Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Jundi punya pacar?


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"L!" Teriak Kakek Santosa di dalam mansion.


Paman L yang tengah berada di belakang tergopoh-gopoh berlari ke arah majikannya, tampak wajah cerah Kakek Santosa.


"Saya tuan." Jawab Paman L.


"L segera intruksi seluruh oelayan di mansion ini, untuk membersihkan kamar Bara dan mengganti spreinya. Hari ini Bara dan Stevani berangkat dari Korea Selatan menuju Eropa." Jelas Kakek Santosa kepada Paman L.


"Baik tuan."


Paman L segera berlalu dari hadapan Kakek Santosa, dia menyuruh beberapa maid untuk mengumpulkan seluruh pekerja yang bekerja di mansion Smith.


Kini para pelayan, tukang kebun, dan penjaga tengah berkumpul berbaris rapi di taman belakang.


"Dengarkan semuanya! Hari ini Tuan Bara sedang dalam perjalanan ke Eropa bersama istrinya, oleh karena itu empat orang maid membersihkan kamar utama yang akan di gunakan oleh Tuan Bara dan istrinya sedangkan yang lain membantu membersihkan setiap sudut mansion. Apa kalian mengerti?" Ucap Paman L panjang lebar kepada para pekerja.


"Mengerti, tuan." Jawab mereka serentak.


"Satu lagi, berperilaku baik kepada istri Tuan Bara." kata Paman L kembali.


"Bail tuan." jawab mereka serentak.


Paman L menggerakkan tangannya, menandakan jika barisan di bubarkan. Empat orang main berjalan menuju lantai dua dengan semua peralatan kebersihan juga bed cover baru.


Empat maid mulai melakukan pekerjaannya masing-masing, dua orang mengganti sprei dan bed cover untuk di ganti yang baru.


Dua maid lainnya mengelap barang-barang yang terpajang di dalam kamar, dan membersihkan kamar mandi meskipun setiap hari sudah selalu di bersihkan.


Terakir empat maid lakukan yaitu mengepel dan memvakum lantai agar terhindar dari debu. Paman L yang sejak tadi sudah berjalan ke sana ke mari untuk mengawasi dan membantu para pekerja mansion agar cepat selesai.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Paman L bergegas naik ke lantai dua menuju kamar Bara di mana para maid tengah membersihkan lantai.


Paman L yang melihat kedatangan Kakek Santosa tengah berjalan menuju ke arahnya bersama Jundi, sedikit bergeser memberikan ruang untuk majikannya.


"Sudah selesai L?" Tanya Kakek Santosa.


"Sebentar lagi, Tuan. Mereka tengah membersihkan lantai." Jawah Paman L.

__ADS_1


Kakek Santosa mengangguk, mata tuanya memandangi seluruh ruangan kamar sang cucu dari ambang pintu.


Para maid bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar majikannya dapat mengecek hasil pekerjaan mereka.


Salah satu dari mereka berjalan menghampiri Kakek Santosa, "Sudah selesai, Tuan." Ucapnya.


"Kalian boleh pergi beristirahat." Jawan Kakek Santosa lembut.


Jundi mendorong kursi roda Kakek Santosa masuk ke dalam kamae Bara yang di ikuti Paman L, sedangkan para maid memberikan hormat kemudian bergegas keluar.


Melihat kasur besar yang hampa membuat Kakek Santosa tersenyum penuh arti, "Jun, L... Bukankah kasur itu terlalu polos untuk pasangan pengantin baru?" Tanyanya menoleh ke arah Jundi.


Jundi dan Paman L yang bingung saling pandang dan mengangguk sebagai jawaban meski belum tahu apa yang di inginkah oleh majikannya.


"Hubungo toko bunga terdekat untuk menghias seluruh kamar ini menjadi kamar pengantin." Kata Kakek Santosa kepada keduanya.


"Baik Tuan, akan saya hubungi." Jawab Paman L yang mulai memahami situasi.


Kakek Santosa hanya mengangguk saja dengan wajah berbinar bahagia, Jundi yang sejak tadi diam lantas membisikkan sesuatu di telinga Kakek Santosa.


Sekali lagi pria tua itu mengangguk tapi wajahnya berubah kaget, "Jaga batasam Jundi." Ucapnya.


Jundi menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "Tenang, Kek. Bukan kita yang membeli tapi orang lain tentu saja seorang wanita." Jelas Jundi sebelum melihat Kakek Santosa marah.


"Bukan ... Bukan ... dia .... Ke-kekasihku." Jundi menjawab dengan nada yang paling lirih di akhir.


