
๐ธCinta 49 Cm๐ธ
Part 37
** Pesta **
Sudah hampir satu jam, Hendra Atmaja berendam di dalam bathub, berendam dengan air hangat memang bisa meredakan stres setelah beraktivitas seharian dan mempersiapkan diri untuk lebih mudah tidur. Air panas meningkatkan suhu tubuh dan membuat otot-otot menjadi lebih rileks saat sedang berendam.ย
Namun, pening di kepala pria flamboyan tersebut belum juga kunjung hilang.
Kenyataan bahwa Leon Galvaro, sahabatnya sendiri adalah Stuward Thomson, yang merupakan seorang raja konstruksi begitu membuatnya kaget dan tercengang. Bagaimana tidak, pengusaha muda yang terkenal karena kelihaiannya dalam berbisnis tersebut menanam saham yang tidak main-main jumlahnya di dalam perusahaan miliknya.
40% bukanlah jumlah yang sedikit, jumlah tersebut bisa membuat perusahaan mengalami mati suri jika sang pemilik menariknya.
Belum lagi keterkejutannya hilang, Leon sudah memberinya kejutan lagi dengan mengundang dirinya dan keluarga untuk datang kepestanya.
Bagaimana ia akan bersikap jika berada di depannya nanti?
Seorang bos konstruksi yang begitu dicari profilnya karena pribadinya yang misterius ternyata adalah temannya sendiri.
Kesempatannya untuk merebut Aila pun semakin tipis. Ia harus sadar diri sedang berhadapan dengan siapa.
Tidak merasa lebih baik, Hendra keluar dari bathub kemudian melangkah kearah shower untuk membilas badannya.
Setelah berpakaian, pria itu segera turun untuk sarapan.
Terlihat semua keluarganya sudah berkumpul di depan meja makan, pria itu segera menarik kursi dan mendudukkan dirinya tepat disamping sang adik, Meli.
"Cepat makan, atau kita akan terlambat!" ucap Satya papa Hendra.
Hendra diam, tidak menjawab. Pria itu kemudian memakan makanannya yang baru saja diambilkan oleh sang mama.
"Mama gak nyangka lho, kalo Leon itu Stuward Thomson." ucap Lena mama Hendra.
"Nanti jaga sikap kalian, dia bukan Leon yang biasanya, dia Stuward Thomson." pesan Satya.
"Iya, iya pa." jawab sang istri.
"Khususnya kamu Mel," ucap Satya kearah putrinya.
"Apa?" ucap Meli.
"Kamu kan suka ceplas-ceplos kalo ngomong. Ingat! dia bukan teman kamu, jadi jaga sikapmu! atau perusahaan dalam masalah." ucap Satya mewanti- wanti putrinya.
Meli mencebik, "Mel, ngerti kali pa."
"Mama denger Leon pacaran sama Aila bener Mel?" tanya Lena.
"Iya," ucap meli singkat.
"Aila temen kamu yang sering kemari itu?" tanya Satya terkejut.
Meli mengangguk santai.
"Beruntung dia." ucap Satya.
Apanya yang beruntung? seandainya Papanya itu tau bagaimana Leon memperlakukan sahabatnya itu.
"O iya, sekarang gimana kabarnya? akhir-akhir ini jarang kerumah?" tanya Lena.
"Gak tau, udah beberapa hari gak masuk sekolah, nomornya juga gak aktif." jawab Meli terlihat khawatir.
Seketika Hendra langsung menghentikan aktifitasnya, pria itu segera menoleh kearah adiknya.
"kamu udah ke kosnya?" tanya Hendra.
Pertanyaan Hendra membuat sang mama menoleh, sepertinya sang putra masih menyukai Aila, walaupun akhir-akhir ini Hendra terlihat jauh lebih akrab bersama tunangannya, Tasya.
"Udah, temen kosnya bilang Aila sedang pergi ke panti tempat ia tinggal dulu." jawab Meli tanpa menatap Hendra. Gadis itu, sibuk dengan makanan dimulut dan gawainya.
Mendengar ucapan adiknya, entah kenapa hendra menjadi resah. Aila bukan gadis yang akan meninggalkan sekolahnya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Apa mungkin sekarang Aila sedang bersama dengan Leon?
Dia akan segera tau jawabannya ketika bertemu dengan Leon nanti.
"Kapan, kamu berangkat ke Paris?" tanya Satya mengalihkan pembicaraan.
