
Happy Reading 🌹🌹
Mentari pagi terbit menyinari langit yang berawan di Korea Selatan. Aktivitas bandara Internasional Incheon sudah ramai seperti hari-hari biasanya, para penumpang yang mengantri membeli tiket atau menukarkan tiket penerbangan.
Sebuah pesawat dari Negara Granada telah mendarat sepuluh menit yang lalu dengan selamat, dua pria dengan langkah lebar berjalan di antara kerumunan para penumpang lainnya. Meski tubuh terasa sakit tidak mereka rasakan.
Keduanya berjalan menuju tempat pengambiln koper, cukup lama keduanya mengantri karena koper mereka belum keluar. Tidak membutuhkan waktu lama keduanya kini berjalan setelah mengambil koper.
“Kita di jemput siapa?” Tanya Bara yang berjalan dengan wajah datar dan dingin.
“Kita naik taxi agar lebih cepat dan tidak perlu menunggu.” Jawab Jundi cepat.
“Sudah menghubungi Paman L?” Tanya Bara lagi.
“Sudah, dia menunggu di rumah sakit.” Jawab Jundi.
Kini keduanya sudah sampai di depan bandara, banyak taxi berjejer di depan bangunan besar dan megah untuk menunggu penumpang menggunakan jasa mereka. Keduanya berjalan di salah satu taxi yang berada di sana.
“Taxi, Tuan.” Tawarnya.
“Cepat masukkan koper kami.” Ucap Jundi karena Bara hanya berdehem enggan mengeluarkan kalimat apapun.
Dengan cepat dan senang, sopir tersebut membuka jok belakang dan memasukkan dua koper milik penumpangnya. Sedangkan Bara dan Jundi kini telah duduk di kursi belakang, terdengar jok belakang tertutup dan sopir berlari di kursi depan.
“Rumah sakit ….” Ucap Jundi cepat.
“Baik, Tuan.” Sopir segera memasukkan alamat pada layar GPS di mobilnya agar mengetahui jalanan yang tidak macet.
Lahan yang luas dengan gedung tinggi, terdiri beberapa lantai. Berada di hadapan Bara dan Jundi, keduanya kini telah sampai di sebuah rumah sakit swasta di Korea Selatan yang terkenal dengan pelayanan dan pengobatan bagi pasiennya.
__ADS_1
Para pengawal yang melihat kedatangan majikannya segera berlari mendekat untuk membawa koper dan juga sebagai petunjuk arah di mana Kakek Santosa di rawat.
Dengan langkah lebar dan tergesa dia mengikuti pengawal yang berjalan di depannya, rasa lelah yang mendera tidak dia hiraukan. Selama di perjalanan menuju Korea Selatan pikirannya sudah kalut tentang kesehatan sang kakek.
Bara juga baru mengetahui jika sang kakek berada di Korea Selatan, entah apa yang sebenarnya kakeknya lakukan bisa sampai bepergian jauh seperti ini. Ingin sekali Bara marah kepadanya namun dia urungkan takut jika kesehatan sang kakek menurun.
Di sebuah ruangan yang luas, dengan satu brangkar, satu televisi, kulkas kecil, dan satu set sofa. Tengah terdengar beberapa helaan nafas dan juga gerutuan. Dua pria yang hanya selisih beberapa tahun tengah menatap serius papan catur di atas meja.
“Huh, aku bosan L. Kenapa kamu tidak bisa mengalahkanku.” Runtuk Kakek Santosa kepada kepala pelayan.
“Tuan, saya sudah menang beberapa kali tetapi anda tidak terima.” Bela Paman L jujur.
Kakek Santosa berdehem, “aku hanya mengalah L, sekarang aku sedang serius.” Elak Kakek Santosa kepada Paman L.
“Terima kasih sudah mengalah untuk saya, Tuan.” Ucap Paman L di iringi gelak tawa keduanya.
Pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan Kakek Wijaya memberikan kode di dalam ruangan jika target sudah mendekat 500 meter darinya. Sontak saja Paman L yang tengah bermain catur dengan Kakek Wijaya langsung kelabakan karena pengawal yang berada di parkiran tidak memberikan info.
