Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 39


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


** Latihan**


Obrolan ringan disertai tawa rendah, terdengar dari dalam taman yang memang di desain khusus berada di dalam ruangan.


Sesekali ledekan kecil keluar dari mulut Niko, menggoda Aila tentang malam pertamanya yang akan segera ia hadapi. Tidak ada tanggapan yang serius dari gadis mungil itu, selain cubitan dan rona di pipi.


Tasya sendiri terlihat sibuk mengamati sebuah patung, disebelah sisi kanan air mancur. Pantung berbentuk seorang wanita penari bondan sedang berdiri dengan sebuah kendi di kepala, membuat mata almond cantiknya berkedip takjub. Setiap sisi patung terpahat dengan begitu detail, seperti memang khusus di pesan sebagai ornamen utama di dalam taman.


Seorang desainer cerdas seperti Tasya, tentulah tau nilai dari sebuah karya seni. Apakah bagus atau tidak.


Sedang Hendra sendiri, terlihat sedang duduk santai, bergeming di sebuah kursi taman dengan tangan terlipat di dada. Sesekali matanya mencuri pandang kearah Aila, wanita yang sudah menjadi istri dari sahabatnya tersebut, yang juga seorang wanita yang sangat dicintainya. Gadis itu terlihat gembira, sesekali terlihat rona diwajahnya ketika Niko terus-terusan menggodanya. Aila begitu bahagia dengan kehidupan barunya.


Hendra mendesah. Menyakitkan memang, melihat kenyataan gadis yang begitu dicintai teryata telah bahagia dengan orang lain.


Mungkin saja, inilah saatnya ia harus berhenti menyiksa diri, bukan karena merasa kalah, tapi karea menyadari bahwa Aila akan lebih bahagia jika tidak bersamanya. Karena cinta sejati tidak selalu tentang memiliki, tapi tentang bagaimana membuat mereka yang kita sayangi bahagia, meskipun tidak bersama dengan kita.


Lelaki itu kemudian berdiri dan melangkah kearah Aila. Gadis itu terlihat sendiri, Niko dan adiknya Meli sudah pergi entah kemana.


Hendra menarik kursi, kemudian duduk tepat didepan Aila. Gadis itu terlihat gugup untuk sesaat, sebelum selengkung senyum tercipta disudut bibirnya. Mereka duduk berhadapan dengan meja taman sebagai penghalang.


"Kakak sehat?! tanya Aila basa-basi.


" Menurut kamu?" ucap Hendra menatap intens.


Aila diam, ia bingung harus mengatakan apa.


"Kamu terlihat bahagia, Ai."


Aila tersenyum, sebagai jawaban.


"Syukurlah."


Hening.


Mereka sibuk dengan pikiran masing- masing.


"Kak..."


"Aku belum bisa move on dari kamu!" Hendra memotong ucapan Aila.


Aila mendesah, satu sisi ia bingung bagaimana caranya menghadapi hendra, sisi lain ia takut jika Leon melihat mereka. Ya, walaupun mereka hanya berbicara, Leon tetap tidak suka. Aila hanya ingin, semua tetap baik-baik saja.


"Itiu karena kakak tidak mau membuka hati."


"Aku sudah mencoba.."


"Aku mencintainya kak...sangat!" ucap Aila cepat, memotong ucapan Hendra.ia ingin Hendra mengerti.


"Aku tau, karena itu aku kesini. Aku hanya ingin melihat apa kau benar- benar bahagia atau tidak."


Aila diam, menunggu ucapan hendra selanjutnya.


"Dan kau,...bahagia." ucap Hendra tercekat.


"Maaf..."


Hendra tersenyum,"Sekarang aku tenang."


"Kakak berhak bahagia."


Hendra tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum getir.


Mereka kembali diam, mencipta keheningan.


"Aaaakh!" suara pekikan dari dalam taman, membuat Aila dan hendra terkejut. Mereka kemudian berlari kearah sumber suara.


Terlihat Tasya sedang menekan lengannya yang terluka, darah segar mengalir dari sana.


"Ada apa?!" tanya Hendra kuatir.


"Gak sengaja kena duri mawar tadi." Ucap Tasya sembari menekan lukanya.


"Dasar ceroboh!" ucap Hendra sembari meraih tangan Tasya, pria itu kemudian mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya dan membersihkannya.


"Makanya, kalo jalan ditempat kaya gini hati- hati!" Hendra masih mengomel.


