
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 41
**Balas dendam 2**
Empat hari sudah Leon dan anak buahnya mencari tau kemana Hans menyimpan dana perusahaan yang ia gelapkan. Tidak mudah menemukan kemana dana itu mengalir, mengingat Hans adalah orang yang licik, tentu ia akan menyembunyikan hartanya di tempat yang tidak terduga. walaupun membutuhkan banyak waktu, akhirnya Leon berhasil juga menemukannya. Bekerja tanpa Serkan tentu saja membuat dirinya kesulitan, karena hanya serkan yang jenius dalam bidang IT. Namun, untuk saat ini ia tidak mau merepotkan salah satu sayapnya itu, karena perusahaanya di Dubai sendiri sedang membuka ladang minyak yang baru dan sudah pasti akan membutuhkan banyak pengawasan darinya.
Seperti yang Davin katakan, Hans menyimpan hartanya di beberapa bank di Asia dan juga di salah satu brankas emas yang terbesar di dunia. Puluhan tahun mengambil alih perusahaan milik ayahnya, tentu saja membuat Hans menjadi kaya raya.
Setelah mengambil alih semua hal yang memang seharusnya menjadi miliknya, kini saatnya untuk menghabisi buruannya. Namun, sebelum melakukan semuanya tentu saja ia harus menyusun rencana dengan matang dan rapi. Hans pasti sudah menduga jika dalam waktu dekat, dirinya pasti akan datang. Pria itu pasti akan mengerahkan semua kemampuannya untuk menyambut kedatangannya.
"Istirahatlah tuan, kami yang akan mempersiapkan semuanya untuk besok." ucap Davin yang melihat tuanya sepertinya kelelahan.
"Aku tidak papa, Davin."
"Sebaiknya, besok anda tidak ikut tuan. Biar kami yang eksekusi."
Leon berdecak." Kenapa? kau pikir aku akan mati?"
"Tidak, tuan. Nyawa anda hanya satu, dan nona sedang menunggu anda."
"Apa kau sedang menggodaku?!"
"Tidak, tuan. Saya bukan nona, yang bisa menggoda anda." ucap Davin menahan senyumnya.
"Kemampuanku belum hilang, davin!"
"Saya tau, tuan."
"Khawatirkan dirimu sendiri!"
"Baik, tuan."
Saya hanya tidak ingin anda kembali menunda malam pertama dengan nona, jika anda terluka.
Leon kemudian meraih gawainya yang berada diatas meja, matanya menatap pada layar. Ia mendesah, Aila belum juga menghubunginya. Pria itu kemudian membuka salah satu aplikasi di Hpnya. Tentu saja untuk melihat gerak-gerik istri mungilnya melalui CCTV didalam kastil yang langsung terhubung di Hpnya.
Ia mencarinya kesegala tempat di dalam kastil, tapi tidak menemukannya di manapun.
"Davin!"
"Ya, tuan?"
"Kau yakin sudah memasang CCTV di setiap sudut kastil?"
"Ya, tuan."
"Lalu kenapa, dia tidak ada di manapun?"
Davin mengerutkan kening, pria itu belum paham maksud ucapan tuannya.
"Siapa tuan?"
Leon berdecak, kesal. "Istriku, Davin!"
Davin menhela napas, Bosnya itu selalu terlihat perfeksionis saat di depan siapapun, namun selalu terlihat bodoh jika di depan istrinya ataupun semua yang menyangkut dirinya.
"Anda bisa tanyakan pada Nyonya besar, tuan."
Seketika Leon memukul meja, dia lupa jika ada Oma disana. Ah! Oma pasti sudah mempengaruhi istri polosnya.
"Cepat cari tau dimana istriku, Davin!" perintah Leon.
Ia bisa gila jika semenit saja tidak melihat mainan imutnya itu.
"Baik, tuan."
Anda selalu membuat pekerjaan saya bertambah, nona.
