
Happy Reading 🌹🌹
"Hei! Apa maksudmu dengan roh pengantin dalam buket?! Apakah di dalam buket bunga yang aku pegang ini ada roh gentayangan yang mengincarku?! Katakan, Jun!" seru rekan bisnis Bara itu dengan wajah panik.
Bukannya menjawab, Bara dan Jundi yang melihat kepanikan di wajah pria muda nan rupawan tersebut, malah tertawa terbahak bahak, membuat pemuda tersebut menjadi semakin kebingungan dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Bara dan Jundi.
Pemuda itu lalu melihat ke arah tamu- tamu yang lain, tetapi mereka semua menunjukkan sikap yang sama dengan Bara dan Jundi, tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah panik si tampan.
"Hei! Ayolah, katakan! Apa benar ada roh gentayangan atau roh penasaran di dalam buket bunga ini, sehingga dia bisa kembali lagi kepadaku setelah kubuang tadi?!"
Sang fotografer yang memang pada dasarnya suka usil pun kembali menjahili si pemuda bertubuh atletis tersebut, "iya, Sayang dan akulah roh pengantin yang berada di dalam buket bunga yang kau pegang itu. Karena kamu yang telah menangkap buket tersebut, maka kamu harus menikah denganku."
Mendengar suara sang fotografer yang begitu merayu, rekan kerja Bara itu pun mengernyitkan dahinya dan langsung berjengit kaget saat mendapati wajah sang fotografer itu sudah berada di dekat telinga kirinya seraya menaikturunkan kedua alisnya.
"Hwaa! Ini gila! Ini sudah tidak benar! Canda kalian sudah keterlaluan!" serunya kesal.
Melihat kekesalan dalam gurat wajah rekan kerjanya, Bara pun berinisiatif untuk mendatangi dan menenangkannya, seraya mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah gurauan belaka yang sengaja dilakukan karena rekannya tersebut tampak tengah memikirkan hal lain, hingga tidak menikmati pesta pernikahan Bara dengan Stevani.
Pemuda itu mengelus dadanya sambil menghela napas, merasa lega karena yang terjadi padanya hanyalah rekayasa belaka. Niat hati yang semula ingin marah karena merasa kesal sebab terus menerus menjadi sasaran kekonyolan pun seketika sirna.
Dia bahkan merasa bersalah pada Bara dan Stevani yang telah repot- repot mengundangnya untuk datang ke acara pernikahan mereka tetapi dia sama sekali tidak menikmati acara tersebut sejak awal acara hingga sesi foto bersama berlangsung.
__ADS_1
"Huft, lega rasanya mengetahui bahwa itu semua hanya gurauan belaka. Jadi, bisakah kita mengulang kembali acara lempar buket?" tanya rekan kerja Bara itu dengan wajah penuh harap.
Bara memalingkan wajahnya ke arah Stevani yang resmi menjadi istrinya, memberi kode dengan menaikkan kedua alis matanya yang otomatis dijawab dengan kedikkan bahu oleh istrinya.
Karena merasa tidak mendapatkan jawaban dari sang istri, tatapan Bara pun beralih kepada gadis mungil yang menjadi salah satu perwakilan MUA di acara mereka. Bara kembali bertanya melalui kode kepada gadis itu, karena merasa tidak tahu harus menjawab apa, gadis itu pun bertanya pada sang pembawa acara.
Tidak ingin merusak acara pernikahan kliennya, sang pembawa acara pun bertanya apakah Bara dan Stevani keberatan jika harus mengulangi ritual buket tersebut. Karena ingin semua tamu bergembira, maka Bara dan Stevani pun akhirnya bersedia mengulangi acara lempar buket.
"Baiklah, karena kedua mempelai sudah bersedia untuk mengulangi acara lempar buket, maka kita akan mengulang kembali acara tersebut. Khusus untuk yang berminat silakan berbaris," ucap pembawa acara itu akhirnya.
