Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Model Produk


__ADS_3

Happy Reading


Stevani mengambil stelan jas dan juga aksesoris seperti hari lalu, menjadi seorang istri yang menyiapkan perlengkapan suami tidak ada buruknya juga. Hanya saja, kabar buruknya adalah dia tidak pandai memasak hanya memasak mie instan keahliannya selebihnya jangan ditanyakan lagi.


Stevani berjalan keluar setelah menyiapkan pakaian untuk Bara dengan mengucir rambutnya tinggi-tinggi agar tidak mengganggu aktivitasnya, dia mulai merapikan tempat tidur meski tidak terlalu berantakan.


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Bara yang tengah bertelanjang dada dengan beberapa air yang menetes dari rambut pendeknya, sejenak Stevani mengagumi pemandangan yang berada di depan matanya. Bara yang merasa di pandangi dengan iseng menggoda sang istri.


"Sayang, air liurmu menetes." Ucapnya.


Tanpa sadar Stevani mengusap sudut bibirnya hingga tawa dari Bara pecah, membuat kesadaran Stevani kembali di dunia nyata.


"Hais, sudahlah sana ganti baju aku akan keluar." Ucap Stevani dengan kesal.


Mendengar ucapan Stevani membuat kedua mata Bara membola dengan sempurna, "Berhenti, kamu akan keluar dengan penampilan seperti itu! Jangan harap dapat keluar dari kamar ini dengan selamat," katanya dengan menggendong Stevani seperti memanggul beras.


"Euh! Hei, turunkan aku, kau jangan kurang ajar dengan istrimu!" Serunya dengan memukul-mukul punggung suaminya.


Bara menurunkan Stevani di dalam bath up yang masih penuh dengan air bekasnya mandi pagi ini, "Mandi dan segera ganti baju." Ucapnya dengan datar dan berlalu dari dalam sana.


"Hey!!" Stevani berteriak dengan kesal.


Bara dengan cepat menutup pintu kamar mandi dan memegang jantungnya yang serasa ingin meledak, rasa panas menjalar dalam tubuhnya. Dia bergegas keluar karena pakaian yang di kenakan istrinya menjadi trasnparan saat terkena air. "Tahan junior, kita harus menyelesaikan pekerjaan kantor dulu." ucapnya pelan dengan melihat senjata yang sudah tegap.


Stevani hanya menatap pintu kamar mandi dengan kesal, dia memukul air hingga menciprat kesegala arah. Dengan kasar dia bangkir dari dalam bath up dan berjalan keluar menuju shower yang dia nyalakan dengan perasaan kesal.


Melihat kedatangan cucu menantu dan cucunya turun dari lantai dua dengan dua wajah yang berbeda membuat Kakek Santosa menyerengitkan dahinya dalam. Stevani dengan wajah masam sedangkan Bara dengan wajah yang seperti biasanya datar tanpa ekspresi.


"Pagi, kakek." Sapa Stevani dengan mencium kedua pipi Kakek Santosa.

__ADS_1


"Pagi, Stev. Ada apa?" Tanya Kakek Santosa lembut.


Stevani hanya melirik Bara dengan sinis dan tajam, "Tidak apa-apa kek." jawabnya berbohong.


Kakek Santosa memiringkan kepalanya guna melihat Bara meminta jawaban, tapi percuma juga karena Bara seakan acuh dengan Stevani. Meskipun kesal, Stevani tetap melayani suami dan Kakek Santosa seperti biasanya.


Mereka bertiga menikmati sarapan dengan hening hingga Kakek Santosa memecahkan keheningan tersebut "Kakek sudah menyiapkan tiket untuk bulan madu kalian lusa depan." ucapnya.


Stevani menahan senyum dengan mengigit bibir bawahnya, sedangkan Bara meminum air putih hingga tandas "Bara belum tahu bisa atau tidaknya Kek, pekerjaan Bara masih banyak, dan juga harus lembur terus di kantor." Jawab Bara yang menghilangkan semangat Stevani.


