
Happy Reading 🌹🌹
Disebuah bangunan modern dan tradisional khas Korea Selatan, dengan jumlah kamar 464 kamar termasuk 38 suite rooms. Fasilitas di dalam kamar berupa TV 55 inch, automatic shade, fitness, spa, dan kolam renang.
Ada enam restoran di Hotel Shilla, di antaranya Palsu, Ariake, Continental, La Yeon, Tthe Parkview, dan The Library. Hotel tersebut memiliki beberapa lokasi yang digunakan untuk pernikahan dan yang paling terkenal adalah Yeong Bin Gwan yang dapat menampung hingga 130 orang.
Yeong Bin Gwan sudah di sulap menjadi tempat yang cantik dan merwah, seluruh ruangan di tutup dengan kain putih yang lebar dan tinggi. Hampir seluruh ruangan berwarna putih karena perhelatan acara pernikahan yang mengikat kedua insan melakukan janji suci di depan Tuhan.
Di bagian panggung di buat bentuk huruf T, di mana tempat yang akan di lewati oleh sepasang pengantin menuju pendeta yang berada di depan. Di sepanjang panggung tersebut terdapat lilin dengan berbagai bentuk di kedua sisinya. Bunga-bunga segar di hias pada bagian depan panggung .
Tidak kalah cantik dengan altar, pada tempat perjamuan tamu juga di dominasi warna putih dari meja, kursi, binga, dan piring. Warna putih yang di padu padankan dengan gold menambah kewan mewah dan estetic. Bunga-bunga segar berada di tengah meja membuat meja tamu tidak begitu lenggang.
Keluarga Kristoff memilih meja panjang dengan sederet kursi yang memiliki kerangka bening, tidak lupa bunga-bunga yang menjuntai dari atas langit-langit membuat kesan seperti hujan bunga.
Banyak pewagai WO dan pengawal yang sibuk mengecek kembali untuk acara pernikahan putri dari keluarga konglomerat hari ini, sebuah mobil boox datang di samping pintu hotel dan langsung di amankan oleh penjaga.Mereka dengan hati-hati membawa box bening yang berisi kue pernikahan.
"Bisakah aku memiliki ruang yang lapang?" Tanya pemilik toko kue.
"Bisa, mari ikuti saya." Jawab pengawal yang langsung di ikuti beberapa karyawan toko kue.
Pengawal memberikan ruang yang cukup lapang di bagian depan altar yang berada di dekat tangga dengan hiasan bunga anggrek dan mawar putih, para pegawai tampak terperangah kagum melihat bagaimana persiapan pernikahan orang kaya. Meskipun mereka sering mendapatkan pesanan dari orang-orang kaya lainnya tapi belum pernah melihat totalitas dalam sebuah acara.
"Silahkan." Ucap pengawal kepada pemilik kue.
"Terima kasih." Jawabnya.
Selepas kepergian pengawal, pemilik kue menggenggam salah satu tangan karyawannya. "Wah! Aku tidak menyangka jika yang memesan kue kita adalah Nona Stevani Krostoff, astagaa tanganku gemetar." Ucap pemilik kue shock.
"Benarkah? Kami pikir anak pejabat, ternyata konglomerat." Jawab salah satu pegawainya.
"Lihatlah, di sana ada foto Nona Stevani dan calon suaminya. Kita harus berhati-hati dan buat serapi serta secantik mungkin agar tidak mengecewakan pelanggan." Ucap pemilik toko dengan menunjuk ke beberapa figura.
"Daebak!"
Pemilik toko segera menggeser meja yang sudah di hiasi bunga segar berwarna putih di bagian saping-sampingnya untuk menutupi kerangka meja, satu persatu kue di pindahkan dari dalam box ke meja bulat tersebut. Kue di susun hingga menjulang tinggi.
__ADS_1
"Hati-hati jangan sampai jatuh, bisa mati kita." Pemilik toko memperingatkan kepada pegawai yang tengah menaiki tangga untuk meletakkan potongan kue terakir di puncak.
"Jangan membuatku takut." Jawab pegawai toko yang ingin menangis.
"Baca do'a." Ucap pemilik toko.
Pegawai toko tampak sampai menahan nafas karena potongan terakir tersebut, dia meletakkan dan di tunggu beberapa detik untuk memastikan jika tidak roboh. Cukup satu menit membuat semuanya bernafas lega, semuanya kini mendekorasi kue dengan di taruh beberapa bunga segar dan yang lainnya adalah dari lelehan gula yang di bentuk menyerupai bunga.
Di hotel Shilla ada dua kamar Presidential Suites di Shilla Hotel, sayap kiri dari kamar tersebut yang seluas 2.809 meter peersegi dilengkapi dengan campuran dekorasi tradisional Korea, sementara sayap kanan kamar tersebut yang seluas 390 meter persegi dilengkapi dengan dekorasi khas Paris.
Salah satu kamar Presidential Suites sayap kiri tengah berlalu lalang para wanita-wanita cantik dengan mengenakan seragam kerjanya menyiapkan sebuah gaun yang baru saja datang yang di bawa oleh dua orang pegawai. Sedangkan pegawai yang lain membawa aksesoris untuk Stevani.
Stevani duduk di kursi meja rias dengan dua orang waita yang merias wajahnya dan menyanggul rambutnya, dengan tenang Stevani duduk dan memejamkan kedua matanya rasa kantuk tidak bisa di hindari karena semalam suntuk dia tidak dapat tidur. Hatinya gelisah dan juga gugup untuk acara pernikahannya.
