Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Menggoda


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Langit cerah berganti petang, bintang bertaburan memenuhi langit malam Eropa. Lampu-lampu gedung pencakar langit juga bangunan lainnya mempercantik pemandangan kota Eropa malam ini.


Stevani tengah berendam dengan wewangian yang dia beli sore ini, malam ini dia memiliki misi untuk menggoda suaminya.


Setelah berbincang dengan Kakek Santosa dan juga pernyataan Bara kemarin, membuat Stevani yakin jika dia akan hidup bahagia dengan suaminya.


Suara riak air terdengar saat Stevani mengangkat satu kaki kanan jenjangnya ke atas air, tangan mulusnya menelusiri kaki jenjangnya.


"Siapa yang tidak tergoda denganku, aku pastikan kami tidak akan tidur malam ini." Ucap Stevani lirih dengan tertawa pelan.


Stevani sudah banyak belajar dari internet untuk menggoda suami, bagaimana cara melakukan malam pertama meskipun dia bingung karena justru jurnal-jurnal kesehatan yang keluar.


Jikalaupun cara benar tidak mendapatkan apa-apa, makan Stevani menggunakan jalur pintas. Melihat film blue adalah jalanan ninjanya, bergidik ngeri setiap detik adegan yang dia lihat tetapi khayalannya melayang jika dia dan Bara yang melakukannya.


Dia berada di dalam kamar mandi sudah satu jam lamanya, hingga pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Stevani yang hanya mengenakan handuk sebatas dada, dan di atas lutut.


Dia melangkah menuju walk in closed, mengambil paper bag yang dia beli secara online sore tadi.


Senyum jail muncul karena sudah membayangkan bagaimana respon Bara nanti, "Apa dia akan menerjangku?" Gumamnya dengan tekikik geli.


Stevani lantas melepaskan handuk hingga teronggok di lantai begitu saja, mengenakan pakaian yang mengundang singa jantan untuk bertarung.


Mengambil handuk dan melemparkan ke dalam keranjang kotor di pojok ruangan, Stevani berjalan menuju mera rias menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi.


Membuka handul yang sejak keluar kamar dia gulung hingga menutupi rambut hitamnya, menyalakan hairdraiyer, dan mulai dia arahkan ke rambutnya yang masih tampak basah.


Sudah satu jam lamanya dia mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Bara, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Stevani masih duduk di sofa menunggu suaminya pulang.


Beberapa kali dia menelfon tetapi tidak di angkat, "Kemana sih dia." Gerutu Stevani dengan bibir maju beberapa inci.


Waktu terus berjalan, detik kemenit, menit kejam. Hingga bunyi pintu kamar utama terdengar, langkah lebar yang masih mengenakan pakaian lengkap seperti tadi pagi dia berangkat.


Berjalan masuk ke dalam kamar yang masih tampak terang, "Apa dia belum tidur." Ucap Bara pelan.

__ADS_1


Bara meletakkan tas kejanya di meja rias sang istri dan berjalan sambil melepaskan beberapa kancing jasnya.


Langkahnya terhenti saat mendengar benda jatuh, ternyata Stevani tertidur di atas sofa, dan menjatuhkan ponsel yang berada di genggamannya.


Bara tertegun sesaat, ternyata Stevani sangatlah cantik dari yang dia kira. Dia berjongkok agar dapat sejajar dengan tinggi sofa.


Memandang dengan lekat wajah cantik sang istri, kedua mata Bara juga menangkap pakaian yang di kenakan Stevani tapi melihat istrinya sudah tertidur dengan lelap Bara hanya dapat menghembuskan nafasnya panjang.


Dengan perlahan Bara menggendong sang istri secara bridal style, membaringkan di atas kasur dengan pelan, dan menyelimutinya.


Mengecup dahinya sejenak kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Kedua telinga Stevani menangkap suara gemericik air tetapi kedua matanya semakin erat berpelukan.


Di dalam kamar mandi Bara yang melihat pakaian Stevani memang benar memancing jantan untuk bertarung, tetapi rasa bertarung dalam diri Bara terkalahkan dengan rasa lelah yang sudah menderanya sejak mengerjakan dokumen-dokumen di perusahaan.


