Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Tuan Magpie dan Nona B-Cup


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Kita makan malam di hotel atau di luar?" Tanya Yona kepada Stevani yang sedang sibuk dandan.


"Kita makan malam di hotel saja dan pergi ke club malam." Jawab Stevani dengan merapikan rambutnya dengan catokan.


"Apa kamu akan makan malam dengan pakaian itu?" Tanya Yona lagi dengan menatap penuh khawatir ke arah Stevani.


"Ehem, tentu saja. Kenapa? Aku akan mengenakan jacket saat keluar dan aku lepas ketika kita berada di club malam." Jawab Stevani yang melihat sahabatnya dari pantulan cermin.


"Besok sudah mulai pemotretan, lebih baik kita beristirahat saja untuk malam ini. Jika pekerjaanmu sudah selesai semua barulah kita ke club malam." Usul Yona karena tidak ingin membuat Stevani terlibat scandal,


"Aku tidak akan minum, kita hanya menari saja, dan duduk melihat orang berlalu lalang." Jawab Stevani dengan keyakinan tipis.


Yona hanya memutar bolanya malas, "Kamu tidak boleh jauh dariku, Stev. Ingat ayahmu pasti menaruh orang untuk mengawasimu selama berdada di sini." Kata Yona mengingatkan jika Stevani bukan orang biasa.


"Iya ... iya, kamu tenang saja." Ucapnya dengan santai.


"Yasudah, aku akan turun untuk meminta pelayanan sopir dan mobil dari hotel. Aku akan menunggu di loby ya." Yona mengambil tas jinjing dan jacketnya sebelum keluar dari kamar.


Sepuluh menit kemudian, Stevani keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju lift. Beruntung lift yang akan dia gunakan sedang berjalan turun segera dia memencet tombol di lantai satu, menunggu tidak sampai lima menit pintu lift terbuka.


Pandangannya terkunci pada pria yang baru beberapa jam lalu bertengkar dengannya, wajah Stevani masam "Pasti dia salah satu fansku dan sengaja membuat ribut denganku." Monolognya dalam hati.


Di dalam lift terjadilah perdebatan, padahal Stevani sudah sangat percaya diri jika Bara adalah salah satu fansnya atau bisa juga paparazi yang menginginkan berita hot tentangnya.


Bagaikan bunga tebu tertiup angin, prasangka Stevani terhampas begitu saja dengan kenyataan yang ada. Dengan acuhnya Bara kekuar dari dalam lift setelah mengatakannya untuk melakukan operasi payu*dara.


"Wah ... dasar pria tidak normal. Awas saja kamu." Umpatnya pelan yang ikut berjalan keluar dari lift.


Stevani belari kecil untuk mengikuti langkah Bara yang panjang melihat mangsanya masuk ke dalam mobil membuat Stevani segera menarik Yona untuk masuk ke dalam mobil.


"Cepat ikuti mobil sedan putih itu!" Perintah Stevani pada sopir.

__ADS_1


Yona yang belum siap untuk duduk menoleh ke arah Stevani, tampak wajah wanita cantik itu tidak bersahabat.


"Ada apa, Stev?" Tanya Yona dengan raut wajah cemas dan bingung.


"Aku harus memberi pelajaran." Jawab Stevani yang masih fokus melihat ke arah depan agar tidak kehilangan jejak.


"Siapa?" Ucap Yona dengan alis terangkat satu.


"Tentu saja burung magpie, siapa lagi." Kata Stevani dengan menggebu menoleh ke arah Yona.


"Ada apa lagi dengan dia, itu hanya salah paham Stev. Lagipula itu juga salahku karena tidak mengecek dengan teliti." Jelas Yona kepada sahabatnya.


"lni sebuah penghinaan bagiku, aku tanya kepadamu. Apa ada orang yang tidak mengenaliku?" Tanya Stevani dengan menggebu.


Yona hanya menggeleng pelan.


"Apa ada pria yang tidak bergairah saat melihatku berpakaian sexy seperti ini?" Tanya Stevani lagi dengan kedua mata yang sudah berkobar.


Sekali lagi Yona menggeleng.