Kakek Santosa meskipun sudah berumur tetapi telinganya masih berfungsi dengan baik, "Kekasih? Kamu punya kekasih? Mana dia, kenapa tidak kamu kenalkan kepada kami." cecar Kakek Santosa kepada Jundi.


"Di apartemen." Kata Jundi polos.


Plak!


Suara pukulan yang mendarat sangat keras di punggung kanan Jundi terdengar nyaring, membuat pria muda nan tampan itu mengaduh kesakitan.


"Kenapa Kakek memukulku." Ucap Jundi dengan wajah yang mencebik kesal.


"Dasar! Siapa yang mengajari membawa perempuan selain istrimu di apartemen!" Sentak Kakek Santosa dengan keras.


Jundi hanya menundukkan kepalanya dalam, "Maaf, tapi kami tidak satu apartemen. Aku tidur di kantor." Jawab Jundi dengan pelan.

__ADS_1


Kakek Santosa membuang nafasnya dengan kasar, "Setelah Bara sampai di Eropa, bawa kekasihmu menemuiku." Titah Kakek Santosa.


Jundi hanya mengangguk pelan, Kakek Santosa mengelus surai hitam sahabat sang cucu dengan penuh kasih. Nasib Jundi juga tidak jauh berbeda dari Bara, hanya saja Jundi di tinggal oleh orang tuanya saat duduk di bangku SMA.


Setidaknya, Jundi merasakan kasih sayang orang tuanya sampai dewasa.


"Yasudah, segeralah berbelanja dengan kekasihmu. Bawa ini kamu juga belilah sesuatu." Ucap kembali Kakek Santosa memberikan black card kepada Jundi.


Mata Jundi berbinar terang, "Black card? Jangan menyesal setelah ini ya kek." Kata Jundi dengan senyum pepsodent.


"Huh, uangku tidak akan habis meskipun menggelar pernikahanmu saat ini juga." jelas Kakek Satosa dengan nada bercanda.


Jundi hanya tersenyum simpul saja, dia mendorong kurai roda Kakek Santosa untuk menuju lift. Beruntung mansion Smith ada lift sejak awal di bangun, sehingga memudahkan Jundi dan para pekerja jika naik ke lantai dua ataupun tiga.



Waktu menunjukkan tengah malam, pesawat Korean Air Lane tengah mendarat dengan selamat di bandara Berlin Eropa.


Bara dan Stevani segera membawa barang pribadi yang mereka bawa masuk ke dalam pesawat seperti penumpang lainnya.


Penumpang besawat kelas satu keluar terlebih dahulu di bandingkan kelas ekonomi, Stevani berjalan mengikuti Bara karena dia belum tahu di mana tempat tinggal suaminya.


"Kita akan tinggal di mana? Mansion, perumahan, atau apartemen?" Tanya Stevani yang berada di samping Bara.


"Kamu tinggal memilih." Jawab Bara seadanya.


Stevani mencebik kesal hingga keduanya sudah melewati para penjaga keamanan dan mengambil kopernya masing-masing.


Dengan susah payah Stevani membawa dua koper besar di tangannya, "Hey! Tunggu aku." Serunya berlari kecil mengikuti langkar Bara yang lebar.


Bara menghentikan langkahnya dan menoleh, "Sudah ku bilang tidak perlu membawa semua barangmu." Kata Bara.


"Ini semua barang sangat penting untuk hidupku, kamu sebagai suami seharunya membantu istrimu. Nih, bawakan koperku." Jawab Stevani dengan gaya yang imut di mata Bara.


Paman L yang menunggu Bara dan Stevani di depan bandara segera berlari ke arah majikannya, "Biar saya bawakan tuan." ucapnya.


Bara menyerahkan satu koper besar milik istrinya, ketiganya berjalan menuju mobil SUV berwarma putih. Paman L memasukkan tiga koper dengan berbeda ukuran yang tampak sangat jelas.


"Kenapa Nona Stevani benar-benar seperti orang pindahan, padahal Tuan Bara mampu membelikan semua ini." Gumam Paman L yang kemudian menutup pintu bagian belakang mobil.

__ADS_1


Perlahan mobil SUV putih berjalan meninggalkan bandara dan menuju mansion. Hanya ada keheningan di dalam mobil terlihat Bara yang memejamkan kedua matanya sedangkan Stevani sibuk dengan ponselnya.


"Mereka pasti akan kaget dan senang dengan kejutan dari Tuan Santosa." Gumam Paman L yang melihat keduanya dari kaca spion tengah.


__ADS_2