Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 88


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 88


** Terungkap**


"Hei! Bukankah ruang perawatan berada di lantai satu?" Lucas tidak mengerti kenapa Aila malah naik lift menuju lantai dua.


"Aku ingin istirahat di kamarku, Oom.." jawab Aila. Empat hari meninggalkan kamarnya membuat ia merindukan tempat itu.


"Apa itu tidak masalah?" Lucas merasa ide Aila tidak bagus. Kenyataannya gadis itu memang masih dalam perawatan.


"Hanya istirahat Oom, aku akan kembali nanti, I'm promise," Aila bersikeras.


Berada diruang perawatan terasa sangat membosankan. Ok, semua fasilitas ada disana, hanya saja tempat itu terasa begitu sepi. Aila pikir, mungkin seperti sebuah lorong bawah tanah? jika sudah berada didalamnya, kau akan sangat susah keluar. Bagaimana tidak? semua bodyguard itu menjaga hampir disetiap titik. Aila merasa seperti susah bernapas.


"Well, jika Alex marah kau harus menanggungnya," ucap Lucas. Ia tidak mau disalahkan jika terjadi hal yang buruk.


Aila mengangguk. Ia kemudian menggerakkan kursi roda menuju kamarnya.


Sepanjang menyusuri lorong kastil, Aila tidak banyak bicara. begitupun dengan Lucas. Pria itu hanya diam sembari mengikuti kemana Aila pergi.


Sampai di depan taman depan kamarnya, Aila berhenti. Ia menoleh dan mengamati taman tersebut dari dinding kaca pembatas. Terpaan sinar matahari yang masuk dari langit-langit kubah kastil, menciptakan keindahan tersendiri. Ia sangat merindukan tempat itu, menyendiri di sana sangat menyenangkan dan mungkin dapat menenangkan hatinya yang sedang gundah. Tapi itu tidak mungkin. Alex akan sangat marah jika ia berada di tempat itu.


Aila mendesah. Dengan lesu ia kembali menjalankan kursi rodanya menuju kamar.


Lucas tidak bertanya, meskipun ia sangat tahu jika gadis mungil didepannya tengah dilanda kebosanan. Ia paham, gadis seumuran Aila diluaran sana sedang senang-senangnya bermain dan melakukan banyak hal, tapi Aila terkurung demi mengikuti peraturan.


"Apa Oom akan ikut masuk juga?" tanya Aila ketika mereka sampai didepan pintu kamar, bagaimanapun ia mengingkat pesan suaminya untuk tidak boleh berada jauh-jauh dari bodyguard barunya itu.


Lucas tersenyum simpul, "Tidak sayang, aku akan duduk disini," jawab Lucas. Yang benar saja, meskipun Aila adalah istri sahabatnya dan gadis yang sangat polos, namun Lucas tetap pria dewasa. Apa yang akan terjadi jika seekor harimau lapar melihat rusa mungil tertidur? Meskipun harimau masih bisa menahan laparnya, tapi Lucas tidak yakin untuk tidak mencicipinya.


"Baiklah, terimakasih jika begitu,"


Lucas mengangguk. Ia membantu membukakan pintu kamar. Setelah Aila masuk, lucas kembali menutup pintu tersebut dan berjalan menuju taman, di depan kamar Aila. Berjaga sembari bersantai disana sepertinya tidak buruk.


Didalam kamar, Aila duduk termenung disamping jendela kamarnya. Gadis itu mengamati kebun mawar yang berada di bawahnya. Kastil kedua terasa sangat tenang karena semua pelayan dan staf sedang berada di pesta pernikahan.


Mungkin terdengar konyol, tapi ia merasa seperti seorang anak kecil yang kehilangan perhatian dari semua orang. Selama seminggu, semu orang memang sangat sibuk mempersiapkan pernikahan.


