
Happy Reading 🌹🌹
Sementara di dalam kamar Presidential Suites sayap kanan dengan luas 390 meter persegi dilengkapi dekorasi khas Paris. Tigat pria tengah duduk di sofa dalam kamar besar dan luas tersebut mereka tengah menunggu Bara yang sedang di make up oleh MUA.
Tidak membutuhkan waktu lama, Bara keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Mengenakan jas hitam dengan kemeja putih, sepatu pantofel terbuat dari kulit berwarna hitam mengkilat, rambut tertata rapi karena mengenakan pomade, dan satu bunga kecil di sakunya yang senada dengan bucket bunga yang akan di bawa oleh Stevani.
Petugas butik dan MUA pamit undur diri dengan di angguki oleh Bara, dia berjalan ke arah kulkas kecil yang berisi air dingin, dan berjalan kearah sofa bergabung dengan yang lainnya.
"Wah, kamu bisa gugup juga." Ejek Jundi kepada sahabatnya.
Bara hanya menempekan botol dingin tersebut di salah satu pipi Jundi sebentar dan membuka tutup botol, meneguk air hingga setengahnya. Helaan nafas terdengar sangat berat di hembuskan oleh Bara.
Kakek Santosa dan Paman L hanya menatap Bara yang membuang pandangannya di luar jendela, "Ayo turun." Ajak Kakek Santosa kepada sang cucu.
Bara melihat ke arah jam tangannya, masih ada waktu satu jam sebelum acara pemberkatan. Bara kembali meneguk sisa air mineral di dalam botol kemanas dan meletakkan begitu saja di atas meja.
"Ayo kek," ucapnya.
Ke empat pria dengan mengenakan pakaian jas rapi segera berjalan keluar dari kamar menuju lift yang akan membawa mereka ke ruang acara. Semuanya masuk ke dalam lift tanpa terkecuali, tidak membutuhkan waktu lama semua telah sampai dii depan ruangan acara.
Kakek Santosa duduk di kursi roda dengan di bantu Paman L yang mendorongnya, mereka semua masuk ke dalam gedung tampak sudah cukup banyak tamu yang datang. Tamu undangan dari dua keluarga, baik kolega dari Kakek Santosa dan Bara maupun kolega dari Tuan Kristoff dan Stevani.
Tuan dan Nyonya Kristoff yang melihat kedatngan Bara dan rombongannya segera berpamitan kepada rekan kerja yang tengah berbincang, mereka berjalan menuju rombongan Bara.
"Tuan." Sapa orang tua Stevani kepada Kakek Santosa.
"Panggil saja Kakek Santosa, kita sebentar lagi akan menjadi besan. Hahaha," jawab Kaakek Santosa yang di akhiri tawa.
"Bagaimana perasaanmu, Bara? Aku berharap kamu tidak salah saat mengucapkan janji suci nanti." Kata Tuan Kristoff kepada calon menantunya.
Bara hanya mengulas senyum simpul dengan menerima uluran tangan calon ayah mertuanya, "Mama ke kamar Stevani dulu ya." Ucap Nyonya Kristoff berpamitan kepada keluarganya yang tengah berkumpul.
Melihat kepergian istrinya, Tuan Kristoff berinisiatif mengajak calon suami dan keluarganya untuk duduk di salah satu meja yang dekat dengan altar. Jundi tampak tengah mencari-cari sesuatu membuat Paman L menyenggol dengan sedikit menyikut lengannya.
"Siapa yang kamu cari?" Tanya Paman L.
"Ekm, tidak ada. Aku hanya melihat apakah ada makanan yang enak." Jawab Jundi dengan cengir kudanya.
"Sejak kapan kamu memikirkan makan, apa jangan-jangan ada gadis yang sedang kamu taksir?" Tanya Paman L menggoda.
"Ti-tidak, aku pria yang sangat sibuk Paman." Jawab Jundi sedikit gelagapan dan langsung berjalan menuju stand makanan meninggalkan Paman L yang tengah menahan senyum.
