
Happy Reading 🌹🌹
Tiba-tiba Stevani sudah berada tepat di depannya sambil mengalungkan kedua tangannya.
Istrinya tersenyum manis menatap manik suaminya, sedangkan suaminya malah terkejut hingga Stevani bisa merasakan getaran yang dihasilkan dari kegugupan didalam tubuh suaminya saat ini.
"Sayang, apakah selama ini kamu bahagia bersamaku?" ucap Stevani menatap lekat kearah suaminya.
"A-aku, bahagia sama kamu." ucap Bara terbata-bata, wajahnya mulai memerah saat tangan Stevani mulai mengukir gambar abstraks di dada bidang suaminya.
"Jika kamu bahagia bersamaku, kenapa aku tidak pernah mendengar kata cinta keluar dari bibirmu yang ranum ini, hem?"
Stevani berjalan memutari Bara dengan tatapan menggoda, senyuman manis dan juga tangannya yang terus berkeliaran mengelus dada hingga punggung Bara membuat Bara hanya bisa menoleh mengikuti gerak-gerik istrinya.
"A-aku ...."
"Sudah tidak apa-apa, mungkin belum waktunya untukku mendengar kata cinta yang terucap dari bibirmu itu. Tidak apa-apa, Sayang. Aku paham kok, meskipun begitu. Satu hal yang harus kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Sekarang, besok dan selamanya perasaan ini akan tetap sama!"
Stevani kembali berdiri di hadapan Bara, tersenyum menantapnya dengan bola mata yang sedikit berkaca-kaca. Dari situ Bara bisa melihat adanya rasa kecewa yang ada didalam diri Stevani, saat dia berpikir jika hanya dialah orang yang mencintai Bara. Selebihny Bara seperti tidak benar-benar mencintai Stevani.
Pikiran itu memang melekat didalam kepala Stevani, sesuai dengan apa yang Bara lihat dari sudut mata istrinya.
Ketika Stevani sudah mulai menyerah dengan suaminya yang masih enggan berkata apa-apa, dia perlahan ingin berbalik dan meninggalkan Bara.
Namun, sayangnya dengan cepat Bara langsung memegang dan menarik tangan Stevani sampai tubuhnya menabrk dada bidang Bara.
Kedua tangan Bara menempel di rahang istrinya dengan jarak wajah mereka kurang lebih 2 senti meter. Bahkan hidung mereka saja hampir menempel satu sama lain.
Kedua mata saling menatap lekat, memancarkan sebuah perasaan cinta yang sangat besar diantara keduanya. Sampai akhirnya satu kalimat terucap begitu indah di telinga Stevani ketika suaminya berhasil melawan rasa gengsi didalam dirinya.
"Maaf, jika aku belum bisa membuatmu tersenyum bahagia. Dan maaf jika aku hanya bisa membuatmu menangis, tetapi ketahuilah Sayang. Kalau aku sangat, sangat, sangat mencintaimu. Sudah lama aku memendam semua ini karena rasa egoku yang susah untuk aku taklukkan."
"Sekarang tidak lagi. Aku akan selalu mengatakan kata cinta setiap menitnya, agar kamu tahu bahwa perasanku kepadamu ini berkali-kali lipat dari pada perasaanmu kepadaku."
"Apapun yang terjadi kedepannya, aku tidak akan meninggalkanmu dan cintaku takkan pernah padam untukmu. Karena kamu akan selamanya menjadi belahan jiwaku, napasku dan juga hidupku. Tanpamu aku tidak akan bisa hidup seperti saat ini. I love you so much my wife."
Kata-kata cinta yang belum lama Bara ucapkan ternyata merupakan kata mutiara yang sangat indah didengar. Stevani tidak menyangka bahwa suaminya bisa mengatakan kata cinta sepanjang itu tanpa adanya kegugupan didalam dirnya seperti tadi.
__ADS_1
Sementara Bara, dia tetap menatap istrinya lalu mengungkapkan semua yang ada didalam hatinya tanpa terkecuali.
Tanpa terasa air mata Stevani runtuh bersamaan dengan senyuman dibibirnya, mendengar semua itu berhasil menciptakan sebuah kebahagiaan yang tiada tandingannya didalam hati Stevani.
"Sstt, tidak boleh menangis okay. Istriku yang cantik harus tetap tersenyum, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah wanita terhebat yang aku punya."
"Tanpa kamu aku tidak bisa menjadi Bara yang seperti ini. Bara yang dulu terlihat sangat, cuek, dan juga dingin. Bisa beruba menjadi Bara yang manja, cengeng dan juga bucin. Itu semua karena Bara telah menemukan rumah ternyaman, yaitu Stevani."
Bara mengusap air mata istrinya sambil mencium keningny perlahan, tanpa disangka. Stevani langsung berhambur memeluk suaminya, lalu pecahlah isak tangis Stevani yang begitu dahsyat.
Pelukan erat, usapan lembut dan juga ciuman dipucuk kepala Stevani yang Bara berikan, merupakan tanda bahwa saat ini Bara emmang sudah bisa mengendalikan dirinya untuk tetap memperlakukan istrinya layaknya seorang ratu didalam hidupnya.
Beberapa menit, Stevani mulai tenang. Bara segera melepaskan pelukannya kemudin mengusap semua air mata di wajah istrinya sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Nyonya Bara, tidak boleh bersedih seperti ini. Karena itu akan bisa merusak kecantikan wajah dan juga hatinya. Jadi, mulai saat ini Nyonya Bara tidak boleh bersedih, dan akan selalu tersenyum. Okay?"
