Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Bibit bucin junior


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Sayangku, mentariku, cintaku... Kenapa kamu masih di atas tempat tidur?" Ucap Bara dengan nada manja, ceria, tapi berakhir wajah bingung.


Melihat Stevani yang masih tiduran, jangankan untuk gosok gigi. Cuci muka sepertinya juga belum.


"Aku malas sekali hari ini sayangku." Jawab Stevani dengan suara manja nan centil.


"Apakah perlu aku pulang?" Tanya Bara dengan suara seperti perempuan dengaj kedua mata berkedip cepat.


"Tidak, tidak perlu. Bisakah kirimkan asinan buah atau acar?" Jawab Stevani dengan wajah tak kalah lucu.


Bara yang melihatnya menjadi gemas, ingin dia berlari pulang, dan menggigit pipi istrinya yang terlihat tembam akhir-akhir ini.


"Aku akan kesupermarket jika begitu, ingin asinan dan acar apa sayangku?" Tanya Bara dengan suara yang masih manja.


Stevani berfikir sejenak, "Semua! Aku ingin semua asinan buah dan acar yang ada di toko masing-masing satu jenis." Jawab Stevani dengan tersenyum senang.


"Baiklah, suamimu akan segera berbelanja." Kata Bara dengan wajah yang di buat seiumut mungkin.


"Hem, hati-hati suamiku." Ucap Stevani dengan di akhiri memberikan flying kiss.


Bara mengakhiri video call dengan istrinya, kedua kakinya menghentak-hentak cepat karena gemas dengan Stevani.


Dia kaget, lantaran saat berbalik masih ada Jundi yang tengah melihatnya dengan wajah datar nan dingin.


"Bucin." Ucapnya yang berlalu dari ruangan Bara.


Bara hanya mendengus kesal tapi dia acuh, mengingat istrinya tengah menyuruhnya untuk berbelanja. Lebih tepatnya, dia yang menawarkan diri.


Dengan langkah lebar dan wajah datar, Bara berjalan menuju lantai satu. Para karyawan yang segan kepada atasannya hanya mampu menundukkan kepala.


Petugas keamana yang melihat Bara segera membukakan pintu mobil untuk atasannya, perlahan mobil itu bergerak meninggalkan perusahaa setelah Bara masuk ke dalam mobil.


"Supermarket yang lengkap."


Sopir segera melajukan mobilnya dengan cepat saat mengerti tujuannya, tidak membutuhka waktu lama mobil yang di tumoangi Bara telah sampai di supermarket terbesar dan terlengkap.


Bara masuk dengan membawa troli besar, bertanya kepada petugas di mana letak makanan yang difermentasi.


Melihat barang yang dia cari, dengan seramopangan Bara mengambil semua asinan entah pedas ataukah yang biasa, makanan yang lainnya tidak luput dari ulahnya sehingga penuh satu troli berisi makanan.


Kasih yang melihatnya hanya kaget, dengan cepat menghitung belanjaan milik Bara. Lima kantong besar kini sudah memebuhi mobil.


Mobil kembali bergerak menuju mansion Smith, dengan wajah cerah, Bara melangkah masuk dengan di ikuti beberapa pelayan yang membawa kantung belanjaan.


"Taruh semua di meja makan, tata dengan rapi, dan cepat." Ucap Bara yang kemudian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Stevani yang masih rebahan dengan kepala yang menjuntai ke bawah menoleh saat mendengar knop pintu di putar, sepatu pantofel berwarna hitam yang dia lihat berjalan mendekat.

__ADS_1


"Sayang, kenapa seperti itu." Ucap Bara yang duduk lesehan di lantai.


Stevani sedikit memiringkan tubuhnya dan mencium bibir Bara tanpa aba-aba.


"Apa kamu menginginkannya, aku siap." Ucap Bara yang langsung melepas jasnya.


Stevani berguling dengan wajah kesal, "Bukan, aku hanya merindukanmu bukan menginginkan itu." Jawab Stevani to the point.


Bara memasang wajah BT, dia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum menutupnya dia berkata "Pesananmu berada di meja makan."


Stevani menatap suaminya bingung, kenapa akhir-akhir ini Bara mudah sekali merajuk. Tapi, dia tidak peduli. Stevani langsung keluar dari dalam kamar menuju lantai satu.


Dengan cepat menuruni anak tangga karena dia benar-benar ingin memakan yang asam-asam, bahkan air liurnya sudah memenuhi mulut.


Stevani kaget karena seluruh meja makan yang berukuran panjang nan luas itu penuh dengan berbagai macam makanan fermentasi, coklat, makanan ringan.


"Ini semua dari Bara?" Ucapnya pelan.


Maid yang mendengarnya mengangguk, "Benar Nona, ini belanjaan Tuan Bara." Jawabnya.


Stevani yang mendengar suara suaminya segera menoleh, "Bagaimana, apa kamu suka?" Tanya Bara dengan suara lembut.


Stevani memasang wajah seperti anak kucing, dia berlari dan langsung meloncat ke arah Bara, membuat Bara sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung tubuh Stevani sangatlah ringan untuknya.


"Tentu sangat sangat suka! Terima kasih." Jawab Stevani dengan riang.


