
2 minggu kemudian..
Setelah kepulangan Bunga dan Fahri dari tanah suci, kedua pasangan suami istri pun kembali menghabiskan waktu mereka dengan menikmati masa-masa pengantin baru.
Hampir setiap malam Fahri dan Bunga bekerja keras untuk menebar benih di rahim Bunga.
Hingga suatu malam saat Fahri mengajak Bunga untuk kembali melakukan hubungan suami istri, saat Fahri sudah melakukan foreply pada Bunga tiba-tiba saja Bunga merasa mual dan perut nya bergejolak seperti sedang di aduk-aduk.
"Hubby kau kenapa? Apa badan ku bau?" Tanya Fahri pada Bunga.
"Maaf mas, tiba-tiba saja aku merasa mual dan kepalaku sakit." Ucap Bunga yang terus-terusan ber-ohek ria.
"Howeeekk" Bunga berlari ke kamar mandi karena dia sudah tak tahan dengan mual di perutnya.
Fahri mengikuti Bunga dari belakang dengan ekspresi cemas nya.
"Howeeekkk.." Bunga kembali memuntahkan isi di dalam perutnya ke toilet.
"Sayang kau sakit? Mari kita periksa ke dokter." Ucap Fahri penuh kecemasan.
"Aku gak tahu mas tiba-tiba saja aku seperti ini." Ucap Bunga lemas.
"Kau tampak pucat sayang. Ayok kita segera pergi ke dokter." Ajak Fahri seraya membantu Bunga melangkahkan kakinya.
Pada saat mereka telah siap dan akan segera berangkat.
Fahri menemui umi nya dan meminta izin terlebih dahulu.
"Apa yang kau rasa nak?" Tanya umi Hasanah pada menantunya.
"Mual dan pusing umi." Jawab Bunga seraya menutup mulut nya yang kembali meng-howek ria.
Umi Hasanah tersenyum penuh arti.
"Alhamdulillah." Ucap umi Hasanah.
Fahri dan Bunga tampak melongo heran dan tak mengerti pada umi nya yang berucap Alhamdulillah.
"Kok begitu umi?" Tanya Fahri heran.
"Hmm.. Tidak! Sudah sana kau bawa Bunga ke dokter. Umi tunggu kabar baik nya ya." Ucap umi pada Fahri.
Bunga dan Fahri kembali melongo dan sama-sama tak mengerti.
Akhirnya tanpa membuang-buang waktu lagi kedua pasangan suami istri itu pun bergegas menuju klinik terdekat.
Sesampainya di klinik Fahri segera mendaftar dan mengantri sesuai dengan nomor urutan.
Kebetulan pasien yang akan berobat tak terlalu banyak, jadi Fahri dan Bunga tidak lama-lama mengantri.
Hanya menunggu dua pasien sebelum nya.
Sekitar 20 menit kini tiba saat nya giliran Bunga untuk masuk ke ruangan pemeriksaan.
__ADS_1
"Apa yang di rasakan mbak?" Tanya dokter cantik itu.
"Saya mual dan pusing dok." Ucap Bunga.
"Ehm.. Apa kalian pengantin baru?" Tanya sang dokter.
"Betul dok." Ucap kedua nya.
"Sepertinya ini akibat kau terlalu sering melakukan nya." Ucap dokter itu sedikit membohongi pasien nya.
"Maksudnya dok?" Tanya Bunga heran.
"Yah! Kalian terlalu sering melakukan hubungan intim, ini akibat nya." Ucap dokter cantik itu yang tanpa ekspresi.
"Memang nya tak boleh sering-sering ya dok?" Tanya Bunga polos.
Dokter cantik itu tersenyum.
"Kau.. Berapa usia mu?" Tanya dokter itu pada Bunga.
"Saya 22 tahun dok." Jawab Bunga.
"Wow! Kau masih sangat muda dari ku!" Ucap dokter cantik itu.
"Pantas saja kau masih polos." Sambung nya lagi.
Bunga kesal mendengar ucapan dokter yang menurutnya kebanyakan bicara yang tak penting.
Fahri terkejut atas sikap Bunga yang tiba-tiba kasar.
"Hubby.. Kau kenapa? Sabar lah!" Ucap Fahri sedikit menenangkan Bunga.
