
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 34
**Kecewa**
Leon masuk ke dalam kastil mewahnya dengan menggendong Aila, pria itu menggendongnya dengan satu tangannya saja.
Mereka masuk dengan disambut begitu banyak pelayan yang sudah berdiri berjajar rapi disamping kanan dan kiri pintu masuk.
Setelah benar benar masuk ke dalam, Leon menurunkan Aila.
"Selamat datang, nona Aila." ucap para pelayan serempak sembari membungkukkan badannya.
Aila merasa speccles, gadis itu bahkan menutup kedua mulutnya sendiri, kebiasaan Aila jika merasa takjub.
"Wauw! mereka tau namaku!" ucap Aila takjub, yang disambut kekehan dari Leon.
"Selamat datang, tuan dan nona muda." sapa seorang pria paruh baya dengan kemeja putih dan jas hitamnya yang rapi, kaca mata yang bertengger di hidungnmempertegas kewibawaan dalam dirinya.
"Kau tampak sehat pak, Lim!"
"Berkat anda, tuan."
"Dia kepala pelayan, di kastil ini." ucap Leon kearah Aila yang sedari tadi berdiri gugup disampingnya.
"Senang bertemu dengan anda, nona." ucap pak Lim, sembari membungkuk hormat.
"Terimakasih," ucap Aila membungkuk dengan kikuk. Kebiasaan Aila yang lain, gadis itu akan ikut membungkuk, jika ada yang melakukan itu padanya.
"Waaw!" Lagi-lagi Aila takjub, melihat desain interior didalam kastil tersebut. Dinding di dominasi warna putih keemasan dengan lantai granit putih bersih.
Setiap sudut terdapat ukira-ukiran berwarna emas dengan lampu gantung berdesain mewah dari batu permata.
"Bawa istriku untuk melihat rumahnya pak Lim!" perintah Leon sembari menatap Aila.
"Baik, tuan!"
"Mari, nona." ucap pak Lim.
Aila mengangguk sopan sembari tersenyum.
Sebelum mengikuti pak Lim, Aila menatap kearah Leon.
"Kakak tidak ikut?"
"Tidak, aku sudah bosan!"
Aila diam,
"kenapa? ikut pak Lim sana! katanya ingin lihat istana backingham?" ucap Leon sembari menarik salah satu ujung bibirnya.
Aila masih diam.
Melihat Aila yang tadinya antusias dan ceria tiba-tiba diam, Leon jadi heran.
"Kenapa, hem?!" Leon berjongkok di depan Aila.
"Aku tidak mau melihatnya sendiri," ucap Aila pelan.
"Kau tidak sendiri, ada pak Lim yang menemanimu." ucap Leon.
Aila diam.
"Aku, disini saja." ucap Aila akhirnya. Membayangkan mengelilingi kastil yang begitu luas tanpa Leon, membuat Aila resah. Entahlah, ia sudah tidak tertarik lagi untuk melihat-lihat kastil mewah itu.
Leon mengerutkan kening, ia tau ada yang sedang Aila pikirkan.
"kenapa?!" nada Leon mulai meninggi. Ia paling tidak suka, jika Aila mulai mengajaknya bermain tebak-tebakan.
Aila mulai resah, ragu untuk berbicara.
"Aku tidak mau berkeliling, tanpa kakak." ucap Aila jujur.
Leon terkekeh, jadi karena itu?
Tinggal ngomong saja kok muter muter.
Apa sih yang gak buat kamu?
"Baiklah, aku akan ikut!"
"Benarkah?"
"Ya!"
Aila tersenyum senang, gadis itu dalam sekejap berubah menjadi begitu ceria.
Leon terganga demi melihat kelakuan gadisnya. Sungguh, untuk mengerti akan hatinya ternyata lebih sulit ketimbang membangun kastil megahnya.
Dengan gembira, Aila berlari mengikuti pak Liem, gemerincing gelang kakinya memecah keheningan.
Sedang Leon, hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Aila.
Aila melewati lorong dengan dinding penuh dengan berbagai macam lukisan klasik maupun abstrak. Pilar- pilar berwarna keemasan menyangga kokoh di setiap sisi kastil.
Pak Lim mulai menjelaskan, jika kasti itu terdiri dari dua bangunan utama yang terpisah oleh taman belakang yang begitu luas, Bangunan utama kastil mempunyai sekitar 400 kamar dan beberapa ruangan utama, seperti ballroom, kantor, galeri, ruang pertemuan, tempat koleksi pribadi, rumah sakit, dan arena basket yang megah dan masih banyak lagi.