Hingga mobil yang mereka buntuti memasuki restoran mewah, "Apa kamu yakin akan masuk mengenakan pakaian seperti ini di dalam sana Stev?" Tanya Yona tampak ragu.


Stevani menggigit-gigit bibir bawahnya, kedua matanya berkeliaran memandangi area luar dengan otaknya yang berfikir dengan cepat.


"Ke toko pakaian itu!" Tunjuk Stevani ke sebuah toko di sebrang restoran.



Stevani dan Yona masuk ke dalam restoran, keduanya mencari kebadaan pria magpie hingga dengan ketajaman mata Stevani akhinya ketemu.


Stevani berjalan dengan anggun dan karismatik, menyingkap rambutnya ke samping memperlihatkan leher jenjang putihnya membuat para pengunjung restoran pria tidak lepas melihatnya.


Dengan mengenakan dres berbahan katun yang sangat pas nembuat lekuk tubuh Stevani yang seperti jam pasir sangat mencolok, dengan dres berlengan pendek, berdada rendah, dan tinggi di atas lutut memperlihatkan kemulusan pahanya yang seputih susu.

__ADS_1


Tidak lupa anting emas putih yang di hiasi dengan batu safir berwarna putih dengan satu lingkaran besar di bagian bawah, leher yang di biarkan terbebas dari benda berkilau, dan sepatu boot berwarna hitam dari kulit asli.



Yona berjalan agak di belakang Stevani, dia tidak kalah cantik dengan sang sahabat. Dengan wajah ramahnya membuat kecantikannya naik berkali lipat.


Dengan rambut tergerai dan tas yang menyilang di tubuhnya, mengenakan pakaian berlengan panjang perpaduan warna hitam dan putih.



"Baik, ada tambahan lagi?" Jawab pelayan yang telah selesai mencatat pesanan tamunya.


"Tidak / iya."


Stevani tepat waktu saat pelayan akan pergi meninggalkan meja Bara, sekonyongnya dia langsung duduk begitu saja tanpa permisi.


Dia melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum miring di depan Bara, di mana dia dapat melihat wajah masam pria magpie.


"Tambah Churros con SHocolate, Tortilla Espanola, dan dua orange juice." Ucap Stevani yang menoleh ke arah pelayan restoran.


"Baik, harap di tinggu pesanannya." Pelayan pergi dari hadapan dua pasangan tersebut dengan membawa kembali buku menunya.


Setelah memastikan pelayan pergi, Bara mulai menyemburkan kata-kata tajam untuk Stevani.


"Beginikah sikap anak konglomerat, langsung duduk tanpa permisi di meja orang lain." Ucap Bara dengan tersenyum semirik.


Yona dan Jundi yang memahami akan adanya perdebatan mulai khawatir, karena sekali lagi di depan umum di mana banyak orang melihat dan akan menyebarkan gosip yang tidak sedap jika tahu keduanya adalah orang penting.


"Bar, sudahlah. Mungkin mejanya sudah penuh." Ucap Jundi pelan agar tidak berdebat.


Stevani berdecih saja mendengar ucapan Bara, "Tidak ada hubungannya aku anak konglomerat ataupun bukan, aku duduk di sini karena kamu yang menarik perhatianku. Aku yakin kamu adalah fans fanatikku sehingga membuntutiku sampai di Granada." Jawab Stevani yang masih teguh dengan keyakinannya.


Bara terkekeh kecil, "Fans? Oh ya ampun, jika kamu adalah artis terkenal aku pasti tahu. Ah ya aku tahu tujuanmu, apa kamu sedang mencari sponsor untuk karirmu?" Ucap Bara yang semakin meremehkan Stevani.

__ADS_1


Dengan perasaan yang semakin panas Stevani semakin menantang, "Benarkah? Apa kamu sanggup menjadi sponsorku, aku yakin. Meskipun kamu seorang pejabat tidak akan mampu menjadi sponsorku." Kata Stevani yang meremehkan Bara kembali.


"Sudah, Stev. Jangan di teruskan, jika kamu berulah dan ayahmu tahu kamu tidak akan di perbolehkan untuk bekerja lagi." Yona mencoba menenangkan dan mengingatkan Stevani.


__ADS_2