
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 87
**Kesal**
"Mau makan sesuatu, gadis kecil?" tanya Lucas pada Aila.
Aila menggeleng, "Aku tidak lapar Oom," tolak Aila ia lalu kembali diam dan mengamati keramaian orang-orang disekitarnya.
Aila ingin sekali bergabung dengan kumpulan para wanita dan kedua mempelai. Ia juga ingin bercengkrama dengan mereka dan sekedar untuk berselfie mungkin. Namun keadaannya tidak memungkinkan. Perutnya masih terasa tidak nyaman untuk dibuat bergerak, sedang dirinya juga tidak diperbolehkan meninggalkan Lucas dan para bodyguardnya. Aila merasa sangat kesepian ditengah kerumunan orang.
Suaminya sendiri, terlihat sibuk menyambut tamu kolega bisnisnya yang datang dari Timur tengah, Hongkong dan juga Jepang.
Sedang Oma, sebagai Nyonya besar Thomson tentu saja juga tidak kalah sibuknya. Wanita tua itu seperti sedang reuni dengan para Nyonya dan Tuan dari keluarga kaya lainnya.
Jadilah Aila hanya tinggal sendirian bersama Lucas. Tapi pria disampingnya itu juga terlihat sibuk dengan gawai dan senjatanya. Entahah, Aila tidak mengerti, ditengah kebahagiaan ini Lucas masih saja memegang senjata. Memang apa yang ditakutkan olehnya?
Saat sedang asyik melamun, seorang pria tiba-tiba sudah berdiri didepannya.
"Boleh aku duduk disini nona?" tanya Pria itu. Pria berjas abu-abu yang ia temui tadi pagi. Yang dengan beraninya menyentuh pipi dan mengerling padannya.
Aila tidak menjawab, gadis itu cukup terkejut dengan keberanian pria itu mendekatinya.
Tanpa mendapat persetujuan dari Aila, Steven mendudukkan diri tepat di depan gadis itu. Tentu saja keduanya terhalang oleh meja. Beberapa bodyguard dibelakang Aila terlihat waspada, namun Lucas terlihat mengangkat tangan. Memberi kode pada bawahannya untuk tetap tenang.
"Namaku Steven Hundson," Steven mengulurkan tangan pada Aila, Namun gadis itu hanya mengamati tangan Steven tanpa berniat menyambutnya. Aila selalu lambat bergerak ketika sedang terkejut.
Dengan santainya Lucas menyambut uluran tangan Steven dan menjabat erat tangan pria itu. "Lucas Morone, dan dia adikku, Aila morone.." Lucas memperkenalkan Aila sebagai Adiknya. Meskipun itu bohong, namun Aila membiarkan Lucas melakukannya.
Steven terkejut sesaat, namun dengan cepat pria itu menetralkan sikapnya. Meskipun kemampuan Lucas dalam dunia gelap tidak diragukan lagi, tapi Steven tidak merasa takut. Ia sudah menghabiskan banyak waktu dan uang untuk sekedar mencari gadis yang sekarang berada tepat di depan matanya. Jadi jika hanya karena ada Lucas di samping gadis itu lalu mmbuatnya menyerah, itu sangat konyol.
"Oww, saya tidak menyangka jika nona mungil ini adalah adik anda,..Well, kalian tidak mirip," steven ragu jika Aila adalah adik dari seorang Lucas. Pria itu sadar, mungkin saja Lucas hanya menggertakknya?
Lucas tergelak. Ia sama sekali tidak menyangka jika bocah pendatang baru didepannya itu punya cukup nyali juga untuk berhadapan langsung dengannya. Ia mencondongkam badan lebih mendekat pada Steven. "Apa aku juga harus menceritakan padamu jika kami berbeda ibu?" Lucas berucap dengan sangat dingin setelahnya, "Atau anda memang ingin mendengar kisah lain tentang keluarga kami yang menggelikan, tuan Steven Hamilton?" Lucas menyebut nama panjang Steven yang sebenarnya. Seolah-olah ia ingin memberi tahunya jika data dirinya yang sesungguhnya sudah ia ketahui dan sudah masuk dalam genggaman.