Aila hanya berdecak kagum menanggapi penjelasan pak Liem, sedang Leon mengikuti dari belakang sembari memainkan gawainya, sesekali pria itu memilih duduk diatas kursi panjang yang tersedia di lorong kastil.
"Pak, lim?" ucap Aila sedikit berbisik.
"Ya, nona?" pak Liem membungkukkan sedikit badannya.
"Apa benar, kastil ini punya kak Leon?" tanya Aila sepelan mungkin.
"Tentu, nona!" jawab pak Liem mantap.
"Anda tidak bohong?!"
pak Liem tersenyum, "Tidak, nona!"
__ADS_1
Aila menatap kearah mata pak Liem, mencari kebenaran disana.
Tidak mendapat jawaban yang di inginkan, Aila menghela napas. Menyerah, sepertinya kastil megah ini memang milik Leon.
Leon menyeringai, pria itu sebenarnya mendengar pertanyaan Aila yang masih menyangsikan kemampuannya. ia kemudian mendekat dan menatap lekat kearah Aila.
"Kenapa? masih gak percaya jika aku mampu membuatkan istana untukmu, hem?" ucap Leon menarik salah satu sudut bibirnya.
Merasa ketahuan, Aila tergagap mundur.
"Pak, Liem?!"
"Iya tuan!"
"Jelaskan pada istriku, berapa banyak kekayaan yang ku miliki! jika perlu berikan buktinya!"
"Baik, tuan"
"Jangan!" teriak Aila menghentikan langkah pak Liem.
"Baiklah...aku percaya!" ucap Aila menyerah.
Leon terbahak mendengar ucapan gadisnya, pria itu kemudian meraih pinggang Aila dan mengangkatnya.
"Sudah cukup berkelilingnya, sayang! aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" ucap Leon tepat didepan wajah Aila membuat gadis itu menjauhkan sedikit wajahnya kebelakang.
Leon membawa Aila keluar dari bangunan utama. Pak Liem benar di belakang bangunan utama terbentang rumput hijau yang terawat dengan Air mancur besar di tengahnya lengkap dengan meja dan kursi duduk disekitarnya.
Pria itu kemudian menuju bangunan kedua yang sedikit lebih kecil dari yang pertama, tapi desain interior dan kemewahannya tetap sama saja. Banggunan kastil yang kedua itu lebih bersifat privat untuk sang tuan dan keluarganya. Di sanalah Aila akan menghabiskan hari-harinya mulai detik itu juga.
"Ini baru milikmu, rumahmu, sayang!" ucap Leon.
"Kita akan tinggal disini?!"
"Ya!"
Aila terganga hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ini mengerikan!" ucap Aila yang disambut tawa oleh Leon.
Leon terus berjalan hingga mereka keluar melalui pintu belakang. Lagi- Lagi Aila dibuat takjub, di belakang bangunan kastil yang kedua itu terdapat bandara mini, dimana terdapat beberapa helikopter dan jet pribadi, tapi bukan itu yang ingin Leon tunjukkan. Pria itu terus membawa Aila kearah selatan kastil dengan golf car menuju sebuah tempat yang khusus ia bangun untuk gadisnya itu.
"Kau ingin punya toko bunga?"
Aila terkesiap, kemudian menoleh kearah Leon.
Dari mana ia tau?
"Benar?!" ulang Leon.
"Ya, " jawab Aila singkat.
Leon diam.
"Apa boleh?" lanjut Aila.
"Tidak!"
Aila diam, ia sudah menduganya.
"Aku tidak suka, kau bertemu banyak orang!"
Leon menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah pagar yang dipenuhi tanaman merambat.
"Turunlah!" perintah Leon.
Gadis itu mendongakkan wajahnya, menatap sekeliling.
Tidak ada apapun selain pagar yang dipenuhi tanaman merambat.
"Ayo, turun!" ulang Leon.
Aila menurut, gadis itu kemudian turun dengan perlahan, kemudian berjalan mengikuti Leon dari belakang. Tiba-tiba saja, gerbang dengan tanaman merambat di depannya terbuka.
"Masuklah!" perintah Leon.
