
Happy Reading 🌹🌹
Kedua mata Stevani membulat sempurna melihat foto-foto yang sangat jelas memperlihatkan dirinya dengan seorang pria, meski pria tersebut hanya dari samping. Tapi Stevani sangat tahu jika dia adalah Bara.
“Mama, Stevani bisa jelaskan ini. Kami tidak sengaja bertem….”
“STOP! Mama dan Ayah tidak menerima alasan apapun darimu Stevani. Bagaimana bisa tidak sengaja tapi berciuman, apa kamu pikir Mama dan Ayah tidak pernah berpacaran.” Cecar Nyonya Kristoff dengan bersedekap dada memandang anaknya dengan tajam.
“Yona, bantu aku menjelaskan kepada Mama dan Ayahku. Ceritakan jika aku dan pria ini tidak sengaja bertemu, bagaimana koper kita juga tertukar milik mereka.” Ucap Stevani meminta bantuan kepada Yona.
Yona gugup ingin membuka mulut dan bersuara karena mendapatkan tatapan tidak suka dari Nyonya Kristoff, “Sudah! Mama tidak membutuhkan pembelaan darimu maupun Yona. Sekarang tinggal pilih saja ingin menggantikan Ayahmu dan meninggalkan dunia hiburan atau menikah tetapi kamu masih bisa meneruskan pekerjaanmu.” Kata Nyonya Kristoff memberikan dua pilihan kepada putrinya.
“A-apa, Ayah! Masih ada Stevan untuk menggantikan posisi Ayah, kenapa harus Stevani. Stevani tidak ingin bekerja di belakang meja dengan tumpukan kertas dan dokumen.” Seru Stevani dengan nada frustasi.
“Silahkan pergi ke kamarmu dan renungkan keputusanmu, malam ini kami harus mendapatkan jawaban darimu Stevani Kristoff. Jika sampai kamu kabur ingatlah karirmu.” Ucap Nyonya Kristoff dengan ancaman.
Stevani merengut dengan berdiri kesal, menghentakkan satu kakinya di lantai kemudian berlalu dari kamar orang tuanya di ikuti Yona yang sebelumnya sudah memberikan hormat.
Sesampainya di kamar, Stevani langsung merebahkan tubuh rampingnya dengan memandangi langit-langit kamar.
Yona yang menutup pintu lantas menyusul sahabatnya, "Apa kamu akan menerima lamaran itu, kira-kira siapa pria yang melamarmu?" Tanya Yona yang sejak di dalam kamar orang tua Stevani hanya diam seribu bahasa kini mencecar beberapa pertanyaan.
"Jika aku tahu pasti aku tidak akan kaget." Jawan Stevani dengan wajah cemberut.
"Apa mungkin ... Bara?" Ucap Yona pelan.
Stevani melirik sahabatnya yang sudah duduk di sofa depan tempat tidurnya, "Tidak mungkin, bagaimana bisa dia yang selalu menyebutku wanita gila tiba-tiba melamarku. Kamu tau sendiri Bara pergi saat kita berpapasan dengannya malam itu." Jawab Stevani dengan logikanya.
Yona terdiam sejenak, benar juga tidak mungkin Bara secepat itu sampai di Korea Selatan. Perjalanan dari Eropa ke Korea membutuhkan waktu berjam-jam lamanya.
"Kamu pulang saja, biar di antarkam sopir seperti biasanya. Aku ingin beristirahat agar tidak mengambil keputusan dengan gegabah." Ucap Stevani yang kini membenarkan tidurnya.
"Baiklah, kabari aku jika membutuhkan sesuatu." Jawab Yona yang kemudian meninggalkan kamar Stevani.
Mendengar pintu tertutup Stevani menghela nafas panjang. Siapa pria yang sudah melamarnya, jika memimpin perusahaan bukan masalah untuk Stevani hanya saja dia tidak suka berkeja di dalam ruangan dengan kegiatan yang menurutnya monoton.
Kedua matanya terpejam, tapi baru beberapa detik langsung terbuka dengan lebar. "Ruang CCTV!" Serunya dengan senyum lebar.
__ADS_1
Segera Stevani bangkit dan berjalan kekuar kamar menuju ruangan CCTV, dia akan mengetahui siapa pria yang sudah melamarnya.
Dengan berlari, Stevani telah sampai di bagian mansion belakang. Melihat majikannya masuk, petugas segera berdiri.
"Ada yang bisa kami bantu Nona?" Tanya petugas.
"Aku meminta rekaman tiga hari lalu dan rekaman hari ini." Jawab Stevani yang sudah duduk di kursi dengan bersedekap dada.
