membalasnya, mereka saling memagut dan mengulum satu sama lain.
Cara Aila ******* bibirnya, membuat gairah Leon naik, Ciuman yang awalnya lembut tiba-tiba menjadi panas, saat tangan Leon mulai meraba dan bergerak lincah naik, membuka kancing baju Aila, melepas dengan kasar Bra milik Aila dan membuangnya asal.
Desahan rendah keluar dari mulut Aila, saat bibir suaminya mulai turun menyusuri leher dan dadanya.
Meremas lembut buah dada dan mengisap pada puncaknya, membuat Aila mendesah penuh damba. Saat itu ia mulai merasakan dibawah pantatnya, sesuatu yang keras menusuk area intimnya yang masih memakai celana. Seketika Aila terloncak, melepaskan diri, namun Leon mengunci pinggangnya dengan kuat.
"I__itu menusukku!" ucap Aila serak.
__ADS_1
"Ya, dia ingin menusukmu!"
Aila langsung minggigit bibir bawahnya.
"Kau ingin melihatnya?"
Buru-buru Aila menggelengkan kepala. Ia belum siap melihat harta karun milim suaminya tersebut.
Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Pesawat anda siap, tuan." terdengar suara milik Davin.
"Tunggu sebentar!" ucap Leon.
"Baik, tuan." terdengar suara langkah kaki menjauh.
Aila meronta meminta dilepaskan, namun Leon tetap menahannya.
"Kau harus bertanggung jawab, sayang!"
"Apa?"
"Menenangkannya, tidurkan dia kembali!"
"Ba___bagai mana caranya?" ucap Aila gugup.
"Pegang dan elus dia."
Dengan tangan gemetar, Aila menyentuh senjata suaminya yang masih dibalik celana itu.
"Aaa!" Aila menarik tangannya dengan cepat.
"Kenapa?
" Dia Be__besar!" ucap Aila gugup sekaligus takut.
Leon terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Kau takut?"
"Ya" Aila bergidik ngeri, membayangkan benda besar itu akan memasukinya. Rasanya pasti sangat sakit.
"Jika sudah mengenalnya kau tidak akan takut, dia jinak sayang!"
Tetap saja, ucapan Leon tidak membantu sama sekali.
"Kakak harus segera berangkat." Aila mengalihkan pembicaraan.
Leon mendesah, adik kecilnya sepertinya harus kembali bersabar.
Tiba- tiba, Leon mengangkat Aila dan membenamkan wajah di dada polosnya. Menyapu dada ranum itu dengan wajahnya, memainkanya, meremasnya tanpa peduli jeritan kecil dari mulut istrinya karena Leon melakukanya dengan sedikit kasar.
Siapa suruh membuat hasratnya naik.
Setelah puas, Leon melepaskannya.
"Pakai bajumu!"
Aila turun, sembari menutupi dadanya dengan kedua tangan dan mulai memunguti baju dan pakaian dalamnya yang berserakan di lantai.
Gadis itu bersimpuh membelakangi Leon sembari memakai pakaiannya. Leon mendekat dan berjongkok, kemudian menarik Aila kedalam dekapannya.
Aila tergagap, namun membiarkan dirinya dipeluk oleh suaminya.
"Saat bersamaku, jangan pakai baju sendiri!" ucap Leon.
Pria itu kemudian membantu Aila memakai pakaianya dan mengecup keningnya dalam.
"Antar aku!" perintah Leon.
Aila mengangguk, dengan tubuh sedikit bergetar Aila mengikuti Leon dari belakang.
Saat sampai di ujung tangga, mereka bertemu dengan Oma yang diikuti Pak Liem dari belakang.
"Dasar bocah gila!" sungut Oma. Cucu gilanya itu mengirim video janji sucinya dengan Aila yang masih memakai piyama.
Sesaat Oma menatap Aila yang terlihat menunduk, dengan wajah yang masih memerah.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Oma sembari menatap kearah Aila.
"Apa?!"
"Dia masih bocah, Leon!"
"Dia sudah pandai sekarang." ucap Leon santai.
"Kau gila!"
"Ayolah, oma! di istriku sekarang."
"dia lebih mirip, piaraan mu Leon!"
"Dia anjing yang manis." Kedip Leon kearah Aila yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan aneh nenek dan cucu tersebut.
Oma menggelengkan kepala, menyerah.
"Mau kemana kau?" tanya Oma yang melihat Leon sudah rapi dengan koper ditangannya.
"Pergi."
"Pergi?!"
"Ya" ucap Leon sembari berlalu.
