
Happy Reading 🌹🌹
Kurang lebih 5 menit, mereka menikmati gigitan demi gigitan, jilatan demi jilatan dan juga hisapan membuat mereka mulai terhanyut satu sama lain.
Namun, sayang. Saat Bara mulai menikmati, Stevani sudha kehilangan napas hingga memukul tubuh Bara dengan kecepat agar segera di lepaskan.
Bibir mereka terlepas bersamaan dengan air liur yang tersisa di bibirnya satu sama lain. Wajah memerah diantara keduanya terlihat jelas, membuat mereka menjad salah tingkah.
"Kenapa kamu malah menciumku?" ucap Bara, berpura-pura kesal.
"Yee, kalau enggak suka kenapa tadi kamu membalasnya lebih ganas dariku. Hem?" goda Stevani, menaik-naikkan alisnya.
"E-enggak, mana ada. Kamu itu yang mulai duluan, lagian juga ini tempat umum. Ngapain sih main nyosor aja kek Soang!" celetuk Bara, wajahnya masih memerah.
"Ciee, yang malu di cium istrinya sendiri. Lagian kamu itu kenapa sih, kita kan udah menikah jadi gapapa dong. Habisnya kalau aku enggak begini, gimana kita belah durennya? Kamu aja sikapnya malu-malu awrrggg."
Stevani berbicara sambil memperagakan seekor singa yang garang dan ingin menerkam mangsanya, sementara Bara hanya bisa salah tingkah saat istrinya begitu pandai menggodanya.
"Ka-kalau kamu mau belah duren, ya udah sana beli durennya terus makan sendiri sepuasmu. Aku enggak doyan!" jawab Bara pura-pura polos.
"Ishh, maksudku bukan itu sayang! Astaga, kamu itu sebenarnya cowok gentle apa tulen sih! Belah duren aja enggak tahu, bahkan cowok tulen aja jauh lebih tahu dari kamu!" sahut Stevani kesal, saat melihat suaminya begitu dong*o terhadap kode yang dia berikan.
"Lah, terus apa?" jawab Bara, spontan.
"Eee, i-itu sayang. Eee, a-anu ...." Stevani memainkan jarinya sedikit menunduk, rasanya dia sangat malu ubtuk mengungkapkannya. Apa lagi Bara merupakan pria yang tidak peka dengan kode yang sudah dia berikan.
__ADS_1
Bara mengerutkan kedua alisnya melihat Stevani seperti orang yang sedang bingung. "Katakan yang bener, jangan ona anu ona anu aja. Udah kaya orang gagap!" Bara mengoceh tanpa mengerti perasaan Stevani, yang sebenarnya dia sangat ingin merasakan kehangatan suaminya.
Mendengar penutusan Bara yang sedikit nyelekit, Stevani pun langsung bangkit dari duduknya sambil membersihkan bokongnya dan berkata. "Tahulah, kamu itu nyebelin banget sih! Apa kamu lupa kita itu udah menikah. Bukan kaya orang masih pacaran. Harusnya kamu paham kewajibanmu sebagai suami!"
"Aku juga butuh kasih sayang kamu, kehangatan kamu dan juga pernyataan cinta kamu untuk aku! Tapi, mana? Selama ini kita dekat, jalani hubungan tidak pernah aku dengar kamu mengatakan kalau kamu cinta sama aku!"
"Sementara kamu selalu mendengar perkataan cinta yang aku ucapkan langsung. Jika kamu tidak mencintaiju, buat apa kita menikah? Percuma, mending pisah aja sekalian!"
Setelah selesai mengungkapi unek-unek dihatinya yang terpendam untuk kedua kalinya jika pertama saat di dalam kamar mandi kali ini dipantai Bali, Stevani langsung pergi meninggalkan Bara yang masih duduk menatap kepergiannya.
Rasa kesal, marah dan juga sedih. Kini mulai melanda perasaan Stevani, sampai akhirnya tanpa terasa air matanya mulai menetes. Stevani selalu berpikir apakah suaminya sudah mulai mencintainya atau hanya berpura-pura bersikap baik padanya.
Bahkan selama ini mereka bersama tidak sekalipun Stevani mendapatkan perlakuakn spesial dari suaminya. Jangan sikap spesial, untuk mendengar dia mengatakan 'Aku Cinta Kamu' saja Stevani belum pernah mendengarnya.
