Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 76


__ADS_3

🌸Cinta 49Cm🌸


Part 76


**Maaf**


Jika awalnya, Aila duduk di sebelah Oma, maka gadis itu kini bangkit mengikuti perintah sang singa lalu duduk disampingnya. Ia menekuk wajah sembari mengerucutkan bibirnya sebal. Leon tidak bisa membiarkan dirinya tenang meski hanya sebentar.


Tanpa memperdulikan senyuman dan tatapan kepuasan dari mata singanya, Aila mulai mengambil makanan dan menyuapkan ke mulutnya.


"Makan yang banyak, sayang. Aku ingin kau cepat besar dan menjadi empuk," ujar Leon dengan nada menggoda. Mata birunya mengerling sebelah kearah Aila membuat gadis itu melotot lucu kearahnya.


"Aku jujur sayang, aku suka kau menjadi gemuk." lanjutnya tanpa menanggapi pelototan istrinya.


"Itu bohong! wanita gemuk itu jelek," sahut Erik tiba_tiba.


"Well, itu menurutmu. Menurutku tidak," jawab Leon acuh.


"Kakak belum tahu saja betapa seksinya wanita yang gemuk karena hamil." timpal Aila tanpa menoleh dari makananya.


"itu benar sayang, dan aku ingin segera membuktikannya." sahut Leon cepat, pria itu kemudian mencondongkan tubuh lebih mendekat kearah lubang telinga Aila lalu berbisik, "Itu pasti sangat enak," lanjutnya sembari tersenyum nakal.


Aila buru-buru menjauh dan berpaling karena geli. Jika ditanya siapa orang yang paling ditakutinya di dunia ini, ia akan menjawab dia adalah suaminya sendiri. Orang tidak tahu saja, bagaimana pria itu memperlakukan dirinya jika malam tiba. Ia sudah seperti kelelawar yang harus terus terjaga untuk melayani sang singa. Leon tidak membiarkannya tidur meski hanya sebentar, pria itu membuatnya mendesah sepanjang malam. Mengingat hal itu, pipinya terasa panas.


Aila segera mengalihkan pikirannya, atau ia akan tertangkap basah oleh suami mesumnya itu. Tanpa sengaja ia melihat kearah Serkan yang duduk tepat disampingnya. Pria itu nampak sibuk dengan layar laptopnya. Sandwich lezat di depannya bahkan belum ia sentuh.


Merasa penasaran, Aila mencondongkan tubuh lalu melongok kearah layar. ia melihat grafik saham perusahaan yang naik turun.


Aila kembali mengangkat wajah dan mendesah pelan.


"Kenapa?" tanya Serkan tanpa menatap pada Aila.


Aila menoleh lalu menggeleng, "Tidak, itu sangat rumit," jawabnya singkat.


Serkan menoleh kearah, "Aku bisa mengajarimu, jika kau mau.." tawar Serkan.


"Jangan mengajarinya apapun lagi padanya. Terakhir kali kau mengajarinya menembak dan dia melarikan diri." sahut Leon dengan nada menyindir.


Mendengar ucapan suaminya, Aila memutar bola matanya malas.Memang karena siapa ia melarikan diri?


"Itu benar, dia tidak perlu belajar apapun selain membuat anak." timpal Oma tiba-tiba. Sontak membuat Aila tersedak. Membuat semua orang terkekeh karenanya.


"Wah! sejak kapan Oma jadi cerdas?" Leon tidak menyangka Oma mendukungnya.


"Well, aku hanya ingin segera punya cucu sebelum mati." jawab Oma santai.


Leon menoleh kearah istrinya yang masih sibuk minum setelah tersedak. "Kau dengar itu?" tanya Leon pada istrinya, "Kita harus membuatnya bahagia sebelum Oma mati," lanjutnya.


Aila tidak menjawab, gadis itu hanya memukul pelan lengan suaminya. Bisa-bisanya kematian menjadi candaan bagi Leon. Oma, meskipun ucapan cucunya terdengar kurang ajar, tapi Leon benar.


"Ajari saja Lisa, gadis itu sudah terlau lama menjadi pengangguran." Oma mengalihkan pembicaraan.


"Lisa? siapa dia?" tanya serkan tidak paham.


"Astaga, serkan! Matamu kemana saja selama ini? Lisa adik tiri Leon, siapa lagi?" jawab Oma menjelaskan.


