Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 42


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 42


**Jual mahal**


Aila terlihat resah, menatap layar gawai ditangannya. Jari mungilnya terlihat menulis sesuatu, namun belum juga selesai, ia kembali menghapusnya. Ia kembali menulis, lalu menggelengkan kepala kemudian menghapusnya. Ia mengulangi sikapnya hingga beberapa kali, sebelum akhirnya menghempaskan diri di atas sofa.


Perasaannya sungguh tidak enak semenjak sore tadi, membuat hatinya gelisah. Ia ingin menanyakan kabar suaminya, namun Oma melarangnya melakukan hal itu. Entah, ia harus menuruti siapa? kata hatinya atau perkataan Oma.


Aila kembali berdiri, mengigit bibir bawahnya, tanpa sadar kakinya melangkah mengitari meja. Gadis itu terus berputar dengan rute yang sama hingga suara ketukan di luar pintu kamar mengagetkannya.


"Siapa?" tanya Aila.


"Saya, nona muda." suara milik pak Liem.


"Sebentar!"


Aila berdiri kearah pintu, kemudian membukanya.


"Makan malam sudah siap nona." ucap Pak Liem.


"Ah, ya pak Liem."


Pak Liem membungkuk hormat sebelum berbalik melangkah pergi.


Aila menaruh gawainya di atas meja, kemudian melangkah ke luar kamar. Niatnya berjalan menuju ruang makan, namun kakinya tanpa sadar membawanya kearah taman depan kastil.


Temaram lampu taman menuntunnya untuk duduk di atas bangku dekat air mancur.


Gadis itu mendongakkan kepala menengadah langit yang bertabur gemintang.


"Waw! indah." ucapnya takjub, manik mata kopi susu itu membulat sempurna menatap keindahan yang tercipta. Tanpa sadar ia mengayunkan kakinya yang menggantung, menimbulkan bunyi gemerincing.


Hanya sebentar keindahan itu mengalihkan pikirannya, sebelum ia kembali menghela napas, menghalau resah di dalam dada. Ia merindukan singanya.


Seekor kunang-kunang terbang mengitarinya, sepertinya sang kunang menarik perhatiannya.


"Kau juga sendiri? kau pasti kesepian." Aila bicara sendiri.


"Baiklah, mungkin kita bisa jadi teman?" Aila turun dari kursi berusaha menangkap kunang-kunang tersebut.


Nyatanya menangkap kunang-kunang tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi hanya dengan tangan kosong, namun menyerah di awal, bukanlah prinsip Aila. Gadis itu terus berusaha menangkap sang kunang, hingga satu titik kunang tersebut terbang rendah, dan Aila siap menangkapnya.


"Aaa!" Aila meraba keningnya karena telah menabrak seseorang.


Karena terlalu fokus, matanya tidak melihat ada sesosok manusia di depannya.


Aila kaget, gadis itu mendongakkan kepalanya pelan. Sesosok lelaki tampan, dengan tinggi menjulang tengah berdiri tepat di depannya.


Meski lampu taman hanya temaram, namun Aila bisa melihat lelaki itu kekar dengan lengan penuh tatoo dan juga tampan, walaupun baginya Leon tetap lebih tampan darinya.


"Sakit?!" ucapnya dengan suara berat.


Aila tergagap, sadar dari lamunannya.


"Ini," Lelaki itu menunjukkan botol vodka yang sudah kosong dengan kunang-kunang di dalamnya.


Aila mendelik kaget, tanpa kata gadis itu berbalik kemudian berlari kearah kastil. Meninggalkan bunyi gemerincing yang memecah kesunyian taman, mencetak seulas senyum dari bibir sang lelaki.


"Aku hanya ingin membantunya." Ia berbicara sendiri, sembari menatap punggung Aila yang menjauh.


Gadis yang manis! aku menginginkannya!


