Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Happy Family


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


9 bulan kemudian.


"Sayang! Di mana dasiku?" Teriak Bara kepada Stevani yang tengah berada di dalam kamar mandi.


"Meja riasku sayang, tidak perlu teriak-teriak atau aku sumpal mulutmu itu." Jawab Stevani galak.


Bara hanya menampakkan deretan gigi putihnya, dia kembali berjalan ke arah sang istri yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan dasi yang sudah dia ambil.


Seperti biasa, yang memasangkan dasi haruslah Stevani. Bara duduk mensejajarkan tubuhnya meskipun sedikit rendah dari istrinya.


Tangannya mengelus perut yang sangat buncit tersebut, "Aku sudah tidak sabar anak kita melihat dunia." Ucap Bara dengan wajah bahagia.


"Aku juga sayang, tapi kita harus bersabar. HPL ku masih empat hari lagi." Jawab Stevani dengan tersenyum tipis.


Bara mengangguk, "Apa kita tidak berangkat saja, kita langsung ke rumah sakit agar kamu mulai di rawat." Tanya Bara kepada sang istri.


"Huh, orang aku belum merasakan ingin lahir. Kita harus menghadiri pernikahan Jundi dan Yona, bagaimanapun mereka orang-orang terdekat kita." Jawab Stevani dengan cepat.


"Baiklah ratuku, ayo kita berangkat." Kata Bara dengan menggenggam tangan Stevani.


Kini keduanya tengah melakukan perjalanan menuju gedung pernikahan, selama di perjalanan Stevani merasakan perutnya mulas. Ingin berhenti di pom terdekat tetapi dia urungkan karrna rasa itu pergi.


Hingga dua puluh menit, kini keduanya telah sampai di salah satu hotel mewah di Eropa. Keduanya berjalan masuk hotel dengan bergandengan.


Tampak balroom yang disulap menjadi cantik, sepasang pengantin tengah berdiri menyalami beberapa tamu undangan. Ya, Stevani dan Bara datang terlambat karena harus memenuhi permintaan Bara terlebih dahulu.


Di sana juga di hadiri oleh kedua orang tua Stevani dan Kakek Santosa. Ayah Yona juga hadir tapi harus kembali ke Korea untuk menyelesaikan hukumannya.


Dengan proses yang lama, Ayah Yona di beri waktu beberapa jam untuk menghadiri pernikahan anaknya oleh pihak kepolisian dengan bersyarat.


Hingga kehamilan Stevani menginjak usia 9 bulan kini barulah mereka dapat melangsungkan pernikahan.


"Selamat Yona, semoga kamu bahagia dan segera mendapatkan momongan." Ucap Stevani dengan tulus.


"Terima kasih, Stev. Aku berdoa semoga kamu dan bayimu selalu sehat." Jawab Yona tak kalah tulus.


Stevani mengangguk dan memeluk tubuh sahabatnya satu kali lagi, sedangkan Bara tengah berbisik di telingan Jundi yang membuat pria polos itu merah padam.


"Semangatlah!" Ucap Bara di akhir.


Kini Stevani dan Bara turun dari pangging menuju meja orang tua Stevani, di sana hanya ada orang tua Stevani sedangkan Kakek Santosa tengah berbincang dengan rekan bisnisnya.


"Mama, Ayah." Sapa keduanya.


"Sayang, Bara. Bagaimana kabar kalian? Maaf Mama dan Ayah baru sampai tengah malam tadi." Jawab Nyonya Kriatoff.


"Baik Ma," Jawab keduanya bersamaan.


Bara berbincang dengan kedua mertuanya, obrolan ringan, hingga Nyonya Kriatoff mengatakan kabar yang membahagiakan sekaligus menyedihkan.


"Kamu punya ponakan Stev, anak Stevan sudah lahir. Tapi, kita juga kehilangan anak Stevan yang lain." Ucapnya dengan pelan.


"Hah? Makhsudnya?" Tanya Stevani bingung.


Tuan Kristoff menjelaskan anak Stevan yang lahir dan yang meninggal, Bara yang mendengarnya juga tampak bingung. Tetapi dia tidak inhin ikut campur soal rumah tangga adik iparnya.


"Auh...."


Stevani mencengkram taplak meja dengan erat dan menyerengit dalam, tangan kirimya memegang perutnya yang buncit.


"Sayang, ada apa?" Tanya Bara khawatir.


"Huh ... Huh ... Aku pipis." Jawab Stevani dengan bibir bergetar.


"Astaga! Stevani sudah pecah ketuban, cepat kita bawa ke rumah sakit!" Teriak Nyonya Kristoff dengan panik.


Dengan cepat Bara menggendong istrinya denganncara bridal style, di ikuti orang tua Stevani. Sedangkan pengantin yang melihat kegaduhan itu bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kenapa dengan menantuku, apa jangan-jangan mau melahirkan!" Seru Kakek Santosa yang ikut panik.