Raut muka Steven berubah sedikit gugup. Bagaimanapun ia tidak menyangka, jika Lucas langsung bisa mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Padahal sejak ayahnya meninggal. ia mengganti nama keluarga ayahnya agar tidak dikenali sebagai keluarga Hamilton. Tentu saja semua itu ia Lakukan untuk mengelabuhi Leon, agar pria itu tidak tahu jika dirinya adalah anak dari seorang Jack Hamilton. Orang yang pernah ia permalukan dan ia pecat dengan tidak hormat.
Tapi kenapa Leon mencari identitasnya? apakah pria itu sudah tahu jika dirinya adalah otak dibalik penculikan istrinya?
Tapi jika mereka sudah mengetahuinya, kenapa Leon tidak langsung menangkapnya?
Steven bergelut dengan asumsinya sendiri. Pria itu lantas tertawa kecil, "Ah, aku kira kalian akan tahu sedikit lebih lama lagi," Steven menjeda ucapannya dengan menyesap wine. "Tapi sepertinya kalian lebih cepat dari yang aku duga," lanjutnya dengan santai.
"Tapi boleh aku tahu kenapa anda mencari tahu identitasku, Tiuan Lucas?" tanya Steven pada Lucas.Ya, ia perlu memastikan apakah mereka memang sudah mengetahui perbuatannya atau belum.
Lucas tersenyum santai, "Tenang saja tuan Steven, itu hanya peraturan standar untuk para tamu,"
Steven menganggukan kepalanya mengerti. "Tentu saja tuan Lucas, keamanan adalah hal yang utama," Setidaknya ia bisa bernapas lega, karena saat ini, Lucas memang belum mengetahui jika dirinya adalah otak dari penculikan Aila.
Lucas tetawa kecil mendengar ucapan Steven. Menangkap seekor buaya tidak akan bisa menggunakan kekuatan singa, karena singa akan kalah jika masuk kedalam air. Menangkap buaya hanya perlu kecerdikan otak dari seorang kancil dan sedikit umpan tentu saja.
Steven kembali menatap pada Aila. Meskipun gadis didepannya sedari tadi hanya terlihat diam, namun Steven yakin jika Aila menyimak pembicaraan mereka.
"Mungkin anda tidak mengingat saya nona, tapi kita pernah bertemu tiga tahun yang lalu," ucap Steven pada Aila.
Aila mengerutkan keningnya dan cukup kaget juga, "Benarkah? tapi saya tidak mengingatnya, maaf.." waktu tiga tahun bukanlah hal yang sebentar. Jika seseorang mengingat sebuah pertemuan dengan waktu selama itu, mungkin saja moment itu berkesan baginya atau mungkin juga moment yang menyakitkan? lalu dari keduanya, moment yang mana untuk Steven?
Aila berpikir, tiga tahun lalu ia hanya menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bekerja, tentu saja semua itu ketika dirinya belum bertemu dengan seorang Leon. Setelah bertemu, ia juga sibuk menjadi tawanan pria itu. Ia tidak pernah merasa bertemu ataupun menjalin pertemanan dengan seorang pria sebelumnya.
"Tidak masalah nona, cukup saya yang mengingatnya." ucap steven santai. Sesekali pria itu menyesap wine ditangannya namun ekor matanya tetap mencuri pandang pada Aila.
__ADS_1
Aila tersenyum kecut. Entah kenapa ia merasa jika pertemuan tiga tahun lalu hanya sebuah alasan.
"Di sebuah arena basket, gedung Gajayana tepatnya, anda menjatuhkan ponsel di depan pintu masuk. saat itu anda terlihat kesulitan untuk mengambil ponsel tersebut, dan saya akhirnya membantu anda," Steven mulai bercerita untuk meyakinkan ucapannya. Ia sengaja menjeda ceritanya untuk melihat ekspresi Aila.
