Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Jangan sakiti adikku


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kesibukan kota Seoul sudah di mulai sejak petang hari, hingga matahari muncul dari tempat peraduannya menyinari kota yang sedang sibuk pagi ini. Banyak masyarakat berlomba-lomba menaiki transportasi umum untuk membawa mereka ke tempat kerja.


Gadget tidak lepas dari tangan mereka, memanglah kemajuan teknologi bisa merubah zaman. Kita yang berjauhan dengan keluarga dapat merasa dekat karena dengan mudah menghubungi dan menanyakan kabar tetapi kita yang dekat terasa jauh karena sibuk dengan gadget masing-masing.


Pria tampan masih bergumul dengan selimut tebalnya, setelah semalam suntuk menunggui Kakek Santosa. Bara memutuskan untuk kembali ke hotel sedangkan Paman L yang menggantikannya. Beruntung kamar hotel Bara tidak ada penghuni lain sehingga tirai di dalam kamar masih dengan setia mencegah sinar matahari masuk mengganggu penghuninga.


Ketenangan Bara tidak bertahan lama karena ponselnya terus berdering, membuat pria itu mematikan panggilan tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Kembali dia meneruskan tidurnya, namun sekali lagi ponselnya berdering membuat pria itu dengan kesal membuka kedua matanya.


Tampan nomor asing yang sudah dia tahu siapa pemiliknya, dengan rasa kantuk yang masih bergelayut di kedua matanya dia mengangkat panggilan tersebut dengan menekan tanda louspeaker.


"Ya! Kenapa kamu suka sekali membuatku menghubungimu lebih dari satu kali." Seru wanita yang akan menjadi istrinya hitungan hari lagi.


"Apa kamu tidak ada pekerjaan, jangan menggangguku." Jawab Bara dengan mata terpejam dan suara serak khas orang barung tidur.


"Pekerjaanku mengganggumu. Apa kamu lupa jika kita harus ke butik hari ini." Ucap Stevani dengan suara kerasnya.


"Sudah aku katakan kamu datanglah sendiri, kenapa harus menungguku." Omel Bara dengan bibir maju beberapa centi.


"Sudah aku katakan juga jika aku menikah bukan dengan manekin." Jawab Stevani membalikkan ucapan Bara.


"Masih pagi, jangan membuat ribut." Kata Bara memperingatkan.


"Oh God! Selain magpie tapi kamu bodoh, ini sudah siang pukul sepuluh!" Seru Stevani dengan memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.


"Masih jam sepuluh Stevani, nanti sore aku akan menjemputmu." Jawab Bara yang mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


Stevani yang berada di kamarnya terperangah tidak percaya, "Wah! bisa-bisanya pria ini, haisss ...." Stevani kembali menghubungi nomor Bara tetapi suara operator yang menjawab.


"WHAT! Dia mematikan ponselnya, it's a crazy! Sabar Stev, jangan terpancing emosi itu akan membuat keriputmu bertambah." Stevani berbiara kepada dirinya sendiri.


Karena kesal dia melempar ponselnya ke atas kasur dan merebahkan dirinya di sana, terlihat dada naik turun dengan cepat menggambarkan bagaiamana marahnya dia saat ini. Kedua matanya memandang langit-langit kamarnya dan mulai berguling ke sebelah kiri.


Perlahan kedua matanya berat dan terpejam, berdebat dengan Bara di sambungan telfon membuat tenaganya terserap habis. Apakah setelah menikah mereka akan hidup dengan damai dan tenang? Entahlah tidak ada yang tahu.



Suara gemericik air terdengar dari luar kamar, hingga pintu kamar mandi terbuka menampakkan pria dengan lilitan handur di pinggangnya dan satu handuk di atas kepala dengan rambut yang basah. Setelah sehari menghabiskan waktunya untuk tidur kini dia tengah segar kembali.


Bara berjalan menuju lemari yang berada di kamar hotelnya, mengambil satu kemeja putih dan celana hitam dari bahan kain, jika biasanya dia mengenakan jas tapi kali ini dia mengambil sweater berwarna abu-abu dan di taruh di pundak lebarnya untuk aksesoris.



