
Happy Reading 🌹🌹
Di suatu pulau yang sangat indah dengan panjang garis pantai sekitar 633,35 km. Telah berhasil menjadi salah satu pilihan objek wisata, tetapi kali ini tempat tersebut akan dijadikan sebagai salah satu tempat bersejarah. Dimana kedua insan yang sudah menikah akan menikmati bulan madunya.
Pulau Bali atau yang biasa disebut Pulau Dewata merupakan salah satu pulau di Indonesia yang menjadi top destinasi terbaik dunia karena menyimpan berbagai pesona keindahanya.
Keindahan alam dan keunikan budaya Pulau Bali masih melekat hingga saat ini. Khususnya keindahan pantai-pantai yang ada di Pulau Bali benar-benar memikat banyak wisatawan mancanegara, domestik maupun warga lokal. salah satunya adalah Pantai Kuta.
Pantai Kuta adalah destinasi wisata di Bali yang paling terkenal dan banyak dikunjungi wisatawa karena lokasinya yang dekat dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Pantai Kuta, banyak menyeguhkan keindahan yang lebih dibanding obyek wisata pantai lainya. Selain pasir putih dan debur ombaknya yang cukup menantang sehingga menjadi tujuan tempat surfing yang populer di Bali.
Pantai Kuta, salah satu tempat favorit untuk kalangan pasangan suami istri yang baru saja menikah. Tak lupa banyak juga para turis yang datang kesana hanya untuk bisa menikmati keindahan pantainya.
Tempat pariwisata yang terletak di Kota Denpasar Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, provinsi Bali, Indonesia. Merupakan tempat yang sangat indah untuk dikunjungi, salah satunya Pantai Kuta telat dijadikan tempat melihat sunset yang begitu indah.
Suguhan sunset di Pantai Kuta juga menjadi destinasi penting untuk dinikmati setiap wisatawan yang datang. Karena sunset di Pantai Kuta memiliki keindahan yang menakjubkan sehingga Pantai Kuta juga disebut dengan Sunset Beach.
Ketika matahari sudah menyentuh laut itulah tanda bahwa sunset sudah mulai. Matahari perlahan turun dan menghilang dibalik batas laut. Langit yang terang perlahan berubah dengan sisa jingganya matahari dan bercampur birunya langit menyugguhkan pemandangan yang menakjubkan.
Awan-awan yang terpancar sisa sinar matahari menyuguhkan gradasi warna yang menarik. Kapal-kapal nelayan mulai menepi tanpa memperlihatlan layarnya lagi yang menandakan bahwa waktu melaut telah usai. Para wisatawan yang menyaksikan begitu takjub akan keindahan sunset di Pantai Kuta.
__ADS_1
Namun, tidak semua wisatawan beruntung dapat menikmati moment yang menakjubkan dari keindahan sunset di Pantai Kuta. Wisatawan yang beruntung, memanfaatkan moment ini dengan sebaik mungkin.
Mereka dapat memanfaatkannya untuk mengungkapkan kasih kepada orang tersayang, mengabadikan sang matahari yang mulai tenggelam, dan tidak lupa juga mengabadikan sunset terindah sebagai latar potret diri sebagai kenang-kenangan bahwa pernah berada disini dan dengan harapan suatu saat dapat kembali lagi.
Sama seperti halnya dengan sepasang suami istri yang baru saja menikmati sunset secara langsung. Bara dan Stevani, adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah dan memutuskan untuk pergi ke Pantai Kuta Bali sebagai bulan madu.
Terlihat jelas betapa bahagianya Stevani ketika dia bisa melihat sunset begitu dekat, sementara suaminya Bara dia hanya bisa mengagumi wajah cantik istrinya yang tidak bisa dipalingkan dari wajahnya.
"Sayang lihat, cantik banget ya sunsetnya." ucap Stevani sambil menatap langit yang berwarna kemerah oranye. Senyuman bahagia terukir jelas diwajah Stevani, menambah kesan kecantikan dan juga memanisan didalam dirinya.
"Ya, cantik banget." jawab Bara, menatap wajah Stevani sambil tersenyum kecil. Senyuman yang jarang sekali terlihat, kini entah bagaimana caranya telah terukir begitu lama di sudur bibir milik Bara.