Gadis itu terlihat berpikir, mungkin sedang berusaha mengingat-ingat. Sementara Lucas hanya diam tanpa mengalihkan pandangannya meskipun sedetik dari Aila. Pria itu terlihat seperti induk singa yang sedang memastikan keselamayan anaknya dari para pemangsa.
"Mungkin anda mengingat sebuah balon yang diberikan seorang bocah lelaki ketika anda menangis?" Lucas melanjutkan ceritanya sekaligus juga memancing ingatan Aila. Mungkin saja gadis itu tidak mengingatnya, tiga tahun memang waktu yang lama. Tapi Steven sangat berharap Aila ingat semua itu.
Harapan steven mungkin tidak sia-sia, karena detik itu juga Aila menutup mulutnya sembari mengelengkan kepalanya, sepertinya gadis itu memang berhasil mengingatnya.
"Jangan bilang jika anda yang membantu saya menemukan ponsel dan memberikan balon?" Aila tidak percaya jika Steven adalah orang yang pernah menghibur dirinya ketika ia sedih dulu.
Kejadian hari itu tentu saja ia tidak akan bisa melupakannya. Itu adalah masa-masa dimana hatinya mulai terbuka dan memberi tempat untuk seorang Leon singgah. Saat itu juga ia mulai merasakan cinta dan cemburu untuk pertama kalinya. Dan pada hari itu juga, ia bertemu Clara untuk pertama kalinya. Lalu bagaimana ia bisa lupa?
Steven mengulum senyum lalu menanguk. pria itu merasa lega sekaligus bahagia karena Aila ternyata masih mengingatnya.
"Ya, tuhan..itu sudah sangat lama..tapi, aku ucapkan terimakasih pada anda karena menyelamatkan ponsel saya.... dan balon itu tentu saja," Aila berucap dengan sangat tulus, bagaimanapun, ia dulu belum sempat mengucapkan terimakasih pada pria yang pernah menolongnya.
Steven kembali tertawa kecil, "Tidak masalah nona, itu hanya bantuan kecil," meskipun tidak dipungkiri jika ia merasa sangat bahagia hanya karena Aila mengingat pertemuan pertama mereka.
"Astaga, dunia ini sungguh sempit kurasa," Aila mulai berpikir jika dunia memang selebar daun kelor. Selain itu Dunia juga penuh kejutan menurutnya.
Mendengar ucapan Aila dan ekspresi riang gadis itu, Steven terkekeh, Aila tidak hanya manis tapi juga sangat lucu.
"Maafkan aku atas mawarmu dan...sikapku pada anda tadi pagi, aku hanya merasa senang bisa bertemu kembali dengan anda," Steven meminta maaf atas sikapnya yang kurang ajar kepada Aila tadi pagi. Jujur saja ia memetik mawa-mawar itu karena merasa kesal sebab ia tidak berhasil membalaskan dendam ayahnya, ia gagal melakukan penculikan itu. Namun ia juga sangat terkejut, karena gadis yang ia culik adalah wanita yang ia cari-cari selama tiga tahun ini. Sebenarnya apa rencana tuhan dari semua ini?
Aila kembali dibuat terkejut dengan ucapan Steven yang mengatakan jika dirinya senang karena mereka bertemu lagi.
"Yah, itu tidak menyenangkan untuk saya, tapi saya memaafkan anda.." Aila memaafkan sikap Steven. Bagaimanapun juga, pria itu pernah membantunya di masa lalu.
"Terimakasih nona, saya janji itu tidak akan terulang," Steven terlihat bersungguh sungguh dengan janjinya.
"Jujur saja, saya mengagumi anda sejak saat itu," ucap Steven apa adanya. Jika ada yang bilang cinta pada pandangan pertama itu ada, maka ia mungkin salah satu yang mengalaminya. Menurut Steven Aila berbeda dari wanita pada umumnya. Entah kenapa ia tidak bisa melupakan gadis yang menangis ditengah hujan sembari memegang sebuah balon. Siapapun yang membuatnya menangis, pasti orang yang bodoh.