Serkan terlihat menautkan Alis menatap sahabatnya itu, sedang Leon hanya mengangkat bahu. Diantara ke empat sahabatnya, hanya Serkan yang pelupa.


"Biar aku saja yang mengajarinya, aku pikir dia cukup cantik..." sahut Erik.


Mendengar ucapan erik, Oma terkekeh. "Jika kau yang mengajarinya, ia akan hamil lebih dulu sebelum pintar." cibir Oma, membuat Aila tertawa pelan.


"Itu benar, apalagi kau sedang membutuhkan pelarian, karena Nita lebih memilih Davin," timpal Alex membuka suara.


"Hei! kalian semua juga brengsek, kenapa seolah hanya aku yang tidak boleh mendekati gadis lugu!" ucap Erik kesal. Leon bahkan lebih parah darinya, tapi kenapa sahabatnya itu malah mendapatkan gadis sepolos Aila? bukankah itu tidak adil?


Mendengar nama Nita dan lisa di sebut, Aila seperti mengingat sesuatu. Kedua gadis itu tidak ada di meja makan.


"Bibi Maria? dimana kedua kakakku itu? kenapa tidak ikut makan?" tanya Aila pada Maria yang berdiri di belakang Alex.


"Maksud nona?" Maria balik bertanya, wanita paruh baya itu tidak paham kakak yang dimaksud Aila.


"kakakku bibi, kak Nita dan Lisa?"


Mari terlihat membulatkan bibir sembari manggut-mangut paham, namun wanita itu tidak berani menjawab, matanya terlihat melirik kearah Leon. tanpa bertanya Lebih lanjut ia paham maksud Maria.


"Akan aku panggil mereka untuk makan bersama," ucap Aila kemudian. Ia segera berdiri dari tempat duduknya, namun Leon menghentikannya dengan tatapan tajam.


"Duduk! biar Maria yang memanggil," perintah Leon.


Aila mendesah, "Mereka tidak akan mau jika bibi yang menyuruh," ucap Aila bersikeras.


"Jimy!" Leon memanggil bodyguard istrinya.


"Ya, tuan?" sahut Jymi cepat.


"Panggil mereka, jika tidak mau kau bisa menyeretnya,"


Jimy mengangguk, kemudian keluar dari ruang makan. Jika semua orang nampak biasa mendengar ucapan Leon, namun tidak dengan Aila. Gadis itu menatap tajam kearah suaminya. Bisa-bisanya Leon menperlakukan adik dan calon istri sahabatnya seprti itu.


"Apalagi?" tanya Leon melihat tatapan membunuh istrinya.

__ADS_1


"Anda kejam tuan," sahut Aila tidak suka.


"Katamu mereka tidak akan mau? apa salahnya menggunakan ancaman itu," balas leon acuh.


Aila kembali menghela napas, berbicara dengan suaminya hanya akan membuatnya sakit kepala.


Ia kembali melanjutkan memakan makanannya, meski ia sudah tidak lagi selera. Bukan karena omongan suaminya, namun entah kenapa ia merasa perutnya seperti tidak enak.


Tidak lama setelah itu, Nita dan Lisa datang keruang makan. Kedua gadis itu terlihat menunduk, seperti sungkan kepada sang tuan.


Aila segera berdiri dan mendekati keduanya lalu menariknya menuju kursinya masing masing. Nita disamping Davin sedang Lisa di samping Serkan, lalu Maria dan Jimy pun ikut disuruhnya.


"Begini, jauh lebih baik," ucap Aila tersenyum riang. Ia kemudian duduk kembali disamping suaminya. Menatap suaminya dengan manja, "Terimakasih tuan," ujarnya.


Leon tidak menjawab, pria itu malah melempar tatapan tajam kearah istrinya. Mau bagaimana? kesenangan istrinya adalah kekesalan baginya.


"Kau harus dihukum karena ini," ucap Leon.


Aila mengerutkan kening, kali ini apalagi kesalahannya?


"Apa, tuan?" tanyanya tidak mengerti.


"Kau harus dihukum karena senang!" jawab Leon tajam.


Aila menghela napas dalam. Sejak kapan suaminya itu tulus melakukan sesuatu untuknya? sepertinya ia yang terlalu banyak berharap.


Menyadari ada seseorang yang duduk disampingnya, Serkan menoleh. Pria itu tampak terkejut untuk sesaat. Sedang Lisa juga tidak kalah kagetnya. Gadis itu langsung mengerut dan gemetar. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan lelaki yang sudah kurang ajar padanya.