Hingga dia memutuskan untuk menyudahi acara mandinya, dengan mandi air dingin setidaknya dapat sedikit mengurangi rasa lelah dalam dirinya.


Bara keluar dari dalam kamar mandi da berjalan menuju walk in closed, mengambil satu stel piyama tidur yang biasa dia kenakan.


Kedua matanya melihat paper bag dan beberapa bungkus yang berserakan di atas meja, dia berjalan mendekat untuk melihat apa yang baru saja Stevani beli.


"Apa dia sudah siap untuk itu." Gumamnya pelan.


Sedetik kemudian Bara tersorak kecil, "Yes! Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan kantor. Bulan madu tidak buruk juga, bodo*hnya aku kenapa harus solo karir jika Stevani sudah siap." Gumamnya sendiri.


Dengan wajah secerah lampu bolam, Bara melangkah dengan ringan menuju kasurnya. Melihat Stevani yang masih terlelap dalam mimpi.


Bara menyusul, dia menggeser sang istri agar lebih dekat dengannya. Stevani membalas pelukan Bara meski dia tidur nyenyak.


Satu kecupan dia daratkan di dahi sang istri dan dengan gemas memeluk tubuh Stevani, "Hais, coba aku tidak lelah dan kamu tidak tidur sayang, pasti sudah aku makan habis malam ini." Ucapnya pelan.



"Aaaaaa! Sayang!"


Suara teriakan menggemparkan satu kamar di mansion Smith di pagi hari, burung-burung yang akan hinggap di ranting pohon terpeleset jatuh jika ikut mendengarkan teriakan itu.

__ADS_1


Stevani yang bangun lebih awal ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, tetapi saat dia berdiri di wastafel untuk cuci muka mulai membuka kedua matanya dengan benar.


"Kenapa merah-merah, apa aku alergi? Tapi, aku tidak salah makan." Ucap Stevani pelan.


Stevani meggosoknya dengan air tetapi tidak hilang, dia melihat bagian tangangan, dan wajahnya juga tidak ada bekas kemerahan seperti di dada juga lehernya.


Otak Stevani langsung bekerja dan berteriak, dia tahu jika ini bukanlah merah karena alergi tetapi gigitan hewan buas.


Bara yang mendengar teriakan Stevani hanya merubah posisi tidurnya saja dan menutup dengan bantal lainnya.


Stevani berjalan dengan wajah kesal, lantas naik ke atas kasur merebut bantal yang digunakan Bara untuk menutup telinganya.


"Bara! Bangun." Seru Stevani dengan wajah di tekuk dengan bibir maju.


Bara dengan rasa malas membuka kedua matanya, sedetik kemudian dia tersenyum karena melihat hasil maha karyanya tadi malam.


"Kenapa kamu tersenyum, huh! Kamu curang." Sungut Stevani dengan memukul suaminya dengan bantal yang masih berada di tangan.


Bara mencekal pergelangan tangan istrinya dan menariknya hingga jatuh di atas dada bidang, dia memeluknya dengan erat karena masih pagi sudah melihat wajah imut sang istri.


"Kenapa curang, hem?" Tanya Bara dengan suara khas bangun tidur.


"Kamu curang, aku menunggumu hingga tertidur. Bahkan aku sudah berdandan cantik tetapi kamu melakukan itu saat aku sedang bermimpi." Gerutu Stevani yang sangat tidak terima.


"Berdandan cantik untuk apa?" Tanya Bara lagi dengan tersenyum tipis.


"Untuk ma .... Aish sudahlah!" Stevani tidak jadi mengatakannya karena dia merasa sangat malu saat ini.


Bara menarik tubuh Stevani yang menjauh darinya, "Malam pertama?" Ucap Bara.


Blush


Semburat merah ada di kedua pipi keduanya saat ini tanpa mereka ketahui, keduanya terdiam satu sama lain karena merasa sesuatu getaran dalam diri mereka masing-masing.


"Sudah, ayo cepat bangun. Aku akan menyiapkan pakaian kerjamu." Stevani langsung bangkit dengan cepat dan berlari menuju walk in closed.

__ADS_1


Mendengar pintu walk in closed tertutup, Bara menungging dan memukul-mukul kasurnya dengan gemas. Dia sangat gemas dengan dirinya sendiri juga sang istri.


__ADS_2