Aila membulatkan matanya tidak percaya. Ucapan Steven terdengar sangat lucu baginya. Ayolah, mengagumi seseorang hanya karena pernah bertemu sekali dan itupun tidak lama, semua itu seperti hanya sebuah cerita klasik di dalam novel.
"Anda sangat lucu tuan," Aila terkekeh, ia tidak menyangka jika pria tampan didepannya sangat pandai melawak.
Steven menanggapi kekehan Aila dengan tersenyum. Baginya tanggapan seperti itu bukan pertama kali ia terima. Teman-temannya juga bilang bahwa ia mungkin sudah gila karena jatuh cinta pada gadis yang hanya ditemuinya sesaat. Tapi begitulah adanya.
Aila terlalu merasa geli hingga ia tidak sadar jika Suaminya sudah berdiri di belakang Steven dengan tatapan dingin, Sedingin kutub selatan yang bisa membekukan apapun yang berada disekitarnya.
Seketika Aila langsung menghentikan tawanya.
Melihat Aila tiba-tiba diam, Steven menoleh kearah pandangan Aila. Darahnya berdesir panas saat itu juga. Ini adalah kali pertama ia bertatap muka secara dekat dengan boss kontruksi tersebut. Sesaat Steven merasa gugup. Banyak orang bilang jika Leon bisa membuat orang gemetar hanya dengan melihat sorot matanya saja, sepertinya ia mersakannya sendiri sekarang.
"Apa aku menganggu obrolan kalian?" tanya Leon, karena ia melihat Aila tiba-tiba menghentikan tawanya. Jujur saja, hatinya terasa panas melihat Aila malah bercengkrama dengan pria yang kurang ajar padanya.
Ayolah, jangan membuat pikirannya tertuju pada hal lain.
"Tentu tidak tuan, kami hanya sedang membicarakan masa lalu," sahut Steven santai.
Leon mencoba bersikap ramah, meskipun terlihat sangat kaku. "Benarkah? aku tidak tahu jika kalian saling kenal sebelumnya, aku jadi penasaran ingin tahu bagaimana kalian bisa saling mengenal, " Leon kemudian mengambil tempat duduk disamping Lucas dan bukan disamping Aila.
Aila hanya diam dan mengamati sikap suaminya yang seperti gunung berapi yang akan meledak. Ia bingung kenapa suaminya marah. Aila merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Steven yang mengetahui jika api cemburu yang ia sulut didada Leon mulai terasa panas, merasa bersemanngat dan senang.
"Ya, tiga tahun lalu kami bertemu di arena basket. Saat itu tanpa sengaja saya membantu mengambilkan ponsel nona Aila yang terjatuh," Steven menceritakan awal pertemuannya dengan Aila.
Leon terlihat menyimak dan mengingat tentang hal yang diucapkan Steven.
__ADS_1
"Tuan ini yang membantuku mengambil ponsel saat terjatuh di Gajayana waktu itu, tuan..." Aila menambahkan. Ia tidak ingin kejadian ini menimbulkan salah paham.
Leon manggut-manggut paham. Ia mengingat hal itu sekarang. Jadi karena kejadian itu Steven menaruh hati pada Istrinya?
Sedang Steven malah kembali dibuat terkejut dengan ucapan Aila. Ternyata hubungan Leon dengan Aila sudah terjalin sejak saat itu? Berarti orang yang membuatnya menangis saat itu adalah Leon?
"Saat itu saya melihat nona menangis dibawah hujan, saya pikir sebuah balon cukup untuk menghiburnya.." Steven berucap dengan nada bercanda. Tapi maksudnya jelas bukan sekedar untuk melucu. Leon paham jika pria didepannya sedang mengungkit luka lama.
Leon tertawa menanggapi gurauan Steven. Bersandiwara adalah satu-satunya hal yang ia bisa lakukan untuk saat ini. Langsung mengacungkan senjata dan membunuh pria di depannya itu hanya akan merusak suasana.