Setelah kepergian Stevani, Bara langsung berlari untuk mengejarnya hingga memanggil-manggil namanya, tapi tak kunjung membuat Stevani berhenti. Dia malah kembali menambahkan kecepatan larinya untuk bisa kembali ke Hotelnya yang letaknya tidak jauh dari Pantai.
Cuman yang anehnya, kenapa aksi mereka sama persis seperti film kartun Tom and Jerry. Sehingga terkesan lucu dan sedikit menegangkan.
"Sayang, tunggu aku! Aku minta maaf, aku salah udah membuatmu kesal. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya, asalkan kamu tidak marah lagi padaku!"
"Aku tidak mau pisah sama kamu. Aku sangat mencintaimu, sayang. Please berhenti, jangan buat aku khawatir seperti ini!"
Teriakan dan ucapan Bara tidak digubris sama sekali oleh Stevani, menurutnya perkatan Bara merupakan angin lewat yang tidak ada manfaatnya.
Sesampainya di Hotel, mereka masih berlarian saling kejar mengejar. Sayangnya, Bara ketinggalan. Dimana Stevani sudah memasuki lift untuk menuju kamarnya.
__ADS_1
"Arrghh, si*al! Kenapa lemah banget sih jadi cowok. Ngejar satu wanita aja enggak bisa. Ini juga mulut apaan sih, kenapa susah banget buat nyatain cinta sama istri sendiri."
"Setiap lagi berdua kenapa susah mengatakannya serasa bibir ini terkunci begitu rapat. Berbeda jika lagi marah dan penuh emosi, pasti mengatakan aku cinta kamu aja itu adalah hal yang sangat gampang!"
Gerutuk Bara sambil menunggu lift terbuka, setelah itu dia masuk lalu memekan tombol lantai 15. Disanalah kamar Hotel mereka berada, kamar nomor 1010 adalah kamar yang akan menjadi saksi bisu bersatunya mereka.
Namun, kandas. Akibat ulah Bara yang sangat menyebalkan, istrinya sudah bersikap romantis, tetapi suaminya malah menghancurkan moodnya.
Sesampainya didepan kamar Hotel, Stevani langsung masuk lebih dulu dan mengunci pintu agar Bara tidak bisa masuk. Habisnya dia terlalu menyebalkan untuknya, jadi sekali-kali Stevani menghukumnya agar dia jerat.
Tok, tok, tok ...
"Sayang, bukain pintunya. Please aku mohon, maafin aku. Aku janji enggak akan menyebalkan lagi!"
"Ayolah, sayang. Bukain pintunya, masa kamu tega sih membiarkan suamimu di luar seperti ini. Apa kata orang nanto coba!"
"Masa iya, kita pergi ke sini karena ingin berbulan madu. Tapi, malah berakhir seperti ini sih. Kan enggak seru!"
Bara merengek bagaikan anak kecil, sambil tangannya terus menggedor-gedor pintu Hotel. Sementara Stevani yang masih menyender di belakang pintu, masih terlihat kesal.
Sebenarnya dia tidak tega dengan suaminya, cuman mau bagaimana lagi. Jika tidak seperti ini suaminya akan terus bersikap semauanya. Apa lagi pengungkapan kata cinta itu sangat penting bagi suami istri tersebut.
2 jam kemudian, suara Bara mulai melemah. Dia terduduk sambil menyender kearah pintu sesekali mengetuk hingga menoleh kearah pintu.
Stevani yang ada di dalam ternyata sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat Bara langsung terpincut akan kecantikannya.
__ADS_1
Ya, memang Stevani marah dan kesal dengannya. Hanya dia juga tidak akan mungkin menggagalkan bulan madunya begitu saja. Jika Bara tidak seperti pria lain yang sat, set, sat set terhadap istrinya.
Maka, Stevanilah yang harus turun tangan. Walaupun dia sendiri juga belum siap untuk unboxing, tapi mau bagaimana lagi. Jika bukan sekarang kapan lagi. Mungkin dengan merubah penampilannya membuat Bara dengan sendirinya akan menyentuh Stevani tanpa diminta.