
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 81
**Dia pendarahan!**
Setelah mendapat wejangan panjang lebar dari Oma, Leon berdiri lalu melangkah menuju kamarnya. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang ketika menyadari jika istrinya lebih kelelahan dan kepayahan darinya.
Leon menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar. Biasanya jika ia pulang dari kantor, istri mungilnya itu akan langsung meloncat dan mengendusnya. Aila bilang, sangat menyukai aroma tubuhnya setelah seharian tidak mandi. Itu aneh dan jorok menurutnya. Namun Oma bilang itu namanya ngidam. Meski tidak paham, Leon berusaha memahaminya.
Leon masuk kedalam kamar, namun ia tidak melihat ada tanda-tanda jika istrinya berada disana. Ia mencarinya keseluruh ruangan di kamar itu, setelah tidak menemukannya, Leon keluar dan mencarinya ditaman depan kamarnya, dan ternyata tidak ada juga.
Pria itu kembali turun untuk menemui Omanya.
Wanita tua itu terlihat sedang duduk santai diruang tengah dengan Maria yang sedang memijat punggungnya.
Leon mendekat, "Dimana dia?" tanya Leon pada Omanya.
"Siapa?" tamya Oma santai.
Leon mendengus, lalu menghempaskan dirinya di sofa tepat disamping oma. "Istriku, siapa lagi?!" ucapnya kesal.
"Tadi dikamar, apa tidak ada?" Oma balik bertanya.
Leon mendesah," jika ada kenapa aku mencarinya, Oma.." jawab Leon bertambah kesal.
Oma menoleh kearah maria yang berada di belakangnya, "Maria, tolong cari Aila di kamar Nita dan Lisa," pinta Oma pada Maria. Ia yakin Aila pasti sedang ngerumpi dengan kedua wanita tersebut. Memang bisa kemana lagi selain kesana?
Maria mengangguk," Baik Nyoya," jawab Maria kemudian melangkah kearah kamar Nita dan Lisa.
Tepat saat, itu keempat sahabat Leon datang. Mereka memang terkadang menghabiskan waktu menjelang malam dengan berkumpul diruang tengah sembari mengobrol dan membahas apapun. Entah itu masalah perusahaan, berita yang sedang viral bahkan tentang wanita istri tetangga. Eh!
"Kalian lihat Aila?" tanya Oma pada mereka.
Keempat sahabat Leon saling pandang sebelum akhirnya mengangkat bahu, tidak tahu.
"Aku melihatnya sore tadi, di loby.." ucap Erik sembari mendudukkan dirinya disamping Leon.
Tidak berapa lama, Maria datang dengan Lisa dan Nita.
"Mereka, tidak melihatnya Nyonya," ucap Maria.
"Tadi sore, nona membantu saya memasak Nyonya. Setelah itu, nona pamit untuk kekamarnya.." timpal Lisa.
Leon mendesah, "Panggilkan Jimy!" perintah Leon pada Davin. Jimy adalah pengawal pribadi istrinya. Pria itu pasti tahu dimana istrinya.
Davin mengangguk paham, kemudian melangkah untuk mencari pria itu di kamarnya.
Tidak berapa lama, Davin muncul dengan Jimy yang tampak basah pada rambutnya. Pria itu terlihat baru saja selesai mandi.
"Dimana istriku?" tanya Leon pada Jimy.
Jimy mengerutkan kening, "Tadi nona bilang ingin tidur di kamar tuan, setelah itu saya kembali ke kamar dan mandi," jawab Jimy menjelaskan.
Shiit!!
Leon langsung mengumpat panik, "Kumpulkan semua bodyguard dan cari keseluruh sudut kastil!" perintah Leon pada Erik.
Erik mengangguk paham.
"Ambilkan senjataku, Davin!" perintahnya pada Davin.
Davin mengangguk patuh, dan pergi mengambil apa yang diminta tuannya.
"Kendalikan dirimu, kita bisa cek Seluruh CCTV di kastil ini," ucap Serkan.
"Lakukan itu!" perintah Leon.