"Masih ada Jundi dan sekertarismu, Bar." Ucap Kakek Santosa mencoba membujuk sang cucu.


"Jundi akan menikah waktu dekat ini, Kek. Dia akan berkunjung mungkin lusa." Jawab Bara memandang lekat wajah sang kakek.


"Baiklah." Kakek Santosa akhirnya mengalah.


Stevani hanya menghela nafas panjang, dia harus mengalah dan mencoba mengerti pekerjaan suaminya. Bagaimanapun dia juga paham bagaimana sibuknya pimpinan perusahaan terlebih memiliki banyak karyawan yang bergantung hidup di perusahaan tersebut.


Stevani mengangguk, dia mengantarkan sang suami hingga di mobil. Setelah bersalaman dan mencium kening, mobil Bara perlahan bergerak meninggalkan area mansion Smith untuk berangkat ke kantor.


Stevani menghirup udara dalam dan menghembuskannya, dengan langkah lesu dia berjalan kembali masuk ke dalam mansion. Kakek Santosa yang melihatnya tidak bisa berbuat apapun karena Jundi akan menikah dan juga pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya.


"Stev." Panggil Kakek Santosa.


"Iya, Kek." Ucap Stevani yang duduk kembali di kursi.


"Bagaimana jika kamu kembali bekerja sebagai model? Kakek memiliki rekan kerja yang bekerjasama dengan perusahaan Smith. Mereka akan lounching produk baru mungkin juga mereka sedang mencari kandidat modelnya." Jelas sang kakek.


"Benarkah? Tentu Stevani mau, Bara sibuk bekerja maka Stevani juga sibuk bekerja." Ucapnya dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Kakek akan menghubunginya, kamu beristirahatlah kembali atau berbelanja." Kata Kakek Santosa.


"Stevani akan beristirahat saja, nanti sore kita harus berjalan-jalan ya kek. Stevani jenuh jika harus bepergian sendiri." Jawabnya dengan penuh harap.


"Tentu saja, kita akan berjalan-jalan dan makan malam di luar jika begitu." Kakek Santosa menyumbangkan ide.


"Sejutu!" Seru Stevani dengan tersenyum ceria.



Di kantor, Bara segera keluar dari dalam mobil begitu sampai di depan perusahaan, Jundi segera berlari mendekat dengan membawa dokumen penting. Para karyawan menyapa meski tidak mendapatkan jawaban apapun dari Bara.


"Client membutuhkan model untuk produk yang akan bekerjasama dengan kita, bagaimana jika Stevani?" Tanya Jundi.


"Kenapa harus istriku, lebih baik menggunakan model yang lainnya saja. Itu produk kecantikan lebih baik gunakan artis pria yang tampan untuk menarik lebih banyak konsumen wanita." Jawab Bara yang keberatan jika Stevani kembali ke dunia sosial media.


"Tapi, Stevani belum sepenuhnya pensiunkan. Coba tanyakan dulu, siapa tau dia mau." Jundi tetap memaksa Bara.


"Tidak!" Tolaknya dengan tegas.


Jundi hanya menghela nafas panjang dan menghubungi client, menyampaikan ide Bara untuk mencarii model artis pria. Terdengar Jundi mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baik, kami mengikuti saja." Jawabnya Jundi.


"Mereka setuju dan akan mencari model wanitanya sendiri." Jelas Jundi kepada Bara.


"Bagus, ayo mulai bekerja." Jawab Bara yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


Jundi undur diri dari ruangan Bara, dia kembali ke dalam ruangannya untuk berkutat dengan pekerjaannya.


Bara segera merogoh ponselnya untuk menghubungi Stevani, persoalan agar Stevani undur diri dari dunia selebgram belum mereka bicarakan.

__ADS_1


Membayangkan Stevani berinteraksi dengan pria lain, hatinya sangat kesal. Dia baru membayangkan bagaimana jika melihatnya secara langsung.


__ADS_2