
Happy Reading 🌹🌹
Di salah satu gedung pencakar langit, lebih tepatnya di ruang rapat yang biasanya di gunakan oleh para jajaran direksi untuk mengadakan rapat penting. Sudah banyak berkumpul para wartawan dan juga keamanan yang mengelilingi luar juga dalam gedung.
Tampak banyak wartawan menghadap ke layar laptop yang mereka bawa dan juga rekan mereka yaitu seorang kameramen yang akan mengabadikan moment penting dan menggemparkan tahun ini.
Di perusahaan Kristoff hari ini di gelar acara pers konfers terkait acara pernikahan anak mereka, namun semua belum di ketahui siapakan yang beruntung mendapatkan keturunan dari keluarga Krostoff. Apakah anak perempuannya yang terkenal wara wiri di berbagai majalah dan televise atau anak laki-lakinya yang jarang sekali muncul berita ataupun gossip tentangnya.
Setelah perbincangan semalam, orang tua Stevani langsung menghubungi calon besan mereka belum mengetahui jika Kakek Santosa benar-benar sakit padahal keduanya merencanakan hanya berpura-pura sakit.
“Halo, Tuan Santosa?” Ucap Tuan Kristoff di sebrang telfon.
“Halo, Tuan Kriistoff. Maaf ini saya pelayannya karena Tuan Santosa tengah ada keperluan dengan Tuan Bara.” Bohon Paman L.
“Wah, kebetulan. Putri kami sudah menyetujui pernihakan tersebut, kami akan menggelar pers confers yang di laksanakan di perusahaan Kristoff. Apakah kalian keberatan jika mengumumkan pernikahan ini?” Tanya Tuan Kristoff dengan sopan.
“Tidak, Tuan. Kami sangat setuju. Silahkan kirimkan jadwal dan alamat kantor, kami akan bertandang ke sana.” Jawab Paman L dengan sopan pula.
“Baiklah, terima kasih.” Ucap Tuan Kristoff yang langsung mematikan sambungan telfonnya.
Setelah menelfon calon besan segera Tuan Kristoff menghubungi asistennya untuk menyebar luaskan acara pers confers besok di mana dia akan mengumunkan pernikahan anaknya. Kaget? Tentu saja, asistennya selama ini tidak mengetahui jika keturunan keluarga Kristoff tengah berkencan dengan seseorang.
Hari ini lah waktunya, acara pers confers yang di gelar mendadak oleh Tuan Kristoff sudah di banjiri oleh awak media. Seakan semesta mendukung, cuaca di Korea Selatan juga sangat cerah bahkan awan tampak malu memperlihatkan dirinya sehingga memberikan warna biru bersih di langit dengan di temani sang mentari.
“Mama! Aku tidak ingin menikah dengan kakek-kakek.” Tangis Stevani masih terdengar di dalam kamar gadis tersebut.
__ADS_1
“Kami sudah terlanjur menerimanya, Stev. Mau di taruh di mana muka kami jika tiba-tiba kamu membatalkannya?” Jawab Nyonya Kristoff dengan sedikit kesal.
Tangis Stevani semakin pecah bahkan dia sudah luruh di atas lantai dengan memeluk kedua kaki Nyonya Kristoff, “Beri waktu Stevani untuk mencari jodoh, Ma. Stevani tidak mau menikah dengan pria yang patut jadi kakek Stevani.” Ucapnya dengan suara tidak jelas karena menangis.
“Kamu sendiri yang sudah setuju Stev, kami tidak memaksamu. Ingatkan ucapanmu semalam itu.” Kata Nyonya Kristoff mengingatkan.
Stevani hanya diam seri buahasa dengan tubuh yang sesekali masih terguncang akibat tangisnya, “Apa Stevani benar-benar tidak laku sampai bersuami kakek-kakek … aaaa hiks.” Tanya Stevani yang kembali memecahkan tangisnya.
Helaan nafas kasar terdengar, Nyonya Kristoff sudah tidak mampu menjawab ucapan putrinya. Karena Stevani type orang yang akan terus bertanya dengan hal yang sama sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan untuknya.
“Sudah! Segera berdandan dan kita akan pergi ke perusahaan.” Ucap Nyonya Kristoff memberi kode kepada Yona.