Aila mengamati tempat tersebut untuk sesaat, gadis itu terlihat ragu untuk masuk.
Leon berdecak. Selain pendek, Aila juga lambat.
"Eh?" Leon mengangkat Aila dengan satu tangannya, membawa gadis itu masuk kedalam.
Sebuah hamparan bunga mawar dengan berbagai jenis varietas menyambut mereka.
"Waaw!" ucap Aila takjub.
Leon menarik salah satu sudut bibirnya, kemudian menurunkan Aila. Gadis itu kemudian berlari kecil menuju bunga-bunga yang memang khusus di tanam untuknya.
Aila terlihat begitu gembira di tengah tengah hamparan bunga mawar.
Tidak puas dengan cukup disitu, Aila berjalan masuk lebih dalam. Dirinya di buat takjub kala netranya melihat dengan sebuah gazebo berdinding kaca berdesain eropa kuno terpampang di depannya.
Penasaran, Aila mendekat kearahnya. Pintunya ternyata sudah terbuka, gadis itu masuk dengan perlahan. Ratusan buku tersusun rapi disana, lengkap dengan meja dan kursi yang empuk. Aila mencoba mendudukkan dirinya di atas kursi tersebut, pandangan matanya langsung disambut oleh hamparan bunga dari balik jendela.
"Tuhan, mereka indah." ucap Aila takjub.
"Kau suka?" tanya Leon yang tiba-tiba sudah dibelakangnya.
Seketika, Aila menoleh.
"Ya" jawab Aila dengan binar bahagia.
"Mereka khusus untukmu, sayang!" ucap Leon mendekat kearah Aila.
Aila bangkit dari duduknya, " Terimakasih," ucap Aila terharu, ada butiran Air mata menganntung di sudut matanya.
"Kau tidak boleh membuka toko. Sebagai gantinya, apa ini cukup?" ucap Leon sembari membelai rambut gadisnya.
Aila mengangguk, "Lebih dari yang ku bayangkan," ucap Aila sembari menunduk, menyembunyikan keharuan.
Leon tersenyum, lalu mendudukkan Aila pada meja disampingnya.
"Terharu, hem?" tanya Leon sembari mengusap Air mata pada pipi Aila.
Aila tidak menjawab, malah menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Leon.
Leon terhenyak, namun membiarkan Aila melakukannya.
__ADS_1
"Kau mulai berani menyentuhku, sekarang?" tanya Leon sembari mengusap kepala gadisnya.
Aila diam, tidak menanggapi. Biar saja, ia sedang bahagia sekarang.
Setelah selesai menumpahkan keharuannya, Aila menarik wajah dan mengusap pipinya.
"Aku memberimu banyak hal, dengan apa kau akan membalasnya?" tanya Leon.
Aila diam, berpikir. Leon benar, pria itu memberinya banyak hal, dan ia tidak punya apapun untuk diberikan padanya.
"Aku tidak memiliki apapun," ucap Aila sendu.
"Kau memiliknya sayang, boleh aku memintanya sebagai ganti?"
Aila mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
"Apa?"
"Hatimu, pikiranmu dan tubuhmu!" ucap Leon menatap intens manik mata Aila. Untuk sesaat mereka saling bertatapan dalam diam.
"Boleh?" kejar Leon.
Aila tercekat, bingung harus menjawab apa.
"Hem?" Leon mulai mendekatkan wajahnya, hingga tidak ada batas sama sekali diantara mereka.
"Ya" ucap Aila lirih yang langsung disambut ciuman panas dari bibir Leon. Aila terkesiap, namun tetap membiarkan. Mereka saling memagut untuk sesaat, sebelum Leon menarik wajahnya kembali.
"Kau milikku, hanya milikku!" ucap Leon sebelum kembali menyambar bibir Aila. Menye**pnya sesekali mengecup. Puas dengan bibir mungil gadisnya, Leon menurunkan bibirnya kearah leher Aila, menyusuri setiap lekuk dan menyesapnya, membuat tanda kepemilikan disana.
Aila menggigit kuat bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.
"kakak.." Aila mulai meracau saat bibir Leon mulai bermain di bawah telinganya dan menyesapnya.
Terdorong oleh hasrat yang kian membara, Leon melepas kaus bahkan tanktop Aila, tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
Aila terhenyak saat menyadari dirinya hanya memakai bra saja, namun sebelum ia berbicara Leon sudah membungkamnya dengan ciuman yang semakin menggila. Tangan kekarnya mulai melepas kancing bra pada punggung Aila dengan tangan yang lain melingkar pada pinggang.
