Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Seuntai pesan dari sahabat


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Setelah selesai pemotretan, Bara dan Stevani mendapatkan banyak ucapan selamat atas hubungan mereka. Keduanya yang awalnya bingung akhirnya mengikuti kebohongan akibat ucapan Jundi.


"Selamat ya, secepatnya pasti kalian akan menikah!"


"Benar, aku akan menantikan undangan kalian."


"Iya aku setuju, jika kalian menikah kami akan datang bersama rombongan hari ini."


Begitulah kiranya ucapan para crew kepada kedua insan yang sebenarnya orang asing, "Terima kasih." hanya kalimat itu saja yang dapat mereka ucapkan.


Bara berjalan mengikuti crew untuk mengganti pakaiannya dengan jas yang dia kenakan sejak awal, tetapi kedua netranya liar memandangi area pemotretan. "Di mana asistenku?" Tanya Bara.


"Oh, saya tidak tahu Tuan. Sepertinya sudah pergi sejak tadi." Jawab seorang crew jujur.


Bara mengepalkan tangannya kesal, "Lihat saja nanti Jundi, akan aku buat kamu menjadi perkedel." Geramnya.


Di sisi lain, Yona membantu Stevani untuk berganti pakaian casual karena pemotretan hari ini telah selesai. Yona membantu melepaskan beberapa hiasan rambut dan juga make up yang cukup tebal di wajah cantiK Stevani.


"Stev." Panggil Yona pelan.


"Apa?" Jawab Stevani dengan bermain sosial media.


"Apa benar kamu berpacaran dengan Tuan Bara?" Tanya Yona pelan.


Stevani mengangkat pandangannya ke arah cermin, hingga pandangan itu bersibobrok dengan kedua mata bening Yona. Wajah yang datar kini berubah karena tertawa "Kamu percaya? Oh ayolah Yon, aku selalu bersamamu hampir 24 jam bagaimana aku bisa berkencan dengan pria magpie jika aku saja baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu karena masalah koper." Jelas Stevani dengan masih tertawa.


"Haha, iya benar juga. Aku terlalu kaget tadi." Ucap Yona dengan tertawa kaku.


Stevani masih menatap Yona yang kini mulai menyingkirkan gaun-gaunnya dengan tatapan yang sulit di artikan, tapi itu hanya sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan dan terseyum tipis.


Berbeda dengan Bara dan Stevani, saat ini seorang pria tampak tergesa-gesa memasukkan pakaiannya ke dalam koper miliknya. Dia bahkan membuka dan melemparkan barang pribadinya, tumpukan yang menggunung di tengah koper dia ratakan tanpa peduli apakah itu pakaian kotor dan bersih, apakah nanti akan kusut atau rusak.

__ADS_1


"Aku harus segera melarikan diri." Ucap Jundi.


Jundi langsung berlari dari istana Alhambra dengan menaiki taxi, dia telah melakukan kesalahan fatal karena terlalu kaget dan tidak ingin menyimpan untuk dirinya sendiri. Sialnya dia mengirimkan kepada Kakek Santosa, dia baru tersadar melakukan kesalahan saat Paman L menelfon menanyakan kebenaran foto tersebut.


"Sial ... sial ... bukan hanya mulutku yang sampah tetapi tanganku juga. Bara akan benar-benar membunuhku jika tahu hal ini, aku harus menyelamarkan diriku sendiri masa bodoh dengan liburan. Liburan ini sudah berakhir dengan bencana." Umpat Jundi pada dirinya sendiri.


Jundi segera menyeret kopernya dengan wajah yang was-was, tampak dia menyembulkan kepalanya ke luar untuk melihat apakah Bara sudah sampai kembali di hotel. Melihat kondisi aman dengan tergesa dia keluar menuju lift. Tidak membutuhkan waktu lama, Jundi telah sampai di lantai satu lantas dia menyambangi bagian resepsionis untuk membalikkan kunci.


"Nona, aku ingin chek out malam ini." Ucap Jundi cepat.


"Baik, akan ada petugas kami yang mengecek kamar anda." Jawab resepsionis dengan memegang telfon.


