Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Akhinya punya cicit


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kakek Santosa yang tengah bersantai dengan memandangi langit yang kian redup dan berganti malam, di kejutkan dengan ponsel yang terus berbunyi.


Tangan kulit putih yang sudah keriput itu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, tertera nama Jundi di ponsel miliknua mengirimkan sebuah foto yang terlihat dari logo di dalam pesan.


Tanpa menaruh curiga, Kakek Santosa membuka pesan Jundi. Satu detik ... Dua detik ... Hingga suara menggelegar membuat seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri tempat Kakek Santosa.


"Ada apa, Tuan?" Tanya kepala pelayan mansion.


"Cepat hubungi kepala IT perusahaan untuk melacak siapa wanita yang sedang foto bersama cucuku!" Seru Kakek Santosa dengan wajah berbinar terang.


Kepala pelayan menerima foto yang di kirim melalui pesan singkat dan segera memghubungi bagian IT perusahaan untuk melacak wanita yang berada di dalam foto.





"Oh, Ya Tuhan! Akhirnya aku akan memiliki cicit!" Seru Kakek Santosa lagi yang terlampau bahagia.


Kepala pelayan bertepuk tangan dengan kabar bahagia majikannya, saat ini Kakek Santosa sudah tinggal di Eropa bersama Bara.


Kepala pelayan yang biasa di panggil Paman L sudah lama mengikuti Bara, dia sangat tahu bagaimana pria muda itu menghabiskan waktunya hanya bekerja dan bekerja. Bahkan dia mengira jika Bara tidak memiliki hawa naf*su kepada lawan jenis.


Tidak membutuhkan waktu lama, Paman L kembali setelah mengambil fax yang di kirimkan oleh para IT perusahaan BS Company. Kakek Santosa dengan antusias menerima dan membaca setiap kata di dalam kertas itu.


Identitas dan sepak terjang seorang Stevani Kristoff sudah berada di tangan Kakek Santosa, senyum pria tua itu mengembang sempurna karena calon menantunya tidak memiliki scandal selama menjadi selebgram hanya beberapa kali di gosipkan berkencan dengan beberapa pria tapi tidak terbukti sampai saat ini.


"L, ayo kita terbang ke Korea sekarang!" Ucap Kakek Santosa yang berjalan meninggalkan Paman L dengan tertawa renyah.


Paman L segera memerintahkan dua pelayan untuk membantu mengepak pakaian Kakek Santosa selama pergi ke Korea.

__ADS_1


Dia juga meminta beberapa pengawal untuk mengikuti mereka terbang ke Korea, saat ini Kakek Santosa sudah tidak memiliki asisten lagi seperti saat menjabat sebagai CEO.


Semua beban sudah di lepaskan Bara dari pundak sang kakek, dia yang mengemban tanggung jawab untuk memajukan perusahaan yang dia rintis dan membahagiakan Kakek Santosa.


Kakek Santosa berjalan keluar dengan pakaian casualnya, senyum nya tidak pernah luntur sejak menerima foto dari Jundi. Bersamaan dengan itu Paman L juga sudah siap dengan satu koper di tangannya.


"Ayo, L. Kita berangkat." Ajak Kakek Santosa yang di anggupi kepala pelayan.


Dengan sigap pengawal membukakan pintu mobil agar majikannya masuk terlebih dahulu dan menutup pintunya.


Seorang pelayan wanita menyerahkan satu koper besar kepada salah satu pengawal agar di masukkan ke dalam bagasi mobil, sedangkan Paman L duduk di bangku depan dengan sopir.


Perlahan mobil mewat berwarna hitam berjalan meninggalkan area mansion Bara untuk menuju ke bandara Berlin, beruntung masih ada kursi kosong untuk jadwal malam ini.


Tiga mobil mewah menembus jalanan malam hari di negara Eropa menuju bandara Berlin, kemungkinan rombongan mereka akan sampai di Korea siang atau sore hari.


Membutuhkan waktu empat puluh lima menit lamanya, kini Kakek Santosa dan Paman L telah sampai di bandara. Dengan koper di bawakan oleh empat pengawal keduanya berjalan menuju penukaran tiket terlebih dahulu.