Namun, keterkejutan Serkan sepertinya hanya kiasan, pria itu kini malah menyeringai sembari mendekatkan kursinya kearah Lisa. Serkan memangku wajah dengan sebelah tangan yang bertumpu pada meja makan lalu mentap intens kearah Lisa. Membuat gadis itu memejam mencoba meredam kegugupan.


Aila yang melihat sikap Serkan mengerutkan kening, gadis itu sedang menerka-nerka apa yang sedang dilakukan salah satu mata suaminya itu, namun melihat Lisa gemetar, jelas gadis itu merasa tidak nyaman.


"Jangan mengganggu kakaku," ucap Aila sembari menarik kaus Serkan dari belakang.


"Aku tidak mengganggunya sayang, hanya melihatnya. Kakakmu manis juga," sahut Serkan tanpa menoleh kepada Aila. Pria itu menarik salah satu sudut bibirnya lalu mengalungkan tangan pada sandaran kursi yang sedang dipakai Lisa. Melihat kelakuan Serkan, Lisa terlonjak kaget dan mengurut dadanya.


Melihat hal itu Serkan terkekeh. Ia tidak menyangka mempermainkan gadis yang pernah diciumnya itu begitu menyenangkan.


Aila mendengus, lalu menatap suaminya yang tampak acuh.


"Tuan, dia menganggu adikmu. Kau tidak akan menghukumnya?" tanya Aila pada Suaminya.


Leon masih tampak acuh dan tetap fokus pada makanannya.


"Adik? apa dia adikmu" ucap Serkan kaget. Pria itu bahkan sampai berbalik menatap Leon. Namun, Leon bergeming, makanannnya lebih menarik perhatiannya ketimbang urusan sahabatnya itu.


"Ya, dia cucuku yang lain, kenapa?" sahut Oma tiba-tiba.


"Shit? siapa yang kau umpat hah? dasar bocah gila!" sungut Oma.


Serkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ayolah Oma, kenapa dia harus menjadi cucumu?"


Oma mengerutkan kening, "Harus menjadi cucu? maksudmu? jangan bilang..... kau sudah pernah menyentuhnya?!" selidik Oma.


Serkan kembali menggaruk tengkuk, menyadari pertanyaan bodohnya. "Itu....aku hanya mencicipi sedikit bibirnya.." jawab Serkan asal.


"Astaga, astaga! mencicipi? kau pikir itu donat? akh..dasar kau!" Oma melempar pisau yang sedang digunakannya untuk memakan steak.


"Akh! kau salah sasaran Omaaa!" pekik Erik, karena pisau tersebut malah mengenai dirinya ketimbang Serkan. Melihat hal itu hampir semua orang menahan tawa, entah kenapa Erik selalu sial menurut mereka. Hanya Leon yang tampak tidak terpengaruh dengan kekacauan itu.


"Sudah ku bilang, dia tidak semanis yang Oma kira," ujar Leon santai. Oma yang yang masih geram melemparkan tatapan tajam kearah Leon. "Kau pun sama! bisa-bisanya tetap santai saat ada pria yang kurang ajar dengan adikmu," desis oma sinis.


"Kenapa aku ikut disalahkan?" tanya Leon tidak terima. Apa lagi salahnya kali ini? setiap kali sahabatnya membuat masalah, ia juga ikut terseret. Menyebalkan!


"Oma tidak perlu semarah itu, kawinkan saja mereka berdua, bereskan?" lanjut Leon dengan nada santai.


Serkan terlihat menaik turunkan alis sembari tersenyum kearah Oma, pria itu merasa seperti mendapat dukungan.


"Jangan besar kepala, aku tidak mendukungmu. Jika kau menikah itu akan baik, tidak ada lagi yang akan menggoda istriku," sindir Leon pada Serkan.


"Bagaimana denganmu? apa kau mau menikah dengan begundal itu?" tanya Oma pada Lisa.


Kini semua mata menatap gadis itu, membuat lisa semakin gugup. Gadis itu menunduk sembari meremas tangan.


"Saya...."


"Ya, dia mau," potong Serkan cepat.


"Hei! siapa yang bertanya padamu?" tanya Oma kesal.


"Leon juga tidak pernah menanyai Aila sebelumnya, ia lansung menculiknya," ucap Serkan memberi alasan


Aila yang merasa namanya dibawa-bawa langsung menoleh. "Tapi aku mencintainya," sahut Aila. Membuat Leon tersenyum bangga.