Senyuman lebar yang terukir di wajah Bara untuk pertama, kembali membuat Stevani begitu bahagia. Seakan-akan kebahagiaan yang dari tadi Stevani dapatkan selalu memberikan kejutan demi kejutan sehingga dia tidak bisa lagi berkata apa-apa.
Sampai akhirnya kediaman mereka membuat suasana menjadi sunyi. Mata saling fokus satu sama lain, lalu kedua tangan Bara mulai memegang rahang istrinya, kembali mendekati wajahnya dan memiringkanya.
Kini bibir mereka saling menyatu kembali bersamaan dengan kata cinta yang mereka ucapan satu sama lain. Ciuman yang awalnya terkesan bisa saja, sekarang malah terasa begitu nikmat.
Mereka duduk perlahan, dimana Bara melepaskan ciumannya dan meniduri istrinya sambil tersenyum. "Apakah kamu sudah siap dengan bersatunya cinta cinta malam ini?" ucap Bara dengan suara paraunya. Pertandabahwa Bara sudah mulai terbawa suasana.
"Apapun itu aku siap, asalkan kamu bisa memperlakukanku layaknya seorang istri. Bukan seperti wanita pemuas atau pun mainan yang bisa kamu gunakan sesuka hatimu. Tanpa bisa mengerti keinginanku." ucap Stevani tersenyum ketik suaminya mengusap pipinya dan perlahan tangan satunya menarik tali lingerie yang mengikat di perut Stevani.
Tanpa basa basi lagi, Bara kembali mencium bibir istrinya lalu turun ke leher membuat sebuah tanda kepemilikan yang cukup banyak. Stevani sedikit meringis keenakan, bersamaan dengan tangan Bara yang mulai meraba daerah buah mangganya.
Tanga Bara mulai masuk kedalan buah mangga untuk segera memetiknya, agar dia bisa menikmati betapa enaknyanya buah tersebut. Dan, benar saja saat ini Bara sudah mulai mencicipi buah mangga sekel milik istrinya dengan sangat lahap.
Stevani hanya bisa terkekeh geli ketika melihat suaminya bagaikan anak kecil yang haus akan susu dari sang Ibu.
Gigitan kecil hingga usapan lembut yang Bara berikan di tubuh istrinya berhasil merang*sang tubuh Stevani hingga menegang begitu kencang ketika tangan Bara sudah mulai menyentuh daerah terlarang yang terdalm didalam hutan rimba.
Bara tersenyum tipis karrna berhasil membuat sang istri terus bersenandung dengan suara indahnya.
__ADS_1
"Mari kita mulai sayangku." Bisiknya di daun telinga yang membuat tubuh semakin bergetar.
Dia merebahkan tubuh sang istri dengan lembut di atas kasur king size yang empuk, kembali menautkan bibir mereka dengan perasaan yang semakin dalam.
Kedua tangan yang saling memberi sentuhan demi sentuhan memabukkan, hingga nafas keduanya memburu dengan hebat.
Kini keduanya sudah polos seperti patung manekin, Stevani yang melihat sosis suaminya hanya mendapat menelan ludahnya dengan kasar. Dia tidak pernah membayangkan jika sosis milik suaminya akan sebesar itu.
"Kamu siap? Gigit pundakku, karena aku dengar untuk pertama kali pasti sakit." Ucapnya lembut dengan mengguyar rambut sang istri kebelakang.
Stevani hanya mengangguk, Bara kembali menyatukan benda lembut yang saling membelit di dalamnya.
Sedangkan di bawah sana, sosis tengah berusaha untuk menerobos masuk kedalam penggorengan.
Stevani yang merasa ada sesuatu yang robek langsung membuka kedua matanya dengan sempurna, "Ahh .... Sakit." ucapnya dengan bibir bergetar.
"Tahan, sebentar lagi." Jawab Bara yang juga masih berusaha bahkan sampai ngilu.
"Hiks, sudah nanti lagi saja sayang." Rengek Stevani yang mulai menancapkan kukunya di lenga Bara.
Tentu saja tidak bisa, Bara sudah bertekad hari ini. Dengan sekali hentakan yang cukup keras akhinya seluruh sosis dapat masuk.
"Ah!" Suara keduanya mengalun bersama.
Bara menatap lembut wajah cantik sang istri, mencium kedua mata indah Stevani.
"Aku sangat mencintau sayang, kita akan bahagia dengan anak-anak kita kelak." Ucap Bara dengan tulus.
Rasa haru kembali menyeruak, Stevani mengalungkan tangannya di leher kokoh sang suami.
"Aku juga sangat mencintaimu, maaf sudah membuat tanganmu terluka." Jawab Stevani yang dengan sadar sudah mencakar lengan suaminya.
"Tidak masalah, meskipun harus timah panas yang menembus jantungku." Kata Bara yang membuat Stevani semakin terbang melayang.
Perlahan di bawah sana bergerak, karena sosis Bara merasa perih, panas, dan ngilu. Sama halnya dengan Stevani. Kini keduanya tampak sangat menikmati setiap hentakan yang di buat oleh Bara.
Seakan keduanya sudah profesional, mereka mencoba berbagai gaya di atas tempat tidur. Mereka diam-diam belajar melalui internet, buku, dan film blue.
__ADS_1
Dari waktu senja hingga hampir tengah malam Bara terus mengoyak tubuh sang istri. Stevani dengan senang hati melayaninya, tidak ada drama lapar karena keduanya ingin menuntaskan hasrat yang sudah lama terpendam.