"Dalam minggu ini," ucap Meli singkat.
Papa Meli terlihat mengangguk mengerti.
Selanjutnya mereka makan dengan diam, karena waktu juga sudah mulai siang. Mereka harus segera berangkat untuk menghadiri pesta Leon.
Sudah satu jam perjalanan, namun Hendra belum juga menemukan tempat dimana Leon akan mengadakan pestanya.
Ia heran, kenapa Leon mengadakan pesta di daerah perbukitan seperti itu.
"Yakin, gak nyasar Ndra?" tanya sang mama yang melihat keraguan diwajah Hendra.
"Kalo lihat petunjukknya sih bener, Ma." ucap Hendra tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan.
Meli mendesah kasar, gadis itu sudah terlihat bosan.
"Itu banyak mobil di depan, mungkin mereka juga mau kesana." ucap Satya sembari menunjuk jalan di depannya.
__ADS_1
Hendra mencoba menuruti ucapan papanya karena ia sendiri juga sudah lelah menyetir.
Benar saja, mobil mobil mewah tersebut sedang mengantri untuk menjalani pemeriksaan sebelum memasuki gerbang utama kastil. Gerbang yang di ukir khusus dengan inisial ST tersebut jelas menggambarkan siapa pemiliknya.
Penjagaan di gerbang utama terlihat sangat ketat.Terlihat sekumpulan orang berjas dan beberapa bodyguard bersenjata lengkap berdiri untuk memeriksa para tamu yang akan masuk.
Satu persatu mobil di periksa dengan alat pendeteksi logam, untuk memastikan tidak ada senjata berbahaya yang masuk kedalam kastil.
Dari gerbang utama menuju kastil memang masih lumayan jauh jika hanya berjalan kaki, namun bangunan megah sudah terlihat begitu jelas ketika mereka memasuki gerbang utama.
Decak kagum terlihat pada raut keluarga Atmaja, tidak terkecuali Hendra sendiri.
"Ini bener rumah Leon?" ucap nyonya Atmaja takjub, melihat istana di depannya ia seperti sedang berada di Eropa saja.
"Kaya istana backingham ya pa?" lanjut mama.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari sang mama, mereka setuju dengan pendapat wanita paruh baya tersebut.
Sebelum masuk ke loby kastil para tamu juga masih harus menjalani pemeriksaan, setelah dipastikan aman, barulah mereka diantar oleh pelayan menuju ballroom di lantai dua.
Memasuki ballroom, ternyata sudah ramai oleh para tamu yang memang sebagian besar adalah para pengusaha dan artis.
Disana juga sudah ada Tasya beserta keluarganya, Clara dan Niko yang merupakan sahabatnya.
Hendra segera menuju kearah mereka, yang disambut senyuman dari Tasya yang merupakan tunangannya.
"Udah lama?" tanya Hendra.
"Baru aja kok," jawab Tasya.
"Dimana Leon?" tanya Hendra pada Niko.
"Entar juga muncul." ucap Niko sembari menyesap wine ditangan.
Sedang Clara terlihat masih terkagum dengan interior ballroom yang sedang ia tempati.
"Ni, beneran milik Leon?" tanya Clara kearah Niko.
Niko mengangukkan kepalanya singkat.
"Emang gila tu orang, udah tiba-tiba muncul bikin geger, sekarang pamer istana juga." ucap Tasya.
Tidak hanya mereka, raut kekaguman juga terlihat dari wajah tamu yang lain. Namun, lebih dari itu mereka juga penasaran dengan desas-desus yang beredar tentang sosok pemilik istana tersebut. Benarkah Leon galvaro yang mereka kenal sebagai pebasket itu adalah seorang Stuward Thomson, bos konstruksi yang terkenal itu?
Mereka akan segera tau jawabannya sebentar lagi.
*********
Lima belas menit lagi, pesta akan segera di mulai. Namun Leon, masih terlihat sibuk di depan meja kerjanya. Pria itu terlihat sedang memijit pelipisnya pelan, deretan angka-angka di layar laptopnya, membuat kepalanya pusing.
"Maaf, tuan. Orang kita di Boston memberi tahu, jika Hans menyembunyikan hartannya di beberapa Bank di Asia." ucap Davin.
Leon menyeringai, " Segera temukan Davin!"
"Baik tuan!"
"Setelah pesta selesai, kita harus segera terbang ke Boston. Sebelum tikus itu mulai membuat lubang lagi."
