
Happy Reading 🌹🌹
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, mobil SUV putih memasuki gerbang mansion. Paman L menghentikan mobil di depan pintu utama mansion. Para penjaga yang sudah tahu akan kedatangan Bara dan istrinya bergegas menghampiri untuk membantu Paman L.
Paman L turun dari mobil dan membuka pintu belakang mobil, para penjaga segera mengambil tiga koper dengan ukuran yang berbeda secara signifikan. Mereka membawa koper-koper itu kembali masuk ke mansion, sedangkan Paman L mencoba membangunkan kedua majikan yang sudah terlelap.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap Paman L kepada Bara dengan menggoyangkan lengan pria muda itu pelan.
Bara membuka kedua matanya dengan menyerengit, "Kita sudah sampai?" ulang Bara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah tuan." Jawab Paman L.
Bara mengangguk dan Paman L menjauh dari pintu mobil, Bara meregangkan otot-ototnya setelah berjam-jam duduk di pesawat dan di mobil akirnya dapat menggerakkan tubuhnya dengan bebas. Dia melangkah menuju mansion tapi langkahnya terhenti saat Paman L memanggil kembali.
"Ekhm, Tuan." Ucap Paman L
Bara menoleh ke arah kepala pelayan mansion, "Ada apa? Aku ingin tidur untuk urusan mansion biarkan Jundi atau Kakek yang mengurusnya." Ucap Bara dengan wajah lelahnya.
"Nona Stevani masih tertidur di dalam mobil, apa saya perlu membangunkannya atau pengawal yang menggendong Nona Stevani sampai kamar?" Kata Paman L yang sudah membukakan pintu dari sisi mobil yang lain.
Bara lupa jika dirinya kini sudah memiliki istri, setelah menghembuskan nafasnya kasar. Dia kembali menuruni tiga anak tangga menuju mobil. Paman L kembali menyingkir memberi ruang yang cukup luas untuk majikannya.
Hal yang tidak di duga terjadi membuat Paman L kaget bukan main, dalam bayangannya Bara akan menggendong Stevani seperti pengantin baru pada umumnya tetapi pria tampan itu menjepit hidung mancung Stevani dengan gemas.
Stevani menyingkirkan tangan Bara dengan kedua mata yang masih terpejam dan menggelengkan kepalanya. Oksigen di dalam paru-parunya hampir habis. Kedua mata Stevani langsung terbuka lebar dengan jarak yang cukup dekat dia dapat melihat wajah tampan suaminya yang tengah menertawainya.
Melihat Stevani bangun, Bara menyudahi aksinya. "Selain gila kamu juga tidur seperti ba*bi."seloroh Bara yang langsung meninggalkan Stevani berjalan masuk ke dalam mansion.
__ADS_1
Stevani hanya memasang wajah masam dan mengusap hidungnya yang terasa perih, dia berjalan mengikuti Bara menskipun masih belum terkumpul secara utuh nyawanya membuat Stevani hampir tersandung anak tangga. Paman L ingin membantu tapi di urungkan karena Stevani berhasil mempertahankan keseimbangannya.
Dengan susah payah Stevani menyusul Bara yang kini sudah berdiri di depan lift, dengan wajah yang masih masam dia melewati Bara dengan menyenggol lengannya. Keduanya masuk kedalam lift dan tidak membutuhkan banyak waktu sudah sampai.
Kening Stevani mengkerut dalam, dia berjalan keluar dan berjalan ke pinggiran tangga. "Si*al, pria ini apa mengerjaiku." gerutu Stevani.
Bara hanya acuh melewati sang istri, memutar knop pintu kamar perlahan. Suara musik klasik adalah yang pertama di tangkap oleh telinga keduanya, di dorong perlahan pintu tersebut hingga terbuka dengan penuh.
Keduanya terpaku di depan pintu kamar, selain alunan musik klasik, terdapat beberapa lilin yang berada di dalam kaca menyala sehingga membuat kamar yang tidak ada penerangan lampu tampakk remang-remang. Bara berjalan masuk dengan mencari saklar lampu.
Lampu utama kamar menyala dengan terang semakin membuat keduanya saling melihat, hamparan kelopak bunga mawar merah memenuhi seluruh lantai di kamar tidak ada celah sedikitpun. Balon dengan warna senada menghiasi langit-langit kamar yang di tali pita sehingga menjuntai kebawah seperti hujan pita.
