
🌸Cinta 49 Cm🌸
**Sakau**
Aila menghirup napas dalam, lalu membuangnya pelan kemudian. Ia terlihat sedang mempersiapkan diri untuk memasuki kamar singanya. Masuk kedalam kamar Leon sama saja dengan menyerahkan diri sebagai bahan santapan sang singa lapar. Tapi, mengingat Leon adalah satu-satunya keluarga dan harapan bagi oma, Aila merasa tidak tega jika hati wanita itu hancur, karena melihat Leon kecanduan miras. Selain itu, jauh dari dasar hatinya yang terdalam, ia tidak tega melihat Leon tersiksa karena minuman haram tersebut.
Dengan pelan, Aila mendorong pintu yang masih sedikit terbuka.
Ruangan terlihat sangat gelap. Sepertinya Leon mematikan lampu kamarnya. Didalam kamar gelap gulita seperti itu, apa yang sedang di lakukannya? apa sudah tidur? Aila merasa penasaran. Dengan mengandalkan sedikit cahaya yang masuk melalui pintu kamar yang terbuka, Aila mencari saklar yang ia tahu ada di samping ranjang.
Setelah meraba kesana kemari, akhirnya jari tangannya menemukan saklar yang di maksud. Aila kemudian menekan saklar tersebut.
Seketika ruangan menjadi terang benderang. Namun betapa kagetnya ia, ketika mendapati sosok Leon yang tengah duduk diatas ranjang dengan tangan terlipat di dada sedang menatapnya tajam.
"Ya, Tuhan!" Aila terlonjak kaget, melihat Leon masih terjaga.
"Anda membuat saya kaget, tuan." protes Aila sembari mengurut dadanya, karena jantungnya hampir copot karena terkejut. Bagaimana bisa, Leon berdiam di dalam ruangan yang begitu gelap.
"Kaget?! harusnya aku yang kaget, kenapa mengendap-endap masuk ke kamarku, hem?" tanya Leon.
"Em__itu, aku hanya main." ucap Aila asal karena gugup.
Seringai muncul di sudut bibir Leon, " Main? kau pikir sedang bermain di kamar siapa, sayang?"
Aila menggigit bibir bawah sembari memejamkan matanya, menyadari jika jawabanya terlalu konyol.
"Em__"
"Kemari!" perintah Leon sembari menepuk ranjang tepat di sampingnya.
"Tuan, sa.."
"Ke_ma_ri!!" Leon menjeda perintahnya dengan tajam.
Aila menghela napas, harusnya ia sudah mempersiapkan diri untuk apapun yang terjadi ketika memutuskan untuk memasuki kamar singanya. Tapi kenapa ia seperti belum siap dengan konsekuensinya?
Dengan sedikit gugup, Aila melangkah mendekat. Kejadian siang tadi di kamar Nita, belum juga ia sesali. Kenapa ia begitu ceroboh? bukankah setiap kali berada di samping Leon, ia selalu hilang kendali?
"Naik, sayang!" perintahnya lagi ketika Aila sampai ditepi ranjang.
"Disini saja," ucap Aila mencoba menolak.
Ah, bagaimana ia akan menyuruh Leon berhenti dengan mirasnya, jika di samping pria itu, ia yang malah akan di mainkan?
"NA_IK!" Leon kembali menjeda perintahnya.
Aila mendesah kemudian merangkak naik. Entah kenapa perintah Leon selalu menjadi keharusan baginya.
Leon mengulum senyum, setelah Aila benar-benar tepat berada di sampingnya.
"Apa maumu?!" tanya Leon, ia hapal di luar kepala watak gadis itu. Aila tidak akan datang begitu saja tanpa ada maksud.
"Saya ingin memberikan kesepakatan pada anda, tuan."
Seketika Leon terbahak mendengar ucapan Aila. Apa lagi permainan yang akan di mainkan oleh wanitanya itu.
"Kau ingin tawar-menawar padaku? kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?"
Aila mendengus, Tentu saja ia tahu. Siapa yang tidak mengenal singa gila di depannya itu.
"Ya, tuan."
"Katakan," Leon selalu penasaran dengan permainan gadisnya itu.
"Saya akan ikut dengan anda ke jakarta, jika..."
Aila belum selesai dengan ucapannya, tapi Leon sudah lebih dulu tertawa.
"Kau pikir aku memberi kesempatan untukmu menolak ajakanku? meskipun kau tidak mau, akan tetap ku paksa, sayang."
Aila menautkan alis. Pria di depannya itu, sepertinya memang sudah benar-benar gesrek otaknya.