Mendengar pengumuman dari Haris, sang pembawa acara, beberapa orang pemuda dan pemudi kembali meramaikan acara itu sambil berharap kali ini buket bunga itu jatuh ke tangan mereka.
Semua tamu undangan pun bersama- sama menghitung mundur dari angka paling besar hingga ke angka paling kecil. "Sepuluh! Sembilan! Delapan! ... tiga! Dua! Sa ... tu!"
Dan, bertepatan dengan terucap kata "tu!" Stevani dengan antusias melemparkan kembali buket bunga miliknya ke belakang yang langsung ramai diperebutkan oleh beberapa tamu dan ... lagi- lagi buket bunga tersebut jatuh ke tangan Dava, rekan kerja Bara yang sebelumnya juga menerima buket bunga tersebut.
"Yeeay! Buket bunga itu telah menemukan calon mempelai pria yang akan memberikannya kepada mempelai wanitanya kelak di hari pernikahan. Selamat karena sepertinya roh pengantin dalam buket bunga itu kembali memilih Abang," gurau Doni yang disambut tepuk tangan oleh semua tamu undangan dan kedua mempelai.
"Selamat, Dava! Semoga tahun depan menjadi tahun terindah untukmu," ucap Bara yang sudah berada di atas podium.
Semua orang yang berada di dekat Dava, lantas mengulurkan tangan mereka masing- masing untuk mengucapkan selamat pada Dava yang ditanggapi dengan kikuk oleh pemuda tampan itu. Acara pun berlanjut kembali dengan makan siang bersama.
__ADS_1
Usai acara berfoto bersama, Rani, asisten MUA yang ditugaskan mengawal pesta pernikahan Bara dan Stevani dari awal hingga akhir pun mengajak pasangan pengantin baru itu untuk masuk kembalo ke ruang ganti yang tadinya hanya dipakai untuk merias Stevani saja.
Di dalam ruang ganti tersebut, Rani meminta bantuan Danu, teman satu WO-nya yang ikut mengurusi acara pernikahan Bara dan Stevani untuk membantu Bara mengganti pakaiannya sementara dia membantu Stevani mengganti gaun pengantinnya.
"Ran, ini sudah semuanya, ya. Aku keluar dulu sebentar, untuk pakaian mempelai pria sudah beres berada di tempatnya," pamit Danu berdiri di ambang pintu sebelum pergi meninggalkan Rani yang masih membantu Stevani melepaskan berbagai aksesoris yang menempel di pakaian pengantinnya.
Rani memalingkan wajahnya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Danu, Rani melongokkan kepalanya sekilas lalu mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah Danu yang masih berdiri sambil memegang kenop pintu ruang ganti yang ada di dalam ballroom Hotel Shila tempat resepsi pernikahan Stevani dan Bara berlangsung.
"Oke, jangan lama- lama, ya, Dan. Sepertinya aku masih memerlukan bantuanmu untuk melepaskan semua perhiasan dan aksesoris yang dipakai oleh Kak Stev," kata Rani.
"Iya, aku cuma mau ambil minuman saja di luar. Gelasku sudah kosong," jawab Danu seraya melangkah ke luar ruangan.
Rani mengangguk dan melanjutkan kembali pekerjaannya melepas semua aksesoris yang menempel. Setelah usaha yang cukup lama dan keras, akhirnya Rani berhasil melepaskan semua aksesoris di pakaian pengantin Stevani dan membantu gadis itu melepas pakaian pengantinnya.
Rani tengah menggantung gaun pengantin yang baru saja dipakai oleh Stevani sebelum dimasukkan ke dalam kantong gantungan pakaian yang dipakai untuk menyimpan pakaian agar tidak cepat rusak, sementara Stevani yang sedikit slebor langsung saja melepaskan korset yang sejak tadi dipakainya dan dia baru saja selesai memakai pakaian dalamnya saat mendadak.
"Aaah! Pergi! Kenapa kamu tiba- tiba masuk seperti itu! Kamu masuk dari mana?!"
...🌹🌹...
__ADS_1