"Hei, bocah gila! ini malam pertamamu, dan kau pergi?!"
Leon tidak menjawab dan terus melangkah.
"Hei!"
"Oma, menganggu!" ucap Leon sembari mengangkat sebelah tangan tanpa berbalik.
"Dia benar- benar gila." Oma bicara sendiri.
"Kau! antar aku, cepat!" teriak Leon kepada Aila.
Aila tergagap.
"Antar bayi besar itu." ucap Oma pada Aila.
Aila mengangguk sembari tersenyum, kemudian berlari menyusul Leon. Bunyi gemerincing gelang kaki memecah keheningan kastil.
Oma menggelengkan kepalanya, namun kemudian seulas senyum muncul di kedua sudut bibirnya.
"Antar aku ke kamar pak Liem!"
"Baik, nyonya."
Oma naik menuju kamarnya, di ikuti Pak Liem dari belakang.
Aila mengikuti langkah Leon dengan setengah berlari, laki laki itu sengaja berjalan cepat agar istrinya berlari, bunyi gelang pada kakinya pasti akan sangat ia rindukan untuk satu minggu kedepan.
Merasa lelah, Aila berhenti.
Melihat istrinya tidak lagi mengikuti, Leon menoleh.
"Cepatlah!" Teriak Leon.
Aila diam, bergeming.
"Hei!"
__ADS_1
Aila masih diam, menunduk.
Leon menghela napas, kemudian berbalik menghampiri istrinya.
"Ada apa?!"
"Kaki ku sakit."
Ah! Leon lupa, istrinya tidak memakai alas kaki.
Leon mendesah, Kemudian menggendongnya kembali kearah kastil.
"Kenapa kembali?" tanya Aila bingung.
"Bagaimana caramu pulang, hem?"
"Hanya sedikit lecet, aku bisa berjalan."
"Diam, dan jangan cerewet!"
Aila diam menurut. Di pandanginya wajah tampan suaminya dari samping. Meski orang Lain tidak paham dengan cara pria itu memperlakukannya tapi Aila mengerti.
"Sudah?"
"Apa?"
"Mengagumi ku?"
"Ya" jawab Aila jujur.
Dan Leon terkekeh.
"Cepat pulang." ucap Aila lirih.
"Aku belum berangkat, sayang."
Aila diam, jujur ia tidak bisa jauh dari singanya.
Setelah sampai di depan kastil, Leon menurunkan Aila.
"Masuklah!"
Aila diam.
"Apa lagi?"
Aila masih diam.
Cuup!
Leon mencium pipi kemerahan Aila singkat, kemudian melangkah pergi menuju pesawatnya, meninggakan senyum merekah dari bibir istrinya.
Tanpa disadari, Oma menatap mereka dari lantai dua kamarnya.
"Gadis itu banyak mengubah sikap tuan muda, Nyonya." ucap Pak Liem yang berada di samping Oma.
"Aku tau pak Liem."
Ya, wanita tua itu juga menyadari, semenjak mengenal Aila, Leon terlihat lebih manusiawi.
"Satu hal yang aku takutkan, pak Liem."
"Apa itu, nyonya?"
"Jika gadis itu pergi, Leon akan lebih gila dari sebelumnya."
Pak Liem diam, mencerna ucapan sang Nyonya.
"Bagaimanapun, gadis itu masih bocah." ucap Oma melanjutkan.
"Dari yang saya amati, nona muda berbeda dari teman sebayanya, nyonya."
"Aku tau itu, semoga semuanya akan baik-baik saja."
Mereka akhirnya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Suara langkah kaki mendekat dan Oma tau itu milik siapa.
"Oma?" ucap Aila di depan pintu.
"Masuklah!"
"Oma akan menginap?"
"Kenapa aku harus menginap dirumahku sendiri?"
Aila tersenyum.
"Kau senang?"
"Ya" jawab Aila jujur.
Oma mendesah, ia tau jika cucunya sudah lama mengurung Aila.
"Sudah lama, Kau di kurung?"
Aila menggeleng.
"Lihat gelang kakimu, kau seperti anjing." Oma menatap kaki Aila.
Aila tersenyum." Dia menyukainya."
Lagi -lagi Oma hanya bisa mendesah. Entah dia harus tertawa atau menangis. mereka benar-benar pasangan yang sempurna. Yang satu gila, yang satu lugunya tidak ketulungan.
"Kau tidak ingin kuliah?"
Aila menggeleng.
"Kau Nyonya Thomson sekarang, kau bisa kuliah jika mau."
"Aku tidak ingin kuliah dan kakak juga tidak menyukainya."
