
Happy Reading đčđč
"Benar apa kata temanmu, lebih baik kamu pulang dan segera cuci kaki tanganmu, segera tidur dengan memakai baju teddy bear Nyonya Kristoff." Bara menimpali ucapan Yona.
Yona melebarkan kedua matanya sehingga membulat sempurna, bagaimana bisa pria itu tahu keluarga Stevani apakah pria di depannya ini juga orang penting. Tapi mengingat Stevani adalah selebgram terkenal tentu saja sangat mudah mengetahui latar belakang yang memang tidak di tutup-tutupi.
Stevani mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali dia menghajar mulut cabe milik Bara yang sejak tadi mencecarnya dengan perkataan tajam dan menghina dirinya.
"Bilang saja jika kamu tidak mampu mensponsoriku, kamu tahu tarifku satu kali foto bisa membeli pakaian yang kamu kenakan." Jawab Stevani tersenyum miring.
Bara semakin tersulut emosi, gaji artis kelas nomor satu belum tentu bisa membeli pakaiannya karena pakaian yang sedang di kenakan olehnya saat ini hanya ada lima puluh potong di dunia.
"Benarkah? Berarti kamu investasi yang sangat menguntungkan untukku jika sekali foto gajimu setara dengan harga pakaianku saat ini." Katanya dengan mengunci pandangannya pada mata hitam pekat tersebut.
Dengan menyelipkan anak ramputnya di belakang telinga, Stevani menjawab dengan angkuh "Tentu saja, pakaian yang hanya ada lima puluh potong di dunia. Kamu tahu pakaianmu itu sama dengan pakaian Ayahku pasaran sekali, aku bahkan bisa membelikanku satu potong pakaian hanya ada satu di dunia ini."
Bara merogoh saku jas bagian dalamnya, mengambil satu kartu berwarna hitam metalic dan di letakkan di hadapan Stevani. "Hubungi perusahaanku jika kamu benar-benar membutuhkan sponsor, dan siapapun kamu meskipun anak konglomerat aku tidak tertarik sama sekali." Ucap Bara yang langsung berdiri dari duduknya.
Melihat Bara melangkah pergi membuat Jundi panik dan bingung, segera dia mengikuti langkah Bara yang lebar keluar dari restoran. Stevani acuh dengan kepergian Bara, jemari lentiknya mengambil kartu nama berwarna hitam tersebut.
"Bara Green Smith Santosa. Aku akan mendapatkanmu." Gumamnya pelan.
Baru pertama kali dalam kehidupan Stevani ada pria yang tidak menginginkannya, membuat adrenalin nya terpacu. Terlebih dia tahu jika pria itu bukan pria sembarangan tentu saja jika mendapatkan pria itu tidak akan ada halangan apapun.
Segera Stevani memasukkan kartu nama Bara ke dalam tas, dia harus berfikir bagaimana bisa menjerat Bara dalam pesona nya. Memikirkan hal itu membuat Stevani mengumpat pelan, pasti Bara sudah melihat pakaian dalam dan lingerinya tetapi bukannya tergoda justru mengatainya untuk operasi dengan mengenakan baju teddy bear.
"Stev, bagaimana jika dia akan menyebarkan gosip." Yona memegang lengan Stevani pelan dengan wajah cemas.
"Tidak mungkin, percayalah padaku." Jawab Stevani dengan tersenyum tipis ke arah Yona.
__ADS_1
"Apa aku perlu mengejarnya Stev, mereka pasti lapar karena bertandang ke restauran, dan kita membuat mereka pergi sebelum makan." Ucap Yona tidak enak hati kepada Bara.
"Tenanglah dia bukan orang miskin, dia bisa membeli makanan di mana saja." Jawab Stevani menepuk punggung Yona pelan.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dengan mendorong troli makanan, "Permisi, pesanannya Nona," Ucap pelayan sopan.
Sang pelayan segera menghidangkan makanan yang di pesan, tampak meja penuh dengan beraneka makanan khas Eropa. Stevani dan Yona menatap penuh binar, semua makanan tampak lezat bahkan aromanya saja sudah sangat menggugah selera.
"Selamat menikmati." Ucap pelayan yang kemudian undur diri.
"Wah, apa kita bisa menghabiskan ini semua?" Tanya Stevani yang masih takjub.
