Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Butik


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terdengar langkah kaki menuruni anak tangga membuat Bara menengok ke arah kanan, terlihat wanita yang akan menjadi istrinya tengah turun dengan memasukkan tangan kanannya di dalam saku celana. Terlihat Stevani memakai pakaian yang senada dengannya, mengenakan kemeja berlengan panjang berwarna putih, dan celana kain berwarna coklat. Rambut panjang hitamnya di gerai dengan sedikit di kucir ke belakang hingga meninggalkan anak rambut di samping kanan dan kirinya.



"Ayo!" Ucap Stevani yang menganggetkan Bara.


Bara kaget karena tiba-tiba Stevani sudah berdiri di depannya, dia berkedip cepat dengan menatap lekat wajah calon istrinya.


"Cepat." Stevani menarik pengan Bara hingga pria itu berdiri dan mengikuti langkahnya.


"Lepas! Kamu pikir aku ini sapi kamu tarik-tarik." Omel Bara yang langsung berjalan meninggalkan Stevani.


Stevani hanya berdecih dan mengikuti langkah Bara menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama, hari ini kedua orang tua Stevani tidak ada di mansion. Mungkin tengah berkunjung ke sanak saudara untuk menginformasikan pernikahannya secara resmi.


Mobil yang di kendarai Bara bergerak meninggalkan area mansion Kristoff, selama di perjalanan hanya ada keheningan. Stevani sibuk dengan gawainya sedangkan Bara fokus dengan jalan raya.


"Masukkan alamat butik di GPS." Perintah Bara kepada Stevani.


Stevani menatap kesal ke arah calon suaminya, "Sejak tadi kamu tidak tahu alamatnya? Kenapa tidak bertanya kepadaku." Omel Stevani dengan memasukkan alamat butik ke mesin GPS mobil.


"Seharusnya kamu berfikir, aku ini orang asing mana tau jalan." Jawab Bara yang balik menyalahkan Stevani.


"Orang asing yang tiba-tiba datang di kehidupanku." Kata Stevani dengan kesal.


"Sama, bisa-bisanya Kakekku melamar wanita gila sepertimu." Kata Bara dengan menoleh sekilah ke arah Stevani.


"Bisa-bisanya juga orang tuaku menerima lamaran pria tidak jelas sepertimu." Jawab Stevani tak ingin kalah.


Bara hanya mendengus kesal, berbicara dengan Stevani hanya membuang tenaga dan menguji kesabarannya. Sebenarnya sama halnya bagi Stevani, dia berbicara dengan Bara seperti menguji nyali.


Menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan klasik dengan nama toko SASSI HOLFORD. Butik gaun nikah dengan beberapa manekin yang di pajang mengenakan gaun koleksi yang butik miliki dengan satu pintu utama yang di hiasi tanaman di sebelah kanan dan kirinya.


Stevani dan Bara segera turun dari dalam mobil, Stevani menggandeng tangan Bara tanpa meminta izin kepada pria tampan tersebut. Bara yang awalnya kaget tapi sadar jika wanita yang akan menjadi istrinya adalah seorang selebgram di mana banyak mata kamera yang akan selalu membidik ke arahnya.


Sebenarnya seorang selebgram hanya hal biasa dan tidak wah, tapi berbeda dengan Stevani di belakang selebgram ada nama keluarganya yaitu Kristoff. Banyak masyarakat dan rekan bisnis yang siap menjegal keluarga konglomerat tersebut jika sampai Stevani melakukan kesalahan.


Suara lonceng berbunyi membuat wanita paruh baya yang tengah memasang beberapa jarum di kain gaun yang di kenakan pada manekin menoleh ke sumber suara. Wanita itu tersenyum melihat kehadiran Stevani "Kalian sudah sampai?" Tanya Tante Jung.


"Sudah Tan, tadi menunggu suami eh makhsudku calon suamiku menyelesaikan rapatnya terlebih dahulu." Jawab Stevani dengan melakukan cipika cipiki kepada pemilik butik.


