
Bahagia,
Itulah awalnya.
Aku mengira, saat ituTuhan mengirimkan dirimu hanya untukku.
Lalu,
Sebuah kenyataan datang menampar.
Ternyata kau tidak sepenuhnya bisa ku miliki, sebab kau juga masih terikat pada hati yang lain.
*****
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 45
**Kenyataan**
Aila berdiri di tepi balkon kamarnya, menatap hampa pada lembah di sekitar kastil. Angin sore yang berembus menampar wajah mungilnya.
Kemilau senja tidak lagi mampu mencipta tawa ceria di bibirnya. Senyum yang tercipta pun hanyalah sebuah kepura-puraan semata.
"Apa yang kau pikirkan, hem?" ucap Leon tiba-tiba memeluknya dari belakang, entah sejak kapan pria itu datang.
Aila tersentak dari lamunannya. Dengan cepat ia melepas tangan Leon yang melingkar di perutnya, gadis itu tergagap mundur dari tempatnya. Ia sendiri bingung kenapa tubuhnya bereaksi demikian, seperti enggan disentuh.
"Kakak sudah pulang? akan ku siapkan air untuk mandi." ucap Aila buru-buru pergi ke kamar mandi, sebelum Leon sempat menjawab pertanyaannya.
Untuk sesaat Leon kaget dengan sikap istrinya, namun bibirnya terkatup rapat bahkan sekedar untuk bertanya, kenapa, karena ia sendiri sudah tahu jawabannya.
Setelah menyalakan keran, Aila terduduk lunglai di bibir bathub. Sudut hatinya terasa begitu nyeri, betapa sulitnya berpura- pura tidak terjadi apapun sedang ia sudah mengetahui semuanya.
Entah kata apa yang pantas untuk mengambarkan perasaannya saat ini, kecewa, sedih, merasa di hianati, itu jelas. Namun, ia harus tetap bersabar dan bertahan. Status mereka bukan lagi pacaran, tapi sebuah ikatan bernana pernikahan. Semua keputusan haruslah di pikirkan secara matang, karena sekarang ia sudah menjadi seorang istrin yang harus berpikir dewasa. Tidak asal main ngambek, marah, minggat, apalagi minta cerai. Tuhan memberi sebuah masalah, sudah tentu sepaket dengan jalan keluarnya dan itu pasti.
Dihapusnya bulir bening yang sudah membasahi kedua pipinya dengan cepat, inilah saatnya menunjukkan bahwa dirinya lebih kuat dari apa yang mereka duga.
Setelah bathub penuh, Aila segera berdiri, menghirup napas dalam berusaha menormalkan sikap dan tidak lupa membuat selengkung senyum di bibirnya, kemudian melangkah keluar.
"Sudah." ucap Aila.
Leon mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun baru beberapa langkah, pria itu kembali berbalik terlihat ingin mengucapkan sesuatu, tapi Aila sudah tidak ada di tempatnya.
Akhirnya, ia melanjutkan langkah dengan perasaan yang sulit di artikan.
Sudah satu jam, Leon berendam, namun benang kusut dalam pikiranya tidak juga terurai. Ia kemudian menyudahi ritual mandinya. Badanya terasa remuk dan pegal semua. Nyatanya, merawat orang sakit tidak semudah yang ia kira. Alea terus muntah semalam tadi, membuatnya harus tetap terjaga.
Dengan selembar handuk yang terlilit di pinggang, Leon keluar dari kamar mandi. Ia kaget mendapati Aila masih di dalam kamar. Untuk sesaat ia menatap kearah istrinya itu, pandangan matanya terlihat kosong, sedang di pangkuannya terlihat pakaian ganti miliknya. Seketika perasaan bersalah menghampiri, namun ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Kau masih disini?"
Aila tergagap, sadar dari lamunannya. Ia kemudian tersenyum dan menghampiri suaminya.
"Kakak sudah selesai?"
"Ya"
"Aku bantu pakaikan."
Leon mengangguk, kemudian mengangkat tubuh mungil istrinya itu ke atas nakas dan membiarkann Aila membantunya berpakaian. Aila bahkan membantunya menyisir rambut, namun entah kenapa ia merasa jika sikap istrinya sedikit berubah. Aila memang pendiam, namun keterdiamannya kali ini terasa lain.
"Sudah." ucap Aila saat ia sudah menyelesaikan semua tugasnya.
Gadis itu kemudian beringsut untuk turun, namun Leon menahannya.
"Ada yang lain?"
