
Hari berganti hari.. Tak terasa kandungan Bunga sudah mencapai puncaknya.
Dengan hati cemas dan penuh pengharapan, Bunga dan Fahri menunggu kelahiran bayi mungilnya yang entah kapan akan terlahir ke dunia ini.
"Hubby, apa kau sudah mempersiapkan dirimu untuk melahirkan buah cinta kita?" Tanya Fahri seraya mengelus dan mencium perut buncit istrinya.
"Insya Allah aku sangat siap lahir batin mas." Ucap Bunga lembut.
Fahri tersenyum dan mengecup kening istrinya penuh mesra.
"Sayang, jika bayi kita laki-laki maka mas yang akan memberi nama untuk bayi kita. Tapi jika bayi kita perempuan maka mas serahkan padamu." Ucap Fahri lembut.
"Baik mas. Jika bayi kita perempuan maka aku akan memberi nama Almeera Khairunnisa." Ucap Bunga seraya mengusap lembut perut buncitnya.
"Nama yang indah hubby.." Ucap Fahri.
"Jika bayi kita laki-laki maka aku akan memberikannya nama Muhammad Mizzanul Hafidz." Ucap Fahri seraya mengecup perut buncit Bunga, dan pada saat itu tiba-tiba didalam perut Bunga bergerak-gerak dan seperti menendang-nendang.
Fahri dan Bunga sangat bahagia melihat keaktifan Bayi mereka yang masih dalam kandungan ibunya.
"Lihat sayang, Anak kita menendang-nendang. Sepertinya dia tidak terima kau beri nama itu mas." Ucap Bunga sambil terkekeh.
"Benarkah sayang!?" ucap Fahri seraya mendekatkan wajahnya pada perut buncit istrinya.
"Coba kau perhatikan. Dia menendang-nendang saat kau kakatan nama yang akan kau berikan untuknya." Ucap Bunga yang masih terkekeh.
"Wah! Jika begitu berarti dia perempuan hubby.." Ucap Fahri.
"Mungkin! Coba kau katakan sekali lagi mas." Ucap Bunga.
"Baiklah!" Ucap Fahri seraya mendekatkan wajahnya kembali pada perut buncit Bunga.
"Nak, jika kau laki-laki maka abba akan memberikan mu nama Muhammad Mizzanul Hafidz. Apa kau setuju?" Ucap Fahri berbicara pada anaknya yang masih dalam kandungan.
Tiba-tiba perut Bunga pun kembali ditendang-tendang dari dalam.
"Tuh! Kau lihat sayang. Dia tak terima setiap kali kau sebutkan nama itu." Ucap Bunga.
"Kau benar. Mungkin anak kita memang perempuan hubby." Ucap Fahri.
Mereka pun tertawa riang.
Selama Bunga mengandung Fahri dengan setia dan siaga untuk selalu menjaga Bunga juga anak yang masih dalam kandungan istrinya itu.
Jika Bunga tiba-tiba meminta sesuatu hal di waktu kapan pun Fahri selalu berusaha mencarikannya untuk istri tercintanya.
1 minggu berlalu..
"Mas... Tolong mas." Teriak Bunga dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Tubuhnya ambruk ke lantai dan cairan lengket keluar dari jalan lahirnya.
Bunga merintih menahan sakit diperut dan di pinggangnya.
Rasanya dia sudah tak tahan lagi.
Saat Fahri mendengar teriakan Bunga, dengan cepat dia berlari menghampiri istrinya.
"Hubby.. Apa yang terjadi?" Tanya Fahri cemas.
Matanya membulat penuh saat menyaksikan kondisi istrinya yang sudah terlihat pucat dan sedang menahan sakit.
"Sayang sepertinya aku akan segera melahirkan." Ucap Bunga pelan.
"Kalau begitu kita segera ke rumah sakit hubby. Kau tahan ya sayang. Mas akan panggil umi dan menyuruh supir untuk meyiapkan mobil." Ucap Fahri yang tampak panik.
Fahri pun berlari dalam keadaan cemas dan campur aduk.
Tak berapa lama Fahri pun kembali dengan uminya.
"Masya Allah nak sepertinya kau akan melahirkan. Tahan ya nak, kau harus kuat." Ucap umi Hasanah penuh perhatian
Fahri dan umi Hasanah pun membantu Bunga untuk berjalan membawanya masuk kedalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit Fahri dengan cepat memanggil para perawat dan petugas medis untuk segera menangani Bunga.
Bunga pun langsung dibawa masuk kedalam ruang bersalin.