"Wah, seperti diiklan-iklan." Celetuk Stevani dengan tertawa pelan tapi dalam hatinya merasa bahagia.
Keduanya berjalan masuk dengan perasaan sebal Bara menyingkirkan pita-pita yang menghalangi pandangannya, di atas tempat tidur ada satu kotak kado yang terbungkus dengan rapi. Dilihat dari bungkusnya itu untuk Stevani karena bungkusnya berwarna pink.
Bara hanya mengendikkan bahunya saja, dia berjalan masuk ke arah walk in closed untuk berganti piyama tidur. Sedangkan Stevani langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di pinggiran kasur, dengan semangat dia membuka pembungkus kado tersebut hingga menampakkan kotak dengan salah satu brand ternama.
"Ini kan .... "
Stevani menggelengkan kepalanya pelan, dia berfikir mungkin hanya kotaknya saja tetapi tidak dengan isinya, Stevani membuang bungkus kado secara asal dan menarik pita berwarna putih. Perlahan dia mengangkat penutup kotak itu.
"Permata?" Ucap Stevani pelan.
Bara yang baru saja keluar tidak sengaja mendengar ucapan sang istri meski pelan, dia berjalan ke arah Stevani karena juga penasaran dengan isi barang yang berada di dalam kotak berwarna putih itu. Stevani mengambil cincin yang bertahtakan permata dan di letakkan di atas nakas, membuka sticker yang melekat di kertas putih tipis untuk melihat hadiah yang sebenarnya.
__ADS_1
Terlihat benda yang sangat tidak asing bagi kedua insan itu, Stevani mengambil yang kemudian mengangkatnya sehingga membuat kotak itu jatuh dan membuat isinya berserakan. Bara yang melihatnya berkedip dengan cepat sedangkan wajah Stevani merah padam karena malu.
"Aaaa ...." Teriak Stevani yang menjatuhkan wajahnya di bantal sehingga meredam teriakannya.
Bara mencoba terlihat baik-baik saja tapi tangannya tidak dapat berbohong saat dia mengambil selembar surat yang keluar dengan benda segitiga tangannya gemetar hebat. Seumur hidup dia baru melihat pakaian dalam wanita setelah bertemu dengan Stevani.
"Buatkan kami baby yang lucu, aku akan mengirimkan hadiah yang lebih spektakuler lagi."
Bara mengumpat kesal di dalam hati karena tahu siapa pengirim hadiah itu, Stevani menyembunyikan di balik punggungnya dan merebut kartu ucapan yang berada di tangan Bara. Kedua bola mata Stevani dengan cepat bergulir membaca tulisan di sana.
"Siapa?" Tanya Stevani mendongakkan kepala.
"Ekhm, sudahlah ayo tidur aku lelah." Bara menghindari pertanyaan Stevani.
"Hey! Kamu pasti tahukan siapa yang memberi kado ini." Teriak Stevani kepada Bara yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Melihat sikap acuh suaminya hanya membuat wajah Stevani menekuk kesal, "Ck, siapa juga sih yang membelikan benda bling-bling seperti ini. Tau saja seleraku, tapi siapa? Tidak mungkin pria magpie itu." Omel Stevani dengan merapikan kembali hadiah yang dia dapatkan.
Sedangkan Bara di dalam kamar mandi membasuh wajahnya dengan cepat, terlihat dadanya naik turun. Entahlah dia bingung dengan reaksi tubuhnya saat ini, terasa jantungnya berdebar dengan kencang, tubuhnya terasa panas, dan sesuatu bagian bawah bangun.
Dia bukan pria impoten, tapi baru kali ini dia tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. "Hah, aku sudah lama tidak bersolo karir." umpat Bara pada dirinya sendiri.
Suara gemericik air meredam suara erangan yang keluar dari bibir sensual Bara, dengan nafas yang memburu dia hanya mampu menatap benih-benih penerusnya terguuyur air. Stevani yang sudah beberapa kali menguap karena menunggu Bara akhirnya tertidur lelap, entah apa yang di lakukan pria tampan tersebut di dalam sana.
__ADS_1