Terlihat Davin sedang menelepon seseorang dan setelah menutup teleponnya, pria itu segera menghampiri tuannya.
"Nyonya mengajak nona muda keluar kastil, tuan."
Braaak!
Leon kembali memukul meja, mengusap wajahnya kasar. Ia tidak suka wanitanya keluyuran!
Aila bahkan tidak menghubunginya selama lima hari ini, dan sekarang berani keluyuran? walaupun Leon tau, Oma yang mengajaknya, tapi tetap saja hatinya panas jika Aila mulai melanggar perintahnya.
Seperti yang sudah di rencanakan, memasuki hari ke enam tepat menjelang malam, Leon dan anak buahnya segera berkemas.Tujuan mereka adalah tempat dimana Hans dan keluarganya tinggal.
Leon menjejakkan kakinya di taman belakang rumah mewah keluarga Thomson, tempat dimana ia pernah tinggal semasa kecilnya bersama ibu dan ayahnya.
Untuk sesaat Leon mengenang masa kecilnya di taman itu, taman yang khusus di bangun oleh sang ayah untuk ibunya, namun berada di taman itu membuat Leon geram karena mengingatkanya pada sikap pengecut sang ayah yang membiarkan ibunya di usir tanpa bisa melakukan apapun.
"Hati-hati tuan, penjagaan di dalam rumah sangat ketat." ucap Davin.
"Cemaskan dirimu sendiri Davin!"
Mereka hanya berjumlah 5 orang, sedang penjagaan didalam rumah dan di luar rumah berjumlah puluhan orang.
Mereka segera berpencar, Davin bertugas mencari Hans, Dragon bertugas mencari monica, dan kedua anak buahnya bertugas menghabisi satu persatu penjaga di setiap sudut rumah.
Sedang Leon sendiri sedang menyusup ke ruang bawah tanah untuk menemui Maria, pelayan setia ayahnya yang sudah bekerja di rumah itu sejak Leon masih kecil. Melalui Maria lah, Leon bisa mengetahui secara jelas gerak-gerik Hans dan keluarganya.
Satu persatu penjaga di lantai bawah, Leon habisi dengan mudah tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Sehingga sang tuan rumah tidak tau jika sedang ada penyusup yang sedang memasuki rumahnya.
Saat semua terkendali, Leon segera menemui Maria, pelayan yang hampir seumuran dengan ibunya itu, di ruang bawah tanah.
Crieek!
Bunyi pintu tua bawah tanah terbuka, Leon segera masuk dan menemui Maria. Wanita itu terlihat cemas sedang mondar-mandir di sebelah pintu.
"Bibi,"
Maria segera berbalik, terlihat kelegaan terpancar di wajahnya.
"Tuan muda, syu___syukurlah anda baik- baik saja." ucap Maria terharu, untuk pertama kalinya ia bisa melihat tuan mudanya sejak mereka di usir.
__ADS_1
"Ya bibi, Semua berkat anda." ucap Leon sembari mendudukkan dirinya di kursi tua yang sudah lama tidak terpakai.
"Sekarang, ceritakan padaku dimana ayahku dirawat."
Terakhir kali, Leon mendengar ayahnya sakit sehingga perusahaan diambil alih oleh Hans.
"Tu__tuan, saya harap anda tidak terkejut, dengan apa yang akan saya ceritakan." ucap Maria sendu, bahkan sudah terlihat air mata yang menggantung di kedua sudut matanya.
Leon menghela napas, " Aku siap mendengar apapun, bibi."
Kemudian Maria mulai bercerita, bahwa Ayahnya benar- benar tidak tau jika kecelakaan istri dan anaknya adalah sebuah konspirasi, hingga suatu saat Stuward Thomson mengetahui jika Hans lah sang pembunuh tersebut. Merasa kecewa, sekaligus tidak berguna, ayah Leon mulai sakit- sakitan. Tidak ada yang bisa dilakukannya, semua aset perusahaan sudah dibawah kendali Hans saat ayahnya mengetahui jika Hans lah pembunuh anak dan istrinya.