"Bukankah anda sendiri yang memberi saya waktu untuk berpikir?"
Lagi-lagi Leon terbahak.
"Ayolah sayang, itu hanya basa-basi agar aku tau alasanmu." ucapnya sembari menoyor kening Aila.
Seketika Aila mendengus kesal, ia pikir sikap Leon sudah berubah lebih manis, setidaknya mau mendengar apa kata hatinya. Eee, ternyata!
Sia-sia saja dirinya merasa khawatir.
Aila segera beringsut, bermaksud untuk pergi, namun Leon lebih dulu menariknya kuat, hingga dadanya membentur kepala Leon.
Aila terpekik kaget. Belum sempat ia membetulkan pisisi, Leon sudah lebih dulu membenamkan wajah di dadanya sembari memeluknya erat.
"Diamlah! kepalaku sakit," ucap Leon.
Aila yang kesal masih tetap berontak, hingga menyadari tubuh Leon begitu dingin. Pria itu juga terlihat menggigil.
__ADS_1
Seketika Aila menghentikan penolakannya.
"Apa anda sakit?" tanyanya kuatir.
Leon diam tidak menjawab. Tubuhnya semakin menggigil hebat sembari memeluknya dengan erat.
Aila bingung harus berbuat apa, ia kemudian meraba tubuh pria di depannya, terasa dingin memang. Ia kembali teringat percakapan Davin dan Leon ketika tidak sengaja ia dengar tadi. Leon mengeluh sakit kepala, apa iya karena ingin minum alkohol? sudah sampai separah itu?
"Pa__nggil kan Da__vin" ucapnya dengan nada bergetar.
Lagi-lagi Aila bingung, Ia tau jika Leon tengah menunggu minuman itu. Namun miras itu tidak akan pernah ada, karena ia sendiri yang menyuruh Davin untuk tidak membelinya. Sebelumnya ia sangat percaya diri rencananya akan berhasil, namun melihat keadaan Leon tiba-tiba rasa percaya diri itu lenyap, berganti dengan ketakutan.
"Ta_pi, aku sudah menyuruh kak Davin untuk tidak membelinya." ucap Aila panik.
Leon semakin mengeratkan pelukannya, hingga Aila susah bernapas. sesekali terdengar erangan rendah, seperti menahan sakit yang teramat.
"Ke_palaku, sakit..." ucapnya terdengar mengiba.
Sembari menahan sesak karena pelukan Leon, Aila juga bingung dan panik harus berbuat apa.
Akhirnya ia hanya bisa membalas pelukan itu dan mengusap Kepala Leon pelan. Namun, tiba-tiba Leon melepas pelukannya dan berdiri dengan sempoyongan turun dari ranjang. Lalu terduduk begitu saja sembari mencengkeram kepalanya kuat-kuat.
"Pergilah!" perintahnya di sela erangan.
Aila menggeleng, tirta-tirta bening berdesakan di pelupuk mata sebelumnya akhirnya menjadi hujan yang membasahi pipinya. Ia khawatir, panik dan juga takut melihat Keadaan Leon.
Aila mendekat tepat di depan Leon, gadis itu berusaha memeluk tubuhnya, namun dengan kasar Leon menolaknya hingga hampir terjatuh kebelakang.
"Pergi!"
Aila tidak menuruti ucapan Leon, dengan air mata yang semakin deras mengalir, ia kembali mencoba memeluk lelakinya yang terlihat tidak berdaya, meski lagi-lagi Leon menolaknya. Tidak menyerah, Aila memeluk lutut pria yang sedang terduduk di depannya itu dengan tersedu.
"Jangan _menderita sendirian_ lagi, kita lewati bersama." ucapnya di sela tangis.
Leon menatap sayu wanita di depannya, kenyataannya pengusiran hanya di bibir saja, ia ingin, sangat ingin malah untuk Aila terus berada di sampingnya.
Setiap malam harus mengalami semuanya sendiri, kesakitannya yang berulang, membuatnya begitu menderita. Tidak ada jalan lain selain ia harus minum lagi, lebih banyak lagi dan terus seperti itu hingga mungkin ia sendiri akan mati. Tapi hanya dengan itu, ia bisa melupakan sakitnya di tinggal orang yang begitu di cintai dan di sayangi meskipun karena kesalahannya sendiri.
Ia kehilangan Aila dan oma sekaligus. Meski wanita tua itu berada di dekatnya, namun tak pernah sekalipun berkata sejak kepergian Aila hingga hari ini.