Aila berhenti berlari ketika ia sampai di ruang tengah, napasnya terengah tidak beraturan. Ia menyandarkan diri pada dinding, sembari mengatur napasnya. Aila heran ada yang berani mendekatinya di kastil ini, selama ini semua penghuni kastil seperti menjaga jarak darinya. Lagi pula wajah lelaki tersebut sepertinya memang bukan wajah seorang pelayan.


Apa mungkin orang jahat?


"Anda kemana saja nona? saya mencari anda sejak tadi." ucap Jimy tiba-tiba sudah dindepannya, lelaki itu terlihat kuatir.


"Ah__hanya dari taman depan, kak." jawab Aila masih mengatur napas.


Jimy mengerutkan kening, nonanya terlihat seperti habis berlari.


" Lain kali tolong beritahu saya jika ingin keluar, nona."


Aila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal." Maaf..lupa, he he he."


"Kenapa kakak mencariku?" tanya Aila.


"Ah, ya. Tuan muda sudah kembali nona."


"Oh ya? dimana sekarang?" tanya Aila antusias, ada binar bahagia di matanya.


"Di kastil depan, nona."


"Kastil depan?" ucap Aila, heran. Suaminya pulang tapi langsung menuju kasti depan?


"Ya,"


Aila mengerutkan keningnya, heran. Baru pulang kenapa langsung menuju kasti depan?


Mungkinkah ia marah, karena ia tidak meneleponnya?


"Em__bolehkah aku kesana?" tanya Aila.


"Tapi.."


Jimy belum menyelesaikan ucapannya, namun Aila sudah berlari keluar menuju kastil utama.


Jimy mendesah, sebelum ikut berlari mengejar sang nona.


"Hati-hati nona, anda tidak memakai alas kaki." teriak Jimy ketika mereka melewati taman depan. Akan menjadi masalah baginya jika kaki sang nona terluka.


************


Mendengar Ketiga sahabatnya datang, Leon langsung menemui mereka setelah turun dari pesawat. Davin bilang mereka sibuk untuk beberapa hari kedepan, tapi kenapa tiba-tiba datang?


Leon menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana ketiga sahabatnya sedang berkumpul.

__ADS_1


Terlihat tiga orang lelaki tampan sedang bercakap di depan sebuah meja panjang di dalam ruang pertemuan, mereka segera bangkit melihat Leon datang. Setelah saling memeluk satu sama lain, mereka kembali duduk.


"Dari mana kau?!" ucap salah seorang dari mereka, pria kekar berwajah khas timur tengah, dengan lengan penuh tato.


"Boston." jawab Leon singkat


"Kau berpesta tanpa kami?" ucap pria berkaca mata.


"Hanya pesta kecil." jawab Leon acuh.


"Kau menyuruh Davin pulang, apa ada masalah?" ucap pria dengan botol vodka di tangan.


"Masalah kecil....." Leon menahan ucapannya, ketika indra dengarnya menangkap bunyi gemerincing gelang kaki mendekat. Leon hapal, asal suara itu dari mana.


Leon segera berdiri melangkah kearah pintu, benar dugaannya, Aila tengah berlari mendekat kearahnya. Namun, ketika sampai di ambang pintu gadis itu tetiba berhenti karena melihat di ruangan tersebut ternyata ada orang lain selain suaminya. Aila mengenali salah satu dari mereka, lelaki bertato yang ia temui di taman depan kastil tadi.


Yang membuat Aila lebih terkejut adalah, ia melihat kemeja putih suaminya penuh noda darah dengan pistol masih di tangan.


Aila membeku tidak berani mendekat, ia berpikir sedang ada perkelahian disana.


Untuk sesaat Leon menatap kearah penampilan istrinya yang mengubah gaya rambutnya menjadi lurus, wajahnya juga terlihat lebih segar dari biasanya. Selama dirinya pergi, sepertinya Aila merawat diri.


"Kenapa hanya berdiri di situ? kemari!" perintah Leon kepada Aila.