Tasya diam, gadis itu terlihat kaget. Untuk pertama kalinya, Hendra mencemaskan dirinya. Tiba- tiba saja sudut matanya terasa memanas, pertanda akan ada air mata setelahnya.


"Hiks hiks."


"kok nangis?!" Hendra bingung melihat Tasya tiba- tiba menangis.


Gadis itu tidak menjawab, malah semakin mengeraskan tangisnya.


"Sakit banget?!" tanya Hendra mulai panik.


Tasya menganguk dan terus menangis.


Sejenak Hendra bingung harus bagaimana. Hanya tergores duri mawar, apa iya sesakit itu?


"Gak papa, nanti juga sembuh." ucap Hendra lembut sembari mengusap kepala Tasya. Di luar dugaan, Tasya tiba- tiba memeluk Hendra dan membenamkan kepalanya didada.


Awalnya Hendra terlihat terkejut dengan sikap Tasya, namun kemudian ia membiarkannya. Tangan yang terlihat ragu pada awalnya, akhirnya terangkat juga. Hendra mengusap kepala Tasya fengan Lembut.


Aila yang berdiri tidak jauh dari sana, tersenyum. Sepertinya Hendra tidak menyadari isi hatinya yang sebenarnya, untuk siapa.


Gadis itu memutar tubuh, kemudian meninggalkan keduanya pergi dengan perasaan lega di dalam hatinya.


Setelah Tasya terlihat lebih tenang, Hendra mengurai pelukannya. Mereka duduk di kursi taman dengan diam dan canggung. Perasaan yang tidak pernah mereka rasaakan sebelumnya.


"Masih sakit?" ucap Hendra memecah keheningan.


Tasya menggeleng, sembari menunduk. Setelah mereka berpelukan tadi entah kenapa Tasya bingung bagaimana harus bersikap. Selama mereka bersahabat, Tasya tidak pernah merasa secanggung itu ketika di depan Hendra. Walaupun saat pertama mereka dijodohkan dan Hendra mebolaknya, ia tetap bisa bersikap seperti biasa. Untuk kali ini, kenapa begitu berbeda? bolehkah ia mengartikan perhatian kecil dari hendra tadi sebagai sebuah harapan? jika suatu saat nanti akan ada hubungan, selain persahabatan.


"Maaf,"


Tasya mendongakkan wajah? menatap wajah didepannya lekat.


"Maaf, jika selama ini aku selalu mengabaikan perasaanmu."

__ADS_1


Tasya Tersenyum samar, "Gak papa, aku ngerti kok."


"Bisakah kita memulai semua dari awal sekarang?"


Tasya mengerutkan kening, tidak mengerti ucapan Hendra.


"Aku memang masih bingung dengan perasaanku sendiri, tapi aku akan mencobanya sekarang. Bisakah kau memberiku sedikit kesempatan untuk itu?"


Tasya masih diam, mencerna semua ucapan hendra yang entah kenapa terasa berbeda dari biasanya.


"Aku ingin memulai hubunhan yang baru denganmu."


"Hubungan? kita sudah bersahabat sejak lama kan?


" Bukan persahabatan. Aku ingin belajar mencintaimu....."


Tasya terhenyak, menatap manik mata Hendra. Tiba- Tiba ada kabut dikedua matanya. Ucapan yang selalu ingin ia dengar dari mulut Hendra beberapa tahun terakhir ini, akhirnya keluar juga.


" Mungkin tidak akan instan, tapi aku akan berusaha....."


"Aku tau. Aku akan menunggu." potong Tasya cepat.


Untuk sesaat Hendra kaget mendengar ucapan Tasya. gadis itu tau semua yang ada di benaknya bahkan sebelum ia bicara. Sudah banyak luka yang sudah ia berikan, tapi Tasya masih setia menunggunya, menunggu hadirnya perasaan untuk dirinya.


Mereka terdiam untuk beberapa saat, canggung.


"Em, aku akan minta obat." Tasya berdiri hendak melangkah, namun Henra dengan cepat menarik tangannya dan memeluknya.


Tasya tergagap, dengan tindakan Hendra yang tiba- tiba. Namun, ia membiarkannya pada akhirnya.


"Terimaksih, karena sudah menungguku." ucap Hendra tulus.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Tasya, selain membalas pelukan erat dari Hendra. Tasya merasa bahagia, penantiannya selama ini tidak berakhir dengan sia-sia.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata sedang menatap kearah mereka dengan senyum bahagia. Niko dan Meli berdiri tidak jauh dari mereka.