"Sebagai suaminya, aku mengucapkan banyak terimakasih pada anda, karena saat itu telah bersedia menolong istri saya," Alih-alih merasa cemburu, Leon mengikuti kemana arah permainan Steven.
"Tidak masalah tuan, hanya bantuan kecil," sahut Steven.
Tepat saat itu Alex datang mendekat kearah meja mereka. "Maaf semuanya," Alex menyela, ia kemudian menatap pada Aila, "Waktumu habis sayang, kembali dan beristirahatlah," perintah Alex pada Aila.
Aila belum sempat menjawab, namun Leon lebih dulu menyela. "Hei, berikan waktu sedikit lebih lama, mereka adalah teman lama yang baru saja bertemu, mereka pasti sangat rindu," ucap Leon pada Alex. Entahlah, ia merasa ingin bermain-main sedikit lebih lama. Atau mungkin ia hanya merasa kesal dan cemburu saja? entahlah.
Alex mengerutkan kening tidak mengerti. Pria itu menatap pada Steven dan Aila. Jika Steven tersenyum, namun tidak dengan Aila. Gadis itu merasa Leon berlebihan. Teman lama? mereka bahkan tidak pernah mengobrol sebelumnya.
"Bukan begitu sayang?" tanya Leon pada Aila.
Aila tidak menjawab.
"Mungkin kau perlu mengundangnya untuk makan malam?" lanjut Leon memancing reaksi istrinya.
Tapi lagi-lagi Aila tidak menjawab. Gadis itu malah menatap pada lucas. "Antarkan aku Oom, aku lelah," ucap Aila pada Lucas. Lucas yang merasa menjadi pemeran pembantu dalam drama yang sedang berlangsung merasa bingung sesaat. Ia masih ingin melihat lelucon gratis di depannya, tapi ia juga tidak tega melihat Aila yang terlihat kelelahan. Bukannya tidak tahu, ia sejak tadi melihat gadis itu duduk sembari menahan sakitnya.
"Maafkan aku tuan, tapi aku harus kembali," pamit Aila pada Steven.
"Tentu nona, silahkan, anda terlihat lelah memang," Steven mempersilahkan Aila untuk kembali. Meskipun ia masih ingin banyak bertanya tentang banyak hal pada gadis itu.
Karena Lucas tidak juga menyahut, Aila menggerakkan kursi rodanya sendirian dan berlalu meninggalkan altar.
Sesaat Lucas menatap pada Leon, namun pria itu bergeming. Lucas mendesah pelan, Leon bisa saja hebat dalam hal bisnis dan dunia gengster, tapi tidak pandai menyembunyikan rasa cemburu. dan itu membuatnya terlihat sangat bodoh.
Lucas berdiri dengan malas dan mengejar Aila.
Bersamaan dengan itu, Steven pamit untuk kembali ketempatnya. Tinggalah Alex yang berdiri dengan tatapan tidak mengerti pada Leon, pada Aila dan Lucas yang mulai menjauh, serta pada Steven.
"Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Alex setengah bergumam. Ia lalu duduk disamping Leon.
Leon tidak menjawab. Pria itu terlihat mengembuskan nafas kasar.
"Apapun itu, kau sepertinya membuat Aila marah," Lanjut Alex.
Leon tidak menanggapi ucapan Alex. Ia mengambil wine, meminumnya dengan sekali teguk lalu meletakkan gelas kosong tersebut dengan kasar diatas meja.
Saking kasarnya hingga Alex berjengkit karena kaget. Leon kemudian Pergi tanpa sepatah katapun.
Kini apalagi salahnya?
"Hei! jangan bilang kalau kau cemburu?" teriak Alex.
Leon tidak menjawab tapi pria itu sempat berbalik dan mengangkat jari tengahnya keatas, "f*ck!"
"Astaga! kau tmpak sangat bodoh!" balas Alex kembali berteriak. Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya sembari melihat punggung Leon menjauh.
"Well, kebodohannya berlipat saat cemburu," Alex berbicara pada wine yang sedang dipegangnya.
Bersambung....
__ADS_1