Leon menegakkan tubuh, wajahnya begitu pucat dengan urat yang meyembul di sekitar dahi, menandakan sakit yang teramat pada kepalanya.
Pelan, Aila beringsut mendekat. Takut Leon kembali menolaknya, namun pria itu terlihat diam tidak bereaksi. Hingga Aila sudah masuk dan duduk di depan dada pria itu dan menenggelamkan wajahnya disana, menumpahkan kepiluan di dada. Memeluk lelakinya dengan begitu erat.
Nyatanya, selama tiga tahun ini mereka hanya saling menyiksa diri.
"Jangan mengusirku lagi," rintihnya.
"Pergilah, aku takut melukaimu." ucapnya lirih.
Aila bergerak, dengan badan setengah berdiri, ia raih wajah Leon dengan kedua tangan dan menatap manik sayu tersebut.
"Dengar, akan ku belikan minuman itu untuk hari ini, tapi berjanjilah...berjanjilah kita akan ke dokter esok?" ucap Aila.
Leon terlihat tidak menjawab dan malah meraih tangan Aila yang sedang memegang kedua pipinya lalu menciumnya.
Aila tahu, itu sudah lebih dari sebuah jawaban. Senyum terukir di bibir mungilnya bersamaan dengan derasnya air mata. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang melihat orang yang di cintai tergolek tidak berdaya karena mengalami sakau sebab putus zat.
Aila kembali meraih wajah pucat di depannya, kemudian mencium keningnya, pipinya bergantian sebelum ia berdiri untuk mencari Davin.
Sepeninggal Aila, Leon benar-benar hilang kendali. Pria itu merusak semua hal yang berada di depannya demi sakit yang mendera sedikit berkurang.
Aila yang masih berdiri di luar kamar dan mendengar semuanya hanya bisa diam sembari menekan dadanya. Dalam semalam ada ribuan luka yang tertancap disana. Di dalam hatinya.
Seperti orang kesetanan, ia kemudian berlari kearah kamar. Mencari di mana Davin berada. Mungkin karena mendengar keributan pria itu pun segera keluar, hingga berpapasan dengan Aila yang terlihat kalut dengan uraian air mata.
Seketika Aila menghambur pada tubuh Davin dan meraung disana. Sedang Davin yang sudah bisa menduga apa yang terjadi tidak bisa melakukan apapun. Selain memenangkan Aila. Sebulan belakangan, Bossnya sudah mengalami kecanduan parah.
"Tenanglah, nona." ucapnya.
Aila kemudian terduduk lesu begitu saja di lantai.
"Apa yang harus ku lakukan? dia...dia kesakitan." isaknya.
Davin diam, ia juga bingung harus berbuat apa. Pasalnya ia sudah sering membujuk bossnya itu untuk konsultasi, namun Leon selalu menolak.
"Panggilkan dokter kak, kita tidak bisa membiarkan dia terus seperti itu."
ucap Aila setelah lebih tenang.
"Anda yakin, tuan tidak mengamuk jika memanggil dokter?"
"Aku akan berusaha membujuknya, kak."
Davin terlihat berpikir, ia tahu, hanya Aila yang bisa melakukannya. Di mata Davin, Aila adalah tuas pengaman bagi Leon. Saat bom di tubuh pria itu akan meledak hanya Aila yang bisa meredamnya.
"Baiklah nona, saya akan suruh Alex kemari sekarang juga." ucap Davin akhirnya.
Aila mengangguk, "Sebelum itu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Aila.
__ADS_1
Meski memakai jet pribadi, perjalanan jakarta hingga malang tetap butuh waktu bukan?
"Kita berikan dulu minuman itu," ucap Davin.
"Kakak punya?"
Davin mengangguk.
"Tapi, tadi kakak bilang habis?"
"Itu hanya alasan, agar tuan berhenti nona." ucap Davin dengan sedikit senyum membuat Aila lega mendengarnya.
Davin segera memberikan beberapa botol alkohol pada Aila dan ia sendiri Terlihat langsung menghubungi Alex saat itu juga.
Aila masuk kedalam kamar Leon yang sudah seperti neraka. Semua perabot disana sudah tidak lagi utuh. Berkali-kali ia mencoba menenangkan diri. Davin berpesan kepadanya untuk tetap berhati-hati, karena Leon saat sakau bukanlah Leon yang biasa. Ia bisa saja melukai dirinya.
Leon terlihat terduduk disamping ranjang dengan kedua tangan penuh luka dan darah. Aila bisa menebak, pria itu pasti baru saja menyakiti dirinya sendiri.
