Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Rasa yang sama


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Pagi yang cerah di langit Eropa, suara kicauan burung dipagi sudah terdengar saling bersahutan dan sinar mentari menerobos sela jendela mansion nan megah.


Stevani yang merasa sesuatu berat menimpa perutnya menggeliatkan pelan tubuhnya. Kedua matanya masih terpejam dengan menyingkirkan benda yang cukup perat untuk perutnya yang ramping.


Bukan terbebas, tetapi tubuh Stevani semakin berat, dan sesak. Bola matanya seketika membola sempurna kala mendapati bau tubuh yang asing baginya hidungnya mengendus seperti hewan pelacak dengan tangan kanan yang mebanya.


"Bara masih mengantuk, Ma."


Mendengar gumaman pelan otak Stevani langsung bekerja dengan cepat meskipun terlambat.


Kedua kelopak mata dengan bulu mata lentik itu perlahan terbuka, wajahnya menghadap dada bidang tanpa pakaian, sangat sexy di pagi ini karena sedikit terkena sinar matahari.


"Ternyata dia sangat sexy." Gumam Stevani pelan sambil terkekeh tanpa suara.


Sejenak Stevani memandang lekat wajah tampan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya, debaran jantung di rasakan oleh Stevani di dalam hati jemari lentiknya meraba bibir sensual tersebut. Perlahan tapipasti Stevani berusaha mengecup bibir tipis Bara meski hanya terkena bibir bagian bawahnya.


Mengingat ciuman saat di Istana Alhambra membuat kedua pipi Stevani memerah entah malu atau bahagia yang jelas perasaannya kini tidak menentu. Perlahan tangan Bara dipindah oleh Stevani dan disiapkan bantal karena tidak ada guling di kasur tersebut agar tangan tersebut berganti memeluk bantal sebagai penggantinya.


"Nah, ini lebih bagus. Maaf ya, Tuan Bara terhormat," ucap Stevani sambil berpose hormat selayaknya prajurit.


Setelah merasa aman, Stevani pun berjalan ke manar mandi yang kebetulan ada di dalam kamar mereka. Jari yang lentik itu pun menarik gagang pintu. Sekali lagi bola mata Stevani dibuat membola, karena di dalam kamar mandi itu semua barangnya telah tertata dengan rapi dari pasta gigi hingga kebutuhan badan, dan tubuhnya.


"Apa dia begadang untuk menata semua ini, wah ... lihat-lihat bahkan gelas untuk berkumur saja couple. Dia memiliki sisi yang imut ternyata." Ucap Stevani terkikik sendiri di dalam kamar mandi.


Mendengar pintu kamar mandi tertutup, Bara membuka kedua matanya. Yah sejak tadi sebenarnya dia sudah bangun hanya saja saat memeluk tubuh Stevani merasa nyaman seakan kenyamanan itu pernah dia dapatkan dulu, rasa yang dahulu pernah diberikan oleh mendiang Mamanya.


Perasaan haru dan bahagia menyeruak dalam hatinya, "Apa Mama mengirimkannya untukku?" Monolognya. Jemarinya menyentuh bibir bagian bawah yang di kecup oleh sang istri pagi ini.


Selama tiga puluh menit Stevani berada di kamar mandi. Wanita itu sengaja berlama-lama berada di dalam karena dia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya bila dia seperti itu. Namun, hingga tubuh merasa kedinginan tidak ada tanda jika suaminya bergerak. Akhirnya Stevani pun keluar.


"Hah, sudah rapi saja itu cowok," batin Stevani.


"Mengapa keluar dari sana, kok tidak tidur saja sekalian?!" ucap Bara dengan suara datar dan dingin.


"Apa maksud kamu, Tuan? Bagaimana bisa kamu sudah siap sementara kamar mandi masih saya pakai?" tanya Stevani dengan bahasa formal seakan atasan dan bawahan.


Terdengar hembusan napas kasar dari Bara, lelaki itu masih mematut penampilannya di depan cermin sambil mengenakan dasi. Stelan jas mahal sudah melekat pada tubuh kekarnya membuat Stevani menelan ludahnya. Otaknya traveling pada pagi ini mengingat betapa kekar tubuh di balik balutan jas hitam tersebut.


"Pria inikah yang memelukku sepanjang malam selama beberapa hari ini? Sempurna," batin Stevani.