Ah, bukankah ia seharusnya bahagia? karena hari ini adalah hari spesial untuk kakak angkatnya? Entahlah, Sejak hamil perasaannya menjadi sangat sensitive dan aneh. Ditambah lagi setelah peristiwa penculikan itu, Leon menambah bodyguard untuknya dan membatasi ruang geraknya. Sehingga ia tidak lagi bisa bebas bercanda dengan orang-orang dan itu membuat dirinya sangat kesepian.


*****


Leon hendak menuju ruang perawatan untuk menemui istrinya. Ia sendiri tidak yakin untuk apa ia menyusul istrinya. Tentu saja bukan untuk meminta maaf, karena itu memang bukan gayanya. Mungkin karena merasa bersalah? ah, ia merasa sangat bodoh sekaligus kesal sekarang. Kenapa ia selalu tidak bisa mengendalikan diri jika menyangkut masalah Aila?


Saat hendak memasuki halaman kastil istrinya, tanpa sengaja matanya menangkap sosok Aila yang sedang duduk termenung sendirian di atas balkon kamarnya.


Pria itu sempat berhenti sesaat untuk memastikan jika itu memang istrinya, karena seharusnya Aila berada di ruang perawatan bukan dikamar mereka.


Sial! wajah sendu itu memang milik istrinya. Apa yang dilakukannya disana?


Leon segera bergegas masuk menuju kastil. Namun saat menasuki loby, Serkan menjegatnya.


"Aku membaca email untukmu dan kau tidak akan percaya jika mengetahui isi pesannya," Serkan baru saja membaca pesan email dari anak buah Lucas.


"apa?" tanya Leon penasaran.


"Kau harus membacanya sendiri," jawab Serkan. Ia kemudian menuju ruang kerja diikuti oleh Leon tentu saja.


Serkan membuka Laptopnya dan memperlihatkan isi email tersebut.


Leon membacanya dengan teliti. Persis seperti yang ia inginkan. Semua data lengkap tentang Steven berada disana. Lengkap dengan semua foto masa kecil dan keluarga mereka.


"Dia..." Leon bergumam seperti mengingat seseorang dalam foto tersebut.


"Jack Hamilton, pria yang pernah membuat kekacauan pada kilang minyak milik kita," Serkan mengingatkan akan kejadian delapan tahun lalu.


"Jadi Steven adalah anak dari bajingan itu?" Leon mulai paham apa maksud dari permainan Steven.


Serkan mengangguk, "Ada yang lebih gila dari hal itu,"


"What?" dugaannya sepertinya benar. Steven datang dalam hidup dan bisnisnya bukan tanpa sengaja.Tapi apapun kejutan yang akan diberikan padanya, ia siap untuk menghadapinya.


"Dia terobsesi pada istrimu. Steven bahkan mencari Aila selama tiga tahun ini," Serkan memberitahu puncak dari kejutan Steven.


"Kau pasti becanda! mereka hanya bertemu sekali dan itupun tanpa mengobrol," Leon tidak percaya dengan apa yang Serkan katakan.


"Well, itulah yang dinamakan obsesi," ucap Serkan dengan santai.


"Dasar bajingan gila!" Leon geram dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Jika hanya tentang bisnis, ia akan menghadapi denga fair, tapi jika sudah menyangkut istrinya, jangan harap!

__ADS_1


"Kalian memiliki obsesi yang sama," Komentar Serkan. Dalam hal memilih dan memperlakukan seorang wanita, Leon dan Steven memiliki kesamaan menurut Serkan.


Leon langsung menoleh dan menatap Serkan dengan tatapan membunuh. Ia tidak suka jika disamakan dengan pria sialan itu.


Serkan mengangkat bahu, cuek. Kenyataannya itu memang benar.


Tepat saat itu lucas masuk kedalam ruangan. Ruang kerja Leon memang bersebelahan dengan taman, sehingga ia bisa mendengar dengan jelas jika ada orang yang sedang berbicara diruangan tersebut.


"Kau? dimana istriku?" tanya Leon pada Lucas.


"Dia tidur dikamar, apa aku harus menemaninya tidur juga?" Serkan balik bertanya. Lucas pikir jika Leon memang sudah terlalu over protektif pada Aila.