Saat ia mulai sakit parah, Monica mengasingkan ayahnya jauh dari rumah dan Maria sendirilah yang merawat sang tuan hingga tepatnya dua tahun lalu ayah Leon meninggal dunia.
Mendengar cerita Maria, Leon tercenung untuk sesaat. Sebelumnya ia memang sudah mencari tau tentang ayahnya yang selama lima tahun ini tiba-tiba menghilang dari dunia bisnis. Kabar beredar, jika ayahnya sakit dan harus menjalani perawatan. Tentu saja Leon tidak percaya begitu saja, ia tau jika ayahnya tengah di asingkan, tapi Leon tidak peduli. Leon anggap itu adalah hukuman karena sudah membiarkan ibunya meninggal dengan sia_sia. Ayahnya bahkan membiarkan Omanya keluar dari rumah begitu saja, hanya karena Monica tidak menyukainya.
Yang menjadi pikiran Leon saat ini adalah, apakah Omanya sudah tau, jika anaknya sudah meninggal?
Walaupun, hubungannya dengan Oma terlihat aneh di mata orang Lain, tapi bagi Leon Oma adalah orang yang penting dalam hidupnya. Oma adalah ibu kedua baginya setelah ibunya meninggal.
"Baiklah, bibi tunggu disini hingga semua aman." ucap Leon
Maria mengangguk." Hati-hati tuan." pesan Maria.
Leon mengangguk kemudian keluar dari ruang bawah tanah.
Keadaan sangat sunyi saat Leon berada di lantai dua. Pria itu berpikir apa mungkin Davin dan yang lain tidak berhasil masuk?
Leon segera menepis pikiran buruknya, Davin tidak selemah itu.
Doooor! Dooor!
Beberapa tembakan mengarah pada Leon, untung saja ia sempat menghindar dan bersembunyi di balik tembok kamar, yang sepertinya kamar milik Hans.
Mereka terus mendekat kearah Leon dengan hati-Hati, karena tidak ada pilihan lain, Leon keluar dari persembunyiaannya dan menghadapi mereka seorang diri.
Dor! Dor!
Setiap peluru melesat tepat mengenai sasaran, tidak heran melihat kemampuan menembaknya, Leon pernah menjadi pembunuh bayaran dengan gaji termahal karena kelihaiannya dalam mengeksekusi para korbannya. Bagaimanapun juga, sekarang ini dirinya tetap kalah jumlah.
Saat sedang fokus baku tembak dengan beberapa orang di depannya, Leon tidak menyadari jika sedari tadi ada yang sedang mengawasinya dari belakang dan siap menarik pelatuk pistolnya.
Dor!
Leon segera menoleh.
"Maaf, tuan. Saya sedikit terlambat!" Davin datang tepat saat seseorang akan menembakkan peluru kearahnya dari belakang.
"Kau tepat waktu, Davin!"
Setelah semua beres, mereka mendobrak kamar Hans, penerangan yang minim membuat susana kamar menjadi remang. Davin dan Leon mengambil sikap waspada untuk sebuah serangan yang tiba- tiba.
Dor!
Satu tembakan tepat menuju Davin, namun pria itu dengan gesit menghindar.
Leon membalasnya, tepat di lengan kiri Hans membuat pistol ysng sedang di genggamnya terlempar begitu saja.
"Anda?!" Hans terkejut, penyusup yang masuk ternyata CEO global corporations yang sebelumnya sudah mengambil alih salah satu anak cabang dari perusahaannya yang berada di indonesia.
Leon menyeringai sembari menarik kursi tepat di depan Hans, menduduki dan menyilangkan kakinya.
"Kaget?! perkenalkan, namaku Leon Stuward Thomson." ucap Leon. Aura membunuh terlihat begitu jelas di wajahnya.
