
Happy Reading 🌹🌹
Tanpa banyak bicara dan membalas semua perkataan Stevani, Bara berjalan meninggalkan meja makan. Stevani yang ingat bila suaminya belum berkumur sehabis makan segera berlari sambil tangannya menyahut obat kumur yang selalu digunakan oleh Bara.
"Bara, tunggu!" teriak Stevani.
Bara yang sudah melangkah hampir sampai di depan pintu berhenti sesaat dan berbalik badan untuk melihat pada istrinya.
"Ada apa lagi?" tanya Bara saat sang istri sudah ada di depannya.
"Ini obat kumur kamu, bukankah setelah makan biasanya kamu harus berkumur dulu?" kata Stevani sambil mengulurkan botol berisi air untuk berkumur.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Bara dengan wajah penuh selidik.
Stevani menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Dari kepala pelayan." Jawab Stevani jujur.
Bara pun menerimanya dan berjalan menuju wastafel yang berada di dapur kemudian mulai berkumur, setelah semua selesai dia berbalik badan melanjutkan langkahnya.
"Hai, tunggu dulu!" teriak Stevani kembali.
"Aish, menyusahkan sekali wanita ini!" batin Bara.
Namun, Bara tidak berhenti. Lelaki itu terus melangkah menuju mobilnya dan segera melaju meninggalkan rumahnya untuk kembali ke perusahaan. Sementara Stevani yang sudah sampai di teras harus kecewa karena Bara tidak mau berhenti.
"Dasar kepala batu, tetapi tampan," lirih Stevani.
"Ada apa, Stev, mengapa sejak tadi berteriak memanggil nama Bara?" tanya Santosa yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Eh, Kakek. Itu si Bara main pergi saja tanpa pamit. Terus aku ingin bertanya dia malah pergi begitu saja menancapkan gasnya," decih Stevani.
"Biarkan saja Bara seperti itu. Hai, bukankah ini jam istrahat, sedang apa dia ada dirumah dijam seperti ini? Tidak biasanya," ungkap Kakek Santosa.
Kakek Santosa pun mengajak Stevani untuk masuk kembali ke dalam rumah. Sang kakek menginginkan duduk santai di teras belekang rumah sambil minum teh.
"Bagaimana hubungan kalian selama ini?"
"Biasa saja, Kek."
"Harusnya hubungan kalian sudah mulai dekat. Apakah perlu bulan madu agar hubungan itu lebih dekat lagi?" tanya Sang kakek.
Stevani secara sepontan menggelengkan kepalanya, wanita itu tidak berani memberi keputusan sendiri akan hal yang sepenting ini. Dia harus membicarakan terlebih dahulu dengan Bara.
Waktu pun terus berjalan, sudah satu jam Stevani berbicara santai dengan Santosa. Stevani banyak tahu apa yang terjadi di kehidupan sang suami bahkan saat suaminya jatuh cinta kepada wanita lain tetapi salah karena mencintai istri sahabatnya sendiri, Stevani cemburu, tentu tetapi sekarang Bara sudah menjadi miliknya dan juga wanita itu sudah bahagia dengan suami beserta anaknya. Karena merasa mengantuk maka wanita itu pun pamit undur diri.
__ADS_1
"Kakek, Stev mau tidur sebentar, rupanya kantuk sudah menyerangku!" kata Stevani dengan nada pelan.
"Pergilah, Kekek masih ingin duduk di sini." Ucap Kakek Santosa.
Stevani pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar pribadinya. Saat melihat ranjang king size senyumnya langsung terbit dan wanita itu pun segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang tersebut. Tanpa melepas sepatu, Stevani langsung memeluk bantal, terlihat jika dia teramat lelah jalani hidup. Hanya sebentar saja mata wanita itu langsung terpejam.
Tak terasa, hampir tiga jam lamanya, Stevani terbuai di alam mimpi dan baru tersadar saat mendengar suara suaminya yang sudah berada di dalam kamar.
"Dasar jorok! Pasti tidak mandi, mana tidur pakai sepatu! Heran, bagaimana bisa aku menikahi wanita yang begitu jorok seperti dia!" gerunum Bara sambil melepaskan pakaiannya dan menaruhnya di tempat cucian kotor.
Stevani yang setengah sadar, langsung terduduk begitu mendengar dirinya di kata-katai sebagai perempuan jorok dan mata indahnya langsung terbelalak lebar saat melihat pemandangan di depannya.
"Astaga, Baraaaa! Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu memakai pakaian seperti itu di dalam kamar? Kenapa tidak melepas baju di kamar mandi?" Stevani protes 2 menutup matanya.
"Heh! Coba buka matamu itu! Aku tidak telanjang seperti pikiran kotormu itu, ya! Jangan seenaknya bersuara sebelum melihat!" sentak Bara.
Perlahan Stevani membuka matanya dan tampaklah olehnya Bara memakai celana boxer berwarna hitam dengan kaos ketat dalam berwarna senada dengan boxer yang dipakainya. Pemandangan indah di depannya itu, otomatis membuat mata indahnya membelalak lebar.
"Aaargh! Mata suciku ternoda!" Stevani berteriak sambil berlari keluar kamar.
Bara menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah Stevani dan dia menebak pasti tidak lama lagi istrinya itu masuk kembali ke kamar mereka dan benar saja, tidak lama kemudian gadis itu kembali masuk ke dalam kamar, tetapi kali ini dia tidak memakai sepatunya.