Serkan hanya menarik napas panjang. Ia sudah sering melihat kebodohan yang dilakukan oleh Leon. Namun jika menyangkut masalah Aila, kebodohan sahabatnya itu berlipat ganda.
Serkan mengecek seluruh CCTV yang terpasang. Tidak ada tanda-tanda Aila kabur. Gerbang depan di laporkan aman. Security yang memang ditempatkan di kedua gerbang utama pun tidak melihat adanya sang nona melintas. Tapi Aila memang tidak terlihat dimanapun di dalam kastil.
"Kami sudah berkeliling tuan, tapi nona tidak dimanapun.." ucap Jimy.
__ADS_1
Leon menggeram, mengusap kasar wajahnya. "Kau sydah mencarinya disetiap sudut?" ditaman depan, belakang, air mancur, semuanya?"
"Kami yakin tidak meninggalkan setiap jengkal pun tuan," ucap Jimy mantap.
Leon bertambah panik sekarang. Tiba-tiba perasaannya di penuhi kecemasan.
"Bukankah dia pakai pelacak?" tanya Erik.
"kau benar!" Leon baru sadar jika Aila memakai pelacak. Saat panik, otaknya memang eror.
"Lacak Lokasinya," perintahnya pada Serkan.
Tanpa banyak bertanya lagi, Serkan langsung melacak letak posisi Aila. Butuh beberapa lama untuk memastikan posisi Aila.
Ketemu!
Gadis itu masih berada di wilayah kastil, hanya saja memang berada sedikit jauh dari pentauan keamanan.
"Dia berada di tepi Danau!" ucap Serkan heran. Danau terletak di wilayah kastil paling utara dan memang berbatasan langsung dengan hutan. Tapi kenapa malam-malam seperti ini Aila disana?
Sial!
Tiba-tiba semua orang terlihat saling pandang, sebelum akhirnya meraih senjatanya masing-masing dan keluar dari kastil untuk mencari Aila.
Oma yang melihat wajah-wajah serius semua lelaki disana menjadi cemas. Tanpa bertanyapun, ia tahu ada hal buruk yang sedang terjadi. Wanita tua itu langsung terlihat gemetar, dan terduduk lemas diatas kursi. Kini semua kepanikan melanda seluruh penghuni kastil.
Jangan tanya bagaimana raut wajah Leon sekarang, jika saja kepanikannya bisa menjelma menjadi api, maka api itu sudah pasti membakar seluruh sudut kastil.
Tidak, ia tidak bisa kehilangan Aila!
Mereka berjalan cepat kearah danau, dengan sikap waspada tinggkat tinggi. Setiap orang bergerak dengan pelan tanpa menimbulkan suara sekecilpun.
Hingga mereka dibuat terkejut oleh kehadiran beberapa orang asing disana. Jelas jika Orang-orang tersebut tidak bermaksud baik. Benar saja, Leon melihat istrinya terikat tangan dan kakinya dengan mulut tersumpal. Raut wajah istrinya terlihat sangat ketakutan. Gadis itu terlihat memberontak, namun tetap sia-sia.
Melihat hal itu, Leon menggeram. Namun ia harus tetap berhati-hati.
Terlihat diantara mereka sedang menarik sebuah sampan kecil, sepertinya mereka akan membawa Aila untuk menyebrangi danau.
"Jangan gegabah, kita pastikan dulu jumlah mereka," bisiknya ditelinga Leon.
Meskipun berat, Leon mengangguk. Serkan benar, teledor sedikit saja istrinya akan langsung mati.
Davin bergerak kesisi selatan Danau, untuk memastikan. Setelah mendapat apa yang diinginkan, pria itu segera kembali.
"Di sekitar danau memang hanya mereka, tuan. Tapi bisa dipastikan diseberang danau akan lebih banyak!" Davin memberi informasi. Ia memang tidak bisa menghitung berapa jumlah mereka, karena keadaan danau yang gelap.
"Jika begitu, kita selesaikan sebelum mereka menyebrang." sahut Serkan. Bagaimanapun mereka tanpa persiapan dan hanya membawa senjata seadanya.