"Perpaduan warna dan cahaya diatas langit membuatku sangat takjum, baru kali ini aku bisa melihat sunset sedekat ini. Rasanya aku ingin sekali melihatnya setiap hari." ucap Stevani yang masih menatap langit.
Degh!
Mendengar perkataan suaminya yang saling bertolak belakang dengan apa yang diucapkan olehnya, membuat Stevani langsung menoleh ke arah Bara dengan tatapan terkejut. Mata membola besar disertai wajah yang kian memerah, menahan rasa malu.
Stevani kaget kare jarak keduanya yang sabgat dekat, bahkan dia bisa menatap wajah Bara seperti saat terair di kamar mandi, wajah mereka hanya berjarak sekitar 1 senti meter, sediki saja mereka bergerak maka hidung mandung keduaya akan saling bersentuhan.
"Sayang, ja-jadi yang kamu bilang cantik itu bukan senset. Melainkan aku?" tanya Stevani terbata-bata, dalam kondisi kedua pipi yang sudah memerah.
__ADS_1
"I-iya, ehh ...." Bara baru menyadari semuanya, dan langsung berpaling menatap kearah laut. "E-enggak, si-siapa yang bilang kamu cantik. Ja-jangan terlalu percaya diri deh jadi wanita, orang aku bilang sunsetnya yang cantik bukan kamu!"
Bara mulai mengelak, untuk menutupi degup jantungnya yang kini berdekat sangat cepat. Wajah sedikit memerah, tangan menjadi dingin, dan juga kegrogian sikapnya membuat Stevani hanya bisa tersenyum menatap salah tingkah suaminya.
"Oh, begitukah suamiku? Jadi kamu tidak mengakui jika istrimu ini cantik, hem? Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakannya masih banyak pria lain yang mau mengatakannya kok. Bahkan mereka---"
"Stop! Jangan ucapkan kata-kata menjijikan itu lagi di hadapanku. Ingat, kamu adalah milikku dan sampai kapanpun hanya aku yang bisa mengatakan bahwa kamu cantik. Tidak dengan pria mana pun, jika mereka mengatakan sesuatu yang memujimu. Maka, aku akan membuatnya tidak bisa menatap matahari dipagi hari!"
Bara langsung memutuskan ucapan Stevani, karena dia sudah bisa menebak kemana arah perkataan istrinyab itu. Apa lagi Stevani tipe wanita yang sangat jahil, semakin Bara terlihat malu maka semakin leluasa untuk Stevani menggoda suaminya.
"Uhhh, tayangku. Ishh, gemes deh sama kamyu hihi ...." Stevani mencubit kedua pipi Bara hingga membuat Bara membolakan matanya, tak percaya bahwa istrinya bisa bersikap seperti ini padanya.
"Yakk, lepaskan pipiku! Kau kira pipiku kue cubit, apa! Cepat jauhkan tanganmu dari pipiku, atau aku---"
"Atau aku apa, Sayang. Hem? Memang kamu tega melukai istrimu yang cantik ini? Apa kamu tidak mencintaiku, sehingga kamu ingin menyakitiku?"
Stevani menatap dalam manik mata suaminya, sambil memegang rahang suaminya membuat detak jantung Bara semakin bergejolak. Rasanya Bara ingin sekali berlari ke tengah Pantai untuk menutupi semua rasa malu yang kini menyelimuti wajahnya.
"Ti-tidak, a-aku tidak akan me- hempt." Tanpa menunggu lama, Stevani mulai menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya. Tidak tahu keberanian dari mana, tiba-tiba Stevani rasanya ingin sekali mencicipi bibir suaminya yang selalu menggoda.
Bukan karena kemanisan bibir suaminya, melainkan karena Stevani yang sudah sangat gemas melihat tingkah suaminya yang selalu malu-malu terhadapnya. Padahal mereka sudah saling mencintai, akan tetapi Bara selalu lemot untuk mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Mulutnya akan terasa kelu keyika Bara ingin sekali mengatakan cinta pada istrinya sendiri, cuman Stevani yang terlihat bar-bar itu memang sudah menebak jika suaminya sangat mencintainya. Hanya saja dia belum bisa mengatakannya secara langsung.