
Happy Reading 🌹🌹
"Kita sudah sampai, anda bisa bersiap untuk pemotretan pertama kita. Semangat!" Ucap crew majalah dengan ramah.
Yona mengambil tisu dan menyeka keringan Stevani perlahan agar tidak merusak make up nya. Memberi kembali bedak agar terlihat segar, "Bawalah kipas porteble ini, aku akan mengambilkanmu minum." Ucap Yona.
Stevani membawa kipas kecil dan di arahkan ke wajahnya, cukup panas menjelang siang. Dia duduk di kursi lipat yang sudah di sediakan oleh tim.
"Nona apakah kamu sudah siap?" Tanya crew.
"Sudah." Jawab Stevani.
"Baiklah, mari aku bantu." Crew membantu Stevani berjalan dengan mengangkat ujung gaunnya.
Seorang foto grafer memberi aba-aba, para crew yang memegang benda berwana bulat dengan warna perak untuk mengatur cahaya juga sudah siap berada di sisi kanan dan kiri Stevani.
"Hitungan ke tiga mulai, satu ... dua ... tiga." Seru sang foto grafer.
Stevani dengan lincah dan cepat bergerak serta merubah mimik wajahnya agar mendapakan bebagai pose dan ekspresi dalam satu menit jepretan.
Yona yang kembali membawa dua cup ice americano hanya diam dengan berdiri, kedua netranya tidak lepas dari wanita yang mengenakan gaun merah tengah berpose berbagai gaya.
Hingga akhirnya sesi foto pertama selesai, Yona tersenyum ke arah Stevani yang berjalan dengan mengangkat gaunnya agar tidak mengganggu dia berjalan.
"Kamu hebat!" Ucap Yona menyerahkan ice americano ke arah Stevani.
"Kamu juga hebat, Yon." Jawab Stevani memuji kembali Yona.
Yona mengambil kipas tangan dan membiarkan Stevani untuk duduk, dengan telaten Yona mengipasi wajah Stevani yang mulai basah karena keringat.
"Hari ini kita ada berapa sesi foto lagi?" Tanya Stevani yang menoleh ke arah Yona.
"Tiga lagi, terakhir agak menunggu lama karena foto dengan melibatkan sunset." Jawab Yona menjelaskan.
"Hah, baiklah kita kembali ke hotel saja." Kata Stevani mende*sah kasar.
__ADS_1
"Kita lihat dulu waktu di sesi kedua Stev. Pihak perusahaan menyediakan sebuah mobil untuk kita beristirahat." Ucap Yona jujur karena dia juga baru di beri tahu oleh seorang crew saat mengambil kopi.
"Sesi kedua jam berapa?" Tanya Stevani lagi.
"Dua jam lagi, lebih baik kita istirahat dulu di dalam mobil Stev." Jawan Yona mengecek jadwal pemotretan.
"Kenapa lama sekali." Keluh Stevani.
Entah kenapa Stevani merasa malas dan ingin segera kembali ke hotel, tiba-tiba dia kepikiran tentang Bara. Membuatnya menggeleng dengan cepat, "Hais, lupakan pria magpie itu." Gumanya pelan.
"Apa, Stev?" Tanya Yona yang kurang mendengarkan ucapan sahabatnya.
"Tidak ada, lupakan. Ayo kita ke mobil untuk beristirahat." Ajak Stevani kepada Yona.
Yona mengangguk dan segera berjalan menuju plataran parkir yang berada di kuas istana Alhambra. Menunggu sesi pemotretan kedua dan ketiga hari ini, besoknya akan di lanjutkan foto di dalam studio.
Dua orang pria tengah berjalan keluar dari dalam lift dengan langkah lebarnya. Berjalan dengan berbicara serius yang terlihat dari wajah keduanya.
"Sudah, semua dokumen untuk rapat bersama klien dari Dubai sudah siap semua tanpa kurang satu apapun." Jawab Jundi dengan yakin.
"Bagus! Semoga kerjasama hari ini bisa jebol, karena bekerjasama dengan Dubai akan menjadi batu loncatan yang bagus bagi perusahaan kita." Ucap Bara yang di setujui oleh Jundi.
