
Happy Reading 🌹🌹
2 jam kemudian, suara Bara mulai melemah. Dia terduduk sambil menyender kearah pintu sesekali mengetuk hingga menoleh kearah pintu.
Stevani yang ada di dalam ternyata sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat Bara langsung terpincut akan kecantikannya.
Ya, memang Stevani marah dan kesal dengannya. Cuman dia juga tidak akan mungkin menggagalkan bulan madunya begitu saja. Jika Bara tidak seperti pria lain yang sat, set, sat set terhadap istrinya.
Maka, Stevanilah yang harus turun tangan. Walaupun dia sendiri juga belum siap untuk unboxing, tapi mau bagaimana lagi. Jika bukan sekarang kapan lagi. Mungkin dengan merubah penampilannya membuat Bara dengan sendirinya akan menyentuh Stevani tanpa diminta.
Ceklek!
Stevani membuka pintu Hotel secara perlahan, dimana Bara langsung berdiri dan memeluk istrinya begitu erah. Hingga membuat pintu terbuka lebar.
"Hiks, maafkan aku Sayang, maafkan aku. Aku salah, aku tidak peka. Pokoknya maafkan aku, aku enggak mau kamu cuek lagi." ucap Bara didalam pelukannya dengan air mata yang sudah menetes.
Stevani yang mendengar ucapan Bara hanya bisa tersenyum lebar, baru kali ini dia mendengar Bara menangisi dirinya akibat tidak mau berjauhan dengannya.
"Please, Sayang. Jangan diemin aku seperti ini, aku mohon bicaralah!" Bara terus merengek membuat istrinya hampir saja geli ketika dia melihat perubahan Bara yang sangat drastis.
Pria cuek, dingin dan juga gengsi. Kini telah berubah menjadi pria yang cengeng, manja dan juga menggemaskan. Rasanya Stevani ingin sekali tertawa ngakak saat mendengar suara suaminya seperti anak yang takut akan kehilangan Ibunya.
Isak tangis terdengar cukup nyaring, sampai perlahan Stevani mulai mengasih tahu kepada Bara agar dia mau melepaskan pelukannya untum menutup pintu Hotel. Setelah selesai, lagi-lagi Bara memeluknya membuat Stevani tersenyum.
"Sstt, Sayang. Udah ya jangan nangis lagi, lebih baik kamu mandi dulu gih. Badanmu ini bau keringat, sedangkan aku sudah cantik dan juga wangi." ucap Stevani.
__ADS_1
"Ishh, enggak mau pokonya aku maunya meluk kamu. Enggak mau mandi, biarin aja aku bau. Toh, aku udah punya kamu kok. Jadi buat apa juga aku jadi pria tampan dan juga wangi. Yang ada nanti kamu cemburu lagi. Enggak, enggak, enggak! Aku enggak mau kamu marah-marah, titik!"
Bara merengek sambil terus memeluk istrinya, sampai akhirnya ucapan istrinya berhasil membuat Bara melepaskan pelukannya dan tubuhnya mulai menegang.
"Lebih baik mandi sendiri atau aku yang mandikan, hem? Siapa tahu kan aku bisa icip-icip bagaimana enaknya 1 buah sosis ditambah dua telur, lalu sedikit diberikan mayones. Hem, pasti rasanya sangat nikmat. Fiuhh~"
Stevani membisikan sesuatu di telinga suaminya sambil meniupnya, sampai membuat Bara melepaskannya. Matanya membola besar bersamaan dengan tubuhnya yang terasa menenpel.
"Yaak, dasar istri omes!" teriak Bara yang langsung pergi kearah kamar mandi dan langsung menutup pintunya begitu keras.
Bara menempelkan tubuhnya di belakang pintu setelah selesai menguncinya. Dadanya kian narik turun begitu cepat. Menandakan bahwa Bara saat ini sedang terkena serangan istrinya yang berhasil membuat adik kecilnya langsung bangun.
"Nahkan, dia bangun!" gumam Bara saat melihat gundukan celananya mulai menonjol.
"1 sosis berukuran jumbo, lalu dihiasi oleh kedua telur kembar yang saling melengkapi disisi kanan dan kirinya, kemudian ditambah lagi dengan sedikit rasa asin dari mayones. Kini, bisa menghasilkan sebuah bibir unggul yang akan mengeluarkan suatu produk terbaik dari diriku."