Petugas CCTV segera mencari dan memutar rekaman sesuai permintaan Stevani, dengan pelan dan teliti mereka mengamati layar monitor lebar yang berada di depan.
"Stop! Undurkan beberapa detik." Ucap Stevani dengan menyincingkan matanya ke layar monitor.
Tampak seorang kakek, pria paruh baya, dan beberapa pengawal. Stevani terus mengamati rekaman yang berada di dalam mansionnya, di mana kakek itu memberikan kado dan juga berbincang dengan kedua orang tuanya.
Dengan cepat Stevani menggelengkan kepalany, "Tidak mungkin kakek-kakek yang melamarku, dia pasti kolega ayah." Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.
Nihil, tidak ada pria muda dan tampan yang datang ke mansion Kristoff hanya kakek beserta rombongannya saja.
"Sia-sia waktuku." Gerutunya yang lantas beranjak dari ruangan CCTV.
Stevani yang berjalan turun menyerengitkan dahinya dalam, dia meneruskan jalannya ke meja makan.
"Darimana saja kamu, Stev?" Tanya Stevani.
"Keluar." Jawab Stevan singkat.
Stevani memukul kepala belakang kembarannya dengan mencebik kesal, "Jawab yang benar!" Geramnya
"Kau gila!" Seru Stevan dengan menatap tajam kembarannya.
Stevani hanya acuh dan duduk di kursi sampingnya, berhadapan dengan bersedekap dada.
"Aku mau berbicara serius denganmu." Kata Stevani tanpa menghiraukan tatapan marah Stevan.
"Apa kamu tahu siapa pria yang datang melamarku?" Lanjut Stevani dengan wajah serius.
__ADS_1
Stevan hanya mengendikkan kedua bahunya saja, karena dia juga baru tahu jika ada pria yang melamar kakaknya.
"Ish, dasar bo*doh! Seharusnya kamu lebih tau apa yang terjadi di mansion ini saat aku bekerja." Cecar Stevani kepada kembarannya.
"Cih, aku bukan satpam yang harus melaporkan apapun kepadamu." Jawab Stevan yang langsung berjalan meninggalkan Stevani seorang diri.
"Ya! Aku belum selesai bicara." Teriak Stevani dengan melempar sandal berbulu ke arah saudaranya.
Beruntung, Stevan dapat menghindar dan terus melanjutkan jalannya hingga masuk ke dalam kamar.
"Huh! Punya saudara tidak bisa di andalkan." Runtuk Stevani pelan.
Di dalam kamar Tuan dan Nyonya Kristoff tengah mengintip di dela pintu kamar, melihat bagaimana gusarnya Stevani yang menelungkupkan kepalanya di meja makan.
"Ma, apa kita terlalu menekannya?" Tanya Tuan Kristoff.
"Ah, tidak Yah. Daripada Stevani terlibat scandal lebih baik menikah sajakan." Jawab Nyonya Kristoff tidak setuju.
"Lalu, sampai kapan Ayah harus pura-pura sakit? Mata Ayah sudah perih karena balsem." Kata Tuan Kristoff memelas.
"Tahan dulu sampai Stevani setuju ... Eh dia datang, cepat cepat kembali tidur Ayah." Kata Nyonya Kriatoff.
Stevani membuka pintu kamar orang tuanya yang memang sudah terbuka sedikit, dengan wajah datar dia menatap sang ayah yang tengah tertidur.
"Bagaimana keadaan Ayah?" Tanya Stevani berjalan mendekat ke arah kasur.
"Masih sama saja, kamu tahu sendiri bagaimana jika ayahmu sakit." Jawab Nyonya Kristoff.
"Ma, Stevani sudah memikirkannya." Ucap Stevani pelan.
Tuan Kriatoff memasang telinganya lebar-lebar dengan mata terpejam, "Bagaimana keputusanmu?" Tanya Nyonya Kristoff penuh harap.
"Stevani mau menikah tetapi tidak dengan kakek-kakek!" Rengek Stevani kepada Mamanya.
Tuan dan Nyonya Kristoff sontak saja terbatuk karena mendengar ucaoan Stevani, "Ka-kakek?" Beo Nyonya Kristoff yang masih kaget.
"Iya, Stevani sudah melihat CCTV tadi siang. Dan hanya ada seorang kakek yang datang ke mansion, Mama dan Ayah tidak menerima pinangannya kan?" Tanya Stevani dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Maaf sayang, Ayah sudah menerima lamaran kakek itu. Bahkan dia sudah memberi barang mewah sebagai tanda telah melamarmu." Jawab Tuan Kriatoff dengan suara lemas di buat-buat.
"TIDAK!!!"