"Hei, kenapa kamu kembali lagi? Bukannya tadi kamu bilang matamu ternoda?" sindir Bara.
"Ish! Menyebalkan! Aku kembali ke kamar karena aku ingin mandi, sudahlah jangan cerewet!" sentak Stevani
Sambil bersungut- sungut, Stevani masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan ritual mandi sorenya. Usai mandi, dia mendapati kamar mereka dalam keadaan kosong, dia tidak menjumpai Bara di mana pun juga.
Tanpa banyak pikir panjang, gadis cantik itu segera mengambil laptop dan kamera miliknya, kemudian mulai mengedit konten yang sudah dia buat dan dia kumpulkan untuk diedit sebelum ditayangkan di saluran miliknya. Stevani terlihat sangat serius dalam bekerja, dia tidak memperhatikan keadaan sekitarnya lagi. Baginya hanya bagaimana secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya.
Tanpa dia sadari, Bara masuk ke dalam kamar dan mengambil laptop miliknya, mengambil tempat duduk di seberang tempatnya duduk dan berpura- pura bekerja, padahal dia tengah mengamati wajah cantik wanita yang telah dinikahinya itu dengan diam- diam. Rupanya wajah cantik itu telah menjadi candu bagi Bara.
'Cantik sekali! Di balik sikapmu yang bar- bar dan terkadang tidak tahu malu itu, ternyata ada pesona yang luar biasa.'
Sore telah berganti malam, Stevani sudah selesai menata menu untuk makan malam. Kemudian, dia berjalan menuju kamar pribadinya, maksud hati ingin memanggil sang suami terapi, Bara malah asyik menatap laptopnya. Dengan berat hati Stevani pun duduk diam di sisi sofa yang lain sambil mendekap lututnya.
"Ada apa lagi itu mukanya?" tanya Bara tanpa menoleh ke Stevani.
"Laper!" decih Stevani.
Bara yang mendengar decihan sang istri seketika tertawa lepas, kemudian lelaki itu menggeser tubuhnya untuk menghadap sang istri. Lalu, tawanya perlahan melemah, tangannya meraih jemari sang istri dan mengurainya dari tautan untuk memeluk lututnya.
"Sini!"
__ADS_1
Stevani pun cemberut, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Kemudian bibirnya berucap lirih.
"Makan malam sudah siap. Ayo segera turun!" ajak Stevani pada akhirnya.
Bara yang melihat wajah lesu sang istri pun akhirnya segera memberesi laptopnya dan memasukan kembali ke tas kerjanya. Lalu dia pun menarik tangan Stevani dan dibawanya ke bawah menuju ruang makan. Sampai di meja makan semua menu sudah tersedia dan dalam keadaan dingin. Bara tersenyum, lelaki itu segera menarik sebuah kursi untuk Stevani.
"Terima kasih!"
"Jika kamu bersikap manis seperti ini bisa jadi aku jatuh cinta sama kamu, Stev!" ucap Bara sambil menerima uluran piring miliknya yang sudah terisi makanan sesuai seleranya.
"Hah! Apa yang kamu katakan?" tanya Stevani.
Jujur dalam hati Stevani seperti taman bunga saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bara. Namun, dia tidak ingin menampakkan perasaannya secara langsung pada Bara. Wanita itu takut jika salah paham akan perhatian dan pertanyaan suaminya tersebut.
"Ah, sudahlah. Lupakan saja!"
"Dasar pria aneh!"
"Sudah ayo makan, tadi bilang sudah lapar kok sekarang hanya diam dipandang saja tanpa di sendok!" ucap Bara.
"Gak jadi lapar, tiba-tiba perutku kenyang," balas Stevani.
Bara pun tidak memedulikan ucapan sang istri. Lelaki itu segera menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan Stevani. Nasi yang ada di piringnya pun dibawa juga mendekat. Kemudian Bara menyuapi Stevani. Mereka makan satu piring berdua, bahkan dengan sendok yang sama.
"Bara, apakah kamu tidak mengapa jika makan seperti ini?" tanya Stevani dengan mulut penuh.
"Sudah jika mulutnya penuh seperti itu jangan banyak omong, nanti tersedak!"
"Jika tidak kamu ajak omong tentu aku tidak bicara, Bbaarra!" kilah Stevani.
Bara hanya tersenyum menanggapi celotehan sang istri. Tetapi lelaki itu masih saja melanjutkan menyuapi sang istri bergantian dengan dirinya. Tanpa Stevani sadari dia makan sudah habir dua piring, kenikmatan disuapi membuat dia lupa bahwa sedang program diet
"Bbaarra! Apaan ini, dua kali, dua piring!" teriak Stevani kala sudut matanya melihat satu piringnya yang kotor.
"Heheheh, tidak apa, Sayang. Aku akan tetap cinta," seloroh Bara.
Stevani yang tengah meminum air putih tersedak, mendengar ucapan Bara membuatnya merinding.
"Pelan-pelan sayang, aku masih punya banyak air untukmu." Bara menepuk-nepuk punggung Stevani.
Stevani dengan sisa batuknya menoleh ke arah sang suami, "Bercandamu keterlaluan." Ucapnya.
"Bercanda? Siapa?" Tanya Bara.
__ADS_1
Stevani hanya memutar bolanya malas, dia segera bangkit dari duduknya, dan melangkah meninggalkan area meja makan.
"Ayo kita membuat keluarga bahagia sendiri, aku akan berlajar mencintaimu, dan tolong cintai aku juga!"