"Kau....seharusnya membelaku sayang, kau benar-benar tidak pengertian," ucap serkan dengan nada kecewa, namun Aila tidak peduli. Pernikahan bukan untuk main-main, karena hubungan itu untuk seumur hidup. Ia merasa harus tahu lebih dulu perasaan Lisa. Meskipun ia yakin Serkan bisa dipercaya, namun menikah tanpa cinta hanya akan membuatnya Lisa menderita.


"Biarkan kakak berpikir Oma, dia pasti kaget dengan pertanyaan ini.," ucap Aila. Gadis itu mengerti kesulitan Lisa. Mereka bahkan baru bertemu sekali dan langsung diminta untuk menikah. Itu terdengar sangat konyol bukan?


Oma menarik napas sebelum akhirnya mengangguk setuju.


"Kau benar sayang, biarkan dia berpikir," ujar Oma pada Serkan yang langsung disambut desahan napas berat dari dari mulut pria itu.

__ADS_1


Setelah semua terlihat selesai dengan makananya. Leon menegakkan tubuh. Pria itu nampak serius sekarang.


"Kapan pernikahanmu Davin?" tanya Leon pada Davin.


Pria yang sedari tadi hanya diam itu terihat kaget dengan pertanyaan bosnya. Davin melirik Nita yang menunduk lalu menatap kearah bossnya. "Apapun kata anda tuan," jawab Davin.


Leon mengetuk-etukkan jarinya diatas meja makan, seperti sedang berpikir.


"Ku beri kau cuti selama seminggu untuk mengurus semuanya, setelah itu kau harus kembali bekerja," ujar Leon.


"Itu terlalau singkat, tuan..." sahut Aila, ia tak habis pikir. Bagaiman mungkin mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu satu minggu?


"Menurutku tidak, pernilkahan kita bahkan tanpa persiapan," lanjut Leon datar.


Aila mendesah. Mengingat pernkahannya dulu. Mungkin tidak layak jika disebut pernikahan, bagaimana bisa menikah hanya dengan menggenakan piyama?


"Tidak masalah nona, itu lebih dari cukup," ucap Davin tidak masalah. Ia tahu jika perusahaan sedang menangani proyek besar, itulah kenapa sang boss tidak bisa memberikan banyak waktu padanya.


"Tenang sayang, kami akan membantumu mempersiapkan pernikahan," ucap Oma pada Nita.


"Terimakasih nyonya," jawab Nita Tulus.


"Selama Davin cuti, kau yang harus membantuku!" perintah Leon pada Erik.


"Tidak, terimakasih. Aku banyak pekerjaan di Hongkong." jawab Erik cuek.


"Siapa yang memberimu pilihan? sudah ku utus orang untuk menagani pekerjaanmu. Tetap di sini atau ku bekukan semua asetmu,"ancam Leon dengan nada santai.


"Hei! Davin yang menikah, kenapa aku yang susah?"jawab Erik kesal. Lagi pula ia sedang patah hati, kenapa tidak ada yang mengerti dirinya?


Leon tidak menjawab, pria itu mengangkat bahu tidak peduli. Jika bukan Erik siapa yang akan membantunya mengurus perusahaan?


Leon bangkit dari duduknya, "Berikan semua berkas padanya, Davin!" perintah Leon sembari menatap kearah Erik.


"Baik, tuan."


"Dan kau, kita ada rapat sebentar lagi, siapkan semua materi dan berkasku lalu bawa keruang rapat!" titah Leon pada Erik lalu pergi meninggalkan ruang makan.


Davin menyerahkan semua berkas yang sudah ia persiapkan sejak kemaren dan memberikannya pada Erik, tanpa memperdulikan tatapan membunuh yang dilemparkan padanya. Raut muka Davin tetap datar seperti biasa.


Erik menerima berkas dengan sangat terpaksa lalu bangkit dan mengikuti Leon dari belakang.


"Cucumu selalu membuatku susah," ucap Erik pada Oma sebelum hilang dibalik pintu.


Oma tampak cuek dengan ucapan Erik. Mau bagaimana lagi? menyiksa orang adalah salah satu keahlian yang dimiliki Leon.


Sepeninggal Leon dan Erik, Oma mengajak Nita dan aila untuk menemui Meri dan Deny, mereka adalah orang yang akan membantu mempersiapkan pesta pernikahan.


Menyadari semua telah pergi, Lisa segera bangkit dan melangkah keluar, atau sesuatu akan kembali terjadi padanya. Mengingat Sejak tadi Serkan terus menatapnya dengan tajam.


