Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Stalker


__ADS_3

Happy Reading


Matahari telah kembali pada peraduannya, langit yang bersinar cerah perlahan meredup tergantikan malam. Lampu-lampu mulai menyala menerangi setiap sudut kota menambah kecantikan kota yang makin terasa hangat. Jalanan mulai padat, para turis tumpah ruang memenuhi pinggir jalan meski hanya sekedar melihat-lihat para pedagang kaki lima.


"Kita makan malam di luar saja hari ini," ajak Bara kepada Jundi.


"Kita nikmati bar dan pub di Granada malam ini." ucap Jundi dengan wajah berseri-seri.


"Cih, jangan sampai kau mabuk dan merepotkanku." Bara berkata dengan nada penuh peringatan.


"Haha, tenang saja. Aku tidak akan mabuk malam ini." Jundi tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Kita pergi ke restoran dulu." Kata Bara dengan bermain ponsel.


"Baiklah, aku sudah mencari tau restoran enak di kota ini." Jawab Jundi.


Jundi dan Bara keluar dari dalam kamar menuju lift, malam di kota Granada banyak anak muda yang akan memenuhi hiburan malam. Hiburan malam di kota Granada di mulai pukul sebelas malam hingga delapan pagi, menunggu klub malam buka, Jundi dan Bara ingin mencoba bar dan pub terlebih dahulu.


"Aku tertinggal sesuatu, kamu ambil mobil dulu aku akan segera kembali." Ucap Bara yang kembali menutup pintu lift.


Jundi segera berjalan terlebih dahulu menuju basement hotel, sedangkan Bara kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompetnya yang tertinggal. Sebenarnya tidak masalah jika Jundi yang akan membayar makan malam hari ini tapi Bara tidak terbiasa di bayari oleh orang lain membuatnya tidak enak hati.


Segera Bara keluar dan berjalan ke arah lift, helaan nafas panjang terdengar karena melihat lift yang sedang bekerja akhirnya Bara menggunakan lift biasa yang sering di gunakan untuk tamu-tamu kamar pada umumnya. Beruntung lift kosong tidak ada yang menggunakan, dia menekan tombol satu untuk menuju ke lobby.


Hanya ada keheningan di dalam lift, Bara memutuskan menanyakan kabar kepada snag kakek melalui pesan singkat. Bahkan saat lift berhenti dan seseorang masuk dia tidak menghiraukannya hanya bergeser satu langkah saja ke samping.


"Hey! Apa kamu stalker atau paparazi?"

__ADS_1


Bara yang mendengar ucapan seorang wanita hanya mengerutkan keningnya dalam tapi dia masih enggan menjawab dan fokus dengan ponselnya, dia acuh karena menggunakan lift umum mungkin bukan dia yang di makhsud.


Wanita yang merasa di acuhkan tersenyum hambar, "Hah, tak tik kampunga. Kamu pasti salah satu fans fanatikku bukan. Di mana aku harus tanda tangan?"


Bara melihat telapak tangan kecil dan jemari lentik yang menengadah di depannya, dia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menoleh ke arah wanita yang berdiri di sampingnya. Tampak sangat sexy karena mengenakan stoking jaring-jaring dengan rok span atasan yang tertutup jacket berbulu.


Bara menurunkan tangan itu, "Anda salah orang, apakah kamu artis?" Tanya Bara sopan.


Wanita itu terperangah mendengan ucapan Bara dan membuka kacamata hitamnya di depan Bara, "Kamu tidak tahu aku? Aku selebgram terkenal yang mengisi setiap iklan di televisi, internet, dan majalah. Bahkan aku putri salah satu konglomerat di Korea, namaku STEVANI KRISTOFF. Ingat namaku S T E V A N I." Stevani menyebutkan namanya dengan penuh penekanan karena dia terlalu shock jika ada pria tidak mengenalinya.


Bara mendelik kesal menatap wanita yanang sudah dia cap gila dan mesum , "Aku yakin yang mengidolakanmu semuanya sakit mata, wanita gila dan mesum sepertimu. Ck ... Ck ... aku bahkan tidak tertarik meski sudah melihat wajahmu secara langsung. Seharusnya kamu melakukan operasi untuk B-Cup jadikan C-cup." Jawab Bara dengan sengit.