Aila diam, bergeming di tempatnya. Sedang ketiga sahabat sekaligus bawahan Leon tersebut terlihat saling bertatapan.


"Kemari, sayang!" lanjut Leon.


Dengan ragu Aila mendekat, di iringi tatapan penuh tanya dari ketiga sahabatnya. Mereka memang mendengar Leon telah menikah dari Davin dan untuk alasan itulah mereka datang untuk memberi kejutan, Namun tidak disangka, jika kakak ipar mereka adalah seorang gadis kecil.


Leon meraih kepala gadisnya mendekat, bau anyir darah dari tubuh suaminya menyeruak masuk kedalam penciuman Aila. Sontak gadis itu sedikit menarik wajah dari badan suaminya, sembari menatap kearah pistol yang sedang di pegangnya.


"Tidak apa sayang, ini hanya mainan." ucap Leon santai, yang di iringi kekehan dari ketiga sahabatnya.


"Ah ya, mereka semua sahabatku." ucap Leon menatap ketiga sahabatnya.


Aila hanya menatap sekilas, ketika matanya bersitatap dengan mata pria yang ia temui di taman tadi, ia buru-buru menunduk.


"Dia istriku." ucap Leon memperkenalkan Aila pada sahabatnya.


Lelaki dengan botol vodka mendekat, namun entah kenapa Aila tiba-tiba berbalik dan menyembunyikan tubuh di belakang Leon, dengan satu tangan berpegang erat pada ujung kemeja suaminya, seperti anak kecil yang takut dengan orang asing.


"Hei, jangan takut gadis kecil. Namaku erik." ucap Erik sembari menjulurkan tangannya, tentu saja dengan menahan tawanya.


Aila hanya melirik kearah tangan Erik tanpa berniat menyambutnya.


"Minggir, kau membuatnya takut." ucap pria berkaca mata, mendorong bahu Erik.


"Aku Alex, kakak ipar." ucap Alex sembari berjongkok di depan Aila yang masih menyembunyikan diri.


Ragu-ragu Aila menyambut tangan Alex.


Cuup!


Alex mencium punggung tangan Aila, sontak gadis itu mendelik kaget da segera menarik tangannya.


"Apa kau ingin mati?!" Teriak Leon kesal, dengan menodongkan pistol kearah kepala Alex yang diikuti tawa dari Erik, sedang pria bertato tampak masih santai ditempat duduknya.


"Kau memang dokter yang mesum, Alex!" ucap pria bertato yang kini melangkah mendekat kearah Aila.


"Aku Serkan, dan ini untukmu." ucap Serkan sembari menyerahkan botol vodka kosong yang berisi kunang-kunang. Aila masih menyembunyikan diri, tidak berpikir menerima botol tersebut. Sedang Leon menatap tajam kearah serkan.


"Apa? aku hanya membantunya menangkap kunang-kunang di taman tadi." ucap Serkan yang mengerti arti dari tatapan Leon.


"Kau pergi ke taman?!" tanya Leon menatap Aila.


Ragu-ragu Aila mengangguk.


Leon mendesah, sebelum akhirnya berdecak kesal.


"Jangan bilang, kau mengurung kakak ipar?" tanya Erik.


Leon mengerdikkan bahu sebagai jawaban.


"Ck ck ck, kau gila Leon!" Alex menggelengkan kepalanya.


Merasa hanya menjadi bualan sahabatnya, Leon segera menggendong Aila dan melangkah keluar menuju kastilnya.


"Kalian menyebalkan!" umpat Leon, yang di iringi tawa dari ketiga sahabatnya.


"Dia serius?" tanya Erik pada Davin setelah Leon menghilang.


"Kau pikir?" Davin kembali bertanya.


"Dia serius, aku melihat gelang pelacak di kakinya." ucap Serkan santai.


"Matamu masih saja jeli, Serkan!" jawab Davin.


