Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Kehebohan di Ruang Ganti


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terdengar teriakan dari bibir Stevani yang melengking, membuat Rani yang tengah membereskan semua peralatan dan perlengkapan setelah acara pernikahan Stevani dan Bara terlonjak karena kaget dan bergegas melihat siapa yang diteriaki oleh Stevani.


"Apa-apaan, sih, kamu? Aku sejak tadi ada di ruangan sebelah, mengurusi semua


pekerjaanku setelah Danu keluar meninggalkan aku sendiri di sana. Aku keluar karena aku ingin mengambil barang milikku yang ada di dalam tas. Lagipula kenapa ...? Aaaah! Apa- apaan, kamu! Kenapa memakai pakaian seperti itu?! Apa tidak ada pakaian yang lebih sopan?! Lebih tertutup!" sentak Bara sambil menutup wajah dengan kedua belah tangannya.


"Apa maksudmu?! Kamu yang tidak punya tata krama, langsung masuk begitu saja tanpa permisi!" Stevani balas membentak seraya menutupi bagian- bagian vital tubuhnya dengan kedua belah tangan dan mengatupkan kedua belah pahanya. "Rani, tolong ambilkan kain itu!" pinta Stevani saat melihat keberadaan Rani yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Rani baru saja bermaksud mengerjakan apa yang disuruh oleh Stevani saat Bara melangkah mendahuluinya mengambil kain yang tersampir di sandaran tangan sebuah kursi. Hanya dengan menyisakan sedikit celah di antara jemari yang menutupi wajahnya, Bara berjalan menghampiri Stevani sambil membawa sehelai kain yang diminta oleh istrinya barusan.


"Ini, kainnya. Pakai betul- betul supaya tidak terlihat lagi lekuk tubuhmu!" titah Bara yang langsung memalingkan wajahnya setelah melemparkan kain yang dia ambil dari sandaran kursi tadi.


"Iya, sudah tahu! Tidak perlu melempariku seperti itu, sudah kamu balik badan sana! Awas kalau sampai mengintip!" titah Stevani dengan nada sangat ketus.


"Ish! Untuk apa aku mengintip! Dada rata seperti itu, tidak menarik!" cela Bara asal.


Stevani membelalakkan matanya mendengar celaan Bara. Gadis itu merasa sangat kesal, dia ingin membalas, tetapi dengan segera diurungkannya niat balas dendam itu karena dilihatnya Rani tengah tertawa terpingkal- pingkal melihat tingkah Stevani dan Bara.


'Awas kau nanti, Bara! Akan ku balas kau suatu saat nanti,' batin Stevani.


"Kalian berdua ini, ya, benar- benar pasangan yang kocak. Apa kalian lupa bahwa kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri? Kok bisa- bisanya kalian bersikap seperti itu satu sama lain," ujar Rani sambil menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya supaya tawanya tidak terhambur keluar.


Akan tetapi, usaha tersebut sia- sia karena dalam hitungan detik, tawa Rani kembali terdengar nyaring hingga dia harus menyingkir keluar karena mendapatkan pelototan galak dari Stevani dan Bara.

__ADS_1


Sepeninggal Rani, kedua pasangan yang baru saja menikah itu terlihat saling bertegangan otot wajah, Stevani yang tampak masih kesal dengan ejekan Bara mengenai dadanya masih memelototkan mata lebarnya dan memajukan bibirnya. Sementara Bara, menatap acuh istrinya, seolah tak peduli dengan kekesalan gadis itu.


"Bara! Apa maksudmu dengan mengatakan dadaku rata?! Jika kau hanya menyukai perempuan- perempuan pemilik dada besar kenapa kau memilih menikahi aku, seharusnya kamu beruntung memiliki istri yang cantik dan mempersona seperti aku?" semprot Stevani masih dengan nada kesal dan ketus dengan menyibakkan rambut panjangnya sombong.


Bara menatap Stevani sambil mencebikkan bibirnya, dia baru saja tahu jika wanita yang diam- diam mulai menarik perhatiannya itu ternyata sangat mudah tersinggung, sifat yang sebenarnya kurang disukai Bara, tetapi lumayan menarik perhatian.


"Kenapa? Kamu mau marah? Marah saja, aku tidak akan terpengaruh dengan kemarahanmu itu. Toh, dadamu memang rata, bukan?" canda Bara lagi.


"Ba ... raaaaa!" seru Stevani sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.