Stevani seperti anak koala, kedua tanganya menangkup pipi sang suami dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil ke seluruh wajah Bara.


Kini Stevani, Bara, dan Kakek Santosa tengah berkumpul di meja makan. Kedua pria itu hanya mampu melihat Stevani yang memasukkan berbagai jenis makanan fermentasi ke dalam mulutnya.


"Apa tidak asam, sayang? Jangan banyak-banyak nanti perutmu sakit." Tanya Bara dengan khawatir.


Stevani hanya menggeleng, dia malah memberikan kedua jempol tangan ke arah suaminya, dan melanjutkan makan.


"Apa kamu hamil, Stev?" Tanya Kakek Santosa yang membuat Stevani tersedak.


"Tidak Kek." Jawabnya cepat.


Kakek Santosa hanya mengamati perubahan sang cucu menantu, "Setelah ini kalian periksalah ke dokter kandungan." Ucap Kakek Santosa kembali.


"Jika hamil seharusnya Stevani muntah-muntah, tetapi tidak kek." Timpal Bara yang sedikit tahu kondisi ibu hamil.


"Tidak setiap ibu hamil harus muntah-muntah, Bara. Bisa jadi kamu besok yang ngidam seperti Kenan." Kata Kakek Santosa dengan senyum yang entahlah.


Otak Bara perputar mengingat bagaimana menderitanya Kenan saat mendapatkan pembalasan dari anak dalam kandungan Alice, "Hahaha, Bara tidak kejam sepertinya. Tidak mungkin anakku akan seperti itu." Jawab Bara dengan keyakinan tinggi.


"Siapa tahu, segeralah kalian periksa." Kakek Santosa tetap kekeh dengan keyakinannya.


"Tunggu Stevani habiskan ini dulu, Kek." Jawabnya dengan cepat memasukan manisan buah.

__ADS_1



Kini keduanya telah sampai di Rumah Sakit, keduanya berjalan masuk ke bagian administrasi untuk menanyakan sekaligus membayar uang pendaftaran.


Stevani ingin seperti yang lainnya, tidak ingin menggunakan kekuasaan Bara di negara tersebut.


Dengan tenang keduanya duduk di kursi pasien untuk menunggu antrian, selama menunggu Bara dan Stevani banyak berbincang-bincang.


"Jika benar hamil, bagaimana?" Tanya Stevani kepada Bara.


"Bukankah bagus, kamu di rumah ada temannya dan kita bisa membuat anak selanjutnya." Jawab Bara enteng.


Stevani mencubit lengan suaminya dengan kesal, "Mesum saja kamu ini, seharusnya kita memberi jeda sekitar lima tahun dulu untuk anak kedua." Kata Stevani mengeluarkan idenya.


"Tidak bisa, kita keburu tua sayang. Lebih baik selang satu atau dua tahun saja, nanti kita menggunakan babysister." Bara menolak ide dari istrinya.


Stevani yang ingin menjawab diurungkan niatannya, karena namanya di panggil oleh perawat. Segera keduanya beranjak dari kursi berjalan masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


Dokter yang melihat kedatangan pasangan fenomenal menyunggingkan senyum ramah seperti pada pasien umumnya.


"Silahkan, Nyonya dan Tuan Bara. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya dokter dengan ramah.


"Saya mau memastikan, apakah benar saya hamil atau tidak dok." Jawab Stevani dengan cepat.


"Sebelumnya apakah sudah pernah mengetesnya sendiri?" Tanya dokter kembali.


Stevani menggeleng, "Baiklah Nyonya, silahkan naik kebatas brangkar saya akan memeriksanya." Lanjut dokter kembali.


Stevani naik dengan di bantu oleh Bara, dokter menyingkap atasan Stevani sehingga memperlihatkan perutnya yang masih tampak rata.


Memberikan gel yang terasa dingin, kemudian dokter menaruh alat yang akan menampakkan isi rahim Stevani.


"Lihatlah Nyonya, ini ada dua dua kantung bayi. Selamat anda memiliki bayi kembar." Ucap sang dokter dengan bahagia.


"Bayi? Kembar?" Beo Bara yang masih kaget.


Sedangkan Stevani sudah menangis, "Hiks, kenapa harus kembar apa tidak bisa satu-satu." Ucapnya.


Dokter agak kaget karena mendapati valon ibu yang agak lain daripada yang lain.


"Makhsudku, aku ingin melahirkan anak satu persatu dengan jeda lima tahun. Ingin fokus gitu dok." Stevani menjelaskan dengan terisak.


"Nyonya bisa kembali hamil setelah melahirkan bayi kembar ini." Jawab dokter dengan bercanda.


"Sayang!" Seru Stevani yang melihat Bara hanya melamun.


"E-eh.... "


"Kamu tidak bahagia ya?" Tanya Stevani yang mau kembali menangis.

__ADS_1


"Bahagia sayang, sangat! Aku hanya kaget karena memiliki bayi kembar, berarti aku akan menjadi Ayah si kembar?" Ucapnya panjang lemar.


Stevani mengangguk, Bara menghujani ciuman-ciuman kecil ke seluruh wajah istrinya. Sedangkan dokter membersihkan gel dan menutup kembali pakaian yang dia singkap tadi.


__ADS_2