Dengan langkah lebarnya dia berjalan keluar dari dalam hotel menuju lantai basement untuk mengambil mobilnya, tidak membutuhkan waktu lama dia telah sampai di basement dan segera berjalan menuju ke arah mobil yang masih terparkir rapi dengan deretan mobil mewah lainnya.


Menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, Bara telah sampai di depan mansion. Penjaga yang sudah tahu kabar pernikahan majikannya dengan Bara tanpa bertanya apapun langsung membuka gerbang yang tinggi dan lebar tersebut.


Bara melanjukan kembali mobilnya hingga di depan pintu utama mansion, mansion keluarga Kristoff tidak kalah luas dengan mansion miliknya yang berada di Eropa. Sedangkan mansion yang berada di Indonesia dia sewakan karena Kakek Santosa ikut tinggal bersamanya saat ini.


Maid yang melihat kedatangan calon menantu majikannya segera berjalan mendekat, "Silahkan masuk Tuan, akan saya panggilkan Nona Stevani." Ucapnya.


"Terima kasih." Jawab Bara mengulas senyum tipisnya.


Segera maid tersebut bergegas naik ke lantai dua menuju kamar anak majikannya, dari sisi tangga yang lain tampak seorang pria yang menatap datar melihat interaksi Bara dan maid tersebut. Pandangan pria itu terus mengikuti maid yang sudah memporak-porandakan hatinya.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu terdengar, Kristal mengetuk pintu kamar Stevani beberapa kali tetapi tidak ada jawaban dari dalam tiba-tiba pintu kamar terbuka padahal Kristal tidak membukanya, dia mengangkat pandangannya hingga bersibobrok dengan Stevan dengan cepat dia menundukkan lagi pandangannya.


"Apa kamu akan terus menghindariku." Ucap Stevan dengan suara dinginnya.


Tidak ada jawaban dari Kristal, gadis itu masuk begitu saja meninggalkan Stevan dengan kekesalan hatinya. Lebih baik Kristal bekerja dengan baik dan tidak berurusan dengan Stevan Kristoff.


Brak!


Stevan menutup pintu kamar Stevani dengan kencang membuat kedua gadis yang saat ini berada di dalam kamar terjingkat kaget, "Ma-maaf Nona membangunkan anda, di bawah sudah ada calon suami anda." Ucap Kristal sedikit terbata.


"Sudah datang? Jam berapa sekarang?" Tanya Stevani dengan menguap dan menggeliat.


"Pukul empat sore, Nona." Jawab Kristal dengan memandangi Stevani.


"Haiss ,,, pria itu, hari sudah hampir petang tetapi dia baru datang." Oceh Stevani yang sangat lucu di mata Kristal.


"Akan saya siapkan air." Kata Kristal.


Kristal segera berjalan ke dalam kamar mandi dan menyiapkan kebutuhan mandi Stevani hari ini, tidak membutuhkan waktu lama Kristal kembali keluar, dan melihat Stevani duduk di pinggir ranjang memainkan gawainya.


"Kris, jika kamu mencintai saudaraku perjuangkan. Jika memang tidak ada namanya di hatimu pergilan sejauh mungkin, aku tidak akan membencimu tapi aku membenci orang yang menyakiti hati adikku. Sebelum hari pertunangannya ambillah keputusan yang tidak akan kamu sesali seumur hidup."

__ADS_1


Kristal menghentikan langkahnya dan hanya diam seribu bahasa, "Terima kasih, Nona." Jawabnya dan langsung keluar dari kamar Stevani.


Helaan nafas kasar Stevani hembuskan, dia berjalan menuju kamar mandi. Dia saja sudah pusing memikirkan bagaimana kisah cintanya bersama Bara di tambah memikirkan kisah cinta sang adik, jika saja Kristal dari kalangan berada mungkin tidak akan menerima pertentangan dari orang tuanya.


__ADS_2