
🌸 CintaSemenit yang lalu matahari masih bersinar nyalang menantang, namun kini tiba tiba saja gerimis datang tanpa diundang.
Ah, hujan memang tidak pernah peka akan keadaan.
keadaan hati yang sedang bimbang.
Walau hujan begitu deras, Aila tetap berlari.
Ia sendiri tidak tau kenapa terus berlari. Memang apa yang mau dihindari?
Entahlah, yang pasti gadis itu hanya ingin sendiri untuk saat ini.
Ciiiiiiiit!
Sebuah mobil tiba tiba saja berhenti didepan Aila, membuatnya harus menghentikan langkah.
Gadis itu menajamkan penglihatanya, mobil siapa?
Tidak berapa lama, terlihat seorang pria keluar dari sana. Siapa lagi kalau bukan Leon? lelaki yang sangat ingin Aila hindari untuk
saat ini.
Leon terus berjalan mendekat kearah Aila. Lelaki dengan raut wajah dingin, sedingin kutub selatan itu terlihat sangat kesal.
" Masuk. " Perintah Leon sembari menarik lengan Aila.
Aila diam tidak bergeming. Untung saja dirinya kini sedang berada di atas jembatan, jadi ia bisa berpegangan pada pagar pembatas disampingnya.
" Gak. " Jawab Aila sembari mempererat peganganya pada pagar pembatas.
Leon menghela napas, mencoba bersabar. Pria itu menatap intens gadis didepanya untuk sesaat.
Bajunya telah basah kuyup, seragam sekolah yang memang berwarna putih mendukung terlihatnya gunung kembar milik Aila. Ditambah lagi gadis itu memakai bra berwarna hitam membuat asetnya tanpa sengaja terpamerkan.
Leon menelan salivanya dengan kasar. Dasar otak! gak bisa lihat kondisi.Lagi hujan juga.
Pria itu terlihat melepas jaketnya kemudian memakaikannya pada Aila.
" Kenapa harus memakainya? " Tanya Aila. Manik matanya menatap lekat kearah Leon.
" Tubuhmu jelek, jadi tidak perlu kau pamerkan. " Jawab Leon santai.
Aila tersenyum getir. Ternyata orang yang mengiriminya pesan benar. Tubuhnya jelek dan tidak menarik sehingga Leon memilih tidur dengan Clara di banding denganya.
Aila melepas jaket yang diberikan oleh Leon, kemudian ia lemparkan kearah sungai dibawahnya. Aila tidak peduli seberapa mahal harga jaket itu. Mungkin ia harus bekerja berbulan bulan untuk menggantinya. Terserah!
Leon jelas kaget dengan sikap Aila yang berani membuang jaketnya.
" Apa yang kau lakukan?! "
" kakak bilang tubuhku jelek dan tidak menarik, jadi kalaupun aku telanjang itu tidak masalah. Tidak akan ada yang melirikku. " Ucap Aila santai, kemudian gadis itu berjongkok dan melepas semua sepatunya.
Leon masih diam mengamati tingkah Aila, ia sendiri bingung harus berbuat apa. Ayolah masa hanya karena ucapanya tadi, Aila harus begitu tersinggung.
Aila kembali berdiri. Entah dapat bisikan dari mana, gadis itu melepas kancing seragam sekolahnya satu persatu.
Mata leon terbelalak tidak percaya dengan apa yang Aila lakukan.
Dengan sigap ia menahan tangan Aila untuk berhenti dari kegilaanya itu.
" Apa yang kamu lakukan? " Tanya Leon panik. Ia kemudian menutupi tubuh Aila dengan tubuhnya, supaya Davin dan Niko tidak melihat aset miliknya itu.
" Nanggung Ai, terusin napa? terusiin. " Teriak Niko dari dalam mobil.
" Diem loe! tuh mata gue congkel, tau rasa loe. " Ucap Leon tajam.
Karena perhatian Leon yang teralihkan, Aila berhasil melepas kemeja sekolahnya. Kemudian kemeja tersebut ia buang ke sungai dibawahnya seperti jaket Leon tadi.
Tapi sepertinya gadis itu masih cukup waras untuk tidak melepas roknya sekalian.
Alhasil sekarang Aila hanya memakai tanktop berwarna putih dengan bra hitam yang mencolok karena kebasahan.