Leon menggeleng, kemudian menatap lekat kearah istrinya. Beberapa kali terdengar helaan napas kasar dari mulutnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun entah kenapa semua kata tercekat begitu saja. Ia bingung harus mulsi dari mana untuk mengatakan semuanya.
Aila menghirup udara pelan, sekedar memenuhi rongga paru-paru yang tiba-tiba terasa begitu sesak, sulit untuk bernapas.
Ia tahu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya. Untuk sesaat ia memejankan mata, dengan tangan bergetar ia memegang dada suaminya, merasai debaran jantung didalamnya. Entah kenapa iramanya tidak seperti biasanya, Aila tau ada yang berubah di sana.
"Siapa Alea?" tanya Aila tanpa menatap wajah suaminya.
Leon terhenyak, ia tidak menyangka jika Aila sudah tahu tentang Alea.
"Kau sudah tau?"
Aila menarik tangan dari dada suaminya, kemudian mendongakkan wajah.
"Ya."
"Dari siapa kau mengetahuinya?"
"Apa itu penting?"
Leon menegakkan badan, mendesah kemudian mengusap wajahnya kasar. Ia ingin Aila mendengarnya langsung dari mulutnya, bukan dari orang lain.
__ADS_1
"Siapa dia?" kejar Aila.
Untuk sesaat Leon terdiam, berulang mengusap wajah, sebelum ia menjawab pertanyaan istrinya.
"Dia....orang yang pernah kucintai." ucap Leon tertahan.
Aila kembali menghela napas.
Nyatanya, mendengar pengakuan itu secara langsung dari mulut Leon malah membuat hatinya bertambah sakit.
"Sekarang masih mencintainya?"
"Dia sakit."
Leon menolak menjawab pertanyaab Aila.
"Kakak masih mencintainya?" Ulang Aila.
"Dia sendirian dan aku akan merawatnya. Akan kubawa dia kemari." pungkasnya.
Untuk sesaat Aila kaget mendengar ucapan suaminya, namun bukankah itu sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaanya?
Dadanya terasa semakin sesak, matanya mulai berkabut, namun sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap kuat dan tidak menangis.
Aila tersenyum.
"Jika dia sangat berarti buat kakak,aku akan membantu merawatnya."
Ia kemudian melompat turun, memungut handuk yang terserak dan membawanya kearah kamar mandi.
Mengunci diri dan mulai menumpahkan segala sesak disana. Aila menangis tanpa suara.
Leon kembali mengusap wajahnya dengan kasar, mengepalkan tangan dan meninju tembok kamar.
Ia tau, jika Aila tengah kecewa dan gadis itu sedang menutupinya. Ia juga tahu jika saat ini istrinya itu tengah menangis, tapi tidak ada yang bisa di lakukannya, bahkan untuk sekedar menghapus air matanya.
Ia hanya berharap, Aila bisa mengerti posisinya.
Setelah lelah menumpahkan tangisnya, Aila segera berdiri, kemudian segera membasuh wajah. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada menangis seorang diri dan tidak ada yang membantumu menghapus air mata. Ia keluar kamar mandi dengan wajah sembab.
Aila merasa lega, karena suaminya sudah tidak ada dikamar. Ia memang sedang ingin sendirian sekarang.
Ketika sedang merenung, pintu kamar di ketuk dari luar.
"Siapa?"
Aila tahu, suara itu milik pak Liem. Ia kemudian melangkah untuk membuka pintu.
"Ya pak Liem, ada apa?"
Untuk sesaat, pak Liem menatap wajah Aila yang nampak sembab. Ia tau ada sesuatu yang baru saja terjadi dengan gadis itu, namun ia memilih diam.
"Nyoya besar memanggil anda untuk keruang tengah, nona."
"Baiklah, saya akan kesana."
Aila kemudian melangkah keluar kamar menuju ruang tengah yang diikuti Pak Liem dari belakang.
Aila sampai di ruuang tengah.
Di sana ternyata sudah ada suaminya dan Oma tentu saja. Wajah keduanya terlihat tegang, sepertinya mereka baru saja berdebat. Seketika jantung Aila berdegup kencang, ia tau apa yang akan Oma bicarakan.
"Duduk sini!" perintah Oma kepada Aila sembari menepuk kursi di sisi kanannya.
Aila menurut, kemudian duduk di samping Oma. Wajahnya tertunduk, ia tidak ingin Oma melihat mukanya sembab.