"Banyak wanita dewasa, kenapa memilih bocah?" tanya Alex.


"Dia berbeda, gadis itu membuat tuan jauh lebih baik. Dia seperti remot kontrol bagi tuan." Davin menjelaskan.


"Sehebat itu? bisa mengendalikan seorang Leon? ini menarik." ucap Erik.


"Dia memang menarik, malaikat kecil yang menarik!" ucap Serkan dengan seringai kecilnya.


"Ingat batasmu! kau hanya sebatas pengagum, tidak lebih." ucap Davin memperingatkan Serkan. Sejak pertama kali serkan melihat nonanya Davin tau ada kekaguman di mata sahabatnya itu.


"Aku tau Davin! mulutmu masih saja pedas!" sungut Serkan.


Davin mengerdikkan bahu tidak peduli.


Hening.


Mereka kembali larut dalam pikiran masing-masing.


Davin kemudian berdiri, bersiap untuk melangkah pergi ketika ucapan Erik menahannya.


"Kemana?"

__ADS_1


"Memastikan, tuan tidak kehilangan kontrol. Nona muda membuatnya kesal seminggu ini." ucap Davin sembari berlalu pergi.


*************


Leon menurunkan Aila tepat di depan pintu masuk kastilnya, kemudian pria itu melangkah begitu saja tanpa berbicara sedikitpun. Ia melangkah begitu cepat, membuat Aila harus berlari untuk mensejajarkan langkahnya. Tidak memperdulikan seberapa berisik gelang kakinya, Aila harus terus berlari, ia tau betul suaminya tengah marah.


Jalan terbaik menghadapi kemarahan suaminya adalah dengan menurut dan diam jika ingin semuanya tetap baik-baik saja.


Sampai di dalam kamar, Leon membanting pintu cukup keras sebelum mendudukkan diri pada kursi, membuat Aila yang berdiri terengah di belakangnya tergagap kaget. Gadis itu terlihat memejamkan mata sesaat sembari mengatur napas kemudian berjalan mendekati suaminya.


Leon menatap tajam kearah istrinya, sembari melipat tangan di dada. Hanya ditatap saja membuat Aila merasa tengah di kuliti hidup-hidup. Ia menunduk diam, meremas kedua tangan sembari merasakan debaran jantung yang bertalu. Saat marah Leon menjadi orang Lain yang bisa saja kehilangan kontrol, jadi jangan pernah berani membantahnya.


"Kau tau apa salahmu?!" Tanya Leon mengawali hukuman istrinya.


"Ya"


"Apa?!"


"Tidak menelepon."


Leon tersenyum miring, "Kau pikir aku butuh telepon darimu?" Leon gengsi untuk mengakui jika salah satu yang membuatnya kesal adalah masalah itu.


Aila menghela napas dan mulai berpikir tentang kesalahannya yang lain.


"Keluar kastil." ucap Aila pelan.


"Kau mengingatnya? kenapa melanggar perintahku?!"


Aila diam, tidak tau harus berkata apa. Oma mengajaknya keluar setiap hari untuk merawat diri, tapi Aila tidak mau Oma terkena masalah.


"JAWAB!" Bentak Leon. Meski ia tau Oma yang mengajak istrinya jeluar, namun kenyataan bahwa Aila berani melanggar perintahnya membuat hatinya panas. Ia tidak suka di bantah, terutama oleh Aila.


Aila terlonjak kaget, tubuhnya gemetar, namun ia tetap berusaha untuk tegak. Aila tetap diam, mulutnya terkulum rapat.


"Aku kecewa padamu! kau lebih menuruti perkataan orang lain ketimbang perintahku, meskipun itu adalah Oma." ucap Leon melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, menunjukkan sebenarnya rasa didalam hatinya.


Mendengar ucapan suaminya, Aila merasa bersalah.


"Aku suamimu, tidak sepatutnya kau meninggalkan rumah tanpa seijinku!" lanjut Leon.