"Kenapa kau begitu menurut?"
"Agar kakak tetap waras."
Oma terbahak mendengar ucapan Aila. Tebakannya kepada gadis polos di depannya ternyata salah. Aila hanya polos tapi tidak bodoh.
************
Setelah sampai di Boston, Leon dan anak buahnya menyusun rencana untuk segera menghabisi Hans. Apapun yang terjadi Hans harus mati malam ini juga.
Seperti yang diketahui, Hans adalah mertua dari ayahnya atau ayah dari ibu tirinya. Pria busuk itu berambisi untuk menguasai perusahaan dari Thomson Group milik ayahnya. Thomson Group adalah perusahaan konstruksi raksasa dengan anak cabang di berbagai negara.
Bermula sekitar 20 tahun yang lalu, Hans ingin menikahkan putrinya yang bernama Monica dengan Stuwart Thomson, yang tidak lain adalah ayah Leon. Rencana tersebut sudah disetujui oleh Edward Thomson, yaitu kakek Leon. Namun, ayah Leon tidak setuju dengan perjodohan itu, karena ia sudah menikah secara diam- diam dengan Amira, mamanya Leon. Amira adalah gadis biasa asal indonesia, Mereka bertemu ketika ayah Leon mengunjungi anak cabang perusahaannya yang berada di indonesia. Perjodohan pun akhirnya dibatalkan, karena tidak lama setelah itu Leon lahir, Keluarga Thomson perlahan mulai menerima Amira sebagai menantu walaupun Amira bukan dari keluarga berada.
Sakit hati karena putrinya di tolak hanya demi gadis miskin, Hans mulai balas dendam. Berbagai usaha ia lakukan untuk menghancurkan Thomson Group secara sembunyi- sembunyi, hingga puncaknya ketika Leon berumur 5 tahun, perusahaan mengalami krisis keuangan. Berbagai masalah pun timbul di dalam perusahaan, banyaknya tangan kanan yang korupsi juga mendukung Thomson Group diambang kebangkrutan. Solusinya hanya satu, menikahkan ayah Leon dengan Monica agar perusahaan milik Hans mau mengucurkan dana segar untuk membantu Thomson Group.
Dengan persyaratan ayah Leon harus menceraikan Amira, walaupun Leon tetap dianggap salah satu pewaris sah Thomson Group.
Karena tidak ada jalan keluar lain, sedang ribuan keluarga juga menggantungkan hidup pada perusahaanya, akhirnya kakek Leon menyetujui rencana tersebut. Dengan berat Hati, ayah Leon harus berpisah dengan istri dan anaknya.
Amira akhirnya di pulangkan ke indonesia, namun siapa sangka Hans tidak hanya ingin Amira keluar dari keluarga Thomson, tapi juga ingin Amira meninggalkan dunia ini untuk selamanya, karena Hans tau ayah Leon sangat mencintai istrinya.
Tibalah malam itu, malam dimana tidak akan Leon lupakan seumur hidupnya, mobil yang ditumpanginya dengan sang ibu di tabrak dengan sengaja oleh sebuah truk peti kemas. Mobil yang mereka tumpangi rusak parah hingga tidak terbentuk, walaupun begitu Amira dan Leon masih bisa selamat. Namun ketika akan meminta bantuan kepada sopir truk, sopir tersebut malah membunuh ibunya yang sudah terluka parah. Leon yang melihat semuanya hanya diam dan bersembunyi karena jika ia berteriak ia pun akan dibunuhnya juga.
Leon memang sudah terlihat cerdas, sejak anak itu masih kecil.
Hingga mobil polisi datang dan menyelamatkannya, namun setelah ia pulih dan mengatakan yang sebenarnya, tidak ada seorangpun yang percaya akan kesaksianb darinya, karena truk tersebut sudah melarikan diri terlebih dahulu, sehingga polisi hanya menganggap bahwa itu kecelakaan tunggal.
Apalagi saat itu Leon masih kecil, jadi perkataanya hanya dianggap sebuah halusinasi semata. Sedangkan Ayah Leon sendiri tidak tau jika pemyebab kecelakaan istri dan anaknya karena rencana Hans.
Sejak itulah, ia diasuh oleh Omanya dan menutupi identitas dirinya yang sesungguhnya. Karena itulah, Leon begitu membenci sikap pengecut ayahnya dan tidak pernah mau bertemu dengannya sejak kematian ibunya.
__ADS_1
Bersambung.....
Please! like vote yang banyak, supaya tetap semangat buat up🌻🌻