Sumpah rasanya Leon kepingin nonjok sekarang, tapi siapa yang harus ia tonjok?
Gara gara ucapanya yang sepele itu, urusanya jadi begitu runyam.
Sial, cewek pendiam kalo marah bisa bikin orang gila mendadak.
Tidak kehilangan akal, Leon melepas Kausnya sendiri untuk ia pakaikan pada badan Aila. Jadilah ia bertelanjang dada sekarang.
Walaupun Aila terus menolaknya, tapi tenaganya toh tidak cukup untuk menghentikan Leon. Mereka jadi terlihat seperti seorang ayah yang sedang memaksa anaknya untuk pakai baju.
Jangan tanya sudah berapa pasang mata dari pengguna jalan yang menatapnya heran.
Yah, Leon sadar mereka sudah cukup tua untuk bermain hujan hujanan tanpa memakai baju dipinggir jalan pula.
Bodo amatlah !
Setelah berhasil memakaikan kausnya pada tubuh Aila, Lelaki itu kemudian berjongkok di depan Aila. Manik matanya menatap lembut pada wajah didepanya itu.
" Kita pulang, hem? " Ajak Leon, kali ini dengan nada yang lebih lembut
Aila diam. Gadis itu tidak menjawab tapi juga tidak berontak, ia hanya menunduk.
Ketika Leon menggendongnya kearah mobil pun, Aila pasrah. Entah kenapa hatinya tiba tiba melunak.
Jika Leon memang menyukai Clara dan tidur denganya, kenapa masih peduli padanya? pada kehormatannya? bahkan lelaki itu rela telanjang dada ditengah hujan hanya untuk menutupinya.
" Lebih cepat Davin! dan tutup matamu. " Perintah Leonketika sudah masuk kedalam mobil.
Kalo tutup mata ya nabrak tuan.
" Baik tuan. " Jawab Davin patuh. Baru kali ini tuanya itu menunjukkan kebodohanya.
Niko hanya berusaha menahan tawa agar tidak meledak menyaksikan kelakuan konyol sahabatnya itu.
" Gue berani taruhan Vin, mulai saat ini hidup loe bakal lebih repot. " Ucap Niko.
Davin tidak bereaksi, tetap dengan muka datarnya.
Leon juga diam dibangkunya, namun matanya jelas menatap intens kearah gadis yang sedang duduk disampingnya itu.
Aila terus menunduk, sesekali meremas ujung kaus milik Leon. Tiba tiba saja hatinya resah.
Leon menyeringai melihat kelakuan gadisnya itu. Cara marahnya benar benar aneh dan.....
__ADS_1
Sexy.
***********
Leon keluar dari mobil setelah Davin meparkirkan mobilnya di garasi bawah apartemenya. Pria itu kemudian membukakkan pintu untuk Aila, menyuruhnya keluar. Gadis itu menurut. Setelah keluar dari mobil, seperti biasa Leon mengangkat tubuhnya dengan satu tanganya. Lagi lagi Aila hanya pasrah dan menurut.
Leon membawa Aila masuk kekamarnya, kemudian berjalan kearah kamar mandi. Ia mendudukkan tubuh Aila disamping wastafel.
" Mandilah, akan kubawakan baju untukmu. " Perintah Leon.
Aila diam, tidak menjawab tapi juga tidak berontak.
Kemudian Leon segera keluar dari kamar mandi. Pria itu menuju walk in closet untuk mengambil baju. Karena ulah Aila tadi dirinya harus basah kuyub dan bertelanjang dada.
Disana ternyata sudah ada sesuatu yang baru. Satu lemari penuh dengan pakaian untuk Aila. Meri pasti sudah menatanya ketika ia pergi kemaren.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu kamar Leon diketuk dari luar.
" Masuk "
" Baik tuan. "
" Ada apa Vin? "
" Ini tas nona Aila, tuan. "
" Siapa yang mengantar? "
" Teman sekelasnya tuan. "
Leon mengerutkan keningnya, teman? siapa?
" Namanya Meli kalo tidak salah tuan. "
Leon manggut manggut mengerti.
" Taruh di atas ranjang. "
" Baik tuan. "
Davin meletakkan tas Aila diatas ranjang, kemudian keluar meninggalkan kamar Leon.