"Aku kecewa padamu." Leon membungkukkan badan, membenamkan wajah dikedua telapak tangan, merasakan kekecewaan yang mendalam.


Mata Aila memanas, ada kristal bening yang berdesakan ingin keluar, ucapan kekecewaan dari mulut suaminya lebih dari sebuah tamparan keras bagi dirinya.


Ia segera berlari kemudian bersimpuh sembari memeluk erat kakinya.


"Maafkan aku....tidak akan ku ulangi." ucap Aila terisak.


Leon menghela napas, sekedar melepaskan beban yang menyesakkan dadanya. Kenapa Aila selalu bisa membuat pendiriannya runtuh seketika, istri mungilnya itu selalu jujur pada perasaannya. Dengan cepat, ia tau akan salahnya, membuang gengsi dan segera meminta maaf. Lalu bagaimana ia bisa marah?


Leon mengulurkan tangan, mengusap kepala Aila yang sedang memeluk kakinya.


"Kemarilah," perintah Leon sembari menepuk pangkuannya.


Aila mendongakkan wajah dan segera menghambur pada pelukan suaminya, ia menangis tersedu di sana.


"Maaf...maafkan aku, hu hu..." Tidak peduli sudah berapa kata maaf terucap dari mulutnya, satu yang pasti ia telah membuat suaminya kecewa.


Mengabaikan bau anyir darah dari kemeja Leon, ia membenamkan wajah dalam-dalam di dadanya, dada yang begitu dirindukannya. Aila menempelkan telapak tangan, menyelusup masuk kedalam dada suaminya dan kembali menangis disana.


Leon membiarkan istri polosnya menyelesaikan tangis, sembari membaui rambut yang begitu dirindukannya, perasaan kesal yang masih bergelayut di dalam hati membuat dirinya mengurungkan niat untuk segera memeluk, mencium dan ******* bonekanya itu, meskipun is sudah teramat ingin melakukannya.


Setelah tangis istrinya mereda, Leon kembali pada sikapnya. Jangan berharap akan selesai dengan mudah, setiap kesalahan harus di beri hukuman.


"Sudah?"


Aila mengangguk, sembari mengusap air mata yang masih tersisa dengan punggung tangan.


"Kenapa tidak meneleponku, hem?"


"Oma bilang, aku harus jual mahal."


Leon mendesah, entah seperti apa Oma mempengaruhi istri polosnya.


"Kalau begitu lakukanlah."


Aila menggeleng, "Aku tidak bisa."


"Kenapa?!"


"Aku rindu." ucap Aila dengan suara serak, seperti ingin menangis kembali.


Saat itu juga, Leon ingin tertawa tapi di tahannya.


"Lalu, kenapa kau ubah rambutmu?!"


"Kata Oma, biar cantik."


Leon menarik salah satu ujung bibirnya, untuk sesaat ia menatap intens kearah wajah istrinya. Oke lah, istrinya memang terlihat lebih berseri, pipinya semakin kemerahan, bibir ranumnya terlihat lebih segar merona, sedang kulitnya semakin mulus selembut sutra. Jika tidak sedang kesal, sudah ia ***** tidak tersisa setiap inci tubuhnya.


"Di mataku kau tetap jelek, walaupun melakukan semua itu." ucap Leon bohong.


"Aku tau."


"Bagus, kalau kau tau."


"Aku sudah mencoba."


"Dan tidak berhasil!"


Aila diam, mau bagaimana lagi? dirinya tidak mungkin menyaingi kecantikan para wanita yang pernah Leon kencani.


"Sekarang buka bajumu!" perintah Leon.


"A__aku?"


"Ya, cepat! kita akan melakukan hukuman untukmu!"


Aila tergagap, hukuman apa yang dilakukan dengan membuka baju? Dasar Mesum!

__ADS_1


Bersambung....


Jangan protes, authore lagi galau tingkat dewa!


__ADS_2