"Ehem!"


Sontak, Hendra mengurai pelukannya. Mereka terlihat kikuk sekarang.


"Gitu dari dulu napa?" ucap Niko dengan senyum tengilnya.


"Apaan sih." ucapTasya malu.


"Kita mau pulang nih. Kalian tetap disini?" tanya Niko.


"Kita juga pulang kok." ucap Hendra tiba-tiba. Matanya menatap sesaat kearah Tasya.


"Ya, gak enak juga gangguin pengantin baru." timpal Tasya.


Mereka akhirnya keluar dari taman untuk berpamitan. Tasya menoleh sebentar sebelum benar benar menghilang, mungkin saja taman itu akan menjadi tempat yang bersejarah baginya. Karena disitulah ia dan Hendra memulai hubungan baru.


*********


Aila termenung seorang diri didalam kamar, masih ia ingat dengan jelas permintaan Leon yang meminta haknya sebagai suami dan raut kecewa di wajahnya, karena dirinya belum siap untuk melakukannya.


Aila mendesah, ada perasaan bersalah di dalam dirinya. Mereka sudah menjadi suami istri sekarang, bukankah seharusnya ia tidak egois hanya karena ketakutannya yang tidak mendasar?


Aila merasa ragu untuk melangkah kedalam ruang kerja milik Leon. Gadis itu mencuri pandang sesaat sebelum masuk, terlihat Leon sedang bersama Davin dan beberapa staf yang lain. Pria itu sedang duduk diatas meja dengan satu tangan disaku dan tangan yang lain memegang dokumen. Leon terlihat paling tampan diantara mereka, di mata Aila, Leon adalah laki- laki tertampan yang pernah ia lihat.


Aila memberanikan diri untuk menghampiri suaminya, gadis itu berjalan dengan kikuk, karena semua mata staf Leon mencuri pandang kearahnya.


"Apa?!" tanya Leon tanpa mengalihkan perhatiannya pada dokumen.


Aila diam, tiba-tiba saja ia lupa akan mengatakan apa.


"Kalian, keluarlah! kita berangkat nanti malam." perintah Leon pada semua stafnya.


"Baik, tuan." mereka menjawab serempak sembari buru-buru berkemas dan meninggalkan ruang kerja.


Sepeninggal mereka, Aila masih diam menunduk sembari memainkan kukunya. Kebiasaan gadis itu, ketika gugup.


"Naik kesini!" ucap Leon sembari menepuk meja kantornya.


Aila tergagap. Kenapa pria itu selalu memberinya kesulitan. Naik keatas meja bagi cewek pendek seperti Aila bukan hal yang mudah, apa Leon tidak tau hal itu?


Aila berusaha melompat naik keatas meja, namun ia terlihat kesulitan.


"Boleh pakai kursi?" tanya Aila polos.


Leon ingin tertawa, tapi ia menahannya.


"Tidak!"


Aila mendesah, ia mencoba melakukannya sekali lagi dan gagal.


"Gak bisa." ucap Aila akhirnya.


Leon bergeming. "Kau terlalu pendek!"


Aila diam, bukankah sudah dari dulu? kenapa baru sadar sekarang?


"Berusahalah! jika kau tetap dibawah leherku pegal saat melihatmu!" ucap Leon.


Aila masih diam, ia juga merasakan hal yang sama. Lehernya terasa pegal jika terus mendongakkan kepala terus menerus.


"Tolong..." ucap Aila menyerah.


Leon menyeringai, kemudian mengangkat gadis imutnya ke atas meja yang penuh dengan serakan dokumen.


"Kau mendudukinya!" ucap Leon. Padahal dirinya sendiri yang mendudukkan Aila disana.


"Maaf," Aila segera bergeser dengan susah payah. Permukaan mejanya penuh dengan dokumen, kemana ia akan duduk?


"Ini penuh." ucap Aila sembari menatap meja.


"Maka jangan duduk disitu."


Lagi- lagi Aila mendesah, ia tau Leon sedang menyiksanya.


"Lalu dimana?" tanya Aila bingung.

__ADS_1


Leon mengangkat bahu.


Karena bingung, Aila akhirnya melompat turun dari meja.


"Siapa yang menyuruhmu turun?!"


Aila diam. Saat Leon kumat, diam adalah cara yang terbaik.