Tak lama berselang dokter pun masuk untuk segera menangani proses kelahiran anak Bunga dan Fahri.
Saat diperiksa Bunga sudah pembukaan akhir dan pada saat itu juga sang dokter memberi intruksi pada para perawat yang membatunya untuk segera membantu Bunga mengeluarkan anak nya.
Fahri sangat terlihat tegang dan cemas.
Tak henti-hentinya hati dan mulutnya memanjatkan do'a-do'a pada ilahi robi.
Bunga menggenggam erat tangan suaminya.
Rasa sakit yang dia rasakan begitu tak berarti saat tangisan bayi mungil mulai terdengar menggema begitu merdunya bagi seorang ibu yang baru saja berhasil melahirkan anaknya.
"Alhamdulillah hubby.. Bayi kita sudah lahir dengan selamat dan normal. Kau hebat sayang." Ucap Fahri penuh syukur sambil mencium kening istrinya.
Bunga tampak tersenyum bahagia.
Perawat pun segera membersihkan bayi mungil Bunga dan Fahri.
Sementara itu perawat yang lain membantu Bunga untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
"Selamat ya mbak, mas, anak nya perempuan. Sangat cantik sekali." Ucap sang dokter seraya menyerahkan bayi mungil buah cinta Bunga dan Fahri ke dekapan dada Bunga.
__ADS_1
"Masya Allah.. Sungguh cantik sekali putri abba." Ucap Fahri seraya mencium bayi mungilnya.
"Barakallahu laka fil mauhubi laka wa syakartal wahiba wa balago asyuddahu wa ruziqta birrohu." Ucap Fahri memanjatkan do'a kelahiran bayi mungilnya.
"Alhamdulillah mas putri kita selamat." Ucap Bunga seraya mendekap putri kecil mereka.
"Alhamdulillah.. Mas sangat bersyukur hubby. Terimakasih ya sayang." Ucap Fahri seraya mengecup kening istrinya penuh cinta.
Sang dokter pun memerintahkan Bunga untuk mencoba menyusui bayi mungilnya.
Bunga pun menyusui bayi mungilnya untuk pertama kalinya. Asinya pun belum keluar banyak tetapi sedikit demi sedikit bayi mungil itu merasakan nikmatnya asi ibunya.
Setelah selesai dengan perawatannya di rumah sakit. Bunga pun kembali ke kediamannya dengan membawa bayi mungil yang sangat cantik.
"Sayang sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya. Maka aku yang akan memberikannya nama." Ucap Bunga.
"Iya hubby.. Itu sudah hak mu." Ucap Fahri seraya mengelus kepala Bunga penuh cinta.
Orang tua dan kakak Bunga begitu bahagia saat mendengar kabar bahagia yang di sampaikan oleh Bunga.
Dua hari setelah kelahiran bayi mungil Bunga, mereka pun mengunjungi kediaman Bunga untuk menengok bayi mungil Bunga.
"Kau hebat anak kecil. Ternyata kau mampu melahirkan seorang bayi mungil secantik ini." Ucap Reno sedikit mengejek adiknya.
"Aku bukan anak kecil lagi kakak! Sekarang aku sudah menjadi seorang ibu!" Ucap Bunga kesal.
"Yah! Aku percaya. Tapi bagiku kau tetap adik kecilku." Ucap Reno seraya mengusap kepala adik satu-satunya itu.
"Alhamdulillah Gozali punya sepupu baru." Ucap Anisa sambil menggendong bayi Gozali yang baru berusia 3 bulan.
"Iya, ibu sudah membayangkan mereka akan bermain bersama-sama di rumah kita." Ucap bu Desi sambil menimang bayi Almeera.
Sesuai dengan perjanjian jika bayi mereka perempuan maka Bunga lah yang berhak memberikannya nama.
Senyum kebahagiaan terpancar dari keluarga Bunga dan Fahri.
Tasyakuran menyambut kelahirannya bayi Almeera pun sudah mereka lakukan.
Beberapa kerabat dan sanak saudara datang ke kediaman Bunga dan Fahri mengucapkan selamat dan memberikan beberapa hadiah untuk bayi mereka.
Begitulah kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang kini sudah menjadi seorang ayah dan ibu.
Hari-hari pun mereka lalui dengan penuh kebahagiaan.
Bayi Almeera pun telah tumbuh menjadi putri kecil nan cantik seperti kecantikan ibunya.
Fahri dan Bunga selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan pada mereka.
Perpisahan yang menyakitkan hanya untuk sementara di ganti dengan kebersamaan yang sangat penuh kebahagiaan.
__ADS_1
*****
END ~♡~