Yona mengangguk dan berjalan mendekat kea rah Stevani, “Ayo Stev, bagaimanapun ini sudah keputusanmu. Nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin kamu bisa lari sekarang.” Kata Yona dengan mengurai tangan Stevani yang masih memeluk kedua kaki Mamanya.
“Sudah jodohmu, Stev. Ayo daripada melihat Ayah dan Mamamu marah besar jika kamu tidak segera bersiap-siap.” Jawab Yona yang kini sudah menuntun Stevani di kursi meja rias.
Bagaikan patung tidak bernyawa, Stevani hanya duduk diam tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Yona mulai memberi make up di wajah cantik sahabatnya, menyembunyikan mata sembab jejak tangisnya.
Cukup lama Yona memoleskan make up di wajah Stevani hingga dia menepuk pundak sahabatnya karena terlihat linglung saat ini, “Stev!” Panggilnya.
Dengan rasa malas Stevani mengangkat pandangannya di cermin, entah kenapa make up hari ini sangat cantik dan berbeda dari biasanya. Sekilas ide gilanya muncul dan membuatnya menjadi bersemangat. Melihat perubahan sahabatnya itu membuat Yona was-was, segera dia membereskan semua make up yang berada di atas meja dengan cepat.
“Urungkan niatan gilamu, Stev! Aku sudah capek-capek mendandani mu tetapi mau kamu rusak, seumur hidup aku tidak sudi memberimu make up.” Cecar Yona dengan nada marah kepada Stevani.
Stevani hanya mencebik kesal dan beranjak menuju walk in closed, di mana pakaian yang harus dia kenakan sudah di sediakan oleh Mamanya. Terlihat satu gaun berwana merah muda dengan model sabrina, berlengan panjang, dan panjang dres di bawah lutut.
__ADS_1
Di atas meja perhiasan sudah terdapat satu set kota perhiasan, membuat Stevani menghela nafas yang panjang. Sungguh tidak main-main Nyonya Kristoff mempersiapkan hari ini.
Dengan rasa malas, Stevani berjalan mendekat kearah pakaiannya, dia tahu ini adalah pakaian dari sebuah butik ternama di negaranya yang belum di lounching untuk musim ini tetapi lihatlah, dia menjadi orang pertama yang memakainya.
Segera Stevani membuka kemejanya dan membuang ke sembarang arah untuk mengenakan gaun yang sudah di siapkan Mamanya, cukup lama dia memakai karena model dress tersebut sangat ketat di tubuhnya. Dia berjalan kearah kotak perhiasan, karena Stevani memang kurang suka mengenakan kalung, dia hanya mengambil anting dan cincinnya saja.
Yona yang berada di luar mengetuk pintu, “Stev! Apa perlu bantuan?” Tanyanya dengan suara sedikit kencang.
Tidak ada jawaban dari dalam hingga pintu walk in closed terbuka membuat Yona bernafas lega, Stevani sudah keluar dengan cantik bahkan dia kaget melihat gaun yang di kenakan Stevani. Tapi, bukankah hal yang wajar jika keluarga Kristoff mampu mendapatkan dress itu sebelum lounching.
“Ayo aku rapikan rambutmu.”Ajak Yona.
Stevani hanya berjalan saja dengan wajah datarnya dan mendudukkan kembali dirinya di kursi rias, dengan cepat Yona menyisir rambut hitam nan panjang milik Stevani. Yona hanya menyisir dan mencatoknya saja agar lurus karena model gaun yang di kenakan oleh Stevani sudah memperlihatkan leher jenjangnya dan pundak yang mulus tanpa cacat sedikitpun.
“Kenapa kamu memberiku make up yang cantik, rubahlah biarkan kakek itu tidak menyukaiku.” Stevani yang sejak tadi diam seribu bahasa mulai bersuara.
Sontak mendengar ucapan Stevani menghentikan gerakan Yona, “Bukankah setiap hari aku membuat make up cantik di wajahmu Stev, kenapa denganmu hari ini?” Tanya Yona dengan pandangan tidak suka kepada Stevani.
“Argh! Bisakah aku kabur, Yona?” Stevani frustasi.
“Jangan mencari masalah, Stev.” Yona memperingatkan sang sahabat.
Stevani ingin berkata harus di urungkan niatannya karena pintu kamarnya terbuka, Mamanya sudah berdiri di ambang pintu dengan dua pengawal di belakangnya membuat suasana kamar menjadi berbeda.
__ADS_1