"Anda serius tuan? maksud saya, anda baru saja menikah."
"Lakukan saja, Davin!"
"Baik, tuan"
Davin kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Leon terlihat penat kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Aila di hari pernikahan mereka, namun mengurus Hans jauh lebih penting, jika ingin menyelamatkan semua aset perusahaan milik ayahnya tersebut. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari sana. Lagi pula ia yakin, Aila juga pasti belum siap untuk malam pertama mereka. Ia harus lebih banyak memberi latihan pada gadis yang sudah menjadi istrinya tersebut.
Leon bangkit dari duduknya, kemudian menatap benda bulat yang melingkar pada pergelangan tangannya. Sudah waktunya untuk memulai pesta.
"Sudah waktunya, Davin!"
"Ya, tuan."
Ia kemudian melangkah keluar dari ruang kerjanya kearah Ballroom yang berada di lantai dua.
Setelah sampai di lantai dua, Leon berdiri di ujung tangga. Matanya terlihat menatap para tamu dari atas, seulas senyum muncul disudut bibirnya.
" Lihat Davin! sebentar lagi mereka akan berlomba-lomba menjilat padaku!"
ucap Leon kearah Davin.
Davin tidak menjawab, hanya mengikuti arah pandangan tuanya. Ucapan tuannya memang benar, banyak orang yang rela membuang harga diri mereka hanya untuk kedudukan dan uang.
Davin kemudian memberi kode kepada MC yang sedang berdiri ditengah ballroom, jika tuannya sudah tiba. Sang MC mengangguk mengerti.
"Ladies and gentlemen, attention please!" seorang laki laki berjas hitam, dengan tubuh tinggi, berteriak ditengah ballroom. Suaranya yang menggelegar mengalihkan perhatian para tamu yang semula asyik bercengkrama.
Ruangan mendadak sunyi, lelaki itu berdehem sebentar, sebelum berteriak kembali.
"Kita sambut, tuan kita malam ini, presiden direktur Stuward Thomson."
__ADS_1
Tepuk tangan bergemuruh, saat sekelompok laki laki menuruni tangga.
Semua mata terpukau pada sosok lelaki yang sedang berjalan paling depan, laki laki yang sudah tidak asing, karena sering muncul di TV, sosoknya yang gagah dan berwibawa seperti membius orang- orang yang melihatnya. Semua setuju, Leon tampak lebih tampan dari yang mereka lihat di layar televisi.
Leon mengangkat sebelah tangan, kemudian melanjutkan langkah menuruni tangga. Kesan dingin dan menakutkan terlihat dari tatapan matanya yang tajam. Kabar tentang sang bos besar yang kejam dan dingin ternyata memang benar.
"Selamat datang dirumahku...
sebagian dari kalian mungkin sudah tidak asing dengan wajahku atau mungkin kita malah pernah bekerja sama sebelumnya. Tidak masalah, aku sangat menghargainya. karena hari ini adalah hari pernikahanku, maka bersenang- senanglah dan nikmati pestanya." ucap Leon yang disambut tepuk tangan yang bergemuruh di dalam ruangan.
Walaupun mereka tidak begitu mengerti, tuan rumahnya itu sudah menikah dengan siapa dan kenapa mereka tidak di undang. Mereka tidak berani bertanya dan memilih diam, takut mendapat masalah.
Beberapa pemilik perusahaan yang pernah memakai Leon sebagai ambasador produknya terlihat pucat. Mengingat kembali, apakah mereka dulu memperkakukan sang artis dengan baik. Bayangan akan perusahaan miliknya yang bisa tutup hanya dengan hitungan menit, membuat mereka bergidik ngeri.
Lelaki gagah berjambang tipis itu kemudian berjalan ketengah, berbasa- basi sebentar dengan para tamunya, yang di ikuti Davin dan dragon dengan bersenjata lengkap mengekori kemanapun sang tuan pergi dari belakang.
Selesai dengan basa-basinya, Leon berjalan kearah keluarga Atmaja.
Satya dan Lena terlihat gugup saat Leon mendekat, walaupun dulu mereka sering bertemu, namu entah kenapa sekarang auranya terlihat berbeda.
"Hallo om, nilai saham milikmu terus meningkat, sepertinya Hendra bekerja dengan baik." ucap Leon menyapa Satya.