Beruntung Jundi mendengarkan ucapan Kakek Santosa yang dekat panggung, Jundi mengajak Yona turun, dan mendorong Kakek Santosa keluar dari gedung pernikahan.


Dua keluarga masuk ke dalam mobil yang berbeda, Jundi mengikuti mobil Bara yang berada di depan menggunakan mobil pengantinnya.


"Ah, Mama sakit!" Ucap Stevani dengan meremat tangan Nyonya Kristoff.


"Tahanlah, Stev." Nyonya Kristoff yang belum memiliki pengalaman menemani orang melahirkan juga bingung dan pasrah saja.


Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Bara telah sampai di salah satu rumah sakit swasta, dia segera turun dengan menggendong Stevani.


"Tolong! Istri saya mau melahirkan!" Teriak Bara yang membuat Stevani malu setengah mati.


Segera perawat datang dan membawa brangkar kosong, di rebahkan tubuh Stevami pelan, dan di dorong masuk ke dalam ruang operasi.


Sudah di presiksi oleh dokter kandungan jika Stevani akan lahir cepat ternyata benar, karena pinggung Stevani kecil sehingga tidak bisa melahirkan secara normal maka harus melakukan sesar.


Bara masuk menemani sang istri yang tengah berjuang melahirkan anak-anak mereka, meskipun secara cesar tetapi Bara tidak sanggup untuk melihat bagaimana punggung sang istri harus di suntik.


Bara tidak berani melihat saat dokter mulai membedah dan mengoyak isi perut Stevani, dia membisikkan kalimat cinta dan merangkai angan-angan bersama anak mereka nanti.


"Kamu Mama yang hebat sayang, kita akan hidup bahagia bersama bayi-bayi kita."


Stevani hanya dapat menangis, tenggorokannya terasa tercekat saat merasa sesuatu di angkat dari dalam perutnya.


Menunggu satu jam lamanya , hingga suara tangis bayi melengking. Membuat Bara menangis tersedu-sedu, tangan dan bibirnya gemetar membelai wajah pucat sang istri.


Hingga dokter kembali mengangkat anak mereka yang satunya lagi, dua suara bayi terdengar nyaring di dalam ruang operasi.


"I love you Stevani, I love you." Ucap Bara dengan mengecup seluruh wajah sang istri.


"I love you to , hikss anak-anak kita." Jawab Stevani yang mulai terisak menangis.


Bara memeluk tubuh istrinya, keduanya menangis bersama. Sedangkan dokter dan perawat menyelesaikan pekerjaan mereka.


Bara mengusap air matanya dengan cepat, "Baik sus, terima kasih kerja kerasnya." Jawab Bara.


"Aku keluar dulu ya sayang." Ucap Bara yang mengecup dahi Stevani.


Stevani hanya mengangguk, menatap Bara keluar dari ruang operasi. Dan beralih menatap kedua anaknya yang tengah di bersihkan oleh masing-masing perawat.


Jundi yang mendengarkan suara tangis bayi terharu, dia menggenggam erat tangan istrinya Yona dengan erat.


"Aku juga mau satu." Ucapnya dengan air mata yang mengalir.


Yona menoleh, ingin tertawa tetapi bukan tempatnya.


"Nanti kita buat satu lusin." Bisik Yona dengan terkekeh kecil.


"Benarkah? Baiklah satu lusin." Jawab Jundi dengan cepat.



Kini Stevani dan kedua bayinya sudah pindah di kamar rawat, Bara tidak beranjak sedikitpun dari sisi anak dan istrinya.


Tangan kanannya menggenggam tangan sang istri dengan erat, sedangkan tangan kirinya sedikit menyentuh anak-anaknya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak-anakmu?" Tanya Kakek Santosa dengan lembut.


"Sudah, Kek. Namanya akan di spill di novel selanjutnya." Jawab Bara dengan lembut.


"Alasan, bilang saja autornya lupakan nama anakmu." Saut Nyonya Kristoff dengan sebal.


Bara hanya dapat menggarung tengkuknya yang tidak gatal.


"Maklumi saja, Ma. Autornya terlalu banyak tokoh sehingga lupa." Jawab Tuan Kristoff.


"Huh, alasan. Lain kali dicatat dalam buku." Omel Nyonya Kriatoff yang masih belum terima.

__ADS_1



Suara tangis melengking di dalam ruang perawatan, dengan perlahan Nyonya Kristoff membangunkan putrinya.


Bayi perempuannya tengah menangis kencang, hingga seluruh warna kulitnya memerah.


"Bagaimana ini cara menggendongnya?" Tanya Bara panik.


"Perhatikan Mama."


Nyonya Kristoff mencontohkan menggendong bayi mungil yang berada di dalam box dan menyerahkannya kepada Stevani.


Stevani meringis karena payu*daranya terasa sagat sensitiv saat sang putri meminumnya. Tidak berselang lama suara bayi laki-laki terdengar.


Dengan pelan tetapi tangan gemetar, Bara menggendong anak laki-lakinya. Terlihat bagaimana sang putra kehausan.


"Cup ... cup ... Mengalah pada adikmu dulu ya," ucap Bara dengan menimang.


Bukan semakin tenang justru semakin menangis, "Bawa kemari sayang, aku menyusui sebelah." Kata Stevani kepada sang suami.


"Apa kamu bisa?" Tanya Bara yang ragu.


"Tentu saja bisa, seorang ibu harus serba bisa." Jwab Stevani.


Bara dengan di bantu Nyonya Kriatoff memberikan bayi laki-laki itu di sebelah kanan. Terlihat kedua bayi meminum asi.


...**...


Berita kelahiran anak dari Bara dan Stevani, tidak sengaja tersebar meluas dari video amatir orang-orang yang berada di pesta pernikahan Jundi dan juga yang berada di lingkungan rumah sakit.


Berita tersebut tentu saja membuat gempar, karena sudah hampir satu tahun lamanya Stevani tidak pernah muncul lagi di muka umum. Hanya mendengar desas-desus jika dia akan pension dari dunia hiburan tetapi belum ada pengumuman resmi oleh karena itu masih banyak yang menantinya terlebih telah menikah dengan Bara seorang CEO terkenal di Negara Eropa.


Kakek Santosa dan Jundi segera menyiapkan acara koferensi pers untuk Bara dan Stevani. Keluarga Kristoff juga siap pasang badan jika ada yang memojokkan keluarga sang putri, jadilah dua keluarga yang menyiapkan persiapannya.


Stevani yang sibuk mengurusi anak kembarnya tidak tahu kabar apapun yang tengah viral di dunia maya, berbeda dengan Bara dia tahu hanya saja diam. Masih mencari waktu untuk mengatakannya kepada Stevani.


Melihat istrinya yang berjalan ke arahnya setelah menidurkan kedua anaknya, Bara merentangkan kedua tanganya. Stevani dengan senang hati masuk ke dalam pelukan suaminya.


“Sayang.” Panggil Bara pelan.


“Hem.” Stevani hanya berdehem saja dengan memejamkan kedua matanya.


“Apa kamu ingin mejadi selebram atau fokus dengan keluargamu?” Bara bertanya dengan hati-hati


Stevani membuka kedua matanya dan mendongak, “Aku ingin berhenti dari dunia selebram, aku hanya ingin mengurus keluarga kita dan kakek.” Jawab Stevani serius.


Bara tersenyum lembut, “Jika begitu bersiaplah, kita harus datang ke perusahaan.” Jawab Bara yang membuat Stevani bingung.


Stevani tidak bertanya lebih banyak lagi, dia berjalan masuk ke dalam walk in closed untuk berganti pakaian. Sedangkan Bara memanggil tiga baby sister untuk mempersiapkan anak-anaknya.


Tiga puluh menit lamanya, akhirnya mereka telah siap. Segera mereka masuk ke dalam mobil dan menuju perusahaan. Stevani di dalam mobil membaca artikel dan komentar yang kini dia dan anaknya menjadi bahan perbincangan.


Helaan nafas kasar terdengar, Bara menggenggam erat tangan istrinya memberikan


kekuatan jika dia tidak sendiri. “Apa aku perlu tuntut pembencimu?” Tanya Bara kepada sang istri.


“Tidak perlu, sayangku.” Jawab Stevani.


Mobil yang di tumpangi Stevani dan Bara telah sampai di depan perusahaan, banyak wartawan


yang mulai menyerbunya tapi dengan sigap penjaga menghalaunya. Semua keluar dengan kedua bayi kembar yang berada di dalam gendongan baby sister masing-masing.


Kini semua tengah berada di dalam ruangan koferensi pers, “Saya akan berbicara satu kali


dan tidak menerima pertanyaan apapun. Mulai hari ini saya Stevani Smith resmi mengundurkan diri dari dunia hiburan dan akan fokus dengan keluarga, semua hal yang bersangkutan dengan saya tidak ada hubungannya dengan keluarga saya. Untuk para pembenci saya, berhentilah dan jalani kehidupan kalian karena sebanyak apapun hujatan yang kalian berikan kepadaku tidak akan merubah kehidupan kalian. Saya secara pribadi meminta maaf jika selama karir saya melakukan


kesalahan yang tidak sengaja saya perbuat. Selamat siang semuanya.”


Stevani berkata panjang lebar, dan mulai turun dengan di gandeng oleh suaminya Bara. Banyak wartawan yang mengajukan pertanyaan tetapi keduanya tetap diam seribu bahasa, karena bagi Stevani semua sudah cukup jelas untuk di katakana di depan publik. Dia tidak mengekspose anak-anaknya karena dia tidak ingin ada yang mencelakai buah hatinya.

__ADS_1


__ADS_2