"Urus nanti saja, sekarang cepat proses chek outku. Jika ada barang yang hilang ataupun rusak tidak perlu khawatir karena bosku masih tidur di sini." Cegah Jundi dengan wajah yang menoleh ke kanan dan ke kiri.


Setelah perjuangan Jundi meyakinkan pihak hotel akhirnya Jundi bisa keluar juga dari kandang singa, "Aku harus pergi dulu dari sini." Gumamnya.


Jundi menaiki taxi yang berada di dekat hotel, selama di perjalanan yang belum tentu arah dia membuka aplikasi untuk memesan tiket pesawat untuk kembali pulang "Sial, kenapa saat genting malah penuh semua!" Teriak Jundi dengan nada tertahan.


"Sir, tolong berhenti di salah satu hotel tapi bukan yang tadi." Ucap Jundi kepada sopir.


"Sir! Come here, please." Serunya.


Bara tambah kesal saja karena dia ingin segera menemui Jundi harus terjeda oleh petugas hotel, dengan wajah datar nan dingin dia berjalan menuju resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bara.


"Apakah benar anda Bara Green Smith Santosa?" Tanya petugas resepsionis dengan menatap gambar.


Bara hanya berdehem, "Ini ada titipan untuk anda tuan, maaf sudah mengangguk. Selamat beristirahat." Ucap resepsionis.


Bara menaikkan sebelah alisnya hingga menukik tajam, terlihat fotonya yang tengah melakukan rapat. Dengan cepat Bara membalikkan fotonya hingga membaca tulisan orang yang sudah membuat kekacauan hari ini.


Untuk Bara sahabat dan atasanku,

__ADS_1


Maafkan sahabatmu yang ceroboh ini, tapi yakinlah tidak ada niatan apapun di dalam hatiku.


Aku benar-benar meminta maaf untuk hari ini.


Semoga kamu memakluminya.


Satu lagi, tolong bayar tagihan snack yang aku bawa dari dalam hotel.


Dari sahabat tercintamu Jundi


"Jundi!" Geram Bara yang meremat fotonya.


Bara mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, mencari kontak asisten sekaligus sahabatnya, dan menghubunginya. Dia mencoba menghubungi dua kali tapi tidak ada jawaban hingga yang ketiga kali mendapatkan jawaban dari operator seluler.


"Sial, awas saja. Tidah hanya bergedel tetapi akan aku buat geprek level 10!" Gerutu Bara yang melangkahkan kakinya meninggalkan meja resepsionis.


Sudah dua hari Jundi menginap di hotel yang agak jauh dari tempat Bara menginap, dia bahkan tidak berani menyalakan ponsel miliknya karena sempat mendapatkan panggilan masuk dari sahabatnya itu.


"Bisa gila aku jika tidak bermain ponsel, tapi bagaimana jika Bara menerorku lagi." Monolog Jundi dengan merebahkan dirinya di atas kasur.


"Masa bodo, Jun! Kamu harus menghadapinya, ingat masih ada Kakek Santosa yang akan melindungimu." Jundi meyakinkan dirinya dan menyalakan ponsel dengan logo buah.


Ponselnya terus berbunyi, banyak pesan masuk entah melalui chat, email, dan beberapa panggilan tidak terjawab. Hingga nada ponsel berubah membuat Jundi memegang dadanya karena berdebar dengan cepat "Jangan takut ... jangan takut." Gumamnya pelan.


Ketakutan Jundi berubah bingung, saat mendapatkan panggilan dari salah satu pengawal Kakek Santosa yang berada di mansion. Dia segera duduk dan mengangkat panggilan.


"Tuan! Kenapa anda tidak bisa di hubungi, saat ini Tuan Santosa tengah masuk Rumah Sakit di Korea, segera terbang ke sini karena keadaannya ...."


"Bagimana keadaannya, hah! Jawab!" Sentak Jundi menggelegar.


"Tuan segera saja datang bersama Tuan Bara, jika sudah sampai di Korea segera hubungi saya."


Panggilan terputus begitu saja membuat Jundi marah, dia mencoba menghubungi nomor pengawal Kakek Santosa tapi nihil tidak ada jawaban apapun.

__ADS_1


"Breng*sek!"



__ADS_2