"Ah!" Aila kaget, namun Leon terus memagut bibirnya, tanpa ampun.
Aila diam, saat Leon melepas ciumannya. Mereka saling menatap sesaat dengan kilatan penuh hasrat.
Satu tangan Leon mulai naik, membelai dada Aila, meremasnya lembut.
"Sakit?" tanya Leon.
Aila tidak menjawabnya, gadis itu membenamkan wajahnya pada dada Leon.
Leon menarik tangannya, ia tau Aila belum siap untuk melakukan lebih dari itu. Di peluknya tubuh polos didepannya dengan erat.
Ia sadar, dirinya terlalu terburu-buru.
Cup!
Leon mencium puncak kepala Aila dengan Lembut, gadis itu mendongakkan wajahnya menatap Leon.
"Maaf," ucap Aila lirih.
Leon tersenyum," Tidak perlu, aku akan menunggu hingga kau siap."
ucap Leon, sembari mencium kening Aila.
Setetes Air mata turun dari sudut matanya, ia ingin melakukannya, tapi entah kenapa hatinya menolak.
Leon mengurai pelukannya, kemudian meraih kaus Aila yang terserak di lantai karena ulahnya kemudian memberikannya pada Aila.
"Pakailah! akan aku tunjukkan yang lebih indah dari mawar ini." ucap Leon sembari melangkah keluar.
Aila memakai pakaiannya dengan air mata terus mengalir. Entah apa yang dirasakannya, yang pasti ia hanya ingin menangis. Bukan karena telah melanggar batasnya, lebih kepada perasaan kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak mampu memenuhi keinginan orang yang begitu dicintainya.
Leon berdiri didepan gazebo dengan menatap kosong kearah taman disekitarnya. Untuk pertama kalinya, ia dihinggapi perasaan bersalah pada gadis yang telah dicumbunya.
Ah, harusnya ia lebih bisa menahan diri pada Aila. Tapi bagaimana bisa? jika hanya melihatnya saja, ia sudah begitu tergoda?
Nasib! punya istri dibawah umur.
Leon menoleh, ketika mendengar langkah kaki Aila mendekat.
Gadis itu terlihat menunduk dan juga kikuk.
"Ikuti, aku!" perintah Leon, sembari melangkah mendahului Aila.
Aila mengikutinya dengan diam.
Leon membawa Aila untuk lebih masuk kedalam. Setelah beberapa saat, mereka sampai di depan danau buatan yang sangat indah.
"Kita sampai!" ucap Leon, sembari menatap hamparan air di depannya.
"Indah," ucap Aila takjub.
Setelahnya mereka diam, menikmati keindahan dan keheningan yang tiba-tiba saja tercipta.
"Hanya kau dan orang-orang tertentu yang boleh memasukinya." ucap Leon memecah keheningan.
Aila diam, mendengarkan.
"Aku tidak akan selalu ada disini, jika bosan, kau bisa datang kemari untuk menghibur diri."
Bibir Aila tercekat, mendengar Leon akan sering meninggalkannya, membuat hatinya tiba- tiba berdenyut. Bisakah ia tinggal di tempat yang begitu luas tanpa Leon didalamnya?
Tes!
Setetes Air mata jatuh, tanpa mampu Aila tahan. Buru- buru ia menghapusnya, supaya Leon tidak melihat.
"Ayo kembali, sebelum orang-orang mencari kita." ucap Leon sembari melangkah.
Aila mengikuti Leon dari belakang. Jika sebelumnya mereka memang jarang bicara, namun diam yang tercipta secara tiba-tiba diantara mereka jelas ada penyebabnya.
Entah kenapa Aila mulai merasa perih pada kakinya, padahal sebelumnya baik baik saja. Apa karena Leon tidak menggendongnya? Aila sendiri tidak paham karena apa.
Keheningan terus menemani mereka hingga tiba di kastil yang kedua, tempat mereka akan tinggal bersama untuk selamanya. Bisakah? jika ego masih menjadi pemisah?
Bersambung....
Boleh minta vote dan like nya?
Author e lagi baper soalnya!
__ADS_1
Yang masih unyu- unyu bubuk dulu, jangan baca! Banyak pengalaman jadi susah nanti😼😼