Leon langsung melempar dokumen pada Lucas, tapi pria itu berhasil menangkapnya dengan mudah.


"Menurutku dialah otak dibalik penculikan istrimu," Lucas menyampaikan analisanya.


Leon dan Serkan saling melempar pandang.


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya Serkan.


Ok, Steven mungkin mempunyai dendam pribadi dengannya, tapi menculik Aila? bulankah Steven terobsesi pada gadis itu?


"Mari kita amati video CCTV ketika Steven bertemu untuk pertamakalinya ditaman belakang," Lucas meraih Laptop yang berada di atas meja lalu memutar ulang video CCTV tersebut.


Leon dan Serkan terlihat fokus menyaksikan setiap detail gerak-gerik Steven, hingga lukas memutar lambat ketika Aila menegur pria itu . Steven memang terlihat terkejut.


"Menurutku wajar jika dia terkejut, ia tertangkap basah merusak sesuatu yang bukan miliknya," Serkan berpendapat.


Lucas menatap Leon, ia ingin mendengar pendapat Leon.


"Dia bertemu dengn orang yang sudah lama ia cari, atau..." Leon tidak yakin untuk melanjutkan ucapannya.


"Atau ia terkejut karena gadis yang ia cari kini berada diatas kursi roda?" Lucas menambahkan.


Namun sepertinya Serkan dan Leon masih belum paham.


"Ok, kita lanjut bagian ini," Lucas memutar cepat pada bagian saat selimut Aila melorot.


"Lihat dengan teliti," Perintah Lucas pada Keduanya.


"Steven terkejut pada awalnya itu wajar, tapi ketika melihat Luka -luka lebam disekujur kaki istrimu, ia terlihat lebih terkejut dari sebelumnya." Lucas menunjuk pada raut wajah Steven.


"Bagaimanaia jika dia tidak tahu kalau istrimu adalah wanita yang selama ini dicarinya?" Tanya Lucas Lucas memancing pendapat keduanya.


Leon diam mendengarkan penjelasan Lucas.


"Jika dia benar terobsesi, Steven pasti sudah kemari sejak dulu meskipun tahu jika dia istrimu," Lucas menjeda ucapannya, karena mengisap rokok. Setelah dua isapan dan asap mengepul dari mulutnya, ia kembali melanjutkan ucapan. "Mendekati istrimu akan membantunya untuk lebih mudah dalam mencapai Tujuan. Dia tahu kartu As mu adalah Aila. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Ia bisa menghancurkanmu sekaligus mendapatkan Aila. Bukankah itu rencana yang jauh lebih efisien? lalu kenapa dia baru bertindak sekarang? itu saja melalui Pak Hadi," Lucas menjelaskan analisanya panjang lebar.


Leon mengangguk-angguk paham sedang Serkan seperti tengah berpikir.


"Ok, itu masuk akal, tapi kita perlu bukti bukan sekedar asumsi," Leon menanggapi ulasan Lucas.


"Kau benar, Kita harus menemukan pak Hadi secepatnya,' timpal Serkan.


"Kau pikir menemukan pak Hadi setelah semua ini akan mudah? mungkin saja ia malah sudah berada di pemakaman? bukankah benalu yang sudah tidak lagi berguna harus disingkirkan? atau inangnya akan ikut mati," lagi-lagi Lucas memberikan analisanya dengan sangat cermat.


Leon mengusap-usap dagunya, "Lucas benar, kita selesaikan satu persatu dulu. kita tunggu apa yang akan dilakukan cecungguk itu. Ikuti saja dulu permaianannya," Leon pikir Steven datang untuk menyelesaikan masalah delapan tahun yang lalu. Sedang untuk masalah penculikan istrinya ia masih ragu jika steven yang melakukan, kecuali memang ada bukti kuat yang menguatkan. Meskipun semua analisa Lucas tidak boleh diabaikan begitu saja.


"Saat ini biar aku yang urus istrimu, kau dan Serkan fokus pada bisnismu dengan bocah itu," Lucas akhirnya menawarkan bantuannya. Padahal awalnya pria itu hanya ingin membantu Leon mengamankan pesta pernikahan Davin dan Alex saja, namun tinggal disini sedikit lebih lama, sepertinya tidak buruk. Lagi pula ia butuh liburan juga.


"Thanks, sudah mau membantuku," Leon lega karena Lucas sendiri yang menawarkan bantuan. Mengingat pria itu sangat pemilih. Lucas hanya menerima pekerjaan yang ingin dikerjakannya saja, tidak peduli seberapa tinggi bayarannya. Jika ia tidak mau, maka siapapun tidak ada yang bisa memaksanya. itulah karakter Lucas yang Leon hafal diluar kepala.


"Kau tau, itu tidak gratis," Lucas tidak serius ketika mengatakan itu. Ia tidak mungkin meminta bayaran dari sahabatnya sendiri. Leon pernah banyak membantunya di masa lalu.


"Ambil apapun yang kau mau," sahut Leon menanggapi. Ia tahu jika sahabatnya sedang bercanda. Namun meskipun begitu, Leon sangat senang jika Lucas mau mau menerima imbalan.


"Apapun? serius?"


Leon mengangguk santai.


'Bagaimana jika istrimu? dia boneka yang lucu ku rasa," Lucas menggoda Leon.


Leon kembali melemparkan dokumen-dokumen tebal kearah Lucas. Tapi pria itu hanya menanggapi dengan kekehan.


Leon segera keluar dari ruang kerjanya.


"Ayolah, gadis kecil itu memang lucu," Lucas berbicara pada Serkan. Tapi Serkan hanya diam dan tidak menanggapi kekonyolan Lucas. Jauh sebelum seorang Lucas mengatakan itu, Aila pernah singgah dihatinya.


***


Leon berjalan menuju kamarnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa, bukankah ia sedang kesal dengan istrinya?

__ADS_1


Sial! ia merasa uring-uringan sendiri tanpa sebab yang jelas.


Leon membuka pintu kamar dengan hati-hati. Matanya langsung tertuju pada ranjang, namun ranjang itu tetap tertata dengan rapi. Tidak ada siapapun disana. Leon melangkah masuk lebih kedalam. Ia ingat jika tadi istrinya berada di balkon kamar. Pria itu segera kesana, namun lagi-lagi ia tidak menemukannya. Leon mulai merasa panik. Ketakutan mulai menghampirinya. Bayangan akan penculikan saat itu kembali berputar di dalam ingatannya.


Jangan lagi!


Ia berusaha tetap tenang, mungkin saja istrinya berada ditempat lain. Leon mencari kedalam walk in closet. Disana pun tidak ada siapapun. Pria itu keluar dengan sangat panik, hungga tanpa sengaja ia melihat seseorang dibalik gorden di ruang baca. Leon segera merasa lega, ketika melihat sosok diatas kursi roda itu adalah istrinya. Gadis itu terlihat melamun dan tengah menatap keluar jendela.Tatapan sendu itu seperti mampu menenggelamkan dirinya dari rasa bersalah.


Leon mengusap kasar wajahnya, Ia bisa gila jika lama-lama seperti ini. Selalau dihantui perasaan takut dan khawatir.


Menarik napas panjang, Leon berjalan mendekati istrinya yang masih asyik melamun.


"Kenapa tidak istirahat?"


Aila menoleh. Raut wajahnya terlihat sangat kelelahan.


"Ya, aku akan istirahat," Aila memutar kursi rodanya menuju ranjang, tapi Leon menghentikannya tepat saat itu juga. Tanpa banyak kata ia mengangkat tubuh Aila dan mendudukkannya ditas meja disamping rak buku. Aila memilih diam dan membiarkan suaminya melakukan apapun. Bukan karena marah ataupun kesal dengan sikap suaminya, ia hanya merasa lelah saja.


Leon meraih dagu Aila, menatap mata sendu itu dalam. Membelai pipinya yang masih terlihat lebam. Mendekatkan wajahnya dan memupus jarak. Hingga kening mereka beradu.


"Kenapa kau selalu membuatku panik dan khawatir," suara Leon terdengar bergetar. Ia mengatakan kekalutan hatinya dengan jujur.


Aila tidak menjawab. Ia tidak mengerti maksud suaminya, namun entah kenapa ia bisa merasakan sebuah ketakutan dari getaran tangan pada pipinya.


Aila meraba dada bidang didepannya, merasakan debaran jantung didalamnya, ritme yang yang selalu indah untuk dirasakan.


"Maafkan aku," ucap Aila pelan.


Leon mengangkat wajah, lalu menautkan kedua alisnya.


"Kau meminta maaf?" Leon tidak mengerti kenapa istrinya meminta maaf. Ia merasa dirinya yang telah melakukan kesalahan.


"Maafkan aku, karena selalu membuatmu khawatir tuan," Aila mengulangi ucapannya. Leon selalu berlebihan jika menyangkut tentang dirinya. dan ia menyadari hal itu.


Leon tidak menjawab ucapan istrinya. Gadis itu selalau tahu apa yang dipikirkannya tanpa harus banyak berkata.


Ia kemudian menggendong Aila menuju ranjang dan membaringkannya disana.


"Istirahatlah," titahnya.


Aila mengangguk. Ia segera memejamkan mata dengan memeluk lengan suaminya. Leon duduk disisi ranjang menunggui istrinya tertidur.


Namun, hingga beberapa menit berlalu, Aila masih tidak bisa terlelap juga. Gadis itu terus-terusan bergerak.


"Ada apa?" tanya Leon.


Aila bangun dan duduk. Gadis itu menggeleng pelan, " Saya tidak bisa tidur tuan.." Aila tidak mengerti. Ia merasa sangat kelelahan, namun matanya sulit untuk terpejam.


"Mungkin kau perlu mengganti bajumu?" tanya Leon. Aila masih mengenakan dressnya saat tidur.


Aila menatap pakaiannya. Meskipun ia mersa tidak yakin, tapi dressnya memang terasa tidak nyaman.


"Anda benar, mungkin saya harus menggantinya dengan yang lebih longgar," Aila pikir ide suaminya mungkin saja benar.


Aila merangkak pelan menuju tepi ranjang, namun lagi-lagi Leon menahannya. "Mau kemana?" tanya Leon.


"Ganti pakaian tuan," ucap Aila.


"Maksudku, kenapa tidak berganti disini?"


Aila terlihat diam sejenak, memikirkan saran suaminya. Sepertinya patut dicoba, mengingat ia harus naik turun kursi roda menuju walk in closet, bukankah itu sangat merepotkan? Ia segera menurunkan resetling dressnya namun ia segera teringat jika baju tidurnya berada di walk in closet.


"Kenapa lagi?" Leon kembali bertanya karena Aila berhenti melucuti pakaiannya. Hampir saja matanya termanjakan.


"Bajuku di sana tuan," Aila menunjuk walk in closet.


Leon mendesah, "Nanti aku ambilkan," Leon merasa tidak sabar. Jadilah ia sendiri yang melepas pakaian Aila.


Meskipun terasa aneh, Aila membiarkan suaminya melakukan itu. Entahlah, ia pikir Leon sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Eh?" Aila kaget karena bra yang dikenakan juga ikut dilepas.


"Supaya tidak menganggu!" Leon membuang bra dan dress Aila asal. Dengan cepat ia sendiri melepas kemejanya lalu masuk kedalam selimut dan menarik Aila dalam pelukannya.


"Tu__an..." Aila khawatir jika singanya itu akan menyerang. Ayolah ia masih jauh dari kata siap.


"Diam dan tidurlah, aku tidak akan melakukan apapun," ucap Leon menenangkan istrinya.


Namun sepertinya ucapan itu adalah pemanis bibir saja. Nyatanya pria itu kini menurunkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya pada dada lembut istrinya dan bermain-main disana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2