Kakek Santosa, Paman L, dan empat pengawal melakukan chek in sebelum masuk ke dalam pesawat.


"Tuan, istirahatlah. Jika telah sampai di Korea akan saya bangunkan." Ucap Paman L dengan sopan.


"Tentu saja L, aku sangat bahagia akhirnya melihat cucuku menikah sebelum aku meninggal." Jawab Kakek Santosa dengan penuh haru.


"Mohon jangan berbicara seperti itu, Tuan. Anda akan berumur panjang hingga dapat melihat cicit anda." Kata Paman L dengan sedikit menunduk.


Kakek Santosa tertawa pelan, "Maaf L, aku sungguh sangat bahagia sampai terbawa suasana. Aku hanya takut karena kecelakaan kedua orang tuanya membuat Bara trauma sehingga tidak ingin menikah." Jelas Kakek Santosa jujur mengeluarkan keluh kesah kepada kepala pelayan.


"Syukur, Tuan Muda sudah bertemu jodohnya." Kata Paman L dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Haha, benar. Aku sangat penasaran wanita mana yang dapat meluluhkan es balok itu, aku sempat tahu jika cucuku pernah mencintai istri dari cucu sahabatku. Aku bersyukur jika Bara masih dapat mengendalikan perasaannya dan aku juga berdoa untuk kebahagiaannya. Jikapun Bara mendapatkan seorang janda aku tidak masalah L, asalkan wanita itu mencintai cucuku dengan tulus sudah cukup bagiku." Ucap Kakek Santosa panjang lebar dengan air mata yang sudah jatuh dari mata tuanya.


Paman L hanya menunduk tidak ingin menimpali ucapan majikannya, dia takut jika semakin membuat pria yang ada di sampingnya saat ini semakin sedih dan akan drop lagi.


"Aku akan beristirahat L." Kakek Santosa kembali bersuara.


"Bail Tuan." Jawab Paman L.


Mereka berada di kelas satu sehingga tempat duduknya luas dan dapat tidur dengaj nyenyak, Paman L menaikkan pembatas atau skat pembatas kursinya dan kursi Kakek Santosa.





Setelah menempuh perjalanan yang cukup. Panjangdan melelahkan, akhirnya rombongan Kakek Santosa telah mendarat di Bandar Udara Internasional Incheon Seoul.


Kakek Santosa keluar dengan di ikuti Paman L dan empat pengawal yang berjalan di belakangnya. Dengan mengenakan tongkat kotam dengan ujung kepala naga, Kakek Santosa berjalan penuh wibawa.


"Tuan, kita akan ke hoter terlebih dahulu untuk beristirahan dan mempersiapkan kedatangan kita di kediaman keluarga Krostoff." Ucap Paman L sopan.


"Aku tidak lelah, kita datang hari ini juga.".Jawab Kakek Santosa menolak ide Paman L.


" Bukan begitu Tuan, sama halnya dengan budaya Indonesia bukankah di negara Korea juga memiliki kebudayaan untuk membawakan sesuatu saat berkunjung maupun melamar seorang gadis?" Tanya Paman L membuat Kakek Santosa menyerengitkan keningnya dalam.


"Benar juga, jika begitu kita berbelanja di Mall yang lengkap." Kakek Santosa akhirnya menyetujui usulan kepala pelayan.


"Baik, Tuan." Paman L siap menjalankan perintah.


Beruntung Paman L dapat beradaptasi dengan cepat untuk pekerjaannya saat ini semenjak Kakek Santosa datang ke Eropa. Dengan cekatan, Paman L menyiapkan segala sesuatu secara terperinci.


Kini mereka sudah keluar dari bandara menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu mereka, sopir yang melihat kedatangan Kakek Santosa dan rombongan segera memberi salam dan membukakan pintu.

__ADS_1


Mobil SUV hitam segera bergerak setelah semua siap, sedangkan di belakang mobil SUV ada satu mobil yang berisi empat pengawal yang di bawa oleh Paman L dari Eropa.


__ADS_2