Tanpa berkata apa- apa lagi, gadis itu bergegas memakai pakaian yang jauh lebih casual dan mengambil tas jinjing miliknya. Untuk sesaat, matanya terlihat seperti tengah mencari sesuatu. Bara yang sejak tadi memperhatikan tingkah istrinya itu pun akhirnya mengajukan sebuah tanya.


"Apa yang sedang kamu cari, wanita gila? Apa kamu tengah mencari busa untuk mengganjal dadamu agar terlihat lebih besar sehingga bisa menarik perhatianku?" tanya Bara dengan wajah usil bukan main.


Stevani melirik tajam ke arah Bara yang tersenyum manis ke arahnya. Stevani memcebikkan bibirnya karena rasa kesalnya semakin bertambah pada pria rupawan di depannya itu.


Gadis itu lalu melangkah keluar mencari Rani yang ternyata mendatangi Danu yang masih berada di booth makanan, Stevani pun mendatangi keduanya lalu ikut bergabung bersama mereka.


"Eh, Kak Stev, mencari kami, ya? Maaf, kami tinggal kemari sebentar karena kami tadi merasa lapar," jelas Danu


"Iya, tidak apa- apa. Iya, aku mau menanyakan pada Rani, koper besar yag berisi semua pakaianku ada di mana ya, Ran? Kok tidak ada?" tanya Stevani kepada Rani.


"Haa, tidak ada bagaimana, Kak? Semua ada di ruangan ganti. Tas kami, tas Kakak, tas Kak Bara pun ada di sana. Kalau tas kami dan tas kak Bara saja masih ada, masa iya, tas milik Kakak bisa hilang?" Rani balik bertanya pada Stevani.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," kata Stevani.

__ADS_1


Mendengar jawaban Stevani, Rani lalu bergegas menandaskan isi gelasnya. Begitu pula dengan Danu, lalu mereka berdua gegas mengikuti langkah kaki Stevani yang tergesa kembali ke ruang ganti untuk menunjukkan kebenaran ucapannya.


Mereka bertiga tiba di ruangan ganti dengan tergesa, membuat Bara yang berada di dalam menatap kebingungan apalagi melihat raut wajah Rani dan Danu yang terlihat panik.


"Kalian kenapa panik seperti itu? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Bara kepada Rani dan Danu.


"Iya, Kak. Kak Stevani bilang tas koper pakaiannya hilang, kami lalu bergegas kemari untuk mengecek, bila benar maka kami akan melaporkan hal ini pada pihak keamanan hotel," jelas Danu yang sedikit lebih tenang.


Rani memalingkan wajah Stevani lalu bertanya, "Kak Stevani menyimpan tas koper terakhir kali di mana?"


"Di dalam lemari berpintu kaca di ... depan kamar mandi," jawab Stevani. "Astaga! Aku lupa! Koperku masih berada di sana! Aaah, maafkan aku, Rani, Danu karena sudah membuat heboh."


"Ck! Dasar ceroboh! Bagaimana mungkin tas sendiri bisa lupa. Untung saja hidung itu menempel di wajahmu, jika tidak bisa tertinggal dan kau pun pasti akan ribut seperti induk ayam kehilangan anak," ledek Bara yang sedari tadi mengamati ketiga orang di depannya itu.


Stevani melirik kesal ke arah Bara, "ish! Lagi- lagi kamu ikut campur! Berhentilah mengejekku atau aku akan melakukan sesuatu padamu."


Bara tersenyum mengejek ke arah Stevani sambil berkata, "uuh, ada yang mengancam. Tolong, aku takut."


Setelah mengatakan hal tersebut, Bara pun melenggang mengambil tasnya dan memasukkan semua benda- benda miliknya yang masih tersisa di luar, diikuti oleh Rani dan Danu.


Sementara, Stevani yang merasa kesal hanya bisa menghentakkan kakinya ke lantai, sebelum akhirnya mengambil kopernya yang masih berada di dalam lemari berpintu kaca yang berada di depan kamar mandi.


Usai mengemasi semua barang, Rani meminta Danu untuk mengantarkan Bara dan Stevani ke pihak resepsionis untuk mengambil kunci kamar President Suite yang diberikan sebagai bonus karena telah menggunakan ballroom hotel mereka untuk melaksanakan resepsi pernikahan.


...🌹🌹...

__ADS_1



__ADS_2