Bara yang merasa di pandang oleh istrinya mengulas senyum tipis. Lelaki itu semakin pelan manata rambutnya dengan menggunakan gel. Dia berharap dipandang takjub oleh istrinya. Setelah selesai, kemudian dia berbalik badan dan berjalan menuju ke Stevani.

__ADS_1


"Hai, berkediplah mata kamu, Sayang!" lirih Bara tepat di telinga Stevani.


Mendapat perlakuan yang sedikit aneh dari sang suami membuat Stevani terhenyak dari alam bawah sadarnya. Kemudian menepuk dahinya sebanyak dua kali.


"Bodoh, bodoh, mengapa bisa terlena kamu Stevani. Ish!" batin Stevani.


"Jangan lama berganti pakaiannya, segera turun untuk sarapan pagi. Aku tidak mau terlambat datang ke kantor pagi ini!" kata Bara sambil berjalan keluar dari kamar meninggalkan Stevani yang terbengong.


Suara pintu kamar yang tertutup dengan sedikit keras membuat Stevani segera berlari menuju ke ruang ganti. Stevani dengan cepat memakai pakaian yang menurutnya pas untuk berkeliling kota guna mencari sport untuk kontennya hari ini, sudah lama dia tidak mengupload apapun di media sosialnya.


Setelah merasa puas, akhirnya dia pun mematut wajahnya di cermin agar bisa bersolek sedikit. Senyumnya melebar kala mendapati kecantikan wajahnya.


"Siip, cantik kamu, Stevani!" lirih Stevani saat terakhir tangannya memulas bibir tipis itu.


Lalu dengan langkah riang hadis tersebut pun melangkah keluar dari kamarnya menuju lantai bawah dan langsung mengarah keruang makan. Tampak di sana sudah duduk sang suami dan Kakek Santosa.


"Pagi, Kek! Maaf Stevani terlambat," ucap Stevani lembut lalu menganggukkan kepala tanda hormat pada orang yang lebih tua.


Melihat Stevani yang sudah ada di sampingnya,Kakek Santosa merentangkan kedua tangannya. Stevani yang paham dengan makhsud Kakek mertuanya segera memeluk tubuh pria yang masih terlihat tampan itu.


"Semoga kamu betah tinggal di sini, cucu menantu." ucap Kakek Santosa.


"Tentu saja, Stevani akan betah Kek. Karena ada Kakek mertua di sini." Jawab Stevani dengan wajah riang.


Mendengar kata yang sangat asing membuat Bara maupun Kakek Santosa menatap lekat ke arah Stevani. "Kenapa?" Tanya Stevani yang bingung dengan tatapan kedua pria berbeda usia tersebut.


Gadis itu pun memandang pada wajah lelah sang kakek. Terlihat Santosa menganggukkan kepala tanda dia setuju. Akhirnya, Stevani oun menerima piring Bara dan mengambilkan beberapa menu yang sudah tersedia di meja. Saat tangan Stevani hendak menyendok udang krispy tiba-tiba terdengar suara Bara yang melarangnya.


"Stop, jangan diambilkan udang itu. Cukup yang sudah ada di atas piring saja menuku, terima kasih!" kata Bara.


"Sama-sama. Kakek, apakah Kakek juga mau Stevani ambilkan!" tanya Stevani lembut.


Tanpa banyak bicara sang kakek pun memberikan piringnya pada Stevani. Wanita itu pun mengambilkan sedikit porsi makanan untuk Santosa. Dengan senyum, pria tua itu menerima pitingnya lalu segera melanjutkan menyendok nasi.


Semua pun makan dalam keadaan diam tanpa ada suara. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Stevani pun mengambil menu sederhana dengan porsi yang sedang. Setelah dia selesai, segera diedarkan pandangannya pada dua lelaki yang ada di hadapannya.


"Saya sudah selesai, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Stevani.


"Tolong ambilkan kakek air putih untuk minum obat!" titah Santosa.


Kemudian tanpa menjawab, Stevani pun mengambilkan dua gelas dan satu botol air putih dingin lalu dibawanya ke meja makan. Sesampainya pada meja dituangkan air putih dingin itu pada dua gelas dan meletakkan pada samping kanan kedua lekaki beda usia tersebut. Stevani pun kembali pada kursinya dan duduk menunggu hingga kedua lelaki selesai makannya.