Kakek Santosa yang mendengarkan pembicaraan keduanya hanya tersenyum tanpa berkomentar, jika Jundi menyukai wanita di negara ini. Dia sangat siap untuk menikahkan mereka saat ini juga agar kedua pria yang selalu gila kerja tersebut dapat hidup bahagia dengan pasanganny masing-masing.
Semuanya tengah berkumpul untuk mengobrol untuk mengakrabkan diri, bagaimanapun mereka akan menjadi satu keluarga. Ketiga pria dengan jas warna senada mengobrol perihal bisnis di Korea dan Eropa, sedangkan Paman L dengan setia mendengarkan hanya sesekali dia menjawab jika di tanya.
Di sisi lain, Nyonya Kristoff berjalan menuju lift dengan menyapa beberapa tamu yang baru saja datang dan dia temui sepanjang jalan, sejenak dia berdiri seorang diri menunggu pintu lift terbuka dan saat akan masuk Nyonya Kristoff mengurungkan niatannya dia menoleh ke arah kanan karena merasa ada seseorang yang berjalan menuju ke arahnya.
"Apa hanya perasaanku saja." Ucap Nyonya Kristoff pelan.
Nyonya Kristoff melanjutkan perjalanannya yang akan ke kamar Stevani, dia masuk ke dalam lift seorang diri. Seseorang mengenakan hodie berwana putih sedikit mengintip dari tempat persembunyiannya. Melihat kondisi sekitar, dia memutuskan untuk pergi dari hotel tersebut dengan berjalan cepat.
__ADS_1
Dengan mengulas senyum kecil, Nyonya Kristoff dengan sabar menunggu lift mengantarkannya sampai di tempat tujuan. Setidaknya dengan pernikahan Stevani, dia akan pergi meninggalkan Korea sehingga Nyonya Kristoff dapat fokus mengurusi anak laki-lakinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nyonya Kristoff kini telah dengan langkah kaki yang tampak tergesa-gesa dia melangkah menuju kamar presiden suite di mana Stevani berada.
Sauara knop yang berputar dan pintu terbuka membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan mengalihkan atensi mereka. Melihat kedatangan Nyonya Kristoff sontak membuat semua orang segera menundukkan kepala memberi hormat kecuali Stevani yang melihat bayangan Mamanya di cermin membalas sapaan orang lain.
Wanita yang sudah cukup berusia senja itu berjalan dengan anggun menggunakan pakaian tradisional Korea yaitu Hanbok atau Choson-ot, pakaian yang terinspirasi dari Hanfu (pakaian Ttradisional Cina kuno) dengan garis pada umumnya memiliki warna yang cerah dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki satu warna. Hanbok biasanya di pakai saat acara formal maupun semi formal dalam sebuah perayaan atau festival.
"Cantik sekali putriku." Ucap Nyonya Kristoff dengan memegang pundak Stevani.
Stevani hanya tersenyum dan menoleh ke arah Mamanya, "Apakah akan di mulai, Ma?" Tanya Stevani.
"Satu jam lagi, oh apakah ini sudah selesai?" Tanya Nyonya Kristoff kepada MUA.
"Sudah Nyonya." Jawabnya.
"Ayo kita turun dan menunggu ke ruang pengantin mempelai perempuan." Ucap Nyonya Kristoff kepada semuanya.
Stevani beranjak dari duduknya dengan tangan kiri menggandeng tangan kanan Nyonya Kristoff, keduanya berjalan keluar dari dalam kamar yang luas tersebut menuju ruang penunggu pengantin wanita, dengan di bantu beberapa pegawai butik Stevani turun dari atas kebawah.
Beruntung lift yang di gunakan untuk kamar presiden suite sangat luas sehingga maut untuk lima orang dengan Stevani yang mengenakan gaun bak putri kerajaan, tidak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai di lantai yang di tuju segera mereka berjalan keluar menuju ruang tunggu pengantin wanita.
Di ruang tunggu terdapat satu kursi panjang dengan di kelilingi bunga-bunga segar berwarna putih seperti di ruang utama, di sana juga terdapat beberapa furniture untuk menambah ruangan menjadi cantik, tak lupa lampur kristal yang menggantung di atas langit-langit.
