Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Peristiwa Memalukan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mata Stevani seketika itu membulat, wajah cantik gadis itu semakin merona bagaikan sinar mentari pagi yang mulai menyinari bumi. Karena terkejut gadis itu hanya diam membisu tidak membalas ciuman yang suami, sementara Bara terus mencium bibirnya dengan antusias.


Suara teriakan Jundi kini terdengar tidak hanya sendirian, ada beberapa teriakan lain yang mengikuti teriakan dan siulan yang dilontarkan oleh Jundi.


"Cieee ... ."


"Lagi ... lagi ... lagi ... ."


"Suit! Suit!"


Mendengar teriakan dan siulan yang semakin ramai, Bara pun menjadi semakin bersemangat. Tangannya merengkuh pinggang ramping istrinya dengan semakin erat dan semakin memperdalam ciumannya, sementara Stevani yang sudah tersadar dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari pelukan Bara.


Bara yang merasakan pemberontakkan Stevani pun akhirnya melonggarkan pelukannya di tubuh langsing gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya itu, sehingga membuat Stevani dengan mudah melepaskan dirinya.


Setelah berhasil melepaskan diri dari Bara, Stevani pun gegas mengelap bibir sensual miliknya dengan gerakan sedikit kasar dan terburu- buru, hingga tanpa dia sadari hal itu memancing komentar dari sang pembawa acara.


"Aduh, Say. Jangan terlalu keras mengusap bibir seksinya, nanti kalau luka bagaimana?"


"Ya, gampang saja. Tinggal obati saja dengan ciuman maut milik Bara, pasti langsung sembuh, tidak usah menunggu hitungan menit atau hari," timpal sang pembawa acara pria.


Mendengar celetukan temannya itu, sang pembawa acara wanita pun melakukan sebuah aksi yaitu dengan berpura- pura


mengintip sang mempelai pria dari balik tubuh rekan kerjanya, seraya memasang mimik wajah terpesona melihat wajah tampan milik sang pengusaha muda itu.

__ADS_1


"Aduh ... udah deh, ye. Jangan terlalu halu, mana mungkin seorang pangeran berkuda yang tampan jatuh cinta pada putri abu- abu," celetuk si pembawa acara pria menggoda temannya.


"Putri abu- abu apa maksudnya, Bang?" Terdengar celetukan Jundi dari barisan pengiring pengantin pria.


"Putri abu- abu artinya putri jadi- jadian, Bang," jelas si pembawa acara pria yan langsung ditimpali dengan rentetan cubitan oleh gadis cantik di sebelahnya.


Jundi yang mendengar jawaban tersebut hanya meringis sambil bergidik ngeri dan geli membayangkan kebenaran ucapan pembawa acara pria yang dia dengar barusan.


Setelah puas saling melontarkan ejekan dan gurauan, kedua pembawa acara tersebut menyebutkan acara selanjutnya yaitu sebuah hiburan yang akan ditampilkan oleh salah satu grup penyanyi terkenal saat ini dari Korea Selatan, dan akan dilanjutkan dengan acara foto bersama antara kedua mempelai dengan keluarga, rekan kerja, sahabat, dan kolega.


Stevani yang merasa kehausan sejak tadi melambaikan tangannya ke arah sang asisten MUA yang berdiri tidak jauh dari panggung tempat pelaminan berada. Gadis cantik yang masih sangat muda itu bergegas mendatangi Stevani dan menanyakan apa yang diperlukan oleh sang mempelai wanita.


"Tolong ambilkan dua botol air mineral dan beberapa makanan ringan, aku merasa sangat lapar sekali. Perutku sudah keroncongan sedari tadi," pinta Stevani.


"Tidak, terima kasih. Eh, tapi boleh juga. Tolong ambilkan aku satu porsi kecil buah- buahan, ya. Terima kasih," ucap Bara sambil menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.


Gadis cantik itu mengangguk, lalu bergegas turun ke bawah panggung dan berjalan menuju ke sebuah stand makanan terbesar dan terlengkap yang diperuntukkan khusus bagi pasangan mempelai dan keluarga mereka.


Meskipun bertubuh mungil, ternyata gadis itu sangat cekatan dan sigap dalam mempersiapkan apa saja yang diminta oleh Stevani dan Bara kepadanya tadi. Tak perlu memakan waktu lama, semuanya sudah berhasil dia ambil dan sekarang dia tengah menuju ke atas panggung untuk menyerahkan semua pesanan Stevani dan Bara.