"Halo, Tuan Bara. Senang berjumpa denganmu, aku adalah tantenya Stevani." Ucap Tante Jung dengan mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Salam kenal." Jawab Bara kaku.


Stevani dan Tante Jung tertawa pelan melihat bagaimana kikuknya Bara saat ini, "Ayo ikuti Tante, akan aku tunjukkan koleksi terbaru di butik." Ajak Tante Jung kepada keduanya.


Stevani menggerakkan tangan kanannya yang masih menggenggam tangan Bara, "Ayo!" ucap Stevani. Keduanya berjalan bergandengan tangan mengikuti langkah Tante Jung, banyak karyawan butih yang mengiri karena melihat pasangan yang akan menikah itu.


Bahkan ada seorang karyawan yang memfoto bagian belakang Stevani dan Bara karena dia terlalu kagum dengan idolanya, "Aku akan menguploadnya di sosial mediaku, pasti teman-temanku akan iri denganku." Gumamnya pelan.



Bara dan Stevani berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang begitu luas dan banyak gaun baru bergantung di sepanjang etalase, bahkan gaun-gaun itu belum pernah di pamerkan dalam fasion show di manapun. Terdapat tiga sofa di tengah ruangan dengan saling membelakangi. Lampu gantung kristal besar, mewah, dan beberapa lampu neon menambah ruangan itu menjadi terang.


Stevani berdecak kagum karena selama ini dia hanya memakai gaun kecuali gaun pengantin, Stevani melepaskan pegangan tangannya dari Bara membuat Bara melihat ke arah tangannya yang terasa aneh. Perasaan aneh yang tiba-tiba hadir karena Stevani melepaskan pegangan tangannya.


"Pilihlah gaun yang akan kamu kenakan, sayang. Semua gaun ini belum pernah tante perlihatkan di depan umum." Ucap Tante Jung kepada Stevani.


"Benarkan, Tan?" Tanya Stevani karena merasa tidak percaya.


"Tentu benar, seharunya minggu depan tante melakukan fasin show di Eropa tetapi tante urungkan saat mendengar kabar jika kamu akan menikah." Jawab Tante Jung tersenyum lembut ke arah ponakannya.


Stevani dengan di bantu oleh seorang pelayan butik masuk ke dalam ruangan ganti sedangkan Bara dan Tante Jung duduk di salah satu sofa yang menghadap ke tirai di mana Stevani berada di balik tirai tersebut.


"Kapan kalian berpacaran?" Tanya Tante Jung kepada Bara sembari menunggu Stevani.


Bara menoleh ke arah Tante Jung yang tengah menatapnya dengan tersenyum, "Kami tidak berpacaran." Jawab Bara jujur.


Bara hanya diam saja tanpa menanggapi, perlahan tawa Tante Jung surut bahkan wajahnya berganti dengan rasa penasaran dan kaget "Serius? Kalian tidak berpacaran? Tidak menembak gitu?" Cecar Tante Jung kepada calon ponakannya.


Bara mengangguk, "Benar." Jawabnya singkat.


Tante Jung menutup mulut dengan kedua tangannya, dia tampak kaget, dan kagum secara bersamaan. Hingga suara tirai di buka membuat kedua orang tersebut mengalihkan atensi mereka. Di atas panggung kecil, seorang wanita dengan mengenakan gaun pengantin model sabrina belahan dada yang cukup rendah.



Sejenak Bara terpaku dengan wanita yang akan dia nikahi esok hari, Tante Jung menghampiri sang keponakan dengan tersenyum bahagia "Aigo ... aigo ... cantik sekali." Serunya dengan mengelus kedua pipi Stevani.


Stevani menundukkan kepalanya, entahlah rasanya sangat malu dia di puji kali ini yang biasanya dia sangat narsis tetapi rasanya kali ini berbeda. Sesekali dia melirik ke arah Bara yang menatap dirinya dengan intens bahkan tidak berkedip.


"Kenapa dia tidak berkomentar, apa aku tidak cantik di matanya?" Monolog Stevani.


"Bar! Bagaimana, apa kamu suka?" Tanya Tante Jung membuat kesadaran Bara kembali.