Para tamu undangan dapat menengok pengantin wanita di ruangan tersebut meskipun hanya sekedar berfoto maupun mengucapkan selamat, di sana Stevani hanya di temani oleh Mama dan orang-orang yang membantunya dalam bersiap-siap.
Tidak ada brismade seperti pengantin yang lainnya, Stevani termasuk orang yang pemilih dalam berteman dia hanya dekat dengan Yona tetapi sahabatnya itu tidak muncul-muncul juga selama beberapa hari ini. Membuatnya sedih dan khawatir secara bersamaan.
Melihat wajah anaknya yang tampak murung membuat Nyonya Kristoff duduk di dekatnya, "Ada apa?" Tanyanya.
"Benarkah? Apa sudah kamu coba hubungi?" Tanya Nyonya Kristoff.
Stevani mengangguk pelan dan menghela nafas kasar, "Jangan di pikirkan, Mama akan menyuruh orang untuk mengecek ke rumahnya hari ini. Kamu harus tersenyum karena hari ini adalah pernikahanmu." Ucap Nyonya Kristoff lembut dengan menepuk punggung tangan putrinya.
Para tamu undangan sudah memenuhi ruangan yang akan menjadi saksi dua anak manusia mengikat janji suci di depan pemuka agama. Tidak hanya dari kalangan bisnis saa tetapi juga beberapa artis papan atas menghadiri pernikahan Stevani dan Bara.
Bagaimanapun Stevani bekerja di dunia hiburan, dia mengundang beberapa artis yang sempat bekerjasama dengannya. Para awak media berlomba-loba mengabadikan moment saat para tamu undangan keluar dari dalam mobil dan berjalan di red carpet yang sudah di sediakan oleh pemilik acara.
Tidak perlu di pungkiri lagi, jika kedua keluarga konglomerat mengadakan pernikahan anaknya pastilah sangat meriah dan mewah. Beberapa dari mereka meminta artis maupun pembisnis ternama untuk memberikan ucapan kepada pengantin.
"Selamat untuk Stevani, semoga kita bisa bekerjasama lagi di masa depan!"
"Selamat Stevani dan Bara, hiduplah bahagia dan sehat selalu."
"Selamat Bara dan Stevani semoga aku segera menyusul kalian, mungkin lewat awaca televisi ini aku menemukan jodohku." Ucap Jundi yang tidak sengaja di cegat oleh seorang wartawan.
Para awak media dan beberapa tamu yang mendengarkan ucapan Jundi sontak tertawa, "Kami harap anda segera bertemu dengan pasangan anda sendiri tuan." Jawab salah satu dari mereka.
Jundi kembali berjalan masuk ke dalam ruangan karena mendapatkan telfon dari Paman L untuk memanggil mempelai perempuan bersiap-siap, dia hanya iseng berjalan-jalan keluar karena merasa bosan di dalam ruangan yang sudah penuh oleh tamu undangan.
__ADS_1
Segera Jundi menyampaikan pesan kepada penjaga, di sana sudah ada Tuan Kristoff yang berdiri di ambang pintu ruangan tertutup. Tampak pria tua itu tengah mengelap telapak tangannya mengenakan sapu tangan, hingga sentuhan lembut dari tangan Stevani membuatnya menoleh.
Stevani sudah berdiri di sampingnya entah sejak kapan, mungkin dia terlalu gugup untuk mengantarkan putrinya ke altar atau sedih karena dia tidak akan bisa lagi bercanda dengan Stevani.
"Jangan menangis, Ayah." Ucap Stevani tersenyum lembut ke arah Tuan Kristoff.
Tuan Kristoff segera mengusap air matanya dengan cepat, "Siapa yang menangis, Ayah hanya menguap beberapa kali akibat tidur terlalu nyaman. Akhinya gadis nakal sepertimu akan menikah." Jawab Tuan Kristoff berbohong.
Stevani hanya tertawa pelan, "Terima kasih ayah, karena sudah merelakan putri nakalmu ini kepada pria asing." Ucap Stevani dengan nada bercanda dan wajah sebal.
Tuan Kristoff hanya tertawa saja, hingga mereka kembali dengan sikap formal karena pernikahan akan segera di mulai. Sayup-sayup terdengar suara MC yang tengah membuka acara dan pintu yang lebar menjulang tinggi di buka perlahan membuat para tamu dan Bara menatap ke arah siluet di tengah pintu.
