
Happy Reading 🌹🌹
Waktu berlalu, setelah serangkaian acara bulan madu di Bali. Kini Stevani dan Bara sudah kembali ke negaranya Eropa.
Semenjak pernyataan cinta Bara dan penyatuan hati itu, hubungan keduanya semakin erat, dan saling membutuhkan.
Bukan hanya Bara yang membutuhkan kehadiran Stevani tetapi Stevani juga membutuhkan Bara untuk tempat bersandarnya.
Langit tampak masih gelap, tetapi dua insan masih terjaga. Suara rengekan manja dan ucapan cinta terus melantun di kamar utama yang luas.
"Ah, Bara!" Jerit Stevani dengan tubuh yang bergetar seperti ikan menggelepar.
"Sayang!" Saut Bara yang bersamaan.
Bara menjatuhkan tubuh kokohnya di atas tubuh sang istri, keduanya berlomba-lomba menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Dengan erat Bara memeluk tubuh Stevani yang masih berada di bawah kungkungannya, sedangkan Stevani sudah tidak berdaya. Jangankan memeluk untuk berkata saja kedua matanya sudah sangat berat.
Melayani suami di atas ranjang tentu saja Stevani dengan senang hati melakukannya, tetapi lain cerita jika Bara yang memintanya.
Dia seakan menyesal karena memancing singa yang bertahun-tahun puasa, sekali di hidangkan menu utama terus menerus mengajak bergulat seakan tidak ada hari esok.
"Menyingkirlah, kamu berat sayang." Ucap Stevani dengan kedua mata yang terkantuk-kantuk.
Bara mengangkat kepalanya hingga melihat dengan jelas wajah cantik sang istri, wajah yang mengkilap akibat banyaknya keringat karena aktivitas keduanya.
"Sekali lagi ya." Ucap Bara yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Stevani.
"Sudah, aku lelah sayang. Setiap hari kamu sudah menggempurku, memang kamu tidak jenuh." Tolak Stevani dengan wajah masam.
"Tidak, karena kamu canduku." Jawab Bara dengan mengecup bibir Stevani singkat.
Stevani hanya mampu membuat wajahnya yang sudah memerah menahan malu, "Besok lagi, aku ingin bebersih sayang. Aku mengantuk." Ucap Stevani yang masih belum berani menatap suaminya.
Bara hanya tersenyum simpul dan kemudian berguling kesamping, membuat di bawah terasa lega.
Stevani lantas beranjak dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi, yang sebelumnya dia memunguti pakaiannya kembali.
__ADS_1
Bara hanya melihat kepergian Stevani begitu kamar mandi di tutup, senyum mencurigakan terbit. Dia melihat kearah jam dinding untuk menghitung waktu.
Hingga sepuluh menit berlalu, suara air tidak terdengar. Dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk menyusul Stevani dengan berjinjit.
Bara tahu, jika Stevani kali ini teledor karena tidak mengunci pintu kamar mandi. Stevani yang sedang berendam di dalam bath up langsung terperanjat kaget saat ada orang lain masuk bersamanya.
"Sayang, kenapa ikut masuk. Kamu mandilah di sana." Tunjuk Stevani di sebuah kotak kaca dengan satu shower di atasnya.
Bara tersenyum dengan menggelengkan kepalanya saja, "Aku hanya ingin membantu istriku menggosok punggungnya saja." Jawab Bara.
Stevani menyipitkan kedua matanya, dia menelisik wajah pria di depannya.
"Tidak perlu sayang, lain kali saja." Tolak Stevani halus.
"No ... No ... No, aku setiap hari akan menggosok punggungmu sayang." Bara tidak menerima penolakan.
Stevani haya memutar bolanya malas, "Jangan ada adegan me*sum." Tegas Stevani.
Bara tidak menjawab dua memegang kedua pundak Stevani untuk membelakanginya, Stevani meluruhkan rasa curiganya karena Bara memang menggosok punggungnya.