Stevani langsung menyambut dengan antusias saat gadis asisten MUA itu menghampiri dan menyerahkan semua pesanannya dan Bara. Dengan tidak sabar, Stevani bergegas membuka satu botol air mineral dan menandaskan isi botol itu sendirian tanpa menawari suaminya sama sekali.


"Eh, maaf. Aku lupa jika saat ini aku sudah mempunyai suami. Apa kamu mau?" tanya Stevani refleks seraya menyodorkan botol air mineral yang sudah habis isinya.


Bara tidak menjawab pertanyaan Stevani, hanya matanya yang menatap tajam dan dalam ke arah wanita yang baru saja sah menjadi istrinya beberapa menit yang lalu. Stevani merasa bingung dengan reaksi yang ditampilkan oleh Bara, suaminya.

__ADS_1


Dengan wajah ingin tahu dia pun bertanya, "ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah denganku? Atau kamu tidak mau minum dari bekasku? Kalau kamu merasa keberatan, ya, tidak masalah. Aku akan memberimu botol yang lain, ini."


Stevani menyodorkan botol air mineral yang masih utuh isinya, kemudian membuka kembali tutup botol air mineral yang masih berada di tangan kanannya dan bermaksud meminum kembali isinya, tetapi ... .


"Hei! Ini dimana isinya? Kenapa botol air mineral ini kosong? Apakah botol ini bocor?" tanyanya dengan wajah kebingungan.


Bara yang melihat tingkah Stevani hanya menyeringai. Gadis aneh, bukankah tadi dia sendiri yang meminum habis air mineral yang ada di dalam botol itu, kenapa sekarang malah bertanya di mana airnya? Ck, benar- benar konyol.


Asisten MUA yang melihat hal tersebut pun menjelaskan pada Stevani bahwa dia sendiri yang sudah menandaskan isi botol air mineral tersebut begitu botol itu sampai ditangannya. Mendengar penjelasan gadis tersebut, Stevani pun menggaruk- garuk hidungnya yang menjadi sangat gatal secara tiba- tiba.


"Maafkan aku, ya. Berarti aku tadi menawarimu botol minuman yang sudah kosong, ya? Pantas saja wajahmu sangat aneh begitu," ucap Stevani, wajah cantiknya tersipu malu menyadari kesalahannya beberapa menit yang lalu


Bara tersenyum dengan tingkah istrinya, kemudian berkata, "tidak apa- apa. Tidak masalah, sebetulnya aku mau saja berbagi minuman denganmu, tetapi ... ya, sekarang kamu sudah melihat sendiri bukan, botol itu sudah tidak ada isinya lagi. Tapi, tidak apa, masih ada satu botol air mineral lagi yang bisa kita minum bersama. Bagaimana?"


Stevani mengangguk sambil mengukir sebuah senyum termanis miliknya ke arah Bara. Untuk beberapa saat, mereka berdua terlarut dalam suasana, tak memedulikan keberadaan yang lainnya. Stevani dan Bara baru tersadar saat mendengar gadis asisten MUA itu berbicara kepada mereka berdua.


"Maaf, Nona, Tuan Muda. Sekarang saatnya sesi foto bersama. Yang mendapat giliran pertama adalah para pejabat yang menjadi kolega bisnis Tuan Bara, kemudian dilanjutkan dengan para pengusaha selaku kolega Tuan Bara, para klien dan kolega Stevani, kemudian para artis yang telah meluangkan waktu untuk datang ke mari, lalu berlanjut dengan sahabat Tuan Muda dan Nona, dan terakhir barulah keluarga dari Tuan Muda dan Nona," urai gadis berparas cantik yang sudah piawai menjadi asisten MUA.


Bara dan Stevani mengangguk, lalu sesuai dengan arahan sang asisten MUA dan asisten fotografer acara foto bersama pun dimulai. Acara foto bersama itu berjalan dengan lancar saat tiba- tiba ...


Kruuukk ...


Beberapa teman dan sahabat Bara yang saat itu mendapatkan bagian berfoto langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah Stevani yang memerah wajahnya karena malu. Ya, perutnya yang sudah menahan lapar sejak tadi rupanya mulai melakukan demonstasi.


__ADS_1


__ADS_2