Mata Hans terbelalak mendengar ucapan Leon.
Leon terkekeh sembari memiringkan kepalanya, kemudian menatap tajam kearah Hans.
"Ingat? bocah yang ingin kau habisi 22 tahun lalu, itu aku."
"Ka__kau?!" Hans mendelik kaget.
"Kaget?! aku bisa hidup dengan sebaik ini, hah?!"
"Harusnya aku membunuhmu juga di rumah sakit!" desis Hans.
Leon terbahak, gemanya memecah kesunyian malam.
"Maaf, tuan. Saya menemukan perempuan ini di kebun belakang, ingin melarikan diri." ucap Dragon sembari membawa seorang wanita, kemudian melemparkan tepat disamping Hans.
Tidak lama setelah itu, anak buah Dragon juga masuk sembari membawa seorang gadis berumur sekitar dua puluh tahunan.
"Lepaskan aku, brengsek!" umpat wanita itu, sembari menggerakkan kedua tangannya yang terikat. Sedang sang gadis terlihat diam dan tenang, seolah olah tidak peduli dengan nyawanya yang sebentar lagi akan mencapai nirwana.
"Apa kabar, ibu tiri?!" sapa Leon dengan seringainya.
Wanita itu terlihat kaget, karena Leon menyebutnya ibu tiri.
"Aku anak Amira yang ingin kau bunuh 22 tahun silam." ucap Leon kearah Monica.
"Jangan bercanda! Amira sudah mati beserta anaknya di indonesia." ucap monica tidak percaya.
"Amira memang sudah mati, tapi anaknya masih hidup. Bukan begitu Hans?"
Seketika, Monica menoleh kearah ayahnya.
"Apa maumu?!" tanya Hans.
Lagi-lagi Leon terbahak.
"Tentu saja nyawa kalian, apa lagi?"
ucapan Leon seketika membuat Hans menelan kasar salivanya. Sedang Monica bergetar ketakutan.
"Kau boleh ambil apapun, tapi biarkan kami pergi." Hans memohon.
"Apa lagi yang kau punya? aku sudah mengambil semuanya darimu!"
"I__ini, gadis ini ambillah! jadikan ia pembantu atau apapun sesukamu dan lepaskan kami!" ucap Monica seraya menendang paha gadis yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Leon tersenyum miring."Siapa dia? sehingga pantas dijadikan pengganti nyawa kalian?"
"Dia putriku,"
Leon kembali terbahak, kali ini dengan begitu keras. Ternyata Monica lebih gila darinya. Wanita itu menyerahkan putrinya sendiri demi hidupnya.
"Aku tidak tertarik, tapi jika kau sangat ingin putrimu mati, maka akan aku kabulkan."
"Itu berarti, aku bebas?!" tanya Monica antusias.
"Aku belum memikirkannya, hanya saja putrimu yang ada di urutan pertama eksekusi ini." ucap Leon santai.
Pria itu kemudian mengarahkan pistolnya kearah sang gadis, namun gadis itu terlihat tenang. Ia bahkan tidak menangis ataupun gemetar. Matanya menatap kosong kearah lantai di bawahnya. Namun Leon tidak peduli, ia bukan tipe orang yang akan mengasihani para korbannya.
Leon mulai menarik pelatuk dan..
"Jangan, tuan!" Maria tiba- tiba berlari kearah gadis tersebut dan memasang badan di depannya.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Leon, untung saja tangannya cepat bereaksi, jika tidak maka Maria lah yang sudah tertembak.
"Ampun, tuan. Ini adik anda, tuan muda." ucap Maria sembari menangis.
"Apa maksudmu?! aku tidak punya adik!"
"Dia memang bukan adik kandung anda, tapi dia tetap adik anda tuan. Tuan besar sangat menyanyangi nona Lisa selama hidupnya."
Leon menyeringai, hatinya perih mengetahui ayahnya sangat menyayangi adik tirinya.