"Kau tau suamimu membawa perempuan lain ke rumah ini?" tanya Oma kepada Aila.
Aila mendongakkan kepalanya kaget, ia menatap kearah suaminya sesaat, namun pria itu sengaja melihat kearah lain, enggan bertemu tatap.
Leon memang bilang akan merawat Alea, tapi bukan membawanya pulang. Ia tidak menyangka jika wanita itu sudah berada di sini sekarang.
Aila kembali tertunduk, diam.
"Jadi kau sudah tau?"
"Ya" ucap Aila berbohong.
Membuat Leon seketika langsung menatapnya, ada keterkejutan di wajahnya.
"Astaga! astaga!" Oma memegang dadanya.
Aila panik dan langsung menyentuh lengan Oma.
"Oma tidak papa?" tanyanya kuatir.
Oma terlihat mengatur napas, kemudian menatap kearah Aila.
"Aku tau dia gila, tapi apakah kau juga harus ikut gila?"
__ADS_1
Aila menarik tangan dan kembali tertunduk, ia bingung harus mengucapkan apa. Seandainya saja Oma tau apa yang sedang terjadi pada hatinya.
"Aku akan mencarikan dokter terbaik, dan membayar orang untuk merawatnya, jadi jangan pernah menemuinya kembali." ucap Oma kearah Leon.
"Tidak perlu, aku akan merawatnya sendiri." jawab Leon.
Seketika Oma terlihat murka, ia kemudian melempar vas berisi mawar di hadapannya kearah Leon.
Praaaaaank!
Leon diam, bergeming.
"Apa kau tidak waras? kau sudah menikah Leon!" ucap Oma dengan nada tinggi, napasnya tersengal tidak beraturan.
"Omaaa, tenanglah, Oma akan sakit nanti." Aila menyela ucapan Oma, ia terlihat khawatir.
"Nona benar, nyonya. Anda harus mengendalikan diri anda." ucap pak Liem mengingatkan.
Aila segera ke dapur mengambil air putih kemudian memberikannya pada Oma dan membantunya minum.
"Aku tidak peduli dengan pendapat siapapun, aku akan tetap merawatnya." ucap Leon sembari berlalu.
Oma terlihat memejamkan matanya. Ingin sekali ia menampar wajah cucunya itu agar ia cepat sadar, namun nyeri pada jantungnya membuat ia harus menahannya.
Setelah kepergian Leon, Aila memunguti pecahan vas dengan sabar.
"Aku tau, suamimu tidak pulang dua hari ini, sekarang membawa wanita lain dan kau mendiamkanya?" ucap Oma dengan nada lebih rendah.
"Dia sakit Oma."
"Kalo dia sakit, terus kenapa? apa kau yang membuatnya sakit?"
Aila diam, ia tidak mau berdebat dengan Oma.
"Lakukan sesuatu! atau kau ingin suamimu direbut wanita lain?"
Seketika Aila menghentikan tangannya, matanya memanas, bulir-bulir bening mengalir dari kefua sudut matanya. Hancur sudah semua pertahanan yang ia bangun sejak tadi. Aila menangis.
"Apa yang bisa ku lakukan Oma? jika dia masih sangat mencintainya....a___apa yang bisa ku lakukan?" Aila terisak dalam ketertundukannya.
Oma segera bangkit dan memeluk Aila,
"Oh sayang, kau gadis yang malang."
Mereka menangis bersama, sedang maria dan Lisa terlihat berkaca-kaca menyaksikan keduanya.
*******
Sejak Leon membawa Alea ke kastil depan dan merawatnya, pria itu tidak lagi tidur di kastil istrinya. Ia hanya pulang jika ingin mandi dan berganti pakaian saja. Selama itu, mereka sudah tidak saling bicara, meskipun Aila masih melayaninya seperti biasa, namun gadis itu selalu menolak jika ingin di sentuh. Hubungan mereka semakin hari semakin hambar dan Aila sendiri lebih banyak menghabiskan waktu bersama Oma dan Lisa.
Pelan tapi pasti, Aila berhasil mencairkan hati Oma untuk bisa menerima kenyataan jika Lisa adalah cucunya. Hubungan mereka sekarang jauh lebih baik, walaupun Oma belum mengijinkan Lisa untuk memanggilnya Oma, dan Lisa pun masih menyebut Oma sebagai Nyonya, namun Aila tau pasti, sudah mulai tumbuh kasih sayang diantara keduanya.