Melihat Lisa yang melangkah keluar dengan terburu-buru, Serkan menarik salah atu sudut bibirnya. Ia belum pernah merasakan bermain dengan gadis lugu dan pendiam seperti Lisa. Entah kenapa ia jadi merasa tertantang untuk mencobanya. Lagipula, gadis itu perlu diberi hukuman karena sudah berani menolak menikah dengannya.


"Akh!" pekik Lisa karena tiba-tiba Serkan sudah menghadang jalannya . Ia bahkan hampir menabrak tubuh pria itu.


"Mau kemana? kita belum selesai sayang," ucap Serkan dengan seringai kecilnya.


Wajah Lisa langsung pucat, gadis itu tetap berusaha keluar namun lagi-lagi tubuh besar Serkan menghadangnya.


"Tu__an..." ucap Lisa gugup, saat serkan berjalan mendekat kearahnya.


Lisa terus berjalan mundur untuk menghindari Serkan, hingga menabrak meja makan dibelakannya. Saat Lisa sudah tidak lagi bergerak, Serkan memepet tubuh gadis itu hingga tidak lagi ada jarak diantara mereka.


"Ja__ngan, tuan...." ucap Lisa ketakutan.


Serkan tidak peduli dengan ucapan LIsa, melihat Lisa ketakutan membuat kesenangan tersendiri baginya. Tangan kekarnya meraih pinggang dan menyentaknya kuat.Tubuh Lisa menempel pas pada tubuhnya. Serkan mencium aroma sabun pada leher gadis itu dan mengecupnya lembut.


"Katakan, kenapa kau takut padaku?" bisik Serkan tepat pada lubang telinga Lisa dan meniupnya pelan. Ia bisa melihat gadis itu menggelinjang.


Bukan tidak mau menjawab tapi bibir Lisa kelu sekedar untuk berucap.


Belum mendapat jawaban, Serkan kembali mempermainkan leher jenjang gadis itu, bibirnya mengecup, menggigit kecil dan merasai setiap lekuknya, hingga ia mendengar gadis itu mengerang. Mendengar erangan dari mulut Lisa, Serkan langsung mengangkat wajah. Ia menatap intens pemilik wajah sayu didepannya. Erangan Lisa membuat gairahnya bangkit.


Tanpa sadar ia menyentuh dan mengusap bibir merekah didepannya, membelainya lalu mengu***nya. Awalnya lembut, namun entah kenapa lama-lama menjadi pagutan kasar. Serkan menyesap dan menggigit kecil hingga menarik bibir Lisa dengan bibirnya.


Lisa bergerak ingin membebaskan diri, ketika Serkan tidak lagi terkontrol. Namun, pria itu mencengkeramnya kuat. Dengan rakus ia mulai mencium, menjilati leher dan dada atas LIsa. Melepas kancing baju gadis itu dengan paksa lalu berpesta pora disana. Pria itu membelai, mer**as dan meng**ap puncak dadanya.


Entah apa yang Lisa rasakan saat ini, Ia benci pria kurang ajar didepannya itu karena telah berbuat semena-mena dan menyentuh dirinya dengan kasar, tapi kenapa tubuhnya tidak bisa menolak setiap sentuhan pria itu?


Serkan menghentikan bibirnya pada dada Lisa, saat merasakan air menetes di pipinya. Ia mengangkat wajah dan mendapati Lisa menangis. Saat itu ia menyadari satu hal. Ia sudah terlalu kasar.


Serkan menatap bingung uuntuk sesaat lalu meraih gadis itu dalam pelukan dan mendekapnya erat. Ia mengusap gadis itu dan menciumnya kepalanya.


"Maaf..." akhirnya hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Entah sudah berapa banyak wanita yang pernah ia sentuh dan ia tiduri, namun untuk pertama kalinya ia merasa bersalah karena melakukannya.


Bersambung.....


Maaf sayang, up nya lama. Mood aku masih naik turun. Aku juga sedang ada urusan di dunyat. Jadi mohon kalian bersabar..aku pasti lanjutin kok, tapi ya harus sabar.


O iya, aku buat novel baru genre fantasi romance gaes, baca ya gaes? itu novel udah lama bikin, tapi mau up maju mundur, gak PD juga. kalo banyak yang suka aku lanjutin. Judul : Suami Dari Dimensi Lain.

__ADS_1


__ADS_2