"Lagian dokter ini terlalu bertele-tele. Aku hanya ingin tahu aku sakit apa dan mana obatnya!" Ucap Bunga kesal.
"Ck! Bahkan kau masih seperti anak-anak, mbak!" Ucap dokter itu.
Bunga memajukan bibirnya dan mendesis kecil.
"Dok, apa sudah cukup pemeriksaannya?" Tanya Fahri yang gusar melihat sikap istrinya.
"Belum mas. Saya akan memeriksa sekali lagi. Silahkan mbak ke kamar kecil dulu buang air kecil dan taruh di tempat ini setelah itu berikan pada saya." Ucap dokter itu.
Bunga pun menurut dan setelah pekerjaan nya selesai Bunga pun menyerahkan air seni nya pada sang dokter.
5 menit kemudian sang dokter menyuruh Bunga untuk merebahkan tubuh nya di atas ranjang tempat pemeriksaan.
"Maaf ya mbak saya angkat bajunya." Ucap dokter itu.
Sang dokter pun mulai memeriksa perut Bunga.
Di pijat dan di pasangkan alat pendeteksi jantung bayi hingga terdengar guludug-guludug dari alat tersebut.
"Dok itu bunyi cacing-cacing diperut istri saya?" Tanya Fahri polos.
__ADS_1
Dokter itu pun tersenyum dan berkata dalam hati.
"Dasar suami istri sama-sama polos."
"Selamat ya mas dan mbak sebentar lagi akan menjadi seorang ayah dan ibu." Ucap dokter itu dengan senyuman manis nya.
Seketika Fahri terkejut dan tersenyum senang.
"Alhamdulillah" Ucap Fahri seraya mengusapkan kedua tangan nya pada wajah nya.
"Sayang.. kita berhasil." Ucap Fahri seraya mencium kening Bunga.
"Kau benar dok. Ini akibat kami terlalu sering berhubungan badan." Ucap Bunga dengan menyengir kuda.
"Sudah ku bilang tetapi kau malah tak terima." Ucap dokter itu seraya kembali mendudukan bokongnya di kursi nya.
"Setelah ini kalian jangan terlalu sering melakukannya. Sebab kandungan mu masih sangat muda dan masih rentan." Ucap sang dokter sambil mencatat obat-obatan yang harus di konsumsi oleh Bunga.
Setelah semua nya beres Fahri dan Bunga pun kembali bergegas menuju kediaman mereka.
"Hubby.. Kau hebat! Terimakasih ya sayang." Ucap Fahri penuh sayang
"Berterimakasih lah pada sang khaliq mas." Ucap Bunga seraya menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
Saat mereka telah sampai ke kediaman nya.
Dengan cepat Bunga dan Fahri menemui orang tua nya dengan ekspresi yang sangat gembira.
"Umiiii... sebentar lagi kau akan punya cucu." Ucap Fahri seraya mencium umi nya.
"Alhamdulillah.. Sudah umi duga kau pasti mengandung cucu umi." Ucap umi Hasanah penuh syukur.
"Dari mana umi tahu?" Tanya Bunga.
"Dari gejala nya saja umi sudah faham nak. Dulu ketika umi mengandung Fahri sama seperti mu, mual dan pusing." Ucap umi Hasanah sumringah.
"Wah.. Sekarang saat Bunga mengandung anak nya gejala nya sama seperti umi." Ucap Bunga.
"Betul! Jaga kandungan mu baik-baik ya sayang. kau jangan terlalu lelah dan jangan telat makan." Ucap umi Hasanah penuh perhatian.
"Insya Allah umi." Ucap Bunga.
"Kau harus menjadi suami siaga, selalu menjaga istrimu dan juga anak yang masih dalam kandungan istrimu." Ucap umi Hasanah menasihati putra nya.
"Itu sudah pasti umi.. Fahri akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka." Ucap Fahri seraya mengelus perut Bunga yang masih rata karena pada saat itu kandungan Bunga baru 2 minggu.
"Aamiin.. Ingat! Kau harus menahan syahwatmu untuk saat ini!" Ucap umi Hasanah.
"Waduh! Itu yang paling berat umi." Ucap Fahri sambil menepuk jidat nya sendiri.
Bunga dan umi Hasanah tertawa geli melihat tingkah Fahri.
*****
__ADS_1