Bara berdehem untuk menetralkan perasaannya, "Bagus." hanya satu kata yang dia ucapkan.

__ADS_1


"Bagus? Hanya itu, kamu harus berkomentar misalnya apakah bagian dada ini terlalu pendek belahannya atau membuatku tampak gemuk begitu." Kata Stevani yang tampak protes dengan komentar calon suaminya itu.


"Jika ada, pilihlah gaun yang memiliki ganjalan dada agar tampak berisi." Jawab Bara mendelik kesal dan berlalu dari ruangan tersebut.


Stevani yang ingin berteriak dia urungkan karena mengingat banyak orang lain selain dirinya dan Tante Jung, dia hanya bisa mendengus kesal karena respon calon suaminya yang berbeda dengan ekspestasinya tersebut.


"Kenapa kamu harus bertanya sih, lihat dia saja sampai tidak berkedip melihatmu. Tentu saja kamu sangat cantik," kata Tante Jung kepada ponakannya.


"Huh! Kenapa dia tidak mengatakannya langsung tinggal berkata kamu sangat cantik Stevani." Jawab Stevani dengan menirukan suara pria yang di buat-buat.


Tante Jung tergelak mendengar ucapan sang ponakan, kembali tirai di tutup, membantu sang ponakan melepaskan gaun yang tengah di coba oleh Stevani. "Kamu mau memilih aksesoris lainnya?" Tawar Tante Jung.


"Iya tante dan carikan jas yang senada dengan gaun ini untuk Bara." Jawab Stevani.





Tante Jung memberi kode kepada pegawainya untuk menyiapkan beberapa jas yang senada dan cocok dengan gaun yang akan Stevani kenakan di atas altar nanti, sedangkan Stevani berjalan mencari keberadaan Bara yang ternyata tengah melihat etalase bagian sepatu.



"Aku kira kamu pergi." Ucap Stevani yang menganggetkan Bara.


"Tidak, cobalah itu." Tunjuk Bara pada salah satu sepatu hak tinggi berwarna putih.


Stevani mengambil dan mencobanya, tampak sangat indah di kaki jenjangnya. "Bagaimana?" Tanya Stevani.


Bara hanya menganggukkan kepalanya saja, "Sudah lepaskan, ternyata jelek." Jawab Bara tanpa memikirkan perasaan calon istrinya.


"Hais ... jika bukan calon suamiku sudah aku timpuk pakai sepatu ini." Gerutu Stevani dengan melepaskan sepatu yang dia coba.


Stevani menunggu Bara yang tengah mencoba jas pernikahan mereka, sembari menunggu dia bermain sosial media. Keningnya berkerut karena banyak akun yang menandainya "Benarkan dugaanku, pasti banyak yang mengawasi gerak gerikku, untung Bara pergi bersamaku." Ucap Stevani dalam hatinya.


Sepasang sepatu pantofel hitam berada di depannya membuat Stevani mengalihkan pandangan dari ponsel ke orang tersebut, tampak Bara berdiri tepat dihadapannya yang sudah memakai jas berwarna putih. Stevani memandang dari atas ke bawah dan bawah ke atas.


"Tidak cocok, lebih baik jas warna hitam saja." Kata Stevani dengan ringan.


Bara hanya diam tidak menanggapi, dia berjalan masuk ke dalam ruang ganti begitu saja. Beruntung pelayan menyiapkan beberapa warna jas untuk pengantin pria. Setelah satu jam memilihkan jas untuk Bara kini keduanya memutuskan untuk menyudahi hari ini.


"Terima kasih, Tante Jung. Kami pulang dulu." Ucap Stevani melakukan cipika cipiki laagi.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang. Tante akan menyiapkan gaunmu sebaik mungkin." Jawab Tante Jung,


Stevani dan Bara masuk ke dalam mobil, Bara membunyikan klakson sebelum benar-benar menjalankan mobilnya menembus jalanan di malam hari kepada Tante Jung. Tante Jung hanya melambaikan tangan kanannya dengan bibir tersenyum.


__ADS_2