Dengan gerakan lincah dan cekatan, perias dan penata rambut mengerjakan jobdesknya. Membuat pengantin hari ini tampak berbeda dari hari-hari biasanya, seperti memberikan sentuhan ajaib membuat para tamu dan memperlai pria kagum dengan kecantikan Stevani hari ini.
Membutuhkaan waktu dua jam lamanya Stevani di rias, karena make up yang di gunakan untuk pengantin berbeda dengan make up dari lainnya. Sedangkan untuk meyanggul rambut tidak selama pengerjaannya seperti make up.
"Nona, silahkan berganti pakaian." Ucap perias kepada Stevani.
Stevani yang sejak tadi memejamkan kedua matanya kini bangun, sejenak dia melihat dirinya di pantulan cermin. Sangat berbeda dari biasanya, seulas senyum muncul di bibir cantiknya membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut bernafas lega karena Stevani tampak puas dengan make upnya hari ini.
Mereka dengan cekatan membantu Stevani mengenakan gaun pernikhannya, Stevani berdiri di tengah-tengah gaun dan di naikkan oleh dua pegawai butik, mereka juga mengencangkan bagian punggung dan pinggang agar tidak jatuh melorot.
"Bagaimana Nona Stev? Apakah anda sesak?" Tanya pegawai butik yang belum menyelesaikan bagian belakang gaun.
"Tidak, bisa di kencangkan sedikit ... sedikit saja." Jawab Stevani dengan menggerakkan jemarinya.
Pegawai butik melakukan apa yang di perintahkan Stevani, "Bagaimana Nona?" Tanya mereka lagi.
"Sudah pas." Kata Stevani mengangguk.
Segera mereka mengencangkan bagian belakang dan merapikan bagian gaun yang mekar agar tampak proporsional di tubuh Stevani, dengan sabar Stevani menunggu para pegawai butik sampai selesai membenarkan gaunnya.
"Asisten anda ke mana, Nona? Sepertinya tidak kelihatan sejak anda datang ke butik beberapa kali." Tanya seorang pegawai yang masih fokus dengan pekerjaannya.
Stevani diam sejenak, benar. Kemana Yona selama ini, bahkan saking sibuk dengan acara perniakahannya Stevani sampai tidak sadar jika Yona tidak berada di sampingnya.
"Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, kalian tahu sendiri pekerjaanku di balik layar bisa berkali lipat dari yang kalian lihat." Jawab Stevani berbohong.
__ADS_1
"Wah, tentu saja. Pasti kalian sangat sibuk, tapi anda hebat karena selalu menghasilkan foto yang memuaskan Nona." Ucap pegawai memberikan dua jempolnya.
Stevani tertawa tapi di dalam hatinya gelisah karena dia seperti sahabat yang buruk, tidak menyadari kehadiran Yona. Seharusnya di saat seperti ini, sahabatnya itu berada di sisinya.
"Jika asisten anda tidak berada di sini, lalu gaunnya harus kami kirim kemana Nona?" Tanya pegawai lainnya.
"Hah? gaun?" Ucap Stevani bingung.
"Iya, anda memesannya setelah sehari melakukan feerting baju dengan calon suami anda. Kami juga membawanya kemari karena kami pikir asisten anda berada di sini." Jelas pegawai butik.
"Letakkan saja di dalam lemari, aku akan menghubunginya. Mungkin dia masih terjebak macet atau lupa jika hari ini adalah pernikahanku karena terlalu banyak pekerjaan." Jawab Stevani pelan.
"Baik, Nona." Jawab keduanya serentak.
Kini Stevani sudah selesai mengenakan gaun pernikahannya, dengan di bantu dua pegawai butik Stevani berjalan keluar dari ruang ganti. Pegawai yang menunggu pengantin tengah berganti gaun terperangah memandang kea rah Stevani.
Bahkan ada yang spontan bertepuk tangan karena melihat Stevani sangat jauh berbeda, kecantikannya bekali-kali lipat dari hari biasanya. Meskipun mereka sering melihat Stevani di foto tetapi kali ini berbeda.
“Wah, nona anda sangat cantik!”
“Benar … benar … bahkan anda belum mengenakan aksesorisnya.”
“Apakah seperti ini rasanya memandang anda secara langsung saat photo shoot?”
Mendengar ucapan para pegawai membuat Stevani tertunduk karena malu, entahlah rasanya sangat bahagia hari ini mendapatkan pujian meskipun dia sudah sering mendengarnya tetapi hari ini rasanya lebih bahagia dan gembira mendengarnya.
“Benarkah? Tanya Stevani malu-malu.
“Benar, mari nona aku akan membenarkan make up dan memasangkan aksesoris lainnya.” Jawab MUA
Stevani berjalan menuju kursi rias yang masih di bantu oleh pegawai butik untuk mengangkat gaunnya, setelah kembali duduk MUA segera kembali memoleskan kembali kuas ajaibnya. Stevani sibuk menghubungi Yona karena sejak beberapa hari lalu tidak mendapatkan kabar.
Dia mencoba menghubungi Yona tetapi hanya jawaban dari operator yang menjawab panggilannya, hal itu membuat Stevani khawatir bahkan dia kembali mencoba menghubungi nomor Yona.
“Yona kamu di mana? Apa kamu lupa hari ini adalah hari pernikahanku, datanglah ke Hotel Shilla di kamar Presidential Suites sayap kiri. Gaunmu aku taruh di dalam lemari, segera balas pesan ini.”
Stevani akhirnya mengirimkan pesan singkat, dia berharap segera Yona membalas pesannya. Dia sangat khawatir dan menyesal karena melupakan sahabatnya karena sibuk dengan pernikahannya.
“Jika tidak ada kabar, aku akan mengerahkan pengawal untuk mencarinya.” Gumam Stevani dalam hati.
__ADS_1