Sepeninggal Davin, Leon membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Badanya sangat lelah hari ini.
Dari bandara ia langsung pergi kesekolah Aila, dan mendapati masalah baru. Ditambah gadisnya juga ngambek sekarang.
Ah, Leon benar benar ingin tidur sekarang.
Leon melirik kearah tas Aila, pria itu sepertinya penasaran dengan isi tas gadisnya. Ia kemudian membuka dan mengeluarkan semua isinya, tidak ada yang menarik hanya ada buku buku pelajaran dan Gawainya saja.
Melihat gawai Aila, Leon jadi penasaran dengan isi gawai gadis itu.
Dan lagi, ada satu hal yang ingin dia pastikan. Benarkah Aila menghubunginya ketika ia berada di Dubai.
Leon mulai memeriksa semua WA gadis itu, namun alangkah terkejutnya ketika ia melihat ada foto foto dirinya ketika menolong Clara waktu gadis itu terjatuh dikamar mandi.
Tidak sampai disitu, dibawahnya ada begitu banyak pesan yang berisi penghinaan terhadap Aila.
Pantas saja, Aila melakukan hal gila ketika di jalan tadi.
Apa lagi ini? siapa yang berani menantang dirinya?
" Daviiiiiiin! " Teriak Leon.
Davin yang mendengar teriakan Leon kaget. Ada apa? dari suaranya terdengar sangat marah.
" Iya Tuan. " Jawab Davin, segera pria itu berlari kearah kamar Leon.
" Ada apa tuan? "
" Selidiki yang mengirimkan ini. Bawa dia hidup hidup Davin. " Ucap Leon dingin sembari melemparkan gawai Aila kearah Davin.
Dengan sigap Davin menangkap kemudian melihat nomor sang pengirim pesan.
" Baik tuan. "
Setelah memasukkan nomor si pengirim kedalam gawainya, kemudian Davin meletakkan gawai Aila di atas nakas.
Setelah itu davin pamit dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Leon.
Leon meremas rambutnya kasar. Pekerjaanya sebagai seorang public figure mulai merotkan sekarang. Ia harus segera meninggalkan pekerjaan tersebut dan mulai fokus pada perusahaan.
Aila sudah berada didalam kamar mandi sejak tadi, tapi gadis itu belum juga keluar.
Apa dia melakukan hal gila lagi?
Leon segera menyusul masuk kedalam kamar mandi. Aila terlihat sudah selesai mandi dengan handuk yang melekat ditubuhnya. Gadis itu terlihat sedang berada diatas rak dan memainkan salah satu shampo Leon disana.
Leon menarik salah satu ujung bibirnya. Tingkah polah Aila yang seperti anak kecil membuat moodnya tiba tiba membaik.
" Sedang Apa, hem ? " Tanya Leon tiba tiba membuat Aila kaget dan hampir jatuh.
Aila malu bukan kepalang, ia lagi lagi ketahuan memanjat rak karena penasaran dengan merk shampo yang dipakai Leon.
" Kau ingin memakainya? "
Aila cepat cepat menggeleng.
Leon tersenyum sesaat, kemudian mengangkat tubuh Aila keluar dari kamar mandi.
Aila resah, ia hanya memakai handuk saja dan tidak punya pakaian disini.
" Aku tidak memakai baju. " Ucap Aila lirih.
" Itu bagus untukmu sayang. " Seringai Leon.
Aila menunduk dalam gendongan Leon.
Ah, kenapa ia harus hujan hujanan dan membuang semua bajunya?
Aila mulai menyesali tindakanya sekarang.
" Di jalan tadi kau begitu ngotot untuk telanjang bukan? "
__ADS_1
Aila langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu jika mengingat kebodohanya.
Leon terkekeh melihat sikap gadisnya. Pria itu kemudian mendudukkan Aila disalah satu rak kosong di dalam walk in closet.
" Pakai baju, atau ku terkam hidup hidup. " Seringai Leon.
Aila menunduk malu.
" Tapi aku tidak punya baju. " Lirih Aila.
" Lihat belakangmu, itu semua bajumu. "
Aila kemudian membalikkan tubuhnya, gadis itu terganga melihat lemari besar yang penuh dengan baju wanita yang tidak ia lihat sebelumnya.