Aila juga mulai melakukan hal positif lainya yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya. Salah satunya, gadis itu mulai mahir merias diri, berbekal dari melihat tutorial di youtube, Aila sudah jauh lebih pintar merawat tubuhnya sendiri sekarang.
Selain itu, ia lebih banyak menyendiri di taman rahasia di samping danau, meski Jimy selalu mengekorinya kemanapun ia pergi, tapi Aila membiarkannya.
Taman rahasia yang khusus di bangun suaminya hanya untuk dirinya, namun mengingat itu sekarang, seperti sudah tidak ada artinya.
Ia juga sudah jauh lebih akrab dengan para sahabat Leon, terutama Serkan. Mereka sering terlihat duduk berdua di bangku taman belakang untuk sekedar menikmati senja, berdiskusi ataupun untuk sekedar bercanda.
Walaupun terkadang, Davin suka datang secara tiba-tiba menggantikan jimy sebagai bodyguard pribadinya, toh Aila tidak terlalu memusingkan hal itu. Ia menganggap semua orang di kastil itu sebagai teman dan sahabat baginya.
Aila tidak menyangka, ternyata Serkan adalah orang yang menyenangkan dan cukup pintar juga. Terlihat dari bagaimana pria itu memberikan gagasan dan pandangannya ketika mereka berdiskusi.
Suatu sore yang cerah, terdengar canda tawa di taman belakang kastil, Aila, Lisa dan semua sahabat Leon sedang berkumpul di sana. Mereka mengadakan pesta kecil dengan wine tentunya.
Suasana menjadi gaduh, ketika ada ulat bulu yang menempel pada punggung Aila. Gadis itu sangat pobia dengan yang namanya ulat bulu. Baginya binatang lunak berbulu itu sangat aneh, membuat geli dan menakutkan. Lebih baik ia berhadapan dengan ular ketimbang ulat bulu.
Aila berteriak, berlari, panik dan tanpa sengaja gadis itu langsung berlari kearah Serkan dan membenamkan tubuhnya pada dada pria itu. Melihat tingkah lucu Aila, semua orang yang berada disitu tertawa, bahkan mereka sengaja membiarkan ulat itu berada disana sedikit lebih lama.
Aila bahkan sampai menaikkan kakinya diatas sepatu serkan dan memeluk pria itu erat sembari terus meminta tolong dan sesekali berteriak karena takut.
Tanpa disadari, sikapnya itu menimbulkan getar aneh dalam dada Serkan. Tangan kekar penuh tato itu terlihat terulur ingin mengusap kepala istri sahabatnya itu, namun ia mengurungkan sikapnya dengan mengepalkan tangan. Serkan merasa Aila begitu menggemaskan, membuat siapa saja ingin memeluk tubuh mungilnya itu. Ia mengerti sekarang, kenapa Leon selalu senang menggendongnya, Aila memang seperti boneka hidup yang lucu.Jika bukan istri sahabatnya, ia sudah merebut gadis itu tidak peduli siapapun pemiliknya.
Tidak ada yang menyadari, jika sepasang mata penuh kemarahan sedang menyaksikan hal itu dari atas balkon kamar Alea, siapa lagi jika bukan Leon. Ia sadar apa yang sedang di lakukannya salah, tapi melihat Aila memeluk pria lain di depan matanya membuat hatinya panas.
Api cemburu menguasai hati dan pikirannya. Meski ia tahu, Aila melakukannya tanpa sengaja, tapi ia jelas tau jika Serkan sahabatnya menaruh hati padanya, pria itu bahkan pernah dengan jelas mengatakan bahwa ia mencintai istrinya secara terang terangan, ia juga mengancam akan membawa pergi Aila jika dirinya masih bingung dalam menentukan sikap.
Api cemburu begitu membakar hatinya, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Satu yang pasti, ia hanya ingin mempertahankan Aila untuk terus berada disampingnya. Selainnya, ia belum bisa memberikan apapun pada gadisnya itu.
Bersambung....
Nyesek gak ges?
Sama ku juga gitu, tapi konflik juga harus tetap ada untuk mendewasakan mereka. Tentang masa lalu, banyak orang yang bilang, adalah suatu kebodohan jika masih terjebak pada masa lalu, namun taukah kelen? gak setiap orang pernah menyelesaikan masa lalunya dengan baik hingga ia masih menjebak dirinya sampai sekarang.
Terkadang bukan karena gak mampu untuk keluar dari sana, hanya saja mungkin belum bisa.
ha ha ha, apaan sih? authore pusing dah! ha ha ha..
__ADS_1