
Happy Reading 🌹🌹
Alrm terdengar dari ponsel Bara, dia meletakkan pena, dan melepas kacamatanya di atas meja kerja. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua sore.
Sesuai pesan Jundi yang akan mengecek tempat pemotretan untuk produk kerjasama dengan clien, tiga puluh menit sebelum jam dua alarm Bara sudah berbunyi. Segera Bara bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju kamar rahasianya.
Terdengar Jundi masih mengorok, mungkin akibat kelelahan. Dengan pelan Bara membangunkan sahabatnya itu, "Hey! Jun, bangun." ucapnya yang sedikit keras.
"Ehm, lima menit lagi sayang." Jawab Jundi yang hanya memalingkan wajah kelain arah.
"Ck, dasar bucin. Hey! Cepat bangun atau aku pecat kamu sekarang juga!" Seru Bara dengan suara yang lebih mengelegar.
Jaundi yang kaget lanjas langsung bangun tanpa melihat posisinya, membuat dia jatuh dari atas tempat tidur begitu saja dengan dahi yang terlebih dahulu mencium lantai.
"Shhh ... aduh, sakit." Ucapnya dengan mata yang mulai terbuka sedikit.
Helaan nafas kasar terdengar dari Bara, "Cepat bangun dan cuci muka, sudah pukul dua. Terlebih aku juga belum makan siang karena menungguimu tidur sejak pagi." Kata Bara yang duduk di pinggir kasur, bersedekap dada dengan menadang Jundi yang masih mengelus dahinya.
Dengan sempoyongan Jundi bangit, "Hais, tidak bisakah kamu lebut sedikit. Wajah tampanku...." Jundi dengan suara hampir menangis berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Bara dengan acuh berjalan meninggalkan Jundi begitu saja dengan berkata "Lima menit." dengan singkat.
Dengan wajah kesal Jundi melirik punggung sahabatnya, dia membuka poninya untuk mengecek apakah jidatnya berdarah. Sedikit lega tidak berdarah hanya sedikit lebam, "Hah, untunglah." ucapnya pelan.
Kini Bara dan Jundi berjalan memasuki area cafetaria, mereka memutuskan untuk makan siang di kantor karena enggan untuk berhenti di restoran. Mengingat waktu sudah sore dan pemotretan juga sudah dimulai, para karyawan yang melihat atasan mereka segera memberikan ruang.
Beberapa karyawan juga ada yang baru beristirahat karena pekerjaan mereka mungkin ada yang siang tadi untuk segera di kumpulkan kepada kepala tim, Bara mengambil piring dan di isi beberapa lauk pauk tidak lupa dengan nasi, sama halnya dengan Bara. Jundi juga mengambil makanan dan beberapa camilan karena di tempat pemotretan dia harus bekerja lebih ektra.
Ekstra bersabar, ekstra mendengarkan umpatan, ekstra menjadi penengah, dan masih banyak lagi. Benar, Jundi baru saja membaca pesan dari client jika model yang mereka gunakan adalah Stevani yang tidak lain dan tidak bukan istri dari pemilik brand.
Jundi masih mengingat jelas, bagaimana Bara tidak setuju dengan Stevani yang dia ajukan model. Lalu, bagaimana jika sekrang Stevani sendiri menjadi model tanpa sepengetahuan Bara, mungkinkah teluk Bali akan terbelah menjadi dua.
__ADS_1
Ide foto pasangan terlebih dari Bara, memikirkannya saja sudah membuat Jundi pening. Bara yang melihat Jundi melamun dengan memegang capit sedikit menyenggolnya, "Hey! Ayo cepat." ajaknya.
"O-oh, ayo." Jundi tergagap karena kaget.
Mereka memilih meja di dekat jendela yang berhadapan dengan taman disebelah kantor, Bara makan dengan tenang sambil bermain ponsel. "Kenapa Stevani tidak membalas pesanku." Gumamnya pelan yang masih terdengar oleh Jundi,
Jundi tersedak hingga terbatuk-batuk, "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Bara yang melihat Jundi tengah meminum air putih.
Jundi berdehem karena merasa tenggorokannya panas, "Ekhmm ... aku tau kamu bucin dengan istrimu. Tapi jangan di saat kita makan." Ucapnya.
Bara memasang wajah malas, "Siapa juga yang bucin, yang ada kamu. Aku bangunkan kamu memanggilku sayang." Jawab Bara tidak terima.
"Hem, lihat saja nanti bukan hanya jenggotmu yang kebakaran." Gumam Jundi dalam hati.