" Bajuku? " Tanya Aila tidak percaya.
Leon mengangguk, kemudian menurunkan Aila dari atas rak, membiarkan gadis kecilnya itu melihat lemari bajunya.
wajah Aila jelas terlihat takjub ketika melihat semua baju yang sepertinya khusus dibuat untuknya.
" Suka? "
Aila mengangguk. " Mereka indah. " Jawab Aila.
" Mereka semua untukmu sayang, dan kau untukku. " Goda Leon.
Aila buru buru menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona.
Untuk sesaat ia jadi lupa, alasan kenapa ia lari larian ditengah hujan.
Hati wanita memang begitu lemah adanya.
" Cepat pakai bajumu. " Perintah Leon, sembari melangkah keluar.
Aila buru buru memilih pakaian untuk dia pakai sekarang. Pilihanya jatuh pada dress tidur lengan panjang selutut berwarna putih, dengan renda renda diujung dressnya.
Setelah berganti baju dan menyisir rambutnya Aila keluar. Matanya menangkap sosok Leon yang sedang bermain gawai di sisi ranjang. Tiba tiba saja jantungnya berdebar debar. Apa yang harus ia lakukan? bukankah seharusnya ia kesal? kenapa malah berdebar debar? bodoh.
" Sudah selesai? " Tanya Leon yang menyadari kedatangan Aila. Gadisnya itu benar benar terlihat lucu dengan baju barunya.
" Kemarilah. " Perintah Leon.
Aila mulai terlihat resah. terakhir berduaan dengan Leon, hsmpir saja membuatnya tidak waras.
" Kemari sayang. " Ulang Leon mencoba sabar.
Aila menurut, walaupun hatinya ragu.
Setelah benar benar dekat, Leon menarik pinggang Aila untuk lebih dekat denganya.
Walaupun Leon duduk ditepi ranjang dan Aila berdiri, tinggi mereka hampir sama.
" Kenapa tidak menghubungiku selama aku pergi? " Tanya Leon tajam.
" Takut mengganggu kakak. " Jawab Aila sembari menunduk.
Leon menghela napas, sesaat.
" Tidak pernah sekalipun menghubungiku? "
" Pernah. " Jawab Aila singkat.
" Siapa yang angkat? "
" perempuan. "
" Clara? "
" Tidak tau. "
" Apa yang dikatakanya? "
" Tidak ingat. "
Leon menarik napas panjang untuk mengusir beban yang tiba tiba datang ke dalam rongga dadanya
" Marah? " Tanya Leon sembari memaikan rambut Aila yang masih setengah basah.
Aila menggeleng.
" Lalu? "
Aila diam, enggan menjawab.
" Karena ini? " Leon menunjukkan foto foto dirinya dan Clara yang tersebar di dunia maya.
Lagi lagi Aila menggeleng.
" Karena ini? " Leon menunjukkan foto dari WA Aila.
Aila kaget, bukanya tadi Hp dan tasnya ketinggalan disekolah?
" Meli yang mengantarkanya kesini. " Ucap Leon yang mengerti apa yang dipikirkan Aila.
Aila diam.
" Kau percaya aku melakukanya? "
Aila masih diam, enggan menjawab.
" Ok, akan ku bawa orang yang mengirimkan ini hidup hidup kepadamu untuk mengatakan yang sebenarnya. " Ucap Leon dingin. Bukan karena foto itu Leon marah, tapi karena Aila sendiri tidak percaya padanya.
Leon kemudian berdiri, terlihat raut wajahnya begitu dungin.
Namun Aila segera menahanya dengan menarik kaus yang Keon pakai.
" Jangan pergi. " Ucap Aila lirih.
Leon kaget, tapi ia memilih diam. Menunggu kalimat dari bibir Aila selanjutnya.
" Jangan pergi lagi. " Lanjut Aila. Terdengar isak kecil dari nadanya yang bergetar.
Untuk sesaat Leon bingung harus melakukan apa. Namun satu kelegaan jelas memenuhi ruang didalam hatinya.
Leon tau karakter Aila, gadis pendiam yang cukup keras kepala. Gadis sepertinya tidak akan mudah untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.
__ADS_1
Selama ini Leon menunggu Aila mengatakannya langsung dari bibirnya sendiri.
Dan sekarang ia mendengarnya.