"Ya,i__itu Hendra memang bisa diandalkan." jawab Satya setengah gugup, padahal sebelumnya ia hanya memandang Leon sebagai bocah urakan yang semaunya sendiri.
"Bagaimana kabarmu tante?" Leon beralih kepada Lena.
"Tante baik,...tu..."
"Bersikaplah seperti biasa tante." ucap Leon mengerti kegugupan Lena.
"Ah, ya.." jawab Lena kikuk, menyadari Leon bisa membuat perusahaannya tutup hanya dengan menjentikkan jari, membuatnya bingung bagaimana harus bersikap.
Leon kemudian berjalan kearah, teman- temannya yang sedang berkumpul.
Sepeninggal Leon, suami istri tersebut nampak lega, mereka terlihat seperti baru saja menahan napas selama sepuluh menit kemudian melepasnya untuk bernapas kembali.
"Hebat kamu!" Tasya membuka suara sembari menonjok pelan bahu Leon.
Leon menyeringai, kemudian mengambil tempat duduk disamping Niko.
"Mereka suruh pergi kek! bikin engap kali.'" ucap Niko sembari mengarahkan pandangannya pada Dragon dan Davin yang tetap setia berdiri di belakang Leon.
Leon terkekeh, "Mereka hanya menjalankan tugas." ucap Leon, yang diikuti decakan malas Niko.
Sedari tadi, sepasang mata cantik milik Clara terus menatap takjub pada Leon. Bukannya tidak tau, Leon menunggu reaksi gadis itu.
"Apa kau menikah dengan Aila?" tanya Tasya.
"Ya," jawab Leon santai sembari menyesap wine.
"Wuiiih! selamat deh, kalian serasi." ucap Tasya bahagia. Gadis itu tidak tau jika ucapannya menyulut panas pada dua hati yang berbeda. Hati Clara dan Hendra tentunya.
Jika Clara jelas maksudnya, sedang Hendra hanya belum bisa move on, sebelum ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Aila memang bahagia.
"kalian menginaplah, istriku pasti akan senang." ucap Leon kearah Hendra dan Tasya. Gadis itu tentu menyambutnya dengan gembira , namun bagi Hendra jelas Leon ingin membicarakan sesuatu padanya.
"Gimana Ndra? kita menginap?" tanya Tasya kearah Hendra.
"Terserah kamu aja." jawab Hendra setuju, karena memang ada yang ingin ia pastikan.
"Kau Nik?" tanya Leon kearah Niko.
"Ayolah, bar milikmu tiada duanya." ucapn Niko, yang disambut kekehan dari Leon.
"Kau tidak mengundangku?" tanya Clara terlihat kesal.
Leon mengerdikkan bahu," Well, istriku tidak akan suka, setelah apa yang kau lakukan padanya." ucap Leon santai tanpa menatap Clara.
"Hei! itu..."
"Jaga ucapan anda pada tuan muda!" ucap Dragon memotong teriakan Clara. Pria kekar penuh tato tersebut bahkan mengacungkan pistolnya kearah Clara.
Ia ingat, karena gadis itulah, satu anak buahnya hampir kehilangan sebelah tangannya.
Seketika Clara membeku dengan wajah pucat, Tasya dan Hendra pun tidak kalah tegangnya, sedang Niko terlihat santai sembari menyesap wine miliknya.
"Hei...kau menakuti tamuku, Dragon!" ucap Leon sembari terkekeh.
Dragon kemudian mendur dan menurunkan pistolnya dengan mata masih menatap tajam kearah Clara.
"Lain kali jangan membuatnya kesal, karena dia sedikit susah diatur." ucap Leon dengan tawa kecilnya sembari menatap kearah Dragon.
Seperti tidak mendengar ucapan bosnya, wajahnya kembali datar seperti biasa.
Sedang Clara terlihat masih menormalkan detak jantungnya.
Untuk pertama kalinya bagi Hendra dan Tasya melihat sisi lain sahabatnya. Kabar burung bisa jadi benar, Stuward Thomson seorang yang dingin dan kejam terutama kepada musuh-musuhnya.
Bersambung.....
Aku minta maaf, jika karyaku masih banyak kekuranganya ya kawan...
Maklum, baru saja belajar merangkai kata.
__ADS_1
Untuk kalian yang sudah mau mengoreksi, aku mengucapkan ribuan terimakasih, tanpa kalian karya ini tidak sempurna.
Yuuuk, ramaikan group chat nya ๐๐๐