Perlahan siluet itu berjalan mendekat hingga terkena terang lampu ruangan, Stevani tampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang sangat pas dan cocok dengan lekuk tubuhnya seperti jam pasir, model sabrina, dan memiliki belahan dada yang cukup rendah tampak sexy.
Stevani dengan Tuan Kristoff berjalan perlahan menuju ke arah Bara, pria yang tampak gagah, dan tampan dengan jas hitam juga wajah tampannya. Para tamu undangan mengabadikan moment di saat Stevani berjalan di atas altar untuk di uanggah dalam akun media sosial mereka.
Kelopak bunga mawah yang berjatuhan mengiringi jalannya, yang di lempar oleh beberapa tamu undangan di kedua sisi panggung. Stevani melemparkan senyum cantikknya ke arah Barra yang di sambut dengan senyuman juga.
Jepretan kamera terarah ke arah altar di saat kedua pasangan sudah dekat, Tuan Kristoff menyerahkan tangan kiri Stevani ke pada Bara dengan mengucapkan "Bahagiakan anakku, buatlah dia menangis bahagia, jika di masa depan kamu sudah tidak mencintai putriku kembalikan dengan baik ke keluarganya."
"Baik, ayah." Jawab Bara.
Stevani yang mendengarkan ucapan sang ayah tak kuasa menahan tangis, meski pernikahan ini belum menumbuhkan rasa cinta di hari Stevani. Tetapi Stevani berprinsip akan membuat Bara mencintai dirinya dengan sepenuh hati dan jiwa.
Tuan Kristoff berjalan turun dari panggung untuk bergabung berasa istri dan anak laki-lakinya, sedangkan Bara dan Stevani kini sudah berada tepat di depan pemuka agama. Tampak tangan keduanya saling bertautan di depan dada dan menundukkan kepala, pemuka agama membacakan doa-doa yang di lanjutkan dengan membaca janji suci sesuai keyakinan mereka.
Hingga kini masuk sesi tukar cincin, seorang gadis kecil berjalan dengan membawakan sebuah kota berbahan bludru biru berbentu kotak. Bara mengambil salah satu cincin yang di sematkan pada jari manis Stevani dengan perasaan ragu, Stevani hanya memandang wajah pria yang sudah menjadi suaminya dengan bertanya-tanya hingga tanpa sadar Bara telah selesai menyematkan cincin tersebut.
Kini giliran Stevani yang menyematkan cincin ke jari manis Bara dengan yakin dan mantap. "Baiklah, jika kamu masih ragu aku akan membuatmu yakin Bara." Monolog Stevani dalam hati.
Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan yang megah dan luas tersebut, terlebih Jundi yang tersenyum dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
"CIUM!" Teriaknya tanpa sadar.
Meluhat atensi para tamu ke arahnya membuat dia malu dan kembali duduk, tapi tidak sampai di situ ternyata para rekan kerja kedua memperlai menyorakkan hal yang sama.
"Cium ... cium ... cium ...."
Membuat Bara dan Stevani tersipu malu, bahkan keduanya saling memandang dengan gerak gerik seperti anak ABG yang sedang PDKT.
Suara sorakan itu terus memenuhi ruangan pernikahan, hingga Bara dengan cepat membuat Stevani menghadap ke arahnya. Kini keduanya saling berhadapan, Stevani tampak gugup sama halnya dengan Bara. Tangan kekar itu merengkuh pinggang yang seperti jam pasir hingga tubuh mereka saling menempel.
Bara memiringkan kepalanya membuat Stevani berkedip cepat, "K-k-ka...."
Ucapan Stevani yang terbata dan belum selesai itu terhenti karena kecupan Bara, para tamu bertepuk tangan dan bersorak riang. Jiwa-jiwa anak muda Indonesia yang mendarah daging di diri Jundi bergejolak, dia bersiul beberapa kali karena dengan sadar Bara mencium wanita yang kini sah menjadi istrinya.
Cup!
__ADS_1
Suit ... suit ....!
Awwww....!