Yona menggelengkan kepalanya pelan, "Tapi ini kelihatannya sangat enak, Stev, Apakah bisa di bungkus jika tidak habis?" Tanya Yona dengan berkedip cepat seakan sangat sayang jika sampai tersisa.
"Ayo kita makan saja, masalah itu kita pikir belakangan." Jawab Stevani mengalihkan topik pembicaraan.
Yona menghentikan tangan Stevani yang akan menyendok makanannya, "Tunggu! Aku harus memfoto ini semua." Ucap Yona yang sudah mengeluarkan ponselnya.
"Bagaimana, terlihat cantik dan menggiurkan bukan?" Tunjuk Yona kepada Stevani.
"Iya, kamu selalu terbaik saat mengambil foto." Puji Stevani dengan memberika dua jempol kepada sahabatnya.
"Ayo makan, Stev. Aku sudah tidak sabar merasakan masakan Eropa di negaranya langsung," Ucap Yona yang langsung mengambil curos dan di celupkan ke dalam saus coklat.
"Wuah ... ini sungguh gila rasanya, sangat berbeda yang berada di negara kita." Puji Yona dengan wajah bahagianya.
"Benarkah? Aku juga akan mencobanya." Stevani juga mengambil curos dan di celupkan ke dalam cokla cair.
Keduanya memakan curos dengan wajah bahagia, bahkan Stevani melupakan Bara yang membuatnya kesal sampai ubun-ubun.
__ADS_1
Churos terbuat dari adonan tepung yang digoreng, dibalur gula, dan bubuk kayu manis. Adapula saus cokelat sebagai pelengkap membuat churros, membuatnya menjadi salah satu snack terfavorit.
Paela semacam nasi goreng seafood jika disamakan di Indonesia. Yang berbeda adalah bumbu-bumbu yang digunakan, serta lebih banyaknya lauk pauk yang digunakan.
Patatas Bravas mirip dengan kentang goreng, tapi bentuknya berbeda. Kentangnya dipotong menjadi seperempat. Dibumbui saos pedas serta mayonais.
Pan Con Tomate merupakan salah satu hidangan yang simpel. Kita pun bisa membuatnya sendiri. Kamu hanya butuh roti, tomat, dan panggangan. Rasanya gurih seperti pinggiran pizza. Aroma tomat yang khas bikin gak bisa nolak kudapan ini.
Terlihat seperti pizza, tapi lebih mirip dengan quiche. Namun, apa jadinya jika quiche dan sejumlah tumbukan kentang digabung? Tortilla Española lah jadinya! Kelembutan adonan dan cita rasa yang bermacam-macam meningkatkan kesedapan makanan ini.
Di luar restoran Jundi mencekal pergelangan Bara, "Hey! Kenapa kita yang pergi seharusnya mereka yang meninggalkan meja kita." Ucap Jundi kesal karena dia benar-benar lapar.
"Sudahlah, aku malas meladeni wanita gila itu. Lebih baik kita pindah restoran saja." Ajak Bara yang sudah masuk ke dalam mobil.
Jundi menoleh ke arah restoran dengan wajah kesal, "Aku doakan kamu tersedak!" Ucapnya dengan penuh kesal.
Stevani dan Yona menikmati semua hidangan yang berada di atas meja dengan khitmat, bahkan sudut bibir mereka yang kotor tidak di hiraukan. Hingga Stevani tersedak membuat Yona segera meletakkan sendoknya dan mengambil satu gelas orange juice ke arah sahabatnya, "Pelan-pelan, Stev." Ucapnya.
Stevani hanya mengangguk cepat dan segera menerima gelas tersebut, hitungan detik jus jeruk sudah tandas tak tersisa tapi Stevani masih terbatuk-batuk kecil karena tenggorokannya terasa panas akibat tersedak.
__ADS_1
Jundi segera masuk ke dalam mobil, memasukkan kunci, dan mulai menyalakan mesin mobil. Perlana mobil sedan putih itu bergerak meninggalkan area parkir restoran, ingin hati makan malam dengan tenang tapi berakir pertikaian.
Beruntung area restoran tersebut jaraknya cukup dengak dengan beberapa restoran mewah lainnya, Jundi segera berbelok ke restoran kedua. Berharap malam ini benar-benar dapat makan dengan damai dan tenang, segera keduanya berjalan menuju restoran untuk memesan makanan yang memasaknya tidak membutuhkan waktu lama.