Setelah mengatur strategi, mereka akhirnya berpencar di tempatnya masing-masing. Pergerakan mereka sangat rapi dan teratur. Hingga orang-orang tersebut tidak menyadari kedatangan mereka.
Dengan beberapa tembakan, orang-orang tersebut berhasil di lumpuhkan. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Ucapan Davin benar, diseberang Danau terlihat beberapa orang yang sedang menunggu. Mendengar suara tembakan, orang-orang di seberang danau langsung mengarahkan tembakan mereka. Saling tembak pun tidak terelakkan lagi.
"Bawa Istrimu ketempat aman, biar kami yang atasi!" perintah Serkan pada Leon.
Leon segera mengendong istrinya yang tampak syok meninggalkan Danau.
Setelah sampai ditempat yang lebih aman, Leon meletakkan Aila diatas rerumputan. Ia melepaskan ikatan dan sumpalan pada mulut Aila dan langsung mendekapnya. Leon bisa merasakan tubuh istrinya bergetar karena ketakutan.
"Jangan takut, kau aman sekarang.." ucap Leon di telinga Aila.
Gadis itu tidak menjawab, namun Leon bisa merasakan nafasnya tersengal.
Ia segera memgurai dekapan dan melihat pada wajah istrinya. Meskipun lampu taman hanya temaram, ia bisa melihat wajah Aila terlihat sangat pucat, bibirnya bergetar, nampak gadis itu ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa.
Leon merasa istrinya nampak aneh.
Tepat saat itu Serkan dan yang lainnya datang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alex yang langsung memeriksa Aila.
Saat itu, Leon merasakan lengan kemeja miliknya basah. Dengan ragu, Leon mengangjat tangan dan melihat pada lengannya lebih teliti, kemeja putih itu kini berwarna merah darah.
Alex terlihat sangat terkejut. Seingatnya Aila tidak tertembak, lalu darimana asal darah itu.
__ADS_1
Alex melihat seluruh tubuh Aila lebih teliti hingga dengan ragu is menyentuh betis Aila dan mendapati darah mengalir di kedua kakinya
"Astaga! dia pendarahan!" pekik Alex.
Leon yang tampak panik dan tidak mengerti langsung menatap wajah istrinya. Mata Aila sudah terkatup rapat, tubuh mungil itu sudah tidak lagi merespon ucapan maupun teriakan suaminya. Aila telah hilang kesadaran.
"Cepat bawa keruang perawatan!" teriak Alex.
Dengan cepat Leon mengangkat tubuh Aila dan dengan setengah berlari ia membawanya masuk kedalam kastil menuju ruang perawatan.
"Jemput Miranda, secepatnya!" perintah Alex pada Davin ketika mereka sampai di depan loby kastil. Pria itu langsung menuju hellykopter milik tuannya dan membawanya menuju rumah sakit dimana Miranda sedang bekerja. Menjemput dengan mobil akan memakan banyak waktu.
*****
Semua orang menunggu dengan cemas di depan ruang perawatan. Leon bahkan tidak sempat mennganti kemejanya yang penuh darah. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, untung saja Leon cepat menyadari jika istrinya tidak ada.Jika tidak, mungkin Aila sudah dibawa oleh orang-orang suruhan tersebut.
Keadaan danau sangat gelap dan juga penuh pepohonan besar, jadi mereka tidak bisa menangkap orang-orang suruhan tersebut hidup-hidup. dua orang di seberang danau berhasil melarikan diri dan masuk kedalam hutan. Bagaimanapun mereka terpisah dengan danau, dan itu tidak mudah.
Semua orang tidak habis pikir, kastil yang sudah di jaga dengan begitu ketat masih saja bisa kecolongan.
"Aku rasa ada orang dalam yang sedang berani bermain dengan kita," ucap Serkan.
"Kau benar, akses keluar masuk sudah dijaga dengan begitu ketat dan diperiksa dengan teliti. Jika bukan orang dalam, semua itu tidak mungkin bisa mereka jangkau.." timpal Erik.