Membuang semua ketakutan, ia mendekat. Menyentuh pelan bahu pria itu.
"Ini," Aila menyodorkan beberapa botol alkohol pada Leon.
Leon terlihat membuka matanya. Pria itu tidak segera menerima botol alkohol yang di sodorkan Aila, tapi malah menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang.
"Aku ingin sembuh." ucapnya pelan.
Mendengar ucapan Leon, hati Aila menghangat. Ia segera meletakkan botol-botol tersebut kemudian menarik kepala Leon untuk dipeluknya dan mencium kening pria itu.
"Kita akan hadapi bersama," bisik Aila lembut.
Aila kemudian mengganti kaus Leon yang telah basah oleh keringat.
Dengan sabar ia membersihkan luka di tangan Leon dan mengobatinya. Meski ada dokter di dalam hotel, namun ia tidak berani umtuk menyuruh dokter tersebut, mengingat Leon tidak membiarkan sembarang orang menyentuh tubuhnya.
Setelah mengamuk, Leon terlihat lebih tenang. Meski sesekali pria itu masih mengerang kesakitan.
Kurang lebih dua jam, Alex tiba di hotel.
Dengan diantar Davin, pria itu memasuki kamar Leon dengan tergesa.
Melihat keadaan kamar Leon yang sangat berantakan, Alex terlihat menggelengkan kepala hingga pria itu terhenyak kaget mendapati Aila berada tepat disamping Leon.
Ya, itu adalah kali pertama Alex melihat Aila setelah gadis itu menghilang dan membuat keributan di keluarga Leon. Bahkan sahabatnya itu harus berakhir dengan kecanduan parah alkohol karena kehilangan dirinya.
Untuk sesaat, Alex melirik kearah Davin. Bagaimana bisa pria itu tidak menceritakan apapun padanya. Kesetiaan Davin terhadap Leon benar-benar luar biasa, bahkan untuk hal sepele sekalipun.
Davin hanya mengerdikkan bahu menyadari tatapan aneh dari Alex.
"Ehem! udah ketemu? pantes semedi di pelosok gak pulang-pulang."
ucap Alex menggoda Leon. Meski, bukan waktunya bercanda, ia tetap tidak menyangka jika Leon akhirnya menemukan istrinya.
Leon terlihat masih menutup mata, namun ia paham jika Alex datang.
Sedang Aila terlihat tersenyum meski dengan wajah sayu dan berantakan karena kepanikan tadi.
"Berikan apapun, agar aku bisa segera tidur!" ucap Leon tanpa membuka matanya.
Alex tersemyum jahil, " Gitu napa dari dulu? disuruh brenti aja kok susah!."
"Cerewet!"
Alex mendesah, kemudian mengeluarkan jarum suntik dan sebuah obat yang entah apa namanya, kemudian menyuntikkannya pada Lengan Leon.
"Pelan-pelan aja, gak usah langsung stop. Supaya gak kaget tubuh." ucap Alex.
"Pindahin dia kekamar lain, disini udah kayak neraka." cibir Alex.
Davin kemudian membantu Leon berdiri menuju ke kamar sebelah, di ikuti Aila dan yang lain.
Saat sudah sampai, Davin membaringkan Leon di atas ranjang. Pria itu terlihat masih menggigil karena efek sakau.
"Angetin dia." ucap Alex pada Aila.
"Apa selimutnya kurang?" tanya Aila tidak mengerti.
Pasalnya, Aila sudah merlihat Davin menyelimuti Leon dengan bad cover hotel.
"Bukan pake selimut sayang, pake kamu." ucap Alex sembari mengedipkan sebelah mata kearah Aila, membuat gadis itu merona dan salah tingkah.
Kemudian Alex dan yang lainnya keluar dari kamar, meninggalkan Aila yang masih berdiri di samping ranjang.
"Kembali dan tidurlah," ucap Leon pelan.
Aila diam untuk sesaat, kemudian ia naik keatas ranjang dan masuk kedalam pelukan Leon.
Leon terlihat diam dan membiarkan.
Tidak berapa lama matanya terasa berat, ditambah ia bisa membaui aroma rambut dan tubuh Aila dalam pelukannya. Leon tertidur saat itu juga, meninggalkan Aila yang terus terjaga. Begitu banyak hal yang ia pikirkan di otaknya, salah satu darinya adalah kenyataan, bahwa Leon ternyata tidak sekuat yang ia kira.
__ADS_1
Bersambung...