"Yakkk, apaan sih! Kenapa aku malah mikir seperti itu, lagian ini sosis kenapa pula pakai acara bangun. Bikin pala atas pusing aja!"
"Arrghhh, lebih baik aku mandi saja dari pada nanti dimandiin yang ada si sosis makin seger dong."
Bara langsung melangkahkan kakinya mendekati sower, lalu mulai menyalakannya sampai rintikan air hujan yang berasal diri shower segera mengguyur tubuh Bara hingga pakaiannya pun menjadi basah.
Selang beberapa menit, Bara membuka seluruh pakaiannya dan menikmati segarnya air tersebut. Sementara Stevani, dia langsung mengganti bathrobenya dengan salah satu baju dinas yang sudah dia bawa.
Beberapa menit kemudian, Bara sudah selesai dengan aktifitas mandinya. Lalu dia keluar dengan menggunakan bath robe yang berada didalam kamar mandi.
__ADS_1
Perlahan Bara membuka pintu sambil melangkahkan kakinya, sedikit menyugarkan rambut basahnya kearah belakang dalam kondisi mata yang masih sedikit terpejam. Semua itu akibat dia masih terhanyut oleh segarnya air yang telah mengguyur tubuhnya.
Namun, saat Bara telah menutup kembali pintu kamar mandi dan berbalik. Matanya membola saat melihat penampilan istrinya yang lagi duduk di pinggir kasur dengan pose cantiknya.
Stevani mengenakan lingeri berwarna ungu muda dengan aksen bordir berwarna hitam, lingeri yang terbuat dari bahan satin lembut sehingga saat di kenakan jatuh dengan cantik.
Panjang rok lingeri hanya sebatas paha di atas lutut, memiliki belahan samping, dan tali spageti.
Lingeri yang di kenakan Stevani juga memiliki jubah berlengan sepertiga, yang panjangnya di bawah lutut dengan tali kecil di pinggang.
"Sayang, sudah selesai mandinya?" ucap Stevani begitu lembut, dengan sedikit suara mende*sah.
"Sa-sayang, ka-kamu ngapain pakai baju itu? Sejak kapan kamu memiliki baju terbuka seperti itu?"
Bara terbata-bata dan menjadi bod*oh ketika melihat penampilan istrinya yang sangat berbeda dari biasanya, padahal bukan pertama kalinya Stevani dengan percaya diri menggunakan pakaian terbuka seperti itu.
"Kenapa dia tambah cantik memakai baju itu? Apakah udah saatnya aku harus memberanikan diri untuk mengambil alih semuanya? Masa iya istriku yang terus menggodaku. Sedangkan aku yang sebagai suami malah jadi seperti wanita yang takut akan malam pertama. Seharusnya yang takut itu istriku, kenapa ini malah jadi terbalik seperti ini!"
"Dasar Bara lemah, cupu, gengsi! Bisa-bisanya harga diri seorang pria sejati dipermainkan oleh istrinya seperti itu! Cuman, kenapa rasa gugup didalam hatiku msih menggebu. Rasanya sulit sekali untukku menyentuh istriku sendiri. Apa semua ini karena aku tidak pernah merasakan sentuhan lawan jenis?"
Bara terdiam dengan segala pikiran hati dan juga egonya yang kini bercampur menjadi satu. Satu sisi Bara ingin sekali menyentuh istrinya, tetapi sisi lainnya Bara enggan menyentuhnya lantaran dia masih belum bisa menyatakan perasaannya.
Apapun yang terjadi, Bara suda menanamkan di dalam dirinya bahwa dia akan menyentuh istriya ketik dia sudah berhasil melawan gengsinya untuk menyatakan cinta kepada istrinya dengan sangat tulus.
__ADS_1
Disaat Bara masih terdiam dengan semua pikirannya, tiba-tiba Stevni sudah berada tepat di depannya sambil mengalungkan kedua tangannya. Istrinya tersenyum manis menatap manik suaminya, sedangkan suaminya malah terkejut hingga Stevani bisa merasakan getaran yang dihasilkan dari kegugupan didalam tubuh suaminya saat ini.