Banyak orang yang mengira bahwa Dubai adalah negara, tapi nyatanya tempat ini hanyalah negara bagian yang berada di bawah negara Uni Emirat Arab. Dubai merupakan salah satu kawasan terluas Uni Emirat Arab dan menjadi pintu masuk ke negara tersebut.
Jundi dan Bara berjalan menuju basemen, di mana mobil di parkir. Segera keduanya masuk ke dalam mobil sedan berwarna putih yang perlahan bergerak meninggalkan area hotel.
"Berapa lama sampai ke istana Alhambra?" Tanya Bara dengan melihat arlojinya.
"Kurang lebih sepuluh menit, aku sengaja memesan hotel di dekat pertemuan rapat karena selain dekat dengan pusat kota juga hotel dengan rating terbaik." Jawab Jundi yang fokus menyetir.
"Baguslah, aku takut kita mengecewakan mereka lagi." Bara jujur dengan rasa cemasnya.
Jundi menaikkan sebelah alisnya, dia menoleh sebentar ke arah Bara yang tampak gelisah. Tidak biasanya Bara khawatir dan cemas tentang kerjasama perusahaan.
__ADS_1
"Apa yang kamu cemaskan? Apa kamu sedang ada masalah." Tanya Jundi yang sekali lagi menoleh ke arah Bara.
Bara menggigit kuku ibu jarinya, "Tidak." Jawab Bara berbohong.
Entah kenapa perasaan Bara sedikit tidak enak hari ini seakan tengah melaju ke sebuah masalah besar. Tapi ini hanya pertemuan bisnis seperti biasanya, Bara membuka jendela mobil untuk menghirup oksigen.
Benar, tidak lebih dari sepuluh menit mobi yang di kendarai Jundi telah sampai di istana Alhambra. Segera Jundi membuka seatbeltnya yang di ikuti Bara.
Keduanya kekuar dari dalam mobil dengan banyak dokumen di tangan Jundi, "Kita ke cafe kecil itu." Tunjuk Jundi di salah satu deretan gerai cafe yang buka di sana.
Bara memakai kacamata hitamnya dan berjalan menuju cafe yang di tunjuk oleh Jundi, dia berjalan dengan fokus bahkan tidak sadar jika tengah di tatap seseorang dari dalam mobil.
"Kenapa pria magpie datang ke mari? Ah, benar sudah dugaanku. Dia fans fanatikku tapi dia malu untuk mengatakannya." Stevani berbicara dan tertawa sendiri di dalam mobil.
Yona yang sibuk di belakang dengan bermain ponsel melirik sekilas ke arah Stevani yang tersenyum ke arah luar mobil.
"Kamu kenapa Stev?" Tanya Yona penasaran.
"Ah, tidak apa-apa. Aku akan pergi keluar sebentar untuk membeli camilan." Jawab Stevani dengan membawa dompet kecilnya.
"Dengan pakaian seperti itu?" Tunjuk Yona kaget.
"Iya, sudah kamu mau menitip apa?" Tanya Stevani dengan cepat.
"Biarkan aku saja yang membelinya, kamu diam saja di dalam mobil." Tolak Yona dengan permintaan Stevani.
"Tidak apa-apa, tunggu sebentar ya." Stevanj membuka pinti mobil dan kekuar.
Dengan susah oayah dia berjalan menuju ke sebuah cafe yang di tuju oleh Bara, dengan mengenakan gaun merah tentu saja sangat mencolok bagi para pengunjung termasuk Bara.
"Kenapa di mana-mana ada wanita gila itu." Gerutu Bara yang sudah merubah wajahnya masam dan malas.
"Nona Stevani? Bukankah dia selebgram yang terkenal, dia anak dari Tuan Kristoff pemilik perusahaan terbesar nomor tiga saat ini." Jelas Jundi kepada Bara yang menatap ke arah Stevani.
Bara menoleh ke arah Jundi dengan alisnya yang menukik tajam, "Jadi benar dia anak konglomerat?" Tanya Bara memastikan.
__ADS_1
"Benar, aku semalam mencari informasinya. Memang tidak di tutupi oleh keluarga besarnya. Dia dua bersaudara, kembarannya laki-laki yang mungkin akan menjadi penerus Tuan Kriatoff." Jelas Jundi apa adanya.