Stevani yang hendak membereskan piring kotor bekas sarapan pagi ini di hentikan oleh Bara, "Biarkan maid yang membereskannya." ucapnya dengan wajah datar.

__ADS_1


"Kenapa? Aku bisa kok membereskan semua ini sendiri." jawab Stevani heran.


"Aku tidak yakin, kamu akan menangis jika kuku palsumu itu patah." Cela Bara dengan wajah remeh.


Stevani hanya mendengus kesal, dia tetap membawa piring dan gelas kotor ke wastafel. Sedangkan Bara berpamitan kepada sang kakek untuk kembali ke kantor. Sudah terlalu lama dia berlibur sehingga dapat di bayangkan bagaimana menumpuknya pekerjaan dia untuk beberapa bulan kedepan.


"Bara, kamu harus pamit kepada istrimu." Kakek Santosa berkata karena Bara tidak menuju ke dapur untuk menyusul Stevani.


Stevani yang baru datang hanya diam saja karena tidak tahu maksud dari kakek mertuanya, Bara berbalik badan dengan menghela nafas panjang. Kaki lebarnya berjalan ke arah Stevani yang hanya diam binung saat bara menyodorkan tangan kanannya.


"Kenapa diam saja, cepat salami, dan cium punggung tanganku." Geram Bara karena melihat istrinya yang diam seperti manekin.


"Hah? Kenapa, kenapa harus mencium tanganmu. Seharusnya kamu mencium punggung tanganku atau pipiku." Jawab Stevani yang tidak paham akan budaya Indonesia.


Bara menyentil jidat istrinya karena kesal, dengan memaksa Bara mempraktikkan kepada Stevani. "Aku berangkat kerja dulu." ucapnya yang langsung berlalu dengan wajah kesal meninggalkan Stevani yang masih terbengong sendirian.


Kakek Santosa yang melihat kedua pengantin baru itu hanya terkekeh geli, "Duduklah di sini, akan kakek ajarkan kebiasaan seorang istri. Bara sangat menyayangi kedua orang tuanya jadi dia menginginkan istri seperti Mamanya." Kata Kakek Santosa dengan lembut.


Stevani berjalan dan duduk di kursi makan sebelah Kakek Santisa, dia mendengarkan dengan seksama bagaimana sang kakek menjelaskan kebiasaan seorang istri. Berbekal otak yang cerdas dia dengan cepat mengingat dan menghafal ilmu yang dia dapatkan hari ini.


"Kakek, Stevani ijin keluar rumah dulu selama dua atau tiga jam ke depan, boleh?" ucap Stevani.


"Memang mau kemana?" Tanya Kakek Santosa lembut.


"Hehehe, mau cari spot untuk membuat konten," balas Stevani dengan senyum khas miliknya.


Kakek Santosa mengangguk,"Panggilah Paman L, dia yang akan mengantarkanmu berjalan-jalan agar kamu hafal jalanan Ecopa." ucap Kakek Santosa kepada Stevani.


"Tidak perlu Kek, ada taxi. Stevani akan naik taxi saja." Tolak Stevani lembut.


Kakek Santosa yang akan menjawab ucapan cucu menantunya dia urungkan karena Bara kembali kemansion entah apa yang tertinggal.


"Ayo aku antar, pulangnya kamu naik taxi." Ucap Bara yang telah keluar dari dalam ruang kerja.


"Tapi ...."


"Sudah, sana ikut dengan suamimu." Timpal Kakek Santosa sebelum mendengar penolakan Stevani kembali.


"Tunggu 5 menit!" Seru Stevani yang berbicara dengan berlari menuju lantai dua.


Stevani kembali turun dengan tas jinjing dan kameranya, melihat wajah horor suaminya membuat Stevani menurunkan pandangannya, Stevani akhirnya melangkah mengikuti langkah Bara dari belakang sambil bibirnya mengerucut dan tangannya mengepal bergerak seakan sedang meninju bahu sang suami.


"Sudah jangan banyak tingkah dan cemberut. Senyumin itu bibir biar terlihat cantik, atau ...." kata Bara.

__ADS_1


"Iihh, siapa juga yang cemberut. Ini hanya sekedar mimik wajah saja," kilah Stevani.


Tiba-tiba Bara menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Stevani. Wanita itu masih dengan gayanya yang seakan hendak meninju. Dan betapa terkejutnya Stevani melihat wajah dingin sang suami di depan tinjunya.


__ADS_2