Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
CEO atau menikah


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Dua wanita kini keluar bandara dengan terburu-buru, seorang pengawal datang menghampiri saat melihat Nona Mudanya kembali, jepretan kamera sudah terbiasa mewarnai hari-harinya.


Kini Stevani dan Yona sudah masuk ke dalam mobil setelah menyapa beberapa wartawan yang selalu stan by di bandara untuk berjaga jika ada artis di bandara.


Meskipun dia bukan artis yang terkenal, tapi namanya cukup tersohor karena nama belakang Kristoff yanh tidak boleh dia sembunyikan atas permintaan kedua orang tuanya.


"Jalan!" Ucap Stevani cepat.


Selama di perjalanan Stevani lebih banyak diam, pikirannya kalut memikirkan keadaan sang ayah. Jika di pikir-pikir, ayahnya selama ini selalu sehat dan bugar kenapa secara tiba-tiba bisa jatuh sakit.


Memikirkan hal itu membuat kepalanya berdenyut, Yona yang berada di sampingnya hanya meliriknya sekilas saja. Dia mengerjakan apa yang perlu dia kerjalan.


"Batalkan semua pekerjaanku untuk satu bulan ini." Celetuk Stevani tiba-tiba.


Yona tentu kaget, "Iti tidak mungkim Stev, kita sudah menerima bayaran di awal bahkan sudah tanda tangan kontrak." Ucap Yona yang tidak setuju dengan permintaan sahabatnya.


"Akan aku bayar pinaltinya." Kata Stevani yang masih kekeh dengan semuanya.


"Stev, kamu tidak bisa seenaknya memutuskan kontrak seperti ini. Ini bisa merusak nama dan keluargamu, bagaimana bisa memutuskan kerjasama secara sepihak tanpa alasan yang jelas." Cecar Yona kepada Stevani.


Stevani menolehkan kepalanya ke arah Yona, "Laku aku harus bagaimana, aku tidak mungkim bekerja sedangkan ayahku jatuh sakit. Apa kamu pikir aku tidak memikirkan semua ini, aku sudah memikirkan sejak berada di dalam pesawat. Untuk apa aku mencemaskan pandangan orang lain, aku hanya butuh keluargaku bukan yang lain." Stevani berkata dengan penuh emosi dan penekanan kepada Yona.


Yona tersenyum getir mendengar ucapan Stevani, "Kamu memikirkan kekuargamu tapi tidak denganku? Apa kamu tidak tahu bagaimana aku berusaha memenuhi permintaan perusahaan agar selalu bekerjasama denganmu, Stev." Ucap Yona dengan bibir bergetar.


Stevani mengehla nafas panjang, "Maafkan aku Yona. Maaf ... kamu cancel saja semua pekerjaanku sampai ayahku sembuh setelah itu jangan terima job apapun lagi selama aku tidak menginginkannya." Jawab Stevani dengan menatap dia manik mata Yona.


Yona hanya diam membuang pandangannya keluar jendela, hatinya sedang bergemuruh karena amarah. Selalu seperti ini jika bersangkutan dengan keluarganya, dia yang akan kembali di salahkan jika ada apa-apa dengan Stevani.


Siapa yang menyalahkan? Tentu saja Nyonya Kristoff ibu dari Stevani. Selama ini Yona tidak pernah bercerita kepada siapapun termasuk sahabatnya sendiri.


Stevani memandang Yona sejenak dan ikut mengalihkan perhatiannya. Dirinya terlalu di liputi rasa khawatir sehingga terpancing emosi.


Menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil yang membawa Stevani dan Yona masuk ke mansion Kristoff.

__ADS_1


Tentu hal ini membuat kening Stevani dan Yona berkerut dalam, bahkan keduanya kini saling menatap seakan saling bertanya dan mencari jawaban.


Nyonya Kriatoff yang melihat kedatangan sang putri dari jendela kamar langsung berlari menuju suaminya yang tengah memoleskan sesuatu di bibir dan area matanya.


"Ayah! Stevani sudah datang, cepat berbaring." Ucap Nyonya Kristoff dengan suara tertahan.


Tuan Kristoff lantas berlari ke arah kasur dan merebahkan tubuhnya, memasang selimut setinggi dada, juga Nyonya Kristoff yang pura-pura sedih di samping sang suami.