"Cium!"


Aila tergagap.


"Ayo!"


Gadis itu segera berjinjit, namun tidak sampai.


"Cepat!"


Aila berjinjit lebih tinggi, namun tetap tidak sampai.


Leon mulai berdecak.


Aila mulai melompat, tapi tetap tidak sampai. Ia tidak habis pikir jarak 49 cm itu menjadi begitu tinggi.


"Menunduklah," pinta Aila pelan.


"Kau merepotkan!" ucap Leon kesal, sembari menunduk.


Setelah menyesuaikan diri setinggi dirinya, Aila merangkup pipinya kemudian menciumnya.


"Sudah."


"Lagi!"


Aila melakukannya lagi, saat itu Leon mulai menarik pinggangnya dan mengangkatnya keatas meja seperti tadi.


"Sudah."


"lagi!"


Aila melakukannya lagi.


"Aku bilang ciuman, sayang!"


"Tadi sudah,"


"Itu kecupan, bukan ciuman! "


"Apa beda?"


"Ya, buka mulutmu!"


Ragu- ragu Aila membuka mulutnya yang langsung mendapat serbuan dari bibir Leon. Mula- mula mengulum, mengisap kemudian membelai lidahnya dengan mesra.


Aila merasakan bagaimana lidah Leon menyapu setiap sisi rongga mulutnya, terakhir pria itu mengisap lidahnya kuat- kuat.


"Aa! sakit..."


Leon menyeringai.


"Lakukan seperti itu!" perintahnya.


Aila melakukan apa yang diperintahkan oleh Leon, walaupun tidak sama, gadis itu hanya mengecup dan mengulum bibirnya saja.


Karena gemas, Leon meraih tengkuk Aila dan mulai menghujaninya dengan ciuman panas, tidak diberinya kesempatan sedikitpun untuk bergerak. Saat Aila mulai terbawa suasana, Leon melambaikan tangan kearah CCTV sebagai kode untuk dimatikan. Setelah itu, ia mengakat tubuh Aila sedikit dan melepas celana pendek piyama yang dikenakannya. Sekarang Leon tepat berada ditengahnya dan memaksa membuka pahanya.


"Ja__jangan disini," ucap Aila gagap setelah Leon melepas bibirnya.


"Kenapa?!"


"Malu..."


"Tidak akan ada yang kemari, sayang." ucap Leon sensual dan kembali mencubunya. Mulai dari leher, bagian atas dada dan puas mendengar erangan istrinya, ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja. Tidak cukup sampai disitu, ia melepas bra dan mulai berpesta pora disana. Tubuh Aila polos dan hanya mengenakan celana dalam sedangkan pakaian Leon masih lengkap.


Erangan dan desahan rendah keluar dari mulut Aila, saat Leon mulai meremas buah dadanya, membuat gairahnya naik. Tapi saat ini ia hanya ingin memberi istri kecilnya itu latihan bukan untuk bersenang-senang, jadi ia harus sedikit bersabar.


Satu tangan mulai meraba bagian bawah tubuh Aila yang telah basah dan mulai bermain lincah disana.


"Ja__jangan!" ucap Aila serak.


Leon bergeming dan terus membelai lebih dalam, dengan mulut mencumbu leher dan dada Aila.


"Ah! le__pas.."


Aila melenguh saat merasakan jemari Leon menyentuh dan membelai daerah intimnya.


"Tidak sayang, kau menikmatinya."


"Kakak.."


Leon bergeming, tetap mencumbu dengan tangan membelai lincah di kewanitaanya


"Lepaskan sayang, mendesahlah!"


"Aaaah!"


Aila menegang, dada polosnya membusung saat tubuhnya melengkung kebelakang. Dengan satu kecupan panjang di leher, Aila mencapai puncaknya.


Leon menyeringai puas, saat melihat Aila terkulai lemas di dalam pelukannya. Senjata miliknya sudah menegang, tapi saat ini bukan untuknya.


"Enak, hem?"


Aila tidak menjawab, tubuhnya masih bergetar dengan bagian bawahnya basah dan lengket membuat ia malu untuk melepas pelukannya pada tubuh Leon.


Leon tersenyum, baru begitu saja Aila sudah lemas, bagaimana jika bertemu miliknya?


Bersambung...


Noh! yang ribut malam pertama terus. Bukan salahku kalo di sensor ye?!


Ha ha ha

__ADS_1


"


__ADS_2