“Apa! Kenapa tidak ada yang memberi tahu.” Ucap Kakek Santosa yang berjalan cepat menuju brangkar dengan bantuan Paman L.
Bagaikan slomosion, Bara membuka pintu ruangan Kakek Santosa sedangkan sang Kakek telah selesai menempelkan infus palsu di tunggung tangannya.
“Kakek.” Ucap Bara yang berhenti di ambang pintu.
Gerakan Kakek Santosa yang akan naik ke atas brangkar menghentikan gerakannya, Paman L menatap Tuan Mudanya yang tengah menatap lekat ke arah mereka.
“Tu-tuan.” Ucap Paman L terbata.
Namun, apa yang di takutkan kedua pria paruh baya itu tidak lah terjadi. Bara berjalan dengan cepat dan memeluk erat sang kakek. Paman L perlahan menyingkir untuk memberikan ruang kepada majikannya.
__ADS_1
Jundi mengintruksi agar Paman L keluar bersamanya, tanpa berkata apapun Paman L keluar bersama Jundi membiarkan kedua pria berbeda usia itu di dalam ruang perawatan Kakek Santosa.
Kakek Santosa yang jarang sekali di peluk oleh Bara tentu merasa kaget, kekagetan itu hanya sesaat kemudian senyum terbit di wajah senjanya. Tangan kanannya menepuk pelan lengan Bara seakan memberikan kabar jika dia baik-baik saja.
“Kakek tidak apa-apa Bara.” Ucapnya menahan haru.
Bara bukan melepaskan tetapi semakin mengeratkan pelukannya, merasakan tubuh sang cucu terguncang pelan membuat Kakek Santosa menangis haru. Perasaan bahagia dan sedihnya menjadi satu tetapi ini jalan yang harus Kakek Santosa tempuh agar Bara memiliki teman hidup.
Kakek Santosa sudah memikirkan ini sejak lama, bagaimana jika dia meninggal sebelum melihat Bara menikah, bagaimana jika Bara sedang kesusahan tidak akan ada tempat untuk bersandar. Kakek Santosa sadar betul apa yang dia lakukan ini salah tapi dia menghalalkan segala cara untuk sang cucu.
“Kamu menangis?” Tanya Kakek Santosa pelan.
Bara menggeleng tetapi respon tubuhnya tidak sejalan, Kakek Santosa hanya terkekeh pelan. “Kaki kakek pegal.” Ucap Kakek Santosa lagi.
Bara melepaskan pelukannya dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat sang kakek, mendengar pintu kamar mandi tertutup segera Kakek Santosa mengusap air matanya dan naik ke atas brangkar.
Bara membasuk wajahnya di wastafel, terlihat kedua matanya memerah bahkan wajahnya sudah sembab. Sejenak Bara menatap dirinya di pantulan cermin, menenangkan hatinya yang bergejolak dengan mengatur nafas.
Kakek Santosa yang sedang duduk bersandar dengan menonton acara televisi menolehkan kepalanya karena melihat Bara keluar dari dalam kamar mandi melalui ekor matanya. Bara berjalan mendekat dan duduk di kursi tunggu pasien.
“Bagaimana perasaan Kakek?” Tanya Bara menatap intens.
“Buruk.” Jawab Kakek Santosa singkat.
Bara menaikkan alisnya sebelah dengan heran, “Apa perlu kita pindah rumah sakit, atau kita kembali saja ke Eropa.” Tawar Bara kepada kakeknya.
Helaan nafas kasar terdengar, Kakek Santosa membenarkan duduknya dan menatap wajah Bara dengan serius. “Bara, jika kakek memiliki permintaan terakir apa kamu akan mengabulkannya?” Tanya sang Kakek kepada Bara.
Hati bara berdenyut nyeri, mendengar permintaan terakir tentu saja pikiran pria itu menjurus jika sang kakek akan meninggalkan dirinya selamanya. “A-apa makhsud kakek? Kakek ingin meninggalkan Bara seorang diri di dunia ini, apa kakek memang sudah memiliki rencana untuk meninggal dalam waktu dekat ini.” Cecar Bara dengan kedua mata yang mulai berkabut dan tenggorokan tercekat.
__ADS_1