Bara langsung saja keluar dari lift saat pintu itu terbuka, meninggalkan Stevani dengan sejuta kekesal dalam hatinya, "Wah ... dasar pria tidak normal. Awas saja kamu." Umpatnya pelan yang ikut berjalan keluar dari lift.


Bara masuk ke dalam mobil saat tahu jika Jundi duduk di depan dari luar, menutup pintunya dengan keras membuat Jundi terheran.


"Cepat jalan, bertemu orang gila hanya membuatku ingin memakan orang." Jawab Bara yang sedang mengenakan seat beltnya.


Mobil sedan putih yang Jundi sewa selama berada di Granada menembus jalanan yang cukup ramai, bermodalkan GPS yang dia gunakan dia akan menuju ke salah satu restoran yang terkenal di Granada. Restaurant dan tempat makan di kota Granada sangat variatif, di sini juga tidak sedikit makanan halal makanan berlabel halal.


Dengan menempuh perjalanan sepuluh menit, mobil sedan putih berhenti di depan El Mercader Restaurant. Restauran dengan gaya klasik, bangunan yang luas untuk sekelas restoran. Terdapat dua pilar menjulang tinggi dan besar di depan pintu utama, kaca-kaca tinggi mengelilingi seluruh bagian restoran, seorang pelayang dengan pakaian merah dan putih dan satu lembar kain di tangan kirinya berdiri di samping pintu.


Jundi dan Bara masuk dan di bukakan pintu oleh sang pelayan, di dalam restoran banyak lampu kristal bergantungan, meja bundar dengan kain penutup warna merah tidak lupa vas bunga kecil berisi satu tangkai mawar dan juga lilin merah yang menyala. Suasana restoran sangat hangat dan romantis, musik clasik menambah suasana semakin indah dan menghanyutkan.


"Bstt...sepertinya kamu salah restoran." Ucap Bara dengan melihat sekeliling restoran.


Jundi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Maaf, haruskah kita menyewa wanita untuk makan malam di sini?" Tanya Jundi tersenyum kaku.

__ADS_1


Seorang pelayan datang menghampiri sebelum Bara menjawab ucapan Jundi, membuat keduanya memasang wajah datar nan dingin karena tidak ingin di anggap aneh.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Tanya seorang pelayan.


"Meja untuk dua orang." Jawab Bara cepat.


"Kebetulan ini hari minggu jadi meja untuk dua orang sudah penuh, apakah anda bersedia di meja untuk empat orang atau menunggu sampai ada tamu yang selesai melakukan makan malamnya?" Kata pelayan restoran menjelaskan dengan sopan.


"Meja empat orang saja." Jawab Bara.


"Mari ikuti saya."


Pelayan berjalan di depan Bara dan Jundi sebagai penunjuk arah, ternyata benar jika banyak pasangan yang sudah memenuhi retoran hampir setengahnya sendiri. Bara menghela nafas panjang, benar-benar membuat dia tidak nyaman karena bukan datang dengan wanita jsutru bersama Jundi.


"Silahkan duduk, Tuan."


Bara dan Jundi duduk bersampingan dan menerima buku menu dari pelayan tersebut, banyak makanan lezat khas Granada - Eropa  yang berada di sana seperti Churros con Chocolate, Paella, Patatas Bravas, Gazpacho, Empenadas, Cream Catallina, Albondigas, Pulpo a la Gallega, Pan Con Tomate, Fabada Asturiana, Mallorcan Tumbet, Tigres, dan Tortilla Española.


"Aku pesan Paella dan orange jus saja." Ucap Bara yang menutup buku menunya.


"Patatas Bravas, Pan Con Tomate, dan orang jus." Jundi tersenyum saat Bara menatap ke arahnya dengan pandangan tidak percaya.


"Baik, ada tambahan lagi?" Jawab pelayan yang telah selesai mencatat pesanan tamunya.


"Tidak / iya."


Perkataan Bara berbarengan dengan suara orang lain yang tiba-tiba membuat telinganya gatal, jantung memanas, bibir siap mengeluarkan perkataan tajam.

__ADS_1


__ADS_2