"Aku tidak peduli! di tetap anak dari seorang iblis yang membunuh ibuku!"
"Ampun, tuan. Saya mohon, maafkan nona Lisa. Dia berbeda dengan kedua iblis itu, sejak kecil wanita itu tidak pernah merawatnya apalagi memperhatikannya, dia menjadikan putrinya sendiri sebagai alat untuk menguasai perusahaan."
"Diam, kau! dasar pembantu!" teriak Monica kearah Maria.
Tapi Maria tidak terpengaruh dan tetap melanjutkan ucapannya.
"Semenjak, ayah anda sakit, Wanita itu melarang nona untuk bertemu dengan ayah anda dan setelah ayah anda meninggal, mereka menjadikannya pembantu!"
"Memang kenapa?! aku tidak sudi punya anak dari lelaki yang tidak pernah mencintaiku, kau tau?! ayahmu hanya menyebut nama Amira hingga akhir hidupnya! dan itu membuatku muak!" ucap Monica penuh kebencian.
Dor!
Leon menembak tepat di kepala monica, wanita itu tersungkur begitu saja dengan mata masih terbuka.
"Dia terlalu berisik!" ucap Leon santai.
Sedang Maria terlihat gemetar ketakutan.
"Kau tidak akan menemukan semua hartaku, brengsek!" umpat Hans.
Leon terkekeh.
"Hartaku sudah banyak Hans, aku bingung bagaimana menghabiskannya, aku tidak tertarik dengan uangmu yang sedikit itu!"
"Kau ba****at.......!"
Dor!
Satu peluru lagi melesat tepat di kepala Hans bahkan sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya. Kemeja Putih yang Leon kenakan berubah menjadi merah karena begitu dekatnya.
Kemudian Leon menatap tajam kearah adik tirinya.
"Sepertinya menarik juga menjadikanmu pembantu! kau harus membayar semua kejahatan ibu dan kakekmu!" ucap Leon dingin.
"Terimakasih, tuan." ucap maria bersyukur, walaupun dijadikan budak itu sudah cukup, ketimbang Leon membunuhnya.
"Bawa mereka berdua ke indonesia!" perintah Leon kearah Dragon.
"Baik tuan." ucap Dragon.
"Bereskan mayatnya, jangan meninggalkan jejak sedikitpun." lanjut Leon.
"Baik, tuan."
"Davin!"
"Ya, tuan?"
"Setelah membereskan ini, kita pulang segera!" ucap Leon.
"Baik, tuan."
"Aku tunggu di luar!"
"Baik, tuan."
Sembari menunggu Davin dan yang lain membereskan mayat Hans dan Monica, Leon berkeliling ke sisi lain rumah masa kecilnya. Tidak ada jejak sedikitpun tentang ayahnya, apalagi ia dan ibunya jika pernah tinggal di rumah itu. Hans dan monica pasti sudah membuang semuanya tentang mereka.
Davin membayar orang untuk membuang mayat bapak dan anak tersebut sejauh mingkin.
Setelah selesai membereskan semuanya, Davin segera menghampiri sang bos.
"Sudah selesai, tuan."
"Kita pulang sekarang!"
"Anda tidak ingin membersihkan diri lebih dulu, tuan?"
"Tidak! aku ingin cepat pulang!" ucap Leon sembari berlalu kearah mobilnya.
"Baik, tuan."
"Dia membuatku kesal!" Leon bicara sendiri.
Davin menghela napas, mood tuannya sedang tidak bagus dan Davin tau itu bukan karena Hans, tapi karena Aila. Nona mudanya akan mendapat masalah besar sebentar lagi. Leon yang biasanya benci bau darah, kali ini bahkan mengabaikannya dan langsung pulang. Apa lagi? tentu saja untuk memberi hukuman pada istri kecilnya.
Bersambung....
Maaf, telat update. Sedang banyak urusan.
__ADS_1
Like, vote yang banyak supaya tetap semangat buat nulis.