"Apa! Sudahlah ayo cepat ke studio aku juga ingin pulang cepat." Bara beranjak dari duduknya meninggalkan Jundi yang baru akan menyuapkan dimsum kedalam mulutnya.
"Tunggu!" Seru Jundi dengan memasukkan semua sisa snack di dalam mulutnya dan berlari mengejar Bara.
Membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di tempat tujuan, hingga mobil yang di tumpangi Stevani sudah berhenti di depan bangunan yang cukup besar. Banyak crew yang berlalu-lalang dengan kesibukan dan urusannya masing-masing
Salah satu crew yang melihat kedatangan Stevani segera berlari menghampiri, "Siang nona." Ucapnya.
"Selamat siang, bisa bantu aku membawa koper?" Tanya Stevani lembut.
"Tentu saja, mari saya bantu." Jawab crew dengan ramah.
Keduanya berjalan memasuki studio yang akan di gunakan untuk pemotretan sebuah brand, selama di perjalanan crew terus bertanya kepada Stevani karena dia tidak menyangka jika istri dari CEO masih mengambil job untuk pemotretran produk.
"Saya sangat kagum kepada anda, kerjasama suami sitri yang sangat bagus." Ucap crew tersebut dengan memberikan jempol.
__ADS_1
Stevani yang tidak paham hanya tersenyum saja karena sang fotografer sudah datang menghampirinya, "Halo, Selena. Sudah lama tidak berjumpa, akhirnya kita bekerjasama lagi." Ucap sang fotografer.
"Benar, tuan. Saya senang dapat bekerjasama lagi denganmu." Jawab Stevani dengan membalas cipika-cipiki.
Fotografer produk tersebut adalah fotografer yang sama dari majalah Eropa sewaktu Stevani melakukan pemotretan di Istana Alhambra beberapa bulan lalu.
"Selamat atas pernikahanmu, maafkan aku tidak bisa datang tetapi aku mengikuti beritanya." Ucap sang fotografer berbasa basi.
"Tidak apa-apa, tuan." Jawab Stevani tersenyum lembut.
"Oh, baiklah sebentar lagi kita akan memulai pemotretan. Silahkan bersiap-siap."
Stevani dengan dua MUA dan satu penata ramput juga penata gaya tengah bersiap-siap, dengan cekatan para MUA memoles wajah cantik Stevani semakin cantik lagi. Penata rambut dan penata busana segera mengambil alih setelah riasan sudah siap.
Hingga datang seorang pria muda berjalan mendekat ke arah Stevani, "Hello, aku Done. Senang dapat bekerjasama denganmu Nona Stevani." Ucapnya dengan senyum mempesona.
"Hallo, aku Stevani. Semoga kita dapat bekerjasama dengan baik." Jawabnya.
Done dan Stevani duduk bersebelahan dengan penata rias masing-masing, mereka tampak sangat cepat akrab dengan membicarakan bagaimana pose dan gaya yang mungkin sedikit berbeda dari foto couple pada umumnya. Tampak Done sangat terpesona saat Stevani mengutarakan pendapat dan ide, wajah cantik yang berubah-ubah ekspresi membuat Done terpesona.
Hingga semua sudah siap, Stevani dan Done mulai berpose di depan kamera. Mereka tampak seperti pasangan yang serasi, Stevani duduk di salah satu kursi kayu dengan memainkan gelas berisi wine sedangkan Done berdiri di depan Stevani mengenakan jas merah yang di sampirkan senada dengan wine.
Para crew kagum karena keduanya memiliki visual spek dewa dewi, keduanya berganti pakaian dan memulai foto kembali yang kali ini duduk berdua di sebuah sofa berwarna coklat.
Stevani mengenakan deres berwarna hijau tua dengan bagian dada yang cukup rendah, memiliki lengan panjang. Sedangkan Done mengenakan stelan jas berwana abu-abu. Dia duduk seakan tangan kanannya tengah merangkul Stevani. Keduanya duduk tanpa adanya jarak seincipun.
Stevani bersadar di pundak Done yang kokoh dengan mata terpejam sembari tersenyum sedangkan Done yang memang sudah terpesona dengan Stevani saat pertama kali bertemu memandangnya tanpa sadar. Membuat kemistri keduanya sangat kental, crew wanita hanya mampu menjerit lirih karena melihat tatapan Done kepada Stevani.
__ADS_1
Hingga para crew yang berada di belakang sedikit riuh menyambut seseorang yang baru saja datang di studio dengan mendadak tanpa memberikan kabar apapun.