Terasa sangat nyaman dan lembut, suaminya melakukannya dengan sangat baik bahkan membuat Stevani merasa rileks.
De*sahan lolos bergitu saja dari bibir Stevani di saat kedua tangan suaminya tidak menganggur. Di bawah air ranting yang lembut mengobrak-abrik keong kecil sedangkan tangan satunya memainkan benda kesayangannya.
Kurang lebih tiga puluh menit lamanya, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Bara keluar dengan wajah kemenangan sedangkan Stevani wajah masam.
Lima bulan kemudian.
Stevani tengah bermalas-malasan di dalam kamar. Tidak biasanya wanita yang sangat atraktif tersebut berdiam diri.
Sedangkan Bara sedang bekerja, dia tengah sibuk dengan dokumen, dan berkas-berkas lainnya.
Ketukan pinti terdengar, Jundi segera masuk untuk meminta tanda tangan dari atasannya.
Bara yang melihat wajah sahabatnya tampak lesu membuatnya menyudahi pekerjaannya sejenak. Dia beranjak dari kursi kebesarannya, menuju sofa yang berada tak jauh dari meja kerjanya.
__ADS_1
"Duduklah." Ucap Bara yang langsung di lakukan oleh Jundi tanpa bersuara.
Keduanya duduk saling berhadapan dengan keheningan, belum ada lagi yang membuka suara di sana.
"Ada apa? Kenapa kamu belum datang ke mansion?" Tanya Bara yang memulai pembicaraan.
Jundi masih diam, dia membuang pandangannya kesembarang arah. Wajah dan mulut yang selalu berbicara tanoa filter kini hanya diam, membuat orang-orang yang terbiasa dengan suaranya merasa frustasi.
"Kenapa kamu diam saja? Jika kamu tidak bisa berbicara, biarkan anak buahku yang mengatakannya." Lanjut Bara lagi yang sudah merogoh saku jasnya.
"Aku tidak jadi menikah." Ucapnya.
Gerakan Bara terhenti, dia menatap wajah sahabatnya dengan wajah yang tidak biasa.
"Kenapa?" Tanya Bara dengan bersedekao dada siap mendengarkan cerita Jundi.
"Bagaimana pendapatmu soal orang tua, bukan lebih tepatnya iblis berkedok orang tua." Ucap Jundi dengan wajah merah padam.
Bara yang jarang melihat sisi lain dari Jundi merasa jika keadaan ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ceritakan." Ucap Bara dengan singkat.
Jundi bimbang sejenak, dia hanya memiliki Bara yang selalu menjadi tenpat berkeluh-kesahnya saja. Menghirup udara dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Dengarkan aku hingga selesai, jangan potong ucapanku meski bibirmu gatal ingin berkata." Jundi memperingatkan terlebih dahulu kepada Bara dengan wajah serius.
Bara mengangguk cepat, tubuh keduanya mencondong kedepan. Jundi mulai bercerita yang awalnya tampak dingin lama kelamaan menjadi bibir ibu-ibu yang tengah berghibah.
Sedangkan lawan bicaranya, menunjukkan ekspresi raut wajah yang berbeda-beda. Setiap ingin bertanya, bibir Bara langsung di bekap oleh Jundi yang masib terua bercerita.
Sehingga membuat Bara hanya merespon mengangguk dan alisnya yang naik dan turun saja.
"Begitu." Jundi mengakhiri ceritanya.
Bara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Hem, kamu membuang waktu satu jamku dengan sia-sia. Seharusnya kamu datang kemansion untuk meminta solusi kepada kakek." Ucap Bara yang sudah berdiri dari duduknya.
"Astaga, bisa-bisanya. Seharusnya kamu bisa aku ajak mencari solusi di tambah ada Stevani juga." Gerutu Jundi sebal.
__ADS_1
"Ah, kamu mengingatkanku. Aku belum melihat wajah istri cantikku hari ini setelah sampai kantor." Bara berjalan menuju meja dan meninggalkan Jundi begitu saja.
"Ck, bucin."