Leon hanya diam. Ia belum bisa berpikir untuk saat ini. Yang terpenting untuk sekarang adalah Aila selamat, apapun caranya. Siapapun yang berani bermain dengan dirinya akan ia pastikan tidak selamat. Tapi sekarang ia hanya ingin istri mungilnya itu kembali tentu saja dengan nyawanya.
Dengan menyandarkan diri pada dinding perawatan, Leon memejam dengan wajah cemas. Pikirannya kusut, sekusut penampilannya. Entah kenapa waktu berputar begitu lambat saat ia menunggu.
Leon tahu, semua ini hanyalah awal dari ancaman yang di layangkan untuk dirinya. Mereka tahu kelemahan dirinya ada pada Aila dan itu benar. Ia tidak bisa kehilangan Aila.
Leon yakin, setelah inipun mereka tidak akan berhenti. Namun ia harus memastikan terlebih dahulu, siapa yang telah berani bermain dengannya.
Tepat saat itu, rolling door pintu ruang perawatan terbuka. Miranda keluar bersama Alex dengan wajah kelelahan. Yang pertama maju mendekat tentu saja Leon.
"Bagaimana dia?!" tanya Leon langsung.
"Istrimu hamil.."
"Bukan itu! keadaan dia bagaimana?!" potong Leon cepat.
Alex menghela napas. Leon memang bukan tipe orang yang sabaran, apalagi menyangkut istrinya.
"Dia banyak kehilangan darah, karena rahimnya terluka, tapi ia akan baik-baik saja setelah melewati masa kritis ini. Namun, untuk janinya.."
"Itu tidak penting!" potong Leon lagi, lalu menerobos masuk begitu saja.
Mendengar ucapan Leon, semua orang tercengang. Pria itu seoerti tidak peduli dengan keadaan janin dalam kandungan istrinya. Ya, bagi Leon yang terpenting adalah keadaan istrinya bukan siapapun! meskipun itu calon bayinya.
Alex langsung mencekal tangan bossnya itu. Leon boleh seenak jidatnya sendiri, tapi keselamatan pasien adalah tanggung jawabnya.
"Hei! bersihkan dirimu dan sterilkan bajumu!" perintah Alex dengan tajam.
Leon terlihat tidak peduli dengan larangan Alex, tapi melihat wajah serius sahabatnya itu, ia akhirnya menurut. Leon segera pergi untuk membersihkan diri.
Miranda bernapas lega melihat hal itu. Ia tidak menyangka, ternyata Leon lebih dingin dari yang ia kira.
"Aila belum bisa di kunjungi untuk sementara waktu, kondisinya masih belum stabil. Jadi biarkan ia istirahat dan doakan saja agar kondisinya
cepat stabil." ucap Miranda setelah Leon pergi.
Oma terlihat kecewa, tapi ia harus bersabar demi kebaikan Aila.
Alex mendekat kearah Oma, pria itu meraih jemari keriput wanita tua tersebut. Menggenggamnya dengan hangat, "Tenanglah, dia akan baik-baik saja...dan cucumu, kami berhasil menyelamatkannya, meskipun kita harus melihat perkembangannya nanti.." ucap Alex lembut.
Oma memeluk cucu angkatnya itu terharu, "Itu sudah lebih dari cukup sekarang, terimakasih sudah menyelamatkannya..." sahut Oma.
Alex hanya tersenyum sembari mengusap punggung Oma.
Sejak ia bergabung dengan Leon, Oma lah orang tua bagi mereka. Sejak kecil ia tidak memiliki siapapun, hingga Leon datang menawarkan rumah dan keluarga untuknya. Ia bisa menjadi dokter hebat dan memiliki rumah sakit dimana-mana, itu semua berkat Leon. Leon tahu kemana minat dan bakatnya, pria itulah yang membiayai semua hidup dan kuliahnya hingga ia menjadi seperti sekarang.
Karena itulah, ia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan separuh dari jiwa sahabatnya tersebut. Sudah saatnya ia menjadi berguna untuk Leon dan keluarganya.
Bersambung....
__ADS_1