Stevani segera berjalan masuk di ikuti Yona, keduanya berjalan menuju lantai dua di mana kamar orang tuanya berada.


Terdengar knop pintu di putar, membuat sepasang suami istri memulai dramanya.


"Hiks ... Sayang, kamu harus ke rumah sakit. Bagaimana jika Stevani pulang dan tahu kamu tidak mau di rawat, dia pasti akan marah." Kata Nyonya Kristoff dengan pura-pura menangis.


"Uhuk ... Uhuk ... Jika Mama diam saja, dia juga tidak akan tahu." Jawan Tuan Kristoff lirih seperti orang sakit pada umumnya.


Brak!


Pintu terbuka dengan kasar dan lebar, terlihat Stevani dan Yona sudah berdiri di ambang pintu kamar mereka.


"Stevani." Seru keduanya serentak.


"Ayah, kenapa bisa sakit seperti ini. Ayo kita ke rumah sakit ayah. Stevani akan libur kerja sampai ayah sembuh." Ucap Stevani yang masih memeluk Tuan Kristoff.


Nyonya Kristoff yang melihat sang suami kesusahan bernafas langsung memukul punggung anaknya dengan kencang sehingga gadis itu mengaduh kesakitan.


"Mama! Sakit." Ucap Stevani dengan wajah di tekuk.


"Dasar anak nakal, kamu tidak lihat ayahmu kesusahan bernafas karena ulahmu." Runtuk Nyonya Kristoff kepada sang putri.


Stevani hanya mencebik kesal dan mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur.


"Yona, duduk saja di sofa itu." Tunjuk Stevani di salah satu sofa di dalam kamar.


"Tidak, aku di sini saja." Tolak Yona sopan.

__ADS_1


Nyonya Kristoff hanya diam tanpa mengatakan apapun kepada asisten Stevani tersebut.


"Baiklah, terserah kamu saja." Putus Stevani yang tidak ingin memaksa Yona.



"Apa yang dokter katakan, Ma?" Tanya Stevani yang cemas dengan keadaan sang ayah.


"Ayahmu terkena demam biasa." Jawab Nyonya Kristoff berbohong.


"Apa ayah mainan air?" Tanya Stevani penasaran.


"Kenapa mainan air?" Ucap sang ayah dengan suara lemas di buat-buat.


"Karena ayah demam pasti kelamaan mainan air, apa perlu Stevani ganti saja kamar mandinya tidak perlu ada bathup biar ayah gak demam lagi?" Jawab Stevani memberikan solusi.


Mendengar ucapan anaknya membuat kedua orang tuanya pusing, sekali lagi Nyonya Kristoff memukul lengan putrinya dengan kencang.


"Apa sih ma, pukul-pukul." Gerutu Stevani.


"Ayahmu sedang sakit kenapa membahas kamar mandi." Geram Nyonya Kristoff.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Stevani bingung.


"Stev, bagaimana jika kamu mundur dari dunia hiburan?" Tanya Tuan Kristoff pelan.


"Jangan bilang ayah menyuruhku untuk menggantikan posisi ayah, big no! Biarkan saja Stevan yang menjadi CEO." Jawan Stevani dengam bersedekap dada.


"Jika begitu menikahlah." Lanjut Tuan Kristoff.


Stevani membulatkan kedua matanya menatap tidak percaya ke arah ayah dan mamanya, begitu juga Yona yang langsung mengangkat kepalanya karena kaget.


Tawa Stevani pecah, "Tidak! Stevani akan menikah jika ingin." Tolak Stevani lagi.


"Kami harus memilih Stevani Kristoff, menggantikan ayahmu atau menikah." Ucap Nyonya Kristoff menatap lekat ke arah putrinya.

__ADS_1


"Oh, ayolah mama. Stevani masih dua puluh lima tahun untuk apa menikah secepat ini." Rayu Stevani kepada sang Mama.


"Dengan mencium pria di sembarang tempat, bahkan kalian menginap satu hotel selama berada di Granada dengan kedok pekerjaanmu Stevani Kristoff." Ucap Nyonya Kristoff dengan melempar foto-foto yang sudah dia cetak sebelumnya di pangkuan Stevani.


__ADS_2