
Sementara itu yang terjadi pada Bunga selama 1 tahun ini.
Dirinya sudah terlihat tegar.
Walau dalam hati nya masih tersimpan rasa untuk Fahri.
Entah mengapa rasa itu sangat kuat melekat di hatinya.
Sejak pernikahan Fahri di laksanakan. Banyak sekali para lelaki yang mencoba mendekati Bunga.
Beberapa surat sudah dia terima dari para santri putra.
Tetapi Bunga tidak menanggapi semua surat yang telah sampai padanya.
Hati nya masih tertutup dan seperti nya belum ada tanda-tanda move on dari Fahri.
"Ya Allah.. mengapa perasaan ini masih tersimpan untuk nya? Ku tahu ini salah. Tetapi mengapa rasa itu susah di hilangkan?" Ucap Bunga dalam hati.
*****
2 tahun kemudian..
"Mas... Sebaik nya mas cari wanita lain yang bisa mas nikahi. Aku tak apa mas." Ucap Anggin lirih.
"Sudah cukup Dek. Mas muak dengan perkataan mu yang terus-terusan meminta mas untuk menikah lagi." Ucap Fahri kesal.
"Bukan begitu mas. Aku hanya ingin melihat mas bahagia mempunyai anak. Sedangkan Aku sendiri tidak bisa memberikan nya untuk mas." Ucap Anggun sendu.
"Itu tak menjadi masalah buat mas dek. Mas yaqin atas keajaiban Allah. Sudah cukup! Jangan terus-terusan merendahkan dirimu sendiri." Ucap Fahri.
"Tapi mas..."
"Dek.. Dengarkan ucapan mas baik-baik." Kata Fahri seraya menggenggam tangan Anggun.
__ADS_1
"Sudah cukup mas mempunyai istri shalihah seperti mu. Sudah cukup bagi mas. Jadi mas tidak ingin mencari wanita lain. Mas tidak ingin menyakiti hati wanita yang sudah dengan ikhlas mengabdi pada mas. Sudah cukup 1 wanita yang mas sakiti dulu. Jadi mas tidak ingin lagi menyakiti wanita manapun. Apa lagi kau istri ku." Ucap Fahri penuh penghayatan.
"Mas.. Apa sampai saat ini kau masih mencintai nya?" Tanya Anggun.
"Syuuuttt.. jangan bertanya seperti itu. Sebaik nya kita istirahat." Ucap Fahri sambil merebahkan tubuh nya.
Anggun terdiam dan bertanya-tanya dalam hati.
Sedangkan Fahri, merasa tidak enak dengan pertanyaan Anggun barusan.
Yang memang sebenar nya Fahri masih sangat mencintai Bunga.
Tetapi pada Anggun pun sudah tumbuh rasa sayang.
*****
"Bunga.." Terdengar suara seorang lelaki memanggil nya.
Bunga pun menoleh.
"Apa kau sedang sibuk?" Tanya lelaki itu yang tak lain adalah Satria, putra guru Bunga di pesantren.
"Ti..tidak kang." Jawab Bunga ragu.
"Kalau begitu bisa kah kita bicara sebentar?" Tanya Satria.
"Bicara di sini saja sekarang mas. Saya gak enak pada yang lain." Ucap Bunga.
"Mhh yasudah." Satria pun menghampiri Bunga.
"Bunga.. Apa kau tahu siapa sang pengirim surat yang tertulis " Pengagum rahasia" itu?"aTanya Satria penuh teka-teki.
"Ti..tidak mas. Memang nya kenapa?" Ucap Bunga gugup.
__ADS_1
"Apa kau ingin tahu hari ini?" Tanya Satria.
Bunga mengangguk.
"Si pengagum rahasia itu adalah Aku." Ucap Satria sambil menunjuk dirinya sendiri.
Bunga terdiam membisu sedikit terkejut dan tak percaya atas ucapan Satria.
"Heii apa kau baik-baik saja?" Tanya Satria.
"Ii.. iya mas." jawab bunga.
"Jadi aku mau jujur sekarang padamu. Bahwa Aku sudah lama memendam rasa untuk mu. Apa kau mau menjadi kekasihku? Dan menikah dengan ku?" Tanya Satria penuh percaya diri.
Bunga terdiam tak percaya atas apa yang di ucapkan Satria.
3 menit berlalu..
"Bunga.. Apa kau bisa jawab sekarang?" Satria terlihat sedang menunggu jawaban dari Bunga..
Bunga menghela nafas nya lalu membuang nya lembut.
"Maaf mas. Saya tidak bisa. Saya bukan siapa-siapa, saya hanya orang biasa. Lagi pula saya belum lulus pesantren." Tolak Bunga tanpa keraguan. Dia tak ingin membuat Satria berharap banyak padanya.
"Hm begitu. Tetapi itu semua tak masalah bagi ku. Aku akan menunggu mu hingga kau lulus." Ucap Satria meyakinkan.
"Maaf mas.. Jodoh tidak ada yang tahu. Saya takut jika nanti mas menunggu saya sampai saya lulus, ternyata Allah berkehendak lain. Jadi lebih baik kita pasrahkan saja pada yang maha kuasa." Ucap Bunga penuh penegasan.
Satria terdiam mencoba mencerna ucapan Bunga.
"Hmm kau betul Bunga. Maaf jika Aku terlalu memaksa." Ucap Satria.
"Tidak . Bukan begitu mas." Ucap Bunga...
__ADS_1
Satria pun tersenyum dan